NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Nama

Tisha akhirnya kembali bekerja setelah kondisinya membaik.

Zevanna langsung menghampirinya. "Lo yakin udah kuat kerja, Tis?"

Tisha menoleh ke arahnya. "Gue cuma pingsan, bukan pensiun. Zevanna," jawabnya santai.

Zevanna mendengus kesal karena Tisha masih bercanda. "Yeeee... Baru sembuh udah becanda aja lo!"

Tisha cengengesan. "Hehe, ya gimana. Gue kan orangnya emang kayak gini, emang lo nggak apa?!"

"Gue nggak pernah becanda, gue orangnya kalem dan baik hati."

"Alah, pret. Kalem apaan? Kemarin lo sakit aja rengek-rengek minta keluar dari rumah sakit dan malah kayang," dengus Tisha.

Zevanna terdiam, ia melebarkan matanya. "Eh, lo diem ya. Gue waktu itu ... cuma refleks aja, suntuk di dalam ruangannya."

Tisha memutar bola matanya malas. "Iya deh, terserah lo. Ada aja kelakuannya."

Zevanna hanya tersenyum kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Beberapa menit kemudian, saat mereka bekerja.

"Zev," panggil Tisha.

"Hm, apaan?" Jawab Zevanna tanpa mengalihkan pandangannya ke layar komputernya.

Tisha menghela napas panjang. "Zev, gue inget sedikit kejadian sebelum gue pingsan."

Tangan Zevanna seketika berhenti lalu menoleh ke arah Tisha. "Apa yang lo inget?"

Tisha menatap sekitar kantor sebelum kembali menatap Zevanna. "Gue inget beberapa orang di pantry, tapi wajah mereka nggak terlalu jelas."

Zevanna mengerutkan kening. "Nggak jelas? Maksud lo apa? Muka mereka hancur jadi lo nggak bisa kenalin mereka?"

Tisha menggeleng cepat. "Bukan, tapi pas gue lagi makan. Gue noleh ke arah belakang ada beberapa orang lagi ngobrol gitu tapi gue nggak tau mereka ngobrolin apa!"

"Lo inget ciri-cirinya?"

"Seinget gue cewek, rambutnya panjang pakai kemeja," jawab Tisha pelan.

Zevanna menepuk jidatnya merasa kesal mendengar jawaban dari sahabatnya. "Astaga, Tisha! Gue tau disini ada beberapa cewek dan rambutnya panjang dan juga pakai kemeja. Maksudnya gue ciri khusus yang di pakai dia!"

Tisha mencoba mengingat kembali. "Kalau nggak salah dia pakai—"

"Zevanna!"

Zevanna dan Tisha menoleh bersamaan ke sumber suara.

"Pak Ravenzo?" seru Zevanna pelan.

Ravenzo melangkah menghampiri meja mereka. Matanya tertuju pada Tisha. "Sudah cukup sehat untuk kembali bekerja?"

Tisha mengangguk cepat. "Sudah, Pak."

"Jangan memaksakan diri kalau kondisi kamu belum baik," peringat Ravenzo.

Zevanna hanya diam memperhatikan interaksi itu dari tempat duduknya. Namun, pandangan Ravenzo mendadak beralih menatap wajah Zevanna yang kelihatan lesu.

"Kamu juga jangan terlalu ikut campur."

Zevanna langsung mengangkat alisnya. "Ikut campur apa, Pak? Saya kan cuma kerja di sini."

Ravenzo menatapnya datar. "Kalau cuma kerja, kenapa wajahmu seperti orang habis menyelidiki kasus?"

Zevanna tersentak kecil mendengar kalimat menusuk dari bosnya itu. Bukannya takut, ia malah cengengesan. "Bapak kebanyakan nonton film detektif, ya?"

Sudut bibir Ravenzo terangkat tipis, hampir saja tersenyum melihat tingkahnya.

Ravenzo berdehem kecil. "Kerja yang benar."

"Iya, Pak CEO." Zevanna kembali menatap layar komputernya.

