Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Kayu Jadi Sendok Teh & Surat Tantangan Dari Kota Giok Putih
Sejak pedang kayu patah Xiao Chen menyatu kembali dan bersinar keemasan hitam, Kedai Teh punya masalah baru.
Bukan masalah iblis, bukan masalah Klan. Masalahnya adalah... semua orang takut dengan sendok teh baru.
Pedang kayu itu, yang sekarang utuh, panjangnya 90 cm, lebar 5 cm, jelek, tidak tajam, tapi memancarkan tekanan yang membuat kultivator Pemurnian Qi pingsan jika berdiri terlalu dekat 2 meter. Xiao Chen meletakkannya begitu saja di samping teko, sebagai pengaduk teh. Setiap kali dia mengaduk teh, cahaya keemasan hitamnya berputar di dalam air, membuat teh terlihat seperti teh bintang.
Ling'er yang sekarang punya Mahkota Yin di atas kepalanya, adalah satu-satunya selain Xiao Chen yang berani memegang pedang itu. Saat Ling'er memegangnya untuk membantu mengaduk, pedang itu tidak menolak, malah sinarnya menjadi lembut, seperti mengenali energi Yin Iblis Murni yang mirip dengan energi jurang.
Su Qing'er mencoba memegangnya sekali, tangannya langsung kesetrum kecil dan terpental, bukan karena pedang menolaknya, tapi karena akar spiritual murni Klan Su terlalu bersih, tidak cocok dengan kayu jurang yang sudah direndam darah iblis 1000 tahun.
"Bos Teh, pedang ini pilih-pilih orang ya?" tanya Su Qing'er sambil mengusap tangannya yang kesemutan.
Xiao Chen yang sedang menyeruput teh yang baru diaduk pedang kayu itu, mengangguk. "Pedang ini bukan pedang. Ini kayu segel. Dia hanya mau dipegang oleh orang yang pernah tidur di jurang, atau orang yang pernah hampir mati di jurang. Kau kan tersesat saja, belum tidur di jurang. Jadi dia malu sama kamu."
Su Qing'er cemberut, tapi lalu tertawa karena jawaban Bos Teh selalu aneh.
Pagi hari ke-32, saat kedai baru buka dan Ling'er masih pamer mahkota uapnya ke pelanggan anak-anak, debu kembali terlihat di gerbang kota.
Tapi kali ini bukan Klan Su pindahan, bukan Klan Xiao tukang sapu. Kali ini adalah 5 orang dengan jubah putih keemasan yang sangat mewah, dengan bordiran awan giok, menunggangi burung bangau spiritual besar. Di dada mereka ada lambang yang membuat Nenek Air Tenang langsung berdiri dari kursi bambunya.
"Klan Giok Putih Utama! Dari Ibukota Provinsi!" bisik Nenek Air Tenang dengan wajah serius.
Klan Giok Putih Utama adalah atasan dari Klan Su cabang Kota Giok Putih. Mereka adalah Klan Tingkat 2, punya 3 Tetua Nascent Soul tingkat akhir, dan menguasai 10 kota. Klan Su hanyalah cabang kecil mereka.
5 orang itu turun dari bangau dengan anggun, tidak berisik, tapi aura mereka membuat warga biasa langsung minggir. Yang di depan adalah seorang pemuda umur 20 tahun, wajah tampan, jubah emas lebih mewah dari 4 pengawalnya, di pinggangnya ada pedang giok yang memancarkan cahaya dingin. Di belakangnya ada seorang Tetua dengan jenggot panjang.
Pemuda itu melihat Kedai Teh kecil, melihat Mo Sha yang duduk, melihat Su Batian yang sedang membantu mengangkat karung beras, dan mengerutkan kening jijik.
"Jadi ini tempat sampah Klan Su pindah? Pantas saja. Bau teh murah," katanya dengan suara keras, sengaja agar semua dengar.
Su Batian yang mendengar itu, langsung meletakkan karung berasnya dan berjalan maju. Wajahnya merah marah, tapi dia menahan diri karena dia kenal pemuda itu.
"Tuan Muda Su Lingtian! Apa yang Tuan lakukan di sini?!" tanya Su Batian, suaranya menahan amarah.
