Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: JEBAKAN LIFT LANTAI 88
BAB 29: JEBAKAN LIFT LANTAI 88
Pukul delapan pagi, dentang jam dinding di lantai dasar Vantec Tower menggema tipis di antara kerumunan karyawan yang lalu-lalang. Udara lobi terasa sejuk oleh pendingin ruangan sentral, tetapi bagi Clarissa, atmosfer di sekitarnya justru terasa panas membakar kulit.
Seragam cleaning service abu-abu dengan bahan kain kasar kini melekat di tubuhnya. Identitas lamanya sebagai wanita kelas atas telah terkikis habis, digantikan oleh status baru sebagai pekerja rendahan di lantai bawah tanah. Namun, rasa malu itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan bara dendam yang berbiak di dalam rongga dadanya. Setiap kali ia mengingat bagaimana Vion menendangnya keluar dari penthouse lantai 99, amarahnya bergejolak hebat.
“Vion boleh melarangku menginjak lantai di atas lima puluh,” gumam Clarissa pelan di depan cermin toilet basemen yang buram dan retak. “Tapi dia tidak akan pernah bisa mengontrol seluruh sistem di dalam gedung ini selamanya. Kalau aku tidak bisa mendekatinya lewat jalur kehormatan, aku akan hancurkan perempuan jalang itu dari dalam perut Vantec.”
Peluang yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tersaji tepat pukul sepuluh lewat lima belas menit.
Dari balik layar monitor pantau kecil yang terletak di ruang utilitas basement—sebuah ruangan sempit berbau lembap dan oli bekas—Clarissa melihat nama Alesha terpampang di sistem manajemen gedung. Berdasarkan jadwal harian operasional, Presdir wanita itu dijadwalkan turun dari penthouse lantai 99 menuju ruang rapat utama di lantai 88 untuk memimpin audit kuartalan bersama para pemegang saham baru.
Jari-jemari Clarissa yang gemetar bergerak cepat di atas papan tik terminal pemeliharaan tua. Terminal itu rupanya sengaja dibiarkan tidak terkunci oleh teknisi magang yang lalai semalam. Matanya menatap tajam deretan baris kode heksadesimal pada layar hijau pudar. Ia tidak berniat mencuri data keuangan atau melakukan spionase korporat; tujuannya jauh lebih spesifik, yaitu melumpuhkan sirkuit pengarah gerak lift ekspres nomor tiga yang menjadi jalur eksklusif penghuni lantai atas.
Klik.
Jari telunjuknya menekan tombol enter untuk mengeksekusi perintah terakhir. Di atas layar, status lift ekspres lantai 99 berubah seketika menjadi Manual Override Mode. Sistem kendali otomatis terputus dari pusat.
Sementara itu, di lantai 99, Alesha melangkah keluar dari kamar utama dengan balutan gaun midi rajut berwarna gading yang longgar. Pakaian itu dirancang khusus untuk menyamarkan usia kehamilannya yang kini menginjak bulan ketiga. Tangannya terulur mengelus perut ratanya pelan, merasakan denyut kehidupan kecil yang tumbuh tenang di sana. Vion berdiri di ambang pintu kamar, merapikan dasi abu-abu arang suaminya sebelum mencium lembut puncak kepala sang istri.
"Jangan terlalu lelah di ruang rapat, Sayang," bisik Vion hangat, menyalurkan ketenangan. "Hendra sudah menyiapkan lift khusus di ujung koridor agar kau tidak perlu berjalan jauh."
Alesha tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan laporan audit divisi logistik selesai hari ini, Vion. Arka sudah di sekolah, dan aku ingin urusan perusahaan ini cepat beres sebelum perutku makin membesar."
Alesha berjalan anggun menyusuri koridor marmer putih menuju lift pribadi lantai 99. Tombol panggil ditekan. Pintu baja perak berdengung pelan, membuka jalur mulus ke dalam kabin beraroma kayu manis khas Vantec. Ia melangkah masuk seorang diri. Pintu tertutup rapat, meluncur turun dengan kecepatan tinggi menembus puluhan lantai ke bawah.
Sepuluh lantai... Tiga puluh lantai... Lima puluh lantai...
Tiba-tiba, laju kabin yang mulus itu tersendat hebat. Suara gerigi logam bergesekan nyaring, memekakkan telinga.
Bum!
Hantaman keras membuat Alesha kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke depan, telapak tangannya refleks menahan dinding cermin kabin untuk melindungi perutnya. Dalam detik berikutnya, lampu LED putih terang di atas kepala padam total, menyisakan pendar lampu darurat berwarna merah darah yang berpendar remang-remang.
Di panel utama, layar digital mati total. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 88 dan lantai 87—tepat di tengah-tengah rongga poros vertikal gedung setinggi hampir empat ratus meter.
"Ada apa ini?" gumam Alesha. Suaranya bergetar tipis, bukan karena rasa takut yang berlebihan, melainkan karena gelombang mual mendadak akibat guncangan keras yang menghantam perutnya. Ia meraba saku mantelnya; ponsel pintar miliknya menunjukkan tanda No Signal. Jaringan internal gedung terisolasi total akibat sistem manual yang dikunci dari luar.
Di ruang kendali bawah tanah, Clarissa berdiri terpaku menatap layar monitor utama. Senyum kemenangan terukir lebar di bibirnya yang pucat. Ia melihat lampu merah indikator berhenti darurat menyala di sektor B-88.
“Terkurunglah di dalam besi tua itu, Alesha!” bisik Clarissa penuh kepuasan yang mulai mendekati kewarasan semu. “Rasakan bagaimana rasanya terjebak dalam gelap dan ketakutan!”
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Belum sempat Clarissa memutar kursi plastiknya untuk melarikan diri, suara derap sepatu bot berat bergemuruh kencang di lorong beton basement. Pintu besi ruang utilitas digeledah dari luar tanpa aba-aba.
Brak!
Pintu terbuka lebar dengan hantaman keras. Hendra berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah dingin bagai es, didampingi empat petugas keamanan berbadan tegap. Sorot mata Hendra menatap tajam ke arah layar terminal yang masih menampilkan baris kode manipulasi lift atas nama terminal ID BS-09—loker milik Clarissa.
"Selesai, Clarissa," suara Hendra memecah keheningan ruangan kecil itu, rendah, datar, dan tanpa celah. "Semua rekamannya sudah kami punya."
Clarissa menolak percaya. Ia menoleh kaku ke sudut langit-langit; lensa kamera hitam kecil berkedip pelan memancarkan cahaya hijau di kegelapan sudut ruangan. Wajahnya berubah seputih kapur seketika. Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh menghantam lantai semen hingga hancur berkeping-keping.