Ravenzo cuma melengos, lalu berbalik melangkah menuju ruangannya tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Ravenzo!"

Ravenzo menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Apa?"

Arvin memberikan laporan terbaru mengenai kejadian Tisha. "Ini gue udah periksa semuanya."

Ravenzo menatap laporan tersebut. Ada empat nama yang sebelumnya muncul masih diperiksa.

Elsa, Meisya, Henry, dan Vera.

Ravenzo menatap Arvin. "Ini beneran mereka?"

Arvin mengangguk. "Iya, gue udah cek CCTV sampai berkali-kali."

"Terus cari buktinya. Gue takutnya ada yang tau masalah ini dan sembunyikan buktinya!" Kata Ravenzo.

"Tapi, Rav. Pas gue cek rekaman lebih jauh, ada dua orang lain yang beberapa kali muncul di area tertentu sebelum dan sesudah kejadian." Ucap Arvin pelan.

Ravenzo mengangkat alisnya. "Siapa?"

"Bisma dan Hesa."

Ravenzo kembali memperhatikan laporan tersebut. "Cari tahu aktivitas mereka. Jangan simpulkan apa pun kalau belum ada bukti mengarah ke mereka."

Zevanna kebetulan mendengar nama itu dari kejauhan tersentak. Ia tadinya ingin bertanya kepada Ravenzo soal pekerjaan.

Zevanna mulai bertanya-tanya.

Bisma sama Hesa? Mereka ada hubungannya sama kejadian Tisha?

Zevanna menatap Ravenzo yang berbicara dengan Arvin lalu pergi.

Apa jangan-jangan mereka berdua yang bikin Tisha pingsan?

Zevanna berbalik badan dan kembali menuju meja kerjanya.

Tisha kembali ke mejanya setelah dari toilet, ia melihat dokumen yang menumpuk.

Ia langsung mengeluh. "Gue baru balik kerja udah disambut dosa aja." Katanya, bahunya merosot lemas.

Zevanna tertawa renyah. "Ya namanya juga kerja, kalau mau nggak numpuk kayak dosa lo. Resign aja terus rebahan di rumah lo, simple kan?"

"Dih, enak aja bilang resign lo! Gue belum gajian di sini udah disuruh resign aja." Dengus Tisha.

"Ya lo banyak ngeluh."

"Lo juga sama setan!"

Tiba-tiba ponselnya Zevanna berbunyi.

Ting!

Zevanna menatap layar HP-nya.

"Eh, gue pergi bentar ya." Katanya.

Tisha mengerutkan kening. "Mau kemana lo?"

"Ini gue disuruh ambil beberapa dokumen lama di bagian administrasi senior." Jawab Zevanna masih menatap layar ponselnya.

Tisha manggut-manggut saja. "Oh gitu, ya udah sana pergi."

Zevanna mendelik tajam. "Lo ngusir gue?"

"Apaan sih? Kan lo disuruh sama senior tadi ambil dokumen. Malah nuduh gue ngusir, gimana sih?!" Decak Tisha.

"Oh iya, ya. Hehe, ya udah gue pergi dulu." Kata Zevanna pergi meninggalkan Tisha.

Tisha menggelengkan kepala. "Bocah edan."

Zevanna sampai di ruangan administrasi senior, ia mencari dokumen yang diminta oleh senior tadi.

"Nah, ini dia." Zevanna menatapnya.

Saat membaca dokumen tersebut. Ia menemukan keterangan tentang akses lantai enam.

Deg.

"Lantai 6?"

Ia langsung teringat kejadian semalam.

Zevanna kembali membaca dokumen tersebut. Di dokumen terdapat catatan aktivitas akses ruangan.

Salah satu nama yang muncul adalah Bisma.

Zevanna berhenti membaca. "Mas Bisma...? Kok ada nama dia sih? Kan dia cuma cleaning service."

Zevanna membalik halaman selanjutnya.

Tidak jauh dari nama Bisma, terdapat nama Hesa pada catatan akses di waktu berbeda.

Zevanna mengernyit. "Kok ada nama Mbak Hesa juga sih?" Ia merasa mulai curiga.

