NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehebohan Senusantara..

Setelah makan malam romantis dan lamaran yang penuh kejutan, Levin membuka pintu mobil untuk Jingga dengan sikap gentleman. Jingga masih belum benar-benar bisa berhenti tersenyum, tangannya sesekali menyentuh pipi seolah memastikan semua yang baru saja terjadi bukan mimpi.

Mobil melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi. Dari kaca jendela, lampu-lampu kota berpendar indah, namun bagi Jingga, sinar paling terang malam itu hanyalah lelaki di sampingnya.

Mobil berhenti perlahan di depan rumah keluarga Ali. Suasana sudah sepi, hanya ada beberapa lampu teras yang menyala. Levin mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah Jingga yang sejak tadi masih memandangi tangannya yang digenggam hangat.

“Kita sudah sampai,” ucap Levin lembut.

Jingga menoleh, wajahnya tampak ragu untuk segera turun. Entah kenapa hatinya terasa hangat, berat berpisah malam ini.

Levin tersenyum tipis, lalu melepaskan sabuk pengamannya. “Boleh aku antar sampai depan pintu?”

Jingga mengangguk pelan. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu rumah. Sesekali, Levin menoleh ke arah Jingga yang wajahnya masih diliputi senyum malu bercampur haru.

Sampai di depan pintu, keduanya terdiam sejenak. Udara malam terasa dingin, tapi hati Jingga justru dipenuhi hangat.

“Terima kasih untuk malam ini, Vin. Aku… nggak tahu harus bilang apa,” ucap Jingga lirih, menunduk.

Levin mendekat, jarak wajah mereka kini tinggal sejengkal. Dengan hati-hati, ia menyibakkan helaian rambut Jingga yang jatuh ke pipinya. “Kamu nggak perlu bilang apa-apa. Cukup simpan malam ini di hati kamu. Karena mulai malam ini… aku mau kamu yakin, kita benar-benar akan melangkah ke masa depan bersama.”

Mata Jingga kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan ragu—melainkan penuh rasa terharu.

Levin tersenyum lembut, lalu kembali mengecup punggung tangan Jingga dengan hormat. “Selamat malam, calon istriku. Tidurlah dengan tenang. Aku ingin besok kamu bangun dengan senyum yang sama cantiknya seperti malam ini.”

Jingga hanya bisa mengangguk, wajahnya merah padam. Ia berbalik masuk ke dalam rumah, namun sebelum pintu benar-benar tertutup, ia menoleh sekali lagi dan menemukan Levin masih berdiri di teras, tersenyum tulus, seolah menjaga dari kejauhan.

Malam itu, Jingga tidur dengan hati penuh rasa syukur dan bahagia, tanpa tahu kejutan lain sedang menantinya di pagi hari.

----

Sinar matahari menyelinap lewat celah tirai kamar Jingga. Ia menggeliat pelan, masih terbawa mimpi indah semalam. Senyum samar terlukis di wajahnya saat teringat makan malam romantis dan lamaran mengejutkan dari Levin.

Namun, ketenangan itu langsung buyar ketika ponselnya bergetar tanpa henti. Jingga mengerutkan kening, meraih ponsel di nakas. Puluhan notifikasi masuk, terutama dari satu orang—Arin.

> Arin (spam chat)

"JINGGAAAA!!!"

"Bangun cepat deh!!"

"Lo lihat IG nggak???"

"Levin gila banget sumpah!!"

"AAAAAAA calon istri idaman bangsa!"

"Buka HP lo sekarang juga!"

Jingga yang masih setengah sadar membaca deretan chat itu, makin bingung. “Apaan sih ini orang rame banget pagi-pagi,” gumamnya.

Belum sempat ia membalas, masuk lagi voice note dari Arin.

“Ji!!! Lo parah banget nggak cerita! Levin semalem langsung nge-BOM Instagram, tau nggak? Dia nge-post lamaran lo!!! Satu Indonesia geger, Ji! Lo trending topik! Lo sadar nggak calon suami lo itu sekelas idola nasional?!”

Jingga spontan bangkit duduk, jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia membuka Instagram. Dan benar saja—di akun resmi Levin, yang punya jutaan pengikut, terpampang foto dirinya saat dilamar semalam. Foto yang ia pilih adalah momen ketika ia berlutut di depan Jingga dengan cincin di tangan, tapi angle-nya dari samping belakang. Wajah Jingga hanya terlihat sedikit, siluet cantiknya tersamar dengan  seolah memberi teka-teki.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah latar belakang foto itu tampak jelas cahaya gemerlap kota malam serta formasi drone yang membentuk tulisan besar di langit: “Will You Marry Me?”.

