NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perempuan hamil

"Apa?? Mbak sedang hamil?" Tanya ku dengan nada terkejut.

"Iya, Mbak. Usia kehamilanku masih sangat muda, jadi belum kelihatan. Aku merasa calon suamiku itu menghindariku, jadi saya nekat mencari tau alamat rumahnya sendirian." Jawabnya sambil tangannya mengusap lembut perutnya.

"Ya Allah, Mbak..kenapa mbak gak bilang dari tadi kalau sedang hamil. Kalau mbak memberitahu saya dari awal, pasti saya sudah buatkan makanan yang segar." Ucapku merasa bersalah karena hanya menyuguhkan segelas es jeruk.

"Tidak apa-apa kok, mbak. Tidak perlu repot-repot." Jawab nya.

Melihatnya perasaanku menjadi iba. Dalam keadaan hamil ia berusaha mencari calon suaminya yang mungkin dengan sengaja menghindarinya. Sungguh malang nasib wanita itu.

"Mbak tadi sudah makan siang belum? Kalau belum, ayo makan dulu, Mbak. Calon suami mbak pasti datangnya masih lama. Lebih baik makan dulu. Ayo ikut saya ke dapur, mbak." Ucapku sambil beranjak dari sofa.

Wanita itu pun menganggukkan kepala, kemudian mengekoriku menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku langsung mengambil piring kosong, lalu meletakkannya di atas meja makan. Kemudian ku buka tudung saji yang menutupi makanan. Masih ada ayam goreng dan juga sayur sop yang aku masak tadi pagi.

"Silahkan, Mbak harus makan yang banyak, ya. Supaya Mbak tetap sehat dan anak yang ada di dalam perut mbak bisa tumbuh dengan baik." ucapku dengan halus.

Wanita itu hanya mengangguk. Lalu mulai mengambil nasi, sayur dan juga ayam. Kemudian Dia mulai menyantap makanannya dengan perlahan. Namun, aku melihat dia tak berselera makan.

"Gimana, Mbak? Makanannya tidak enak, ya. Apa Mbak mau saya buatkan menu yang lain?" Tanya ku sedikit khawatir.

"Enak kok. Mbak Jasmine tidak perlu repot-repot." Jawab nya sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau enak. O,ya kita sudah mengobrol dari tadi, tapi saya belum tau nama Mbak siapa?" Tanyaku.

"Nama saya, Vanessa." Jawabnya sambil tersenyum.

"oh, Vanessa. senang berkenalan dengan Mbak Vanessa." ucapku.

Vanessa hanya tersenyum, lalu melanjutkan aktifitas makan nya.

Hatiku sangat tidak tega melihat Vanessa. Pasti tidak mudah jika berada di posisinya saat ini. Belum menikah tapi sudah mengandung. Aku membayangkan betapa cemasnya dia. Apa lagi sampai nekat mencari alamat calon suaminya sendirian. Akh tidak mau terlalu ikut campur dalam urusannya. Yang terpenting, saat ini aku sudah memberikan tempat untuknya menunggu sampai calon suaminya datang menjemput.

Aku masih menemani Vanessa makan di dapur. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Aku langsung mengenali suara mobil itu. Mobil milik Mas Rama. Langsung ada perasaan lega dan senang mengetahui Mas Rama pulang.

Namun, ada rasa penasaran tumben Mas Rama pulang jam segini.

Segera aku bangkit dari tempat duduk ku, berniat membukakan pintu untuk Mas Rama. Namun, belum sempat kaki ku melangkah, Mas Rama sudah masuk terlebih dahulu dengan langkah yang tergesa-gesa. Raut wajahnya masih terlihat marah.

"Lho,Mas Rama kok tumben jam segini pulang. Baru saja aku ingin membukakan pintu, ternyata Mas sudah masuk duluan. Kalau begitu ayo kita makan siang bersama sekalian, Mas. Kebetulan ini aku kedatangan tamu, Namanya Mbak Vanessa." Kataku kepada Mas Rama.

Tidak ada jawaban dari Mas Rama. Dia hanya berdiri diam seperti melihat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

"Mas......?" Panggilku lagi. Namun Mas Rama tetap diam. Seolah tak mendengar suaraku.