Dua nama yang baru disebut Arvin ternyata muncul dalam dokumen yang berkaitan dengan lantai enam.

"Berarti yang dibilang Mas Arvin tadi beneran mereka berdua terlibat juga?" Gumamnya.

Zevanna menyimpan informasi tersebut.

Kalau gue langsung nanya, malah keliatan kalau gue lagi nyelidikin mereka.

Zevanna menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue harus cari bukti lain. Siapa tau diantara mereka pasti pelakunya."

Zevanna keluar dari ruangan senior tersebut lalu menutup pintunya pelan.

Dari kejauhan, Ravenzo melihat Zevanna berjalan membawa tumpukan dokumen dengan raut wajah sangat serius. Pria itu pun melangkah mendekat.

"Kamu menemukan sesuatu?" tanya Ravenzo dingin.

Zevanna tersentak kaget mendapati atasannya tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapannya. "Enggak, Pak. Ini saya disuruh ambil dokumen di ruangan administrasi senior tadi."

Ravenzo menatap Zevanna lekat-lekat selama beberapa detik. "Kalau kamu bilang enggak, biasanya justru ada."

Zevanna menghela napas pasrah. "Bapak tuh kenapa sih selalu curiga sama saya? Kan saya cuma ambil dokumen, Pak. Enggak ngapa-ngapain!"

Tanpa aba-aba, Ravenzo mengambil salah satu berkas dokumen dari cengkeraman tangan Zevanna. "Jangan menyelidiki sendirian."

Zevanna terdiam sejenak, lalu menatap Ravenzo heran. "Selidiki apa sih, Pak? Bapak ini lucu deh, masa orang ambil dokumen dibilang selidiki sih! Emang saya detektif apa, Pak?"

"Tidak."

"Yahhh... Padahal saya berharap dibilang detektif," cetus Zevanna dengan bibir mengerucut makin manyun.

Ravenzo menatap mata Zevanna intens. "Kenapa kamu mau dibilang detektif?"

"Karena saya pintar," jawab Zevanna cepat tanpa ragu.

"Kamu nggak cocok jadi detektif," celetuk Ravenzo datar.

Dahi Zevanna seketika berkerut tajam. "Kenapa nggak cocok, Pak?"

"Kamu cocoknya jadi..."

"Jadi apa, Pak?" pancing Zevanna penasaran.

"Jadi tukang parkir," jawab Ravenzo singkat yang sukses bikin mata Zevanna mendelik lebar.

"Hah? Jadi tukang parkir? Wah, Bapak bisa becanda juga ya ternyata! Kirain orang kayak Bapak itu dingin terus dan cuek bebek sama orang-orang," semprot Zevanna lalu tertawa kecil.

Melihat respons Zevanna, sudut bibir Ravenzo nyaris tertarik membentuk senyuman. Namun pria itu cepat-cepat berdehem menutupi reaksinya. "Jangan tertawa."

"Kenapa kalau tertawa, Pak?" tantang Zevanna jahil. "Oh, Bapak mau tertawa juga ya? Eh, tapi kan... Bapak senyum aja nggak bisa, gimana mau tertawa ya?"

Zevanna makin tertawa geli sampai refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.

"Berhenti tertawa," tekan Ravenzo berusaha tegas.

"Maaf, Pak. Soalnya lucu liat muka Bapak kaku gitu," sahut Zevanna sambil bersusah payah menahan sisa tawanya.

Ravenzo mendengus gusar. "Kamu—"

"Ravenzo!"

Panggilan keras itu membuat Ravenzo langsung menoleh. "Ada apa?"

Arvin berjalan terburu-buru menghampiri mereka. "Rav, lo harus liat rekaman ini!"

Ravenzo menatap Arvin datar, lalu mengangguk singkat. "Ke ruangan gue."

Sebelum melangkah pergi, Ravenzo sempat menoleh lagi ke arah Zevanna. "Jangan ke lantai enam sendirian."

Zevanna tersentak kecil lalu mengangguk pelan. "Iya, Pak."