Caption-nya sederhana, tapi cukup membuat dunia maya geger:

"She said YES. ❤️ #NewChapter #Taken"

Hanya dalam hitungan menit, postingan itu langsung meledak. Komentar membanjiri:

“YA ALLAH LEVIN!!! INI SERIUS???”

“SIAPA WANITANYA??? KENAPA NGGAK KASIH LIHAT MUKA???”

“Aku hancur tapi ikut bahagia, semoga dia wanita terbaik buatmu, Vin.”

“OMG ini trending banget, aku harus tahu siapa calon istrimu!!!”

Postingan Levin pun langsung menjadi trending topik nasional. Media gosip online mulai mengangkat berita: “Levin Artama Resmi Lamar Seorang Wanita Misterius”. Spekulasi bermunculan, dari artis, model, bahkan sosialita. Semua penasaran siapa “wanita beruntung” itu.

Jingga menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali menetes tanpa sadar. Perasaan yang semalam sudah begitu indah, kini berlipat ganda.

“Levin…” bisiknya pelan, penuh haru.

“Kenapa kamu segitunya sampai berani nunjukin ke semua orang…?”

Dalam hati, Jingga benar-benar merasa seperti sedang bermimpi. Selama ini ia ragu, mengira hubungan mereka hanyalah karena perjodohan. Tapi dengan cara Levin mengumumkan pada dunia, seolah menegaskan: “Aku tidak malu, aku tidak ragu. Aku memilihmu, Jingga.”

ponsel Jingga yang sejak tadi terus bergetar akhirnya berdering. Nama Levin muncul di layar. Dengan tangan bergetar ia mengangkatnya.

“Halo…” suara Jingga terdengar pelan, masih terbata dengan campuran rasa terkejut dan haru.

Di seberang sana terdengar tawa lembut Levin.

“Hai, sayang… kaget ya? Maaf kalau aku selalu bikin kamu terkejut,” ucapnya hangat. “Aku hanya ingin menunjukan pada dunia… kalau aku adalah milikmu. Dan kamu milikku.”

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Jingga menangis, suaranya bergetar.

“Levin… kenapa kamu selalu begini? Kenapa selalu bikin aku terkejut?… bikin aku marah… tapi di saat yang sama… aku juga terharu dan bahagia.”

Levin terdiam sejenak, lalu berbisik penuh kesungguhan,

“Karena kamu adalah hal terbaik yang pernah Tuhan kasih ke aku, Ji. Aku nggak mau ada satu orang pun yang meragukan keseriusanku. Aku ingin semua orang tahu, kamu adalah calon istriku. Dan aku janji… aku bakal bikin kamu bahagia.”

Jingga menutup wajahnya dengan tangan, menangis tersedu tapi bibirnya tersenyum. Hatinya terasa penuh antara marah karena dikejutkan, terharu karena dimuliakan, dan bahagia karena akhirnya ia yakin, semua ini nyata.

----

Pagi itu, setelah tangis bahagianya reda dan semalam penuh mimpi indah, Jingga turun ke ruang makan dengan wajah yang masih terlihat bingung sekaligus berbinar. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana, dan langkahnya agak ragu ketika hendak duduk.

Namun sebelum ia sempat menarik kursi, mami dan papi sudah menoleh dengan senyum penuh arti.

“Selamat ya, sayang,” ucap mami lembut, matanya berkilat haru.

Papi menimpali dengan nada mantap, “Mami sama papi nggak salah pilih Levin untuk jadi calon pendamping hidup kamu.”

Jingga tertegun. Pipinya memanas, rasa malu bercampur bahagia.

“Ma… Pi… kalian tahu dari mana?” tanyanya terbata, meski dalam hati ia sudah bisa menebak.

Belum sempat dijawab, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat. Mozza dan Grey muncul sambil menahan tawa heboh.

Mozza menepuk bahu adiknya dengan bangga. “Selamat ya, Ji. Levin beneran bikin kami kaget! Pegi ini langsung trending, tau nggak? Satu Indonesia geger.”

Jingga hanya bisa menunduk, wajahnya merah padam, antara malu dan terharu.

“Astaga… aku bener-bener nggak tahu harus bereaksi apa,” lirihnya, tapi senyum tak bisa ia tahan.

Grey lalu berkata sambil mengangkat gelas jusnya,

“Yang penting, kak … Lo sekarang punya lelaki yang berani memperjuangkan Lo, Itu bukti dia serius.”

Mozza mengangguk setuju, matanya berkilat nakal. “Dan serius banget sampai bikin kita nggak bisa sarapan tenang karena diserbu notif."

Tawa pun pecah di meja makan itu. Suasana menjadi hangat, riuh, penuh cinta—momen sederhana yang terasa begitu istimewa.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!