Pemuda itu, Su Lingtian, adalah keponakan Kepala Klan Utama, jenius nomor 1 Klan Giok Putih Utama, umur 20 tahun sudah Pembentukan Fondasi tingkat 9, digadang-gadang akan menjadi Nascent Soul termuda. Dia juga... tunangan asli Su Qing'er yang dijodohkan oleh Klan Utama 2 tahun lalu, sebelum Su Qing'er dijodohkan ke Klan Xiao oleh ayahnya yang tidak tahu.
Su Lingtian tertawa merendahkan. "Paman Batian, aku dengar Paman menjual markas dan pindah ke kota sampah ini demi seorang penjual teh sampah. Klan Utama malu. Kami datang untuk membawa kembali Putri Qing'er. Pertunangannya dengan Klan Xiao sudah batal, tapi pertunangannya dengan Klan Utama masih sah. Dia harus kembali ke Ibukota untuk menikah denganku bulan depan, bukan menjadi pelayan teh di sini!"
Kata-kata itu membuat seluruh alun-alun diam.
Su Qing'er yang di dalam kedai mendengar namanya disebut, keluar dengan celemek goni kebesarannya, masih memegang lap. Wajahnya pucat saat melihat Su Lingtian.
"Kak Lingtian..."
Su Lingtian melihat Su Qing'er dengan celemek goni, dengan perban hitam di kakinya, dengan tangan kotor karena mengelap meja, wajahnya semakin jijik.
"Qing'er! Lihat dirimu! Putri Klan Giok Putih memakai celemek karung goni?! Kau sudah dicuci otak oleh penjual teh itu! Ayo pulang! Ayahmu sudah gila!"
Su Qing'er bersembunyi di belakang Xiao Chen yang baru keluar dari kedai sambil membawa pedang kayu pengaduk teh.
Xiao Chen menatap Su Lingtian, lalu menatap Su Batian yang mengepalkan tinju tapi tidak berani memukul karena Klan Utama jauh lebih kuat.
"Kau siapa?" tanya Xiao Chen datar.
Su Lingtian mendongak sombong. "Aku Su Lingtian, Tuan Muda Klan Giok Putih Utama! Pembentukan Fondasi tingkat 9! Kau siapa? Penjual teh bau?"
Mo Sha yang di belakang Xiao Chen, mendengar Bos Teh dihina "bau", langsung berdiri setinggi 2 meter, tanduknya menyala.
Tapi Xiao Chen mengangkat pedang kayu pengaduk tehnya, menghalangi Mo Sha.
"Jangan. Dia pelanggan. Belum bayar."
Xiao Chen menatap Su Lingtian. "Mau beli teh?"
Su Lingtian tertawa terbahak-bahak. "Teh? Teh sampah 1 koin? Aku tidak minum teh sampah! Aku datang untuk membawa tunanganku pergi! Dan untuk memberi pelajaran pada sampah yang berani menahan tunangan orang!"
Dia mengayunkan pedang gioknya, mengeluarkan tebasan qi dingin yang membekukan tanah di depan Kedai Teh, membuat garis es.
"Aku tantang kau duel! Kalau kau kalah, kau serahkan Qing'er dan kau tutup kedai sampah ini! Kalau kau menang..."
Xiao Chen memotong, "Kalau aku menang, kau bayar semua teh yang sudah diminum warga hari ini, dan kau jadi tukang sapu juga seperti Klan Xiao."
Su Lingtian mengira Xiao Chen takut dan mencoba tawar-menawar, jadi dia setuju dengan sombong. "Baik! Maju!"
Tetua di belakang Su Lingtian, Tetua Giok Putih, mengerutkan kening. Dia merasakan sesuatu yang aneh dari penjual teh itu. Dantiannya kosong, tapi pedang kayu di tangannya... pedang kayu itu membuat bulu kuduknya berdiri. Sebagai Nascent Soul, dia pernah melihat pedang seperti itu di kitab kuno Klan Utama.
"Tuan Muda, hati-hati, pedang kayu itu..."
"Diam! Hanya kayu bakar!" Su Lingtian sudah maju, pedang gioknya menyala dingin, jurus "Tebasan Giok Beku" yang bisa membekukan Pembentukan Fondasi tingkat 9 langsung.
