Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Malam di rumah keluarga Lagustav literally terasa kayak masuk ke dalam ruang hampa udara. Sesak, kosong, dan dinginnya bisa nembus ke sumsum tulang.
Di dalam kamarnya yang super luas, Steviona menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size. Lampu utama sengaja nggak dinyalain. Cuma ada pantulan sinar rembulan dari jendela balkon dan lampu-lampu cityscape Jakarta yang menembus kaca. Gadis itu tergeletak dengan masih memakai jaket kulitnya, menatap nanar ke arah ceiling kamar.
Air mata yang sejak di ruang tengah tadi dia tahan mati-matian, akhirnya nggak bisa dibendung lagi. Satu bulir lolos dari sudut matanya, meluncur turun melewati pelipis, lalu disusul rentetan lainnya. Nggak ada suara isakan. Nggak ada raungan dramatis. Steviona cuma menangis dalam keheningan yang menyiksa, membiarkan dadanya naik-turun meraup sisa-sisa oksigen.
Benteng es yang dia bangun dengan susah payah selama ini, retak. Dan rasanya legit lebih sakit daripada kena luka tusuk pas lagi baku hantam di arena balap.
Honest response ya, jadi monster itu ternyata exhausting abis. Lo harus selalu stay on guard, nunjukin taring ke semua orang, mastiin nggak ada yang berani nyentuh soft spot lo. Tapi di malam-malam sepi kayak gini, monster itu juga akhirnya lelah pura-pura kebal.
Sementara itu, di lantai bawah, vibes-nya nggak kalah hancur.
Evans masih terduduk di karpet ruang tengah. Jas mahalnya udah kusut berantakan, kemejanya berantakan. Pria paruh baya itu memegangi kepalanya dengan kedua tangan, pundaknya bergetar pelan.
Di atas meja, ada pigura foto lama yang dibingkai silver—foto keluarga yang udah usang. Elarra yang tersenyum cantik, Evans muda yang tampak bangga, dan seorang balita perempuan berpipi chubby yang tengah merangkul leher ayahnya dengan tawa renyah. Steviona kecil.
Dulu, Steviona adalah anak perempuan yang selalu merengek minta digendong, yang matanya berbinar-binar penuh pemujaan tiap kali menatap ayahnya. Kapan semuanya berubah jadi se-hitam ini? Kapan tatapan memuja itu berubah jadi sorot mata psikopat yang menjanjikan kematian?
Jawabannya literally ada di tangan Evans sendiri.
Ironisnya, hubungan ayah dan anak ini basically adalah sebuah tragedi tentang dua orang yang sama-sama tersesat, tapi terlalu keras kepala buat saling ngasih kompas.
Ada dinding tebal transparan di antara mereka yang namanya 'gengsi' dan 'kurang miskomunikasi'. Steviona yang merasa dikhianati dan dibuang begitu ibunya meninggal dan posisinya digantikan oleh Hierra. Evans yang merasa gagal menjadi ayah, lalu memilih jalan pengecut dengan menghindari konfrontasi dan malah membuat keluarga baru, berharap luka lamanya bisa tertutup tanpa perlu diobati.
Mereka lowkey sama-sama hancur. Sama-sama berdarah. Tapi alih-alih duduk bareng buat spill perasaan masing-masing, saling dengerin, dan nge-benerin broken pieces itu, mereka malah sibuk melukai diri sendiri. Nggak ada effort buat saling memahami. Nggak ada kata maaf yang beneran nyampe ke hati.
Keduanya cuma muter-muter di toxic cycle yang sama. Menjadi parasit buat mental masing-masing. Berharap lukanya sembuh sendiri, padahal mereka bahkan nggak berniat buat mencabut durinya.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang sama-sama pekat, ayah dan anak itu terlelap dengan genangan air mata dan satu mindset yang tragis: mereka lebih milih jadi monster buat satu sama lain, daripada ngelepasin ego buat healing bareng-bareng.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