NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Kalung yang Membongkar Kebusukan

Empat satpam sedang bermain kartu ketika pintu asrama dibuka.

Kartu-kartu langsung diletakkan. Bang Kliwon berdiri paling cepat, lalu memandang Jarot dan rombongan polisi dengan wajah tidak enak.

"Ada penggeledahan berdasarkan persetujuan Pak Bima," jelas Iptu Kirana. "Semua tetap di tempat. Sebutkan nama dan ranjang masing-masing."

Satu anggota merekam. Anggota lain mencatat. Petugas ketiga berdiri di pintu.

Bima menunjuk ranjang tingkat bawah dekat kipas. "Itu tempat saya. Lemari plastik nomor tiga. Tas hitam di bawah ranjang juga milik saya."

Kirana meminta Bima membuka lemari sendiri, lalu menyuruhnya mundur. Isinya sederhana: tiga kaus, dua celana, seragam cadangan, alat mandi, dan satu kotak logam kecil berisi dokumen kerja. Tidak ada jam tangan atau uang mencurigakan.

Tas hitam juga bersih.

Jarot mulai gelisah.

"Coba bawah kasur," katanya. "Dia sering menyembunyikan barang di situ."

Bima menoleh. "Kamu tahu kebiasaan saya sejak kapan?"

"Aku korlap. Aku tahu semua bawahan."

Kirana memberi isyarat kepada anggota yang memakai sarung tangan. Kasur tipis diangkat perlahan. Di antara rangka besi dan papan alas terdapat bungkusan kain biru sebesar telapak tangan.

Ruangan seketika sunyi.

Jarot menunjuk. "Itu kalung emas saya yang hilang!"

Petugas belum membuka bungkusan.

Bima tersenyum tanpa kehangatan. "Hebat. Dari kain tertutup saja kamu tahu isinya."

Wajah Jarot berubah.

Kirana langsung menatapnya. "Pak Jarot, mundur."

Bungkusan difoto dari beberapa sudut, lalu dibuka di depan kamera. Di dalamnya memang terdapat kalung emas tebal.

"Benar milik saya," kata Jarot, lebih hati-hati. "Ada ukiran J di pengait."

Petugas memeriksa pengait. Ukiran kecil itu ada.

Kirana beralih kepada Bima. "Untuk sementara barang ini kami amankan. Apakah Anda pernah melihatnya?"

"Tidak."

"Kalung ditemukan di bawah kasur Anda."

"Karena ada orang yang menaruhnya."

"Bisa dibuktikan?"

Bima memandang Doni. "Katakan apa yang kamu lihat sore tadi. Persis, jangan ditambah."

Doni menelan ludah. "Setelah Bang Bima keluar, Bang Jarot masuk asrama sendirian. Dia menyuruh kami pergi beli rokok. Saya kembali lebih cepat karena lupa uang, tapi pintunya dikunci dari dalam. Sekitar lima menit kemudian dia keluar."

Bang Kliwon mengangguk. "Benar. Jarot juga tadi merobek catatan shift Bima."

"Mereka komplotannya!" bentak Jarot. "Semua membela pencuri!"

Bima jongkok di samping ranjang tanpa menyentuhnya. Lapisan debu tipis pada papan alas terputus oleh bekas telapak yang masih baru. Di sisi kain biru tampak serat merah kecil.

Ia mengangkat pandangan ke saku celana Jarot. Bagian dalam saku itu dilapisi kain merah.

"Bu Iptu, bungkus kain itu perlu diuji sidik jari dan seratnya. Rekaman koridor belakang juga akan menunjukkan siapa yang masuk asrama sore tadi."

Kirana belum menjawab ketika Jarot bergerak menuju bungkusan.

"Nggak perlu diuji! Sudah jelas itu barang saya!"

Bima berdiri dan menangkap kerahnya.

"Kenapa takut diuji?"

"Lepas! Polisi, tangkap dia!"

Dua anggota meraih lengan Bima dari belakang. Bima tidak memukul. Ia menurunkan pusat tubuh, memutar bahu, lalu melepaskan pegangan mereka dalam satu gerak. Satu petugas kehilangan keseimbangan dan jatuh ke kasur. Yang lain terdorong mundur menabrak lemari plastik.

Petugas ketiga maju dari pintu.

Bima menggeser kaki, menahan lutut lawan dengan telapak, lalu mendorong dada seragamnya. Petugas itu jatuh terduduk. Semua terjadi begitu cepat hingga kamera ponsel nyaris terlambat mengikuti.

"Berhenti!"

Kirana mencabut pistol.