Xiao Chen tidak bergerak. Dia masih memegang pedang kayu pengaduk tehnya seperti memegang sendok sayur.
Saat Tebasan Giok Beku itu sampai 1 meter di depan Xiao Chen, Xiao Chen hanya mengangkat pedang kayunya, dan... mengaduk udara, seperti mengaduk teh.
_SWISH._
Gerakan mengaduk teh yang biasa dia lakukan 100 kali sehari.
Tebasan es Pembentukan Fondasi tingkat 9 itu, yang bisa membelah batu besar, langsung... meleleh. Bukan pecah, tapi meleleh menjadi air, lalu menjadi uap, lalu hilang, karena hawa panas dari gesekan kayu jurang yang diaduk.
Su Lingtian terbelalak. "Apa?!"
Xiao Chen melangkah maju satu langkah, masih dengan gerakan mengaduk teh yang sama, tapi kali ini dia mengaduk ke arah Su Lingtian.
Su Lingtian mencoba bertahan dengan pedang gioknya.
_KRAK!_
Pedang giok tingkat menengah yang harganya 5000 batu spiritual, yang dibanggakan Klan Giok Putih Utama, patah menjadi dua saat bersentuhan dengan pedang kayu jelek pengaduk teh.
Su Lingtian terpental 10 meter, jatuh di tumpukan karung beras Klan Su, wajahnya penuh teh tumpah.
Semua diam.
Tetua Giok Putih yang Nascent Soul langsung berlutut, bukan karena disuruh, tapi karena kakinya lemas. Dia akhirnya ingat apa pedang kayu itu.
"Pedang... Pedang Kayu Segel Jurang... yang di kitab Klan Utama dikatakan hanya bisa dipegang oleh Penjaga Jurang 1000 Tahun..."
Xiao Chen tidak peduli dengan Tetua yang berlutut. Dia berjalan ke arah Su Lingtian yang jatuh di karung beras, pedang kayu pengaduk tehnya masih meneteskan sisa uap teh.
"Kau kalah," kata Xiao Chen. "Bayar teh hari ini. 342 koin tembaga. Dan mulai besok, kau sapu alun-alun bersama Klan Xiao. Sapu yang bersih. Jangan berisik."
Su Lingtian yang wajahnya penuh teh, menatap Xiao Chen dengan ketakutan yang belum pernah dia rasakan, bahkan saat menghadapi Tetua Nascent Soul di Klan Utama.
Dia mengangguk dengan gemetar.
Hari itu, Klan Giok Putih Utama yang datang dengan sombong untuk membawa pulang tunangan, pulang dengan Tuan Muda mereka menjadi tukang sapu, dan Tetua mereka menjadi pelanggan tetap yang duduk paling pojok, minum teh dengan sangat pelan, takut berisik.
Dan Su Qing'er, yang melihat Bos Teh menang hanya dengan gerakan mengaduk teh, menatap pedang kayu itu dengan mata berbinar.
"Bos Teh," bisiknya malam itu saat membantu mencuci cangkir, "Ajarin aku mengaduk teh pakai pedang juga ya?"
Xiao Chen menatap gadis itu, lalu menatap pedang kayunya yang sudah kembali diletakkan di samping teko.
"Boleh. Tapi mulai dari mengaduk pakai sendok kayu dulu. Pedang ini berat. Nanti tanganmu pegal, tidak bisa hitung kembalian."
Su Qing'er mengangguk semangat, mengambil sendok kayu dan mulai latihan mengaduk air di ember, dengan gaya yang sama seperti Bos Teh mengaduk udara tadi.
Ling'er yang melihat itu dari loteng, dengan mahkota uapnya yang masih ada, tertawa kecil.
"Kak Qing'er, mengaduknya jangan terlalu cepat, nanti airnya tumpah!"
Dan Kedai Teh yang tutup jam 7 malam itu, terdengar suara tawa dua gadis kecil yang belajar mengaduk teh, suara yang bahkan Mo Sha yang duduk di depan pintu, yang sudah 5000 tahun tidak mendengar tawa seperti itu, tersenyum dalam hati.