"Mas Rama !!! Mas dengar aku tidak?" aku mencoba memanggilnya lagi. Namun tetap tak ada jawaban.

Aku melihat Mas Rama yang sedang melihat ke arah Vanessa. Vanessa pun juga melihat ke arah Mas Rama dengan senyum tipis. Aku yang melihat itu seketika lupa untuk memperkenalkannya kepada Mas Rama. Pasti Mas Rama bingung dengan ada nya Vanessa dirumah.

"o,iya, Mas. perkenalkan ini tamu ku, namanya Mbak Vanessa. Kebetulan mampir kerumah kita. Katanya sedang mencari alamat rumah calon suaminya. Tapi tidak ketemu. Dan calon suaminya susah di hubungi." ucapku mencairkan suasana.

"oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Aku mau masuk ke kamar dulu, ada berkas yang tertinggal." katanya dengan gugup.

Mas rama langsung berjalan menuju kamar. Aku pun mengikutinya dari belakang, karena ada sesuatu yang harus aku minta.

Sesampainya dikamar, Mas Rama langsung mencari berkas nya yang katanya tertinggal.

"Maaf, Mas. Bolehkah aku meminta uang untuk membeli susu. Susu untuk anak-anak sudah habis. Uang yang Mas berikan satu minggu yang lalu sudah habis untuk membeli keperluan rumah, hanya sisa lima ribu. Sekalian aku juga ingin membeli buah segar untuk Mbak Vanessa, karena dia sedang hamil muda." Ucapku sambil menundukkan kepala takut Mas Rama marah.

Namun Mas Rama tidak mengucapkan apa-apa. Justru ia langsung mengambil dompet dari saku celananya, kemudian mngeluarkan uang seratus ribuan sebanyak 7 lembar lalu menyerahkannya kepada ku.

Aku langsung menerimanya dengan perasaan lega. Biasanya jatah uang untukku lima ratus ribu seminggu. Tapi kali ini Mas Rama memberi ku tujuh ratus ribu. Aku sangat bersyukur.

"Alhamdulillah... terimakasih, Mas. Kalau begitu, aku keluar dulu untuk membeli susu dan buah sebentar ya, Mas. Aldi dan Aira masih tidur, tolong Mas tunggu sebentar dirumah. Aku tidak akan lama." Ucap ku kepada Mas Rama.

Mas Rama hanya menganggukkan kepala nya. Kemudian aku langsung berjalan keluar dari kamar.

Sebelum meninggalkan rumah, Aku kembali ke dapur untuk menemui Vanessa.

"Mbak Vanessa, saya tinggal dulu sebentar tidak apa-apa kan? Saya mau ke supermarket membeli susu untuk anak-anak saya. Sekalian nanti saya belikan buah yang segar untuk Mbak Vanessa. Tunggu disini dulu, ya Mbak. Ada suami saya dan juga anak-anak dirumah, jadi Mbak Vanessa tidak sendirian." Ucapku dengan tersenyum ramah kepada Vanessa.

"Iya, Mbak." Jawab Vanessa singkat dengan anggukan kepala.

Aku kemudian mengambil tas. Menyalakan sepeda motorku, lalu melaju ke arah supermarket terdekat.

Di sepanjang perjalanan, perasaan ku sangat lega. karena akhir nya aku bisa membelikan Aldi dan Aira susu. Mereka bisa minum susu nanti. Pasti mereka akan sangat senang.

Tak membutuhkan waktu lama aku telah sampai di supermarket. Aku segera memarkirkan motor ku dan berjalan masuk kedalam supermarket.

Aku langsung menuju rak susu anak. Lalu mengambil beberapa susu untuk stok di rumah. Setelah itu, aku menuju ke arah rak buah. Aku memilih buah-buah yang segar untuk Vanessa.

Setelah semua sudah kudapatkan. Aku segera menuju kasir untuk membayar. Transaksi selesai , aku pun melaju dengan sepeda motor ku untuk pulang ke rumah.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Terimakasih sudah membaca.

Jangan lupa like dan follow 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!