“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habiskan Waktu Sama Kamu
Pagi hari di hari Sabtu Aluna bangun dengan buru-buru setelah melihat jam yang menunjukkan sudah pukul 07.00.
Ia segera turun dari tempat tidurnya dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.
Jelang beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap, hari ini ia mengenakan jeans dan baju kaos lengan pendek dengan warna soft, terlihat serasi dengan kulit putihnya.
Aluna duduk didepan meja riasnya dan segera mengambil hair dryer serta catokan dari dalam lacinya.
Ditengah aktivitasnya, matanya tertuju pada kalender lipat di atas meja riasnya itu.
"Wah, keknya aku kena syndrome workaholic deh." Gumamnya dan segera mematikan hair dryernya.
Ia menatap pantulan dirinya didepan cermin, padahal ia sudah sesiap ini.
"Ternyata lagi weekend, mana udah rapi lagi."
Dengan kesal ia melanjutkan mengeringkan rambutnya yang sudah setengah kering.
Selesai dengan rambutnya, Aluna lalu naik ke tempat tidur dan mulai membuka handphonenya sambil rebahan.
"Ternyata weekend seenak itu setelah hampir seminggu bekerja yah, biasanya weekend biasa aja."
Aluna tersenyum menertawai dirinya sendiri yang sudah heboh sejak bangun tidur, taunya ia sedang libur.
Dering ponselnya berbunyi, ia lalu menerima panggilan yang berasal dari Rafa.
"Al.. lagi dimana?." Tanya Rafa diseberang sana.
"Dirumah, Rafa. Kenapa?." Jawabnya lalu kembali bertanya alasan Rafa menelponnya pagi-pagi.
"Jalan yuk, lagi weekend nih." Ajak Rafa
Aluna berpikir sejenak, ia memegangi bajunya yang masih terpasang rapi dibadannya
"Mau kemana emang?."
Aluna merasa tertarik untuk keluar dengan Rafa pagi ini, terlebih saat ia merasa sayang sudah Serapi ini tapi malah kembali tidur.
"Kemana aja sih asal sama kamu." Ucap Rafa membuat Aluna memutar bola matanya malas dengan jawaban Rafa.
"Ajak yang lain gimana?." Tanya Aluna menawarkan.
Rasanya sudah lama mereka tidak kumpul bersama.
"Gak baca grup yah? mereka lagi ada acara masing-masing. Dinda juga tadi ngajak anak-anak tapi mereka rata-rata gak bisa." Jelas Rafa
"Iya gak baca aku, baru selesai mandi." Jawabnya yang memang tadi berniat membuka chat grup mereka tapi Rafa lebih dulu menelponnya.
"Pas banget tuh, aku jemput kamu yah."
Diseberang sana Rafa terdengar sangat bersemangat membuat Aluna tersenyum sendiri mendengar antusiasnya.
"Oke." Ucap Aluna singkat.
Aluna lalu memutuskan panggilan mereka, lalu ia mencari kontak Lila dan menghubunginya.
"Halo La..lo Ada acara hari ini?." Tanya Aluna saat ia sudah terhubung dengan Lila.
"Iya nih acara perusahaan di puncak." Jawab Lila tidak bersemangat
"Ihh seru banget La. Kantor gue ada juga gak yah kira-kira acara begituan?." Aluna merasa antusias sendiri dan berharap bisa merasakan acara seperti itu juga.
"Pasti ada sih tapi belum sekarang." Terka Lila tidak yakin.
"Gak sabar banget mau ngerasain acara perusahaan." Aluna yang terdengar bersemangat membuat Lila menghembuskan napasnya kasar.
"B aja Al. Gak seru malah, ngambil hari libur aja." Keluh Lila yang memang sangat malas mengikuti acara seperti ini, terlebih acaranya saat hari libur.
"Padahal gue mau banget. Ya udah deh, have fun yah La." Ucap Aluna menyemangati Lila.
"Iya Al." Sahut Lila diseberang.
Aluna kembali memutuskan panggilannya dengan Lila kali ini.
Acara perusahaan? Terdengar menyenangkan dipikiran Aluna, rasanya ia sudah tidak sabar mengikuti acara-acara seperti itu di perusahaannya nanti.
***
Hampir setengah jam, akhirnya Rafa sampai dirumah Aluna. Ia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah Aluna, didepan sana ia bertemu dengan kedua orangtua Aluna yang sedang duduk di taman depan.
"Rafa." Sapa Papanya Aluna hangat
"Selamat pagi Om, Tante. Rafa mau jemput Aluna, sekalian izin sama Om, Tante." Ucap Rafa membalas sapaan Papanya Aluna.
Tidak lupa ia juga meminta izin untuk mengajak Aluna jalan hari ini.
"Alunanya udah bangun belum yah?. Tunggu disini dulu Tante panggilin." Mamanya Aluna berniat berdiri dari tempatnya tapi langsung di tahan oleh Rafa.
"Udah bangun kok Tante, aku tadi telponan sama dia." Kata Rafa tidak ingin merepotkan.
Aluna yang baru saja dibicarakan sudah muncul dari dalam rumah.
"Lama banget kamu." Keluhnya karena merasa sudah lama menunggu Rafa.