Gue malah makin penasaran... batin Zevanna makin kepikiran.

Ravenzo dan Arvin pun berjalan cepat meninggalkan Zevanna yang kini berdiri sendirian di koridor.

"Kenapa Pak Ravenzo nggak boleh gue pergi ke lantai enam sendirian? Emang di sana ada apa sih?" gumam Zevanna heran pada dirinya sendiri.

Zevanna mengedikkan bahu pasrah. "Udah lah, mending gue balik ke meja gue aja."

Ia pun melangkah santai berjalan menuju meja kerjanya.

Tisha menoleh saat Zevanna duduk di kursinya.

"Eh, lo kemana aja? Kok lama amat ambil dokumennya?" Tanya Tisha.

Zevanna menghela napas. "Biasanya lah ketemu sama cowok lima miliar itu lagi."

"Pak Ravenzo?"

"Iya."

"Terus lo sama dia ngapain?"

Zevanna menatapnya. "Ngapain apanya? Ya kita cuma ngobrol biasa aja."

"Oh kirain lo sama dia ada apa-apa gitu." Ujar Tisha.

Zevanna mendecih. "Dih, otak lo kotor amat pemikirannya!"

Tisha menahan tawa.

"Nggak usah ketawa lo!" Sentak Zevanna.

"Siapa juga yang ketawain lo!" Kata Tisha.

"Udah lah, lo bikin gue pusing aja ini!" Kesal Zevanna.

Tisha tersentak kecil. "Yeeee, sensian amat lo jadi orang!"

"Bacot lo! Diem, kerja lo sana!"

"Lo juga sama kerja sana!" Kata Tisha tak mau kalah.

Zevanna mendengus, ia mencoba fokus bekerja. Namun pikirannya terus tertuju pada...

Bisma.

Hesa.

Lantai 6.

HP Zoyya.

VIDEO_04

Ravenzo yang melarangnya.

Rekaman yang dikatakan Arvin.

Semua terasa seperti potongan puzzle yang belum lengkap.

Tisha memperhatikan Zevanna yang melamun. "Lo mikirin sesuatu, Zev?"

Zevanna langsung menggeleng. "Enggak."

Tisha menyipitkan matanya. "Jangan bilang lo mulai nyelidikin lagi, ya kan?"

Zevanna terdiam.

"Zevanna!"

Zevanna terkejut dan menatapnya. "Tis, gue ngerasa ada beberapa hal aneh."

Tisha mengerutkan kening. "Aneh gimana?"

"Ada hal aneh yang berhubungan dengan lantai enam," jawab Zevanna pelan.

"Lantai enam?"

Zevanna mengangguk. "Iya, gue ngerasa ada sesuatu di lantai enam itu!"

"Zev, gue nggak mau lo kenapa-napa lagi," kata Tisha. "Lo harus hati-hati sama semua orang disini."

Zevanna mengangguk pelan. "Iya, Tis. Gue bakal hati-hati kok, tenang aja," jawabnya sambil tersenyum kecil.

***

Di ruang keamanan, Arvin kembali memeriksa sistem CCTV perusahaan.

Setelah beberapa kali mencoba membuka data cadangan, ia menemukan sesuatu.

Ternyata rekaman yang sebelumnya tidak tersedia masih memiliki salinan sebagian di sistem backup.

Arvin mengernyit. "Jadi nggak sepenuhnya hilang…"

Sebagian file masih tersimpan dalam sistem cadangan. Namun, kualitasnya buruk dan hanya beberapa menit yang bisa dipulihkan.

Arvin mengangkat alis. "Kok rekaman ini kayak gini sih?" Gumamnya. "Apa ada seseorang yang melakukannya?”

Arvin langsung memanggil Ravenzo.

Ravenzo memperhatikan rekaman tersebut.

Terlihat seseorang berada di area lantai enam pada waktu berdekatan dengan kejadian Zoyya.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tapi ada satu hal yang terlihat.

Kartu akses.

Nama pada kartu itu tampak seperti...

Bisma.

Ravenzo terdiam.

