Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilihan
Keesokan Harinya...
Wilayah Perumahan Tokyo.
Pukul 07:50 Pagi Hari.
“Wah!" Nako terkagum ketika melihat gedung sekolah di hadapannya, "Jadi ini yang namanya sekolah.”
“Sekolah?” tanya Lumina.
“Kak Lumina gak tau? Yaa~ aku juga gak terlalu tau sih… yang jelas ini tempat untuk orang-orang belajar, yakan Kakak?” Nako menatap Akira yang sedang berdiri di tengah-tengah mereka berdua.
“Kira-kira begitu.”
“Tidak kusangka mereka sekolah disini..." pikir Akira.
Sekolah ini adalah sekolah tempat pertama kali Akira masuk ke Retakan Portal untuk bertemu Lumina, dan sekolah ini juga adalah tempat dia sekolah dulu.
Saat kemarin sebelum Kato pamit pergi Akira di minta untuk membantu proses izin masuk untuk anak sekolah yang pernah Akira bimbing, alhasil Akira dikirim kesini sebagai perwakilan dari pemerintah.
“Kita di sini saja kak? Kayaknya dari tadi orang orang ngeliatin kita loh,” Nako mengamati sekelilingnya banyak siswa baru datang melihat mereka bertiga, karena pakaian mereka yang mencolok dan mereka sedang di depan gerbang.
Dari dalam sekolah, seorang satpam tiba-tiba mendatangi mereka dan bertanya,
“Permisi, apa kalian adalah pahlawan yang dikirim untuk pemilihan?”
“Iya,” jawab Akira.
“Kalau begitu kalian bisa tunggu di aula gedung sekolah, nanti akan ada sedikit arahan,” ucap satpam itu sambil menunjukan lokasi aula gedung sekolah.
“Baiklah, terimakasih.”
Mereka bertiga berjalan ke gedung yang ditunjuk oleh satpam, tidak lama mereka sudah tiba di dalam aula gedung sekolah yang luas dan besar, didalamnya ada beberapa murid dan guru yang sedang melakukan persiapan.
“Ohh! Apa ini, apa ini panggung Opera?!” Nako berseri-seri melihat panggung di ujung Aula gedung.
“Hahaha! Terimakasih atas pujiannya.” Suara lelaki terdengar tidak jauh dari sebelah mereka.
Mereka bertiga pun melihat ke arah suara itu dan raut wajah mereka seperti menggambarkan pertanyaan.
“Ah maaf, sebelumnya perkenalkan, aku kepala sekolah disini, namaku Souma Katsuto.”
Akira yang mendengar hal itu langsung memalingkan wajahnya.
Lelaki yang menyebut dirinya sebagai kepala sekolah menyadari Akira dan melihat wajah tak asing dari Akira, hingga ia pun mencoba bertanya,
"Yoshikawa?”
Akira tak menjawab dan hanya diam saja, melihat Akira bersikap aneh Lumina dan Nako pun melihatnya.
"Ternyata benar kau ya... sudah lama sekali, tapi, aku tau kau tidak ingin membahas masa lalu, jadi aku gak akan bicara lebih lanjut."
Lumina dan Nako hanya kebingungan melihat kepala sekolah seperti mengenal Akira.
"Jadi aku hanya memastikan, melihat kamu disini pasti karena kamu Pahlawan yang datang untuk pemilihan—"
“Ohh!!” Suara perempuan terdengar di hadapan mereka dan memotong perkataan Kepala sekolah.
Dari arah suara itu terlihat Amane dan Kisaragi sedang berjalan bersama.
Amane bersama Kisaragi berjalan ke arah Akira.
“Halo Yoshikawa!” ucap Amane.
"Halo juga."
“Siapa mereka kak?” tanya Nako.
“Anggap saja semacam kenalan.”
“Ehh?! Kamu ada adik lain?"
"Bukan, dia hanya memanggilku begitu."
"Begitu ya... tapi, dia imut banget! apa aku boleh mengelusmu?" Wajah Amane berseri-seri berharap dibolehkan oleh Nako.
"Tidak." jawab Nako.
"Sayang sekali~" Amane menunduk lemas kecewa.
“Kalian sepertinya sudah saling mengenal ya, kalau begitu, untuk arahannya kurasa lebih baik dijelaskan oleh mereka berdua, saya izin pamit dulu.” Kepala sekolah itu berbalik badan dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Eh arahan?! jangan-jangan Yoshikawa salah satu pahlawan yang memilih?!" ucap Amane.
"Kamu ini, tentu saja, memangnya apalagi." ucap Kisaragi.
"Kalau begitu Yoshikawa langsung ke panggung saja, tapi untuk yang lain mungkin menunggu disini." ucap Amane.