"Ini juga udah di kebut mobilnya." Jawab Rafa mendengus.
"Jangan kebut-kebut Rafa, bahaya." Tegur Mamanya Aluna membuat Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehe iya Tante." Jawabnya tersenyum kikuk
"Kamu nih." Ucap Mamanya Aluna pada Aluna.
Aluna sendiri hanya mencebikkan bibirnya cuek dengan teguran Mamanya.
"Om, Tante. Rafa izin bawa Aluna jalan yah." Kata Rafa berpamitan pada kedua orangtua Aluna.
"Iya, have fun yah." Jawab Papanya Aluna secara tidak langsung memberikan izin untuk Rafa membawa Aluna.
"Pergi dulu yah Ma, Pa."
Kali ini Aluna yang berpamitan pada Papa dan Mamanya, ia menciumi pipi kedua orangtuanya lalu mengajak Rafa beranjak dari sana.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke mobil Rafa, pemandangan tersebut sukses membuat Mamanya Aluna gemas sendiri.
"Cocok banget yah mereka berdua." Ucap Mamanya Aluna.
"Rafa udah dijodohkan Ma, lagipula mereka dari dulu memang sedekat itu." Jawab Suaminya mengingatkan.
"Sayang aja gitu Pa." Cibir istrinya yang juga tau kalau Rafa sudah dijodohkan.
Tapi rasanya sayang saja saat melihat Rafa begitu peduli pada putrinya dan Aluna sendiri sangat nyaman didekat Rafa.
"Mama mau Papa bicara sama Papanya Rafa? Pasti nggak nolak dia." Tawar Papanya Aluna bercanda.
"Mau Aluna ngamuk?."
Suaminya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya, ia pun tau Aluna pasti marah jika tau Papanya mau menjodohkannya.
"Tadi Mama yang galau sekarang Mama juga yang negur." Ledeknya yang dihadiahi cubitan kecil dipahanya.
Papanya Aluna meringis menerima cubitan yang cukup pedas itu.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Rafa sudah berjalan jauh dari lingkungan rumah Aluna, entah mau kemana Rafa membawanya.
"Mau kemana kita?." Tanya Aluna penasaran.
"Apartemen aku." Jawab Rafa singkat
"Ngapain ke apartemen kamu Rafa?."
Aluna yang mendengar jawaban Rafa langsung mencecarkan protesnya pada Rafa.
"Habiskan waktu sama kamu." Ucapnya
Aluna pun tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.
"Gila nih orang, tau gitu dirumah aku aja tadi Rafa." Keluh Aluna kesal
Ia kira Rafa akan membawanya kemana hari ini, pantas saja pakaiannya terlewat santai, pikir Aluna.
"Gak enak ada Om sama Tante." Tawa Aluna hampir pecah saat mendengar kata-kata Rafa.
"Dih segala gak enak. Dulu aja kamu udah seperti penghuni rumah aku juga, gak pernah mau pulang." Cibir Aluna mengingatkan Rafa akan masa lalu mereka.
"Udah beda Al, kita udah dewasa."
"Sama aja sih." Ucap Aluna cuek
"Terus kita ngapain di apartemen kamu? Bengong?." Tanyanya lagi bertubi-tubi
Bukannya kesal, Rafa malah tersenyum mendengar ceriwisnya Aluna. Ia pun belum memikirkan apa yang akan dilakukannya bersama Aluna nanti, yang ia tau hanya ingin menghabiskan hari ini dengan Aluna.
"Belanja dulu yuk di Mall terus pulang ke apartemen." Katanya setelah teringat ia tidak punya banyak makanan di apartemennya.
"Boleh deh. Aku jadi kepikiran mau masak, kita beli bahan makanan yah." Aluna pun setuju dan terlihat sudah antusias.
"Ngapain masak sih, beli aja." Tolak Rafa karena tidak ingin melihat Aluna repot.
"Gak mau. Aku lagi bosen jadi mau belajar masak, dirumah pasti gak dibolehin berantakin dapur." Aluna pun bersikeras ingin memasak.
"Jadi kamu mau berantakin dapur aku?." Tanya Rafa yang dihadiahkan tatapan tajam Aluna.
"Kenapa? Gak boleh?." Desak Aluna dengan nada mengancam.
"Boleh banget lah. Kamu mau porak porandakan apartemennya juga boleh, semuanya boleh kalau kamu." Jawab Rafa yang langsung pasrah dari pada mood Aluna turun, ia takut Aluna malah minta pulang saja.
"Gitu dong. Bentar ah mau cari resep dulu, kamu fokus nyetir yah." Ucap Aluna senang sampai menepuk pelan pundak Rafa.
"Lucu banget sih kamu kalau lagi excited begini."
Rafa yang gemas melihatnya tidak tahan dan mencubit pipinya.
"Tangan kamu kotor habis pegang stir." Tegur Aluna menepis tangan Rafa dari wajahnya.
"Maaf...tapi kamu lucuuu." Rafa kembali mencubit pipi Aluna gemas dengan satu tangannya sementara tangan yang lain sibuk menyetir.
"Rafaaaaaa." Seru Aluna kesal.