Arvin maju satu langkah. "Rav, kalau dilihat dari kartu akses, kemungkinan Bisma."

Ravenzo mendongak. "Kemungkinan bukan bukti." Jawabnya dingin.

Arvin memperbesar rekaman.

Ternyata beberapa detik setelah Bisma terlihat masuk, ada seseorang lain yang muncul.

Kartu aksesnya berbeda.

Hesa.

Ravenzo menatap layar dengan serius.

"Gimana ini, Rav?" Tanya Arvin.

"Pantau terus, jangan sampai ada yang tau soal ini!" Jawab Ravenzo.

Arvin mengangguk. "Oke."

Ravenzo menghela napas panjang lalu ia keluar dan kembali ke area kerja.

Zevanna melihat wajah Ravenzo yang berbeda dari sebelumnya tadi.

"Pak, ada apa?" Tanya Zevanna.

Ravenzo terdiam sejenak dan menatapnya. "Belum ada apa-apa."

Zevanna tahu Ravenzo sedang menyembunyikan sesuatu.

Apa dia lagi selidiki sesuatu ya? batinnya.

***

Di tempat lain, keluarga Ganendra dan keluarga Pranaja mulai membicarakan rencana pertunangan Ravenzo dan Alika.

Tanggal dan persiapan mulai dibahas.

"Eh, jeng. Nggak nyangka kita bakal besanan nanti." Kata Vivi—mamanya Alika.

Monica—mamanya Ravenzo, tersenyum kecil. "Iya, nggak nyangka akhirnya Ravenzo bakal tunangan sama Alika."

"Mereka cocok banget kan sama-sama cakep dan udah dari lama kenal." Balas Vivi antusias.

Monica mengambil ponselnya, ia menelepon Ravenzo.

"Halo, mom?" Kata Ravenzo terdengar serak.

"Kamu lagi apa?" Tanya Monica.

"Kerja. Emang ada apa?"

"Jadi gini bentar lagi kan kamu bakal tunangan sama Alika, nanti malam ada pertemuan keluarga. Kamu harus secepatnya pulang ya." Ucap Monica.

Ravenzo menghela napas panjang. "Iya, Mom. Nanti aku usahain pulang cepat."

Monica merekah. "Nah, gitu bagus. Mommy tunggu kamu."

Monica mematikan teleponnya.

Vivi yang mendengar itu tersenyum senang.

***

Malam harinya, suasana kamar Zevanna tenang.

Zevanna kembali membuka HP Zoyya.

Ia membuka folder OLD_DATA.

VIDEO_04 masih terkunci.

Namun kali ini ia melihat informasi file secara lebih detail.

Ada tanggal pembuatan dan waktu terakhir file tersebut diubah.

Waktunya ternyata sangat dekat dengan hari terakhir Zoyya terlihat di perusahaan.

Zevanna mengerutkan kening. "Kak... kenapa lo bikin file ini sih?" Bahunya merosot lemas.

Ia membuka detail file lainnya.

Ada satu nama file yang sebelumnya tidak terlalu dia perhatikan.

CCTV_BACKUP

Zevanna membeku. "CCTV... backup?"

Ia mencoba membukanya.

File tersebut ternyata hanya berisi tulisan.

FILE MOVED — DEVICE: MAINTENANCE-03.

Zevanna mengerutkan kening. "Maintenance...?"

Lalu ia teringat bahwa ruang maintenance berada dekat di area penyimpanan teknisi.

Zevanna menatap HP Zoyya.

Kalau file CCTV ini pernah dipindahkan... berarti mungkin masih ada salinannya.

Bersambung…

1
PengGeng EN SifHa
Baru sehari bambaaaaannnng
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: pengen tak sambeli rasane thooorrr🤣🤣🤣
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
masa depan lebih penting drpd ego egeeee
PengGeng EN SifHa: semangat untuk berkarya thooorrr✊️✊️✊️✊️
total 2 replies
lannn_019
/Smile/
PengGeng EN SifHa
zoyya kah
PengGeng EN SifHa
bener² misterius
lannn_019: makasih sudah membaca😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!