"Yasudah kalau begitu, aku pergi dulu, kalian nunggu gapapa kan?"
"Tidak masalah." ucap Lumina
"Santai saja!" ucap Nako.
Setelah itu Akira diantar Kisaragi dan Amane pergi menuju panggung, lalu dia menunggu di balik panggung sebelum acaranya mulai.
“Sebelumnya terimakasih banyak untuk para murid karena sudah mengikuti instruksi dengan baik.”
Seorang lelaki pembawa acara berdiri di atas panggung dengan sebuah mikrofon di tangannya, dan di hadapannya aula gedung dipenuhi oleh murid-murid sekolah yang sedang berbaris.
“Sekarang kita kedatangan 3 pahlawan senior yang secara sukarela datang kesini untuk melakukan pemilihan pada murid terbaik, yang dimana murid bisa mengikuti pelatihan khusus.”
......................
"Wah... enak sekali yah murid-murid yang terpilih menjadi murid terbaik."
"Orang seperti kita mungkin sulit."
"Benar."
......................
“Pelatihan akan dilakukan selama 1 Minggu, setelah itu mereka akan melakukan sebuah duel, duel ini merupakan duel skala besar yang dipertontonkan hampir seluruh jepang, Kalau begitu, saya akan memberitahu siapa saja pahlawan yang datang.” Lelaki itu berjalan ke pinggir panggung.
“Pahlawan pertama, pahlawan Rank A Dari Guild Fallen Leaf, Setsu Sougo.”
Seorang lelaki dengan muka tersenyum lebar dan wajah muda yang tampan keluar dari balik panggung.
“Halo~ salam kenal semuanya.” Dia tersenyum lebar menampilkan giginya yang bersinar, lalu matanya berkedip sebelah ke arah para murid.
......................
“Wahh~ dia ganteng banget gak sih!”
“Iya ya, aku harap bisa jadi murid terbaik itu."
"Jangan harap deh."
......................
Aula gedung yang sebelumnya sunyi menjadi ramai karena bisikan para murid murid.
“Tolong tenang dan tertib!”
“Hei Ayame bagaimana menurutm—” Amane berhenti berbicara ketika melihat Kisaragi seperti memasang ekspresi jijik ke arah depan.
“Wahh~ dari wajahmu sepertinya aku sudah tau jawabannya.” ucap Amane.
“Selanjutnya, Pahlawan Rank S dari Guild Lake Snow, Tsumugi Koyuki.”
Tap… tap… tap…
Dari balik panggung, perempuan dengan rambut panjang yang indah sedang memejamkan matanya, berjalan ke tengah panggung menghadap para murid, lalu ia membuka matanya dan tatapan matanya seolah membuat semua orang terpana dan tak bisa melepas pandangan darinya.
“Woahh, cantik sekali…” Semua lelaki dan perempuan yang melihatnya langsung terpana begitu melihatnya.
“Ayame—” Nako melihat Kisaragi yang memasang wajah datar seperti biasa saja melihat orang itu.
“Kau ini sebenarnya tertarik sama apa sih,” ucap Amane dengan raut wajah kebingungan.
“Dan yang terakhir, berbeda dari sebelumnya, dia dari pemerintah dan seorang pahlawan Rank F.”
“Hah? Rank F?”
“Apa pemerintah kehabisan orang sampai mengirim pahlawan rank F?”
“Kayaknya mereka emang kehabisan orang sih sampai mengirim orang lemah.”
Amane dan Kisaragi yang berada di belakang 3 orang lelaki yang membicarakan Akira mendengarkannya.
“Mereka ini, padahal mereka tidak tau apa apa, ya kan Ayame—” Nako melihat Kisaragi sedang menatap tajam punggung laki laki itu dengan aura menyeramkan.
“Wahh… sepertinya aku tau kau mendukung siapa,” ucap Amane.
“Tolong jangan berisik!”
Suara teriakan lelaki di pinggir panggung membuat seisi Aula menjadi hening.
“Baiklah, dari pemerintah, dia adalah Akira Yoshikawa.”
......................
"Oii, apa aku salah dengar? Marganya mirip dengan Pahlawan Rank S."
"Benar, apa dia ada hubungannya dengan pahlawan Rank S itu? Rank dia aja F."
"Entahlah, mungkin saja kebetulan."
......................
Akira yang dari balik panggung berjalan ke sebelah kanan panggung, karena kiri dan tengah sudah ditempati.
Dia berdiri tegak dengan mantelnya yang seolah terkibar angin menatap para murid.
“Aku malu banget... tidak kusangka pemandangan dari atas panggung seperti ini, tapi, aku harus tetap tenang” pikir Akira.
“Kalau begitu, selanjutnya saya akan mengumumkan 6 murid terbaik di sekolah ini...”