Moncongnya mengarah ke dada Bima.

Anindya menahan napas. Doni memucat.

"Lepaskan Pak Jarot. Angkat tangan!" perintah Kirana.

Bima melihat jari Kirana berada di luar pelatuk. Disiplin yang baik. Namun jaraknya terlalu dekat.

Jarot tiba-tiba meronta dan mencoba bersembunyi di belakang tubuh Bima. Moncong pistol bergeser sepersekian detik.

Bima bergerak.

Tangan kirinya menekan sisi laras menjauh dari orang-orang. Tangan kanan mengunci pergelangan Kirana. Ia tidak merebut senjata; ia hanya memaksa sudutnya turun ke lantai.

Kirana melawan. Pergelangannya terpuntir dan rasa nyeri membuat pistol terlepas.

Bima menangkap pistol sebelum jatuh, melepas magazen, mengosongkan peluru dari kamar, lalu meletakkan semuanya di atas meja kartu.

Ruangan membeku.

Tiga polisi yang tadi jatuh sudah bangkit, tetapi tak seorang pun langsung menyerbu lagi.

Bima masih memegang kerah Jarot. Suaranya turun.

"Kamu masuk asrama ketika kami pergi. Kamu menaruh kalung di bawah kasur. Lalu kamu membuat laporan agar polisi menemukannya."

"Bohong..."

"Rekaman akan diperiksa. Sidik jarimu akan dicocokkan. Serat saku celanamu menempel di bungkus. Doni dan Bang Kliwon menjadi saksi."

Setiap kalimat menghapus satu jalan keluar.

Bima mendekatkan wajah. Tatapannya berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dilihat para satpam sebelumnya: dingin, kosong, dan penuh kepastian bahwa ia mampu melakukan jauh lebih buruk daripada sekadar menjatuhkan orang.

"Akui sekarang, atau biarkan semua bukti itu mengubah laporan palsumu menjadi perkara pidana."

Lutut Jarot mulai bergetar.

"Aku... aku cuma mau memberi pelajaran."

"Lebih jelas."

"Aku yang taruh kalungnya!" Jarot pecah. "Aku suruh mereka keluar, lalu kuselipkan di bawah kasur! Aku kesal karena dia mempermalukanku!"

Pengakuan itu terekam jelas.

Bima melepaskannya.

Jarot jatuh bersujud, memegangi kaki Bima. "Ampun. Aku khilaf. Jangan hajar aku lagi."

Bima mundur satu langkah. "Jangan sentuh saya."

Kirana mengambil pistolnya, memeriksa kamar dan magazen sebelum menyarungkan kembali. Pergelangan tangannya mulai membengkak.

"Pak Bima," katanya dengan suara sangat tenang, "tuduhan pencurian terhadap Anda akan kami evaluasi berdasarkan pengakuan, saksi, rekaman, dan pemeriksaan barang bukti. Pak Jarot ikut ke Polsek sebagai pelapor yang diduga memberi keterangan palsu."

Ia berhenti, menahan nyeri di tangan.

"Tapi Anda juga ikut. Anda melawan petugas, menjatuhkan tiga anggota, mengunci tangan saya, dan menguasai senjata dinas."

Anindya maju. "Bu Iptu, dia tidak menembak atau melukai siapa pun dengan sengaja."

"Itu akan dicatat. Begitu pula fakta bahwa anggota saya mencoba memisahkan dia dari pelapor. Pemeriksaan tetap harus dilakukan."

Bima mengangguk. "Saya ikut dengan satu syarat: tuduhan pencurian dipisahkan dari perkara tindakan saya terhadap petugas. Kalung diperlakukan sebagai bukti dugaan fitnah, bukan otomatis bukti pencurian."

Kirana menatapnya lama. Kemarahan masih ada, tetapi di belakangnya tumbuh pertanyaan yang lebih besar.

Siapa pria yang mampu melucuti pistol seorang perwira dalam jarak satu langkah, lalu mengosongkannya tanpa sekali pun mengarahkan laras kepada orang lain?

"Disepakati," kata Kirana. "Semua bergerak ke Polsek Danau Utara. Sekarang."

Bima merapikan manset kemejanya. Jarot diborgol. Kalung dimasukkan ke kantong bukti.

Untuk pertama kalinya malam itu, orang-orang di asrama tidak lagi melihat seorang satpam yang sedang difitnah.

Mereka melihat seseorang yang bahkan polisi bersenjata pun tak mampu paksa berlutut.

Dan Iptu Kirana belum berniat membiarkan misteri itu berlalu.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!