Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia?
Tanpa menunggu jawaban Norman, Grace segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Langkah sepatu hak tingginya terdengar beradu dengan lantai, sementara wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
"Grace, tunggu!"
Norman buru-buru menyusulnya. Namun, sebelum pria itu sempat mencapai pintu, Mona langsung berlari kecil menghampirinya dan menahan lengannya.
"Jangan kejar dia, Norman!" seru Mona sambil mencengkeram lengan pria itu.
Norman menoleh tajam. "Lepaskan aku, Mona!"
"Sudahlah, Norman. Biarkan dia pergi!" Mona menggelengkan kepala, berusaha menahan pria itu agar tidak menyusul Grace.
"Ah, kau ini!" bentak Edmund. Dia melirik Norman dengan tatapan sinis, lalu mengembuskan napas kasar. "Bodoh!"
Norman mengepalkan tangannya. Tatapannya terus tertuju pada pintu yang telah dilewati Grace beberapa saat lalu, tetapi Mona masih menahan lengannya.
Norman akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Grace. Dia mengibaskan tangan Mona dengan kasar, kemudian berbalik dengan rahang mengeras.
Sementara itu, Grace terus melangkah meninggalkan gedung tersebut. Sesampainya di area parkir, dia langsung menuju mobilnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat salah satu ban mobilnya kempis.
"Astaga!" Grace mendengus kesal sambil menatap ban mobilnya. "Kenapa harus sekarang?"
Grace mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya. Hari ini saja sudah cukup membuat emosinya terkuras, dan sekarang dia masih harus berhadapan dengan masalah seperti ini.
Sebenarnya, dia memang berniat menceraikan Norman, tetapi bukan sekarang. Masih ada banyak hal yang harus diselesaikannya sebelum benar-benar mengakhiri pernikahan mereka. Rencana yang sudah disusunnya juga belum sepenuhnya tuntas.
Baginya, membiarkan Norman mengetahui bahwa dirinya sudah tahu tentang perselingkuhan itu bukan berarti seluruh permainannya telah berakhir. Justru, ini baru salah satu bagian dari apa yang ingin dia lakukan terhadap pria tersebut.
Namun, setelah semua yang terjadi hari ini, Grace juga tidak mungkin berpura-pura seolah tidak ada apa-apa. Dia sudah terlanjur mengatakan akan mengajukan gugatan cerai di hadapan Edmund dan Julian. Jika sekarang dia kembali bersikap seolah masih ingin mempertahankan pernikahannya, bukankah itu justru membuat ucapannya sendiri kehilangan arti?
Grace mengangkat dagu, lalu mengembuskan napas pelan.
"Sudahlah. Masih ada waktu untuk menyelesaikan semuanya," gumamnya sambil merogoh tas untuk mengambil ponsel.
"Mobilmu bermasalah?"
Suara seorang pria membuat Grace menoleh. Julian berdiri tidak jauh darinya, ditemani tangan kanannya.
Grace melirik pria itu sekilas sebelum kembali menatap ban mobilnya. "Sepertinya begitu."
Julian melirik ban yang kempis tersebut, lalu kembali menatap Grace. "Mau menumpang denganku?"
Grace sempat terdiam sejenak. Setelah mempertimbangkannya, dia akhirnya mengangguk kecil.
"Kalau begitu, aku merepotkanmu, Tuan Julian."
"Tidak masalah."
Julian memberi isyarat kepada tangan kanannya untuk membuka pintu mobil. Grace pun masuk ke dalam mobil, disusul Julian yang duduk di kursi belakang.
Setelah pintu tertutup, mobil perlahan meninggalkan area parkir.
Grace menyebutkan nama jalan dan kawasan tempat tinggal orang tuanya. Dia kemudian kembali memalingkan wajah ke arah jendela, membiarkan pandangannya menyusuri deretan bangunan yang dilewati mobil.
Julian hanya mengangguk pelan setelah mendengar alamat yang disebutkan Grace.
Suasana di dalam mobil kembali hening. Grace tetap memandang keluar jendela, sementara Julian sesekali melirik perempuan yang duduk di sampingnya.
"Sudah berapa lama kau diperlakukan seperti ini?" tanya Julian tiba-tiba.
Grace tidak langsung menanggapi. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum miring sebelum dia kembali memalingkan wajah ke arah jendela.
Ia tidak memberikan jawaban.
Julian memperhatikan reaksinya sesaat, tetapi tidak mendesak Grace untuk berbicara. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, membiarkan keheningan kembali memenuhi mobil.
Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Grace membuka pintu dan turun dari mobil. Julian menyusulnya, lalu berdiri di samping mobil sambil mengamati rumah di hadapannya.
"Rumah orang tuamu?" tanya Julian.
Grace mengangguk kecil.
Julian kembali melirik rumah tersebut. "Rumah ini cukup besar."
Grace tersenyum hambar sambil mengangkat bahu sedikit.
"Mungkin saja tidak sebesar rumah Tuan Julian."
Julian hanya mengangguk kecil.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas tumpangannya, Tuan Julian," ujar Grace sambil tersenyum tipis.
Julian membalas anggukan itu. "Sama-sama, Grace."
Setelah berpamitan, Julian masuk kembali ke dalam mobil. Dia duduk di kursi belakang, lalu mengangguk kepada tangan kanannya sebagai tanda bahwa mereka bisa segera pergi.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan pelataran rumah George.
Dari balik jendela, Julian melihat Grace berjalan pelan menuju pintu depan. Tatapannya mengikuti punggung perempuan itu hingga sosok Grace menghilang di balik pintu rumah.
Setelah itu, Julian mengalihkan pandangan ke depan.
Mobil terus melaju meninggalkan kawasan perumahan tersebut.
Grace memasuki rumah dengan langkah pelan. Seperti biasa, George tidak mengucapkan sapaan ataupun sepatah kata pun kepadanya. Namun, pintu yang dibukakan pria itu sudah cukup membuat Grace sedikit lega.
Grace meletakkan tasnya, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Mama?" panggil Grace.
Tidak ada jawaban.
Grace melangkah lebih jauh ke dalam rumah, lalu menoleh ke arah lorong yang menghubungkan ruang tamu dengan beberapa ruangan lainnya.
"Mama, kau di mana?"
Grace celingak-celinguk, berusaha mencari keberadaan mamanya. Namun, tidak ada tanda-tanda perempuan itu berada di ruang tamu.
Grace hendak berjalan menuju dapur untuk memeriksa apakah mamanya sedang berada di sana ketika ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berbunyi. Dia segera mengambil ponsel tersebut.
Sebuah pesan masuk dari Mia.
Grace membuka pesan itu. Namun, begitu membaca isinya, matanya langsung membelalak.
"Aku punya satu informasi lagi. Mari kita bertemu. Rahasia ini pasti membuat kau sangat terkejut."
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