❌ BOM LIKE‼️
Suara musik menghentak memenuhi klub malam. Malam itu, Cintya baru saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Ia berlari menghindari pria-pria yang ingin menyentuhnya.
"Gue gak mau! Lepasin gue!"
"Berhenti! Gak ada jalan keluar untukmu!"
Bruk!
Tanpa sengaja, Cintya menabrak Victor Joseph, mafia berdarah dingin yang hendak masuk ruang VIP.
"Maaf ... maaf..." ucap Cintya ngos-ngosan.
Victor yang hendak marah, mendadak terdiam. Selama lima tahun, sentuhan wanita selalu membuatnya mual dan sesak napas akibat racun. Namun, sentuhan Cintya ... tidak bereaksi.
"Tuan Victor, gadis itu baru dijual ke sini."
"Serahkan dia."
"Harganya mahal."
"Saya beli. Sepuluh miliar."
"Apa?!" Cintya syok berat.
Tak ada yang menyangka, Cintya adalah satu-satunya penawar bagi Victor.
Namun, sanggupkah Cintya bertahan di tengah keluarga mafia yang dipenuhi kekejaman dan perebutan takhta pewaris?
Cintya merasa seperti baru saja keluar dari kandang buaya & masuk ke kandang macan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Cutꪻᶠᵃᵗᶦ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017 – TVPM
...🍷 Happy Reading 🍷...
...-------🦋-------...
Pagi harinya, matahari menembus kaca yang tersingkap oleh gorden.
Cintya melenguh saat sinar matahari menusuk matanya, netra birunya yang sembab akhirnya terbuka.
Cintya menatap sayu jam dinding yang menunjukkan pukul 07.01. Ia memakai sandal, lalu menyeret kakinya menuju kamar mandi dengan lemas.
Jujur saja, tubuhnya sudah tidak selemas sebelumnya. Namun suasana hatinya masih terlalu buruk untuk menikmati pagi yang indah ini.
Cintya berdiri di bawah shower dengan mata terpejam. Air hangat membasahi seluruh tubuhnya. "Lu gak selemah itu, Cintya. Nikmati apa yang ada."
Cintya menghela napas panjang. "Lu gak kerja banting tulang lagi sekarang. Cuma menjadi istri mafia ... menjadi penawarnya, sampai akhirnya bisa memberikan dia anak."
Cintya menunduk, ratapannya jatuh pada lantai marmer yang dingin. "Lakukan tugas lu dengan benar. Sebelum hidup lu lebih menderita karena bokap Om Victor."
Tangan Cintya mengepal perlahan. "Lu cuma cewek biasa. Gimana bisa lawan mafia sekelas dan setangguh keluarga Joseph?"
Air mata kembali mengalir di pipinya, bercampur dengan air shower. Cintya segera mengusapnya. "Cukup."
Cintya menarik napas dalam-dalam. "Lu aja yang tau perasaan lu sendiri."
Cintya menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi. "Jangan keliatan lemah cuma karena cinta yang datang belum sampai dua hari."
Cintya tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kesedihan. "Mulai sekarang ... jangan berharap apa-apa dari Om Victor."
Namun tanpa Cintya sadari, justru kalimat terakhir itulah yang paling sulit ia tepati.
...⊹🧺⊹🧺⊹🧺⊹...
Beberapa menit kemudian, Cintya keluar dari kamar mandi.
Rambutnya masih sedikit basah, ia mengenakan pakaian santai, tetapi harganya tentu saja tidak santai. Cintya berjalan menuju pintu keluar kamar.
Tangannya berhenti di gagang pintu. Cintya menarik napas panjang. "Mulai sekarang ... biasa aja, jangan goyah karena sikap lembutnya dulu yang cuma tipis bet! Oke Cintya tetap seperti awal kenal!"
Cintya membuka pintu, namun begitu keluar, langkahnya langsung terhenti.
Victor berdiri beberapa meter di depannya.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing bagian atas yang terbuka. Tangannya memegang ponsel, sementara Tristan berdiri di sampingnya.
Cintya spontan menunduk, jantungnya berdetak lebih cepat. 'Jantung, lu biasa diem gak sih?!'
Namun Victor bahkan tidak menatapnya, melirik saja tidak.
'Sial, jantung jangan bikin gue malu deh!' Cintya meremas sisi bajunya.
"Tristan."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan penjagaan di kediaman ini ditambah." Ia merasa lebih waspada, karena Marco pasti tidak akan diam saja.
"Baik."
Cintya terdiam. Biasanya Victor akan berbicara dengannya walau satu kata, atau memerintahnya.
Sekarang? Bahkan bibir itu tidak capek-capek menggerakkan hanya untuknya.
Cintya menggigit bagian dalam pipinya. 'Yaudah, bagus. Gue juga gak perlu berharap! Cintya fokus jirr!' Cintya berjalan melewati Victor.
Namun baru beberapa langkah, suara Victor terdengar.
"Berhenti."
Cintya langsung berhenti. "Hm?"
Victor menoleh, tatapannya turun ke rambut Cintya yang masih basah. "Rambutmu."
Cintya mengernyit, menatap rambutnya. "Kenapa?"
"Keringkan."
Hanya dua kata.
Cintya menatapnya sebentar. "Udah tadi."
"Ulang."
Cintya menghela napas. "Kenapa sih, Om?"
Victor menatapnya dingin. "Jangan membuat saya mengulang. Kamu mau mempermalukan saya?"
Cintya menaikkan alisnya bingung. "Permaluin apa sih? Emang gue telanjang apa sampe lu malu?!"
"Turun seperti ini. Baju kemarin malam sudah mendapat teguran dari Papa saya. Sekarang rambut?" Victor menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot.
Sudut bibir Cintya berkedut, ia langsung membuang wajah. "Oke fine. Soal itu salah lu om! Kenapa gak bilang? Gue cuma orang baru mana tau aturan rumah ini udah kayak istana di film-film."
Cintya berjalan pergi dengan menghentakkan kakinya. 'Banyak bet aturan, heran gue! Apa gue yang merasa aneh karena terlalu miskin? Apa gimana?! Tau deh.'
Victor kembali menatap ponselnya. "Tristan."
"Iya Tuan."
"Berikan catatan aturan rumah ke istri saya."
Tristan yang memperhatikan dari samping hanya bisa menahan senyum. Sikap dingin tapi menyebut Nyonya Cintya dengan panggilan istri. 'Dasar.'
"Baik Tuan."
Tadi malam, Victor bahkan meminta seseorang untuk mengawasi Cintya agar gadis itu tidak apa-apa.
Sekarang dia malah bersikap seperti tidak peduli. Tristan akhirnya bertanya, "Tuan."
"Hm?"
"Anda tidak mau bertanya keadaan Nona Cintya?"
Victor menatapnya tajam. "Saya tidak peduli."
Tristan mengangkat alis. "Benarkah?"
"Kerjakan tugasmu."
"Baik, Tuan." Tristan pergi sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, Cintya sudah sampai di ruang makan setelah mengeringkan rambut hingga benar-benar kering. Ia duduk di tempat sebelumnya. Biasanya Victor akan duduk di dekatnya, namun pagi ini sepertinya tidak.
Cintya menatap satu persatu manusia yang ada di meja makan. Cintya tersenyum tipis saat Cecilia tersenyum ramah ke arahnya. Sedangkan yang lain tidak ada wajah ramah sama sekali.
'Kayaknya yang waras cuma Cici.' Cintya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Beberapa menit kemudian, Victor masuk.
Cintya refleks menoleh.
Victor berjalan melewatinya dan duduk di kursi paling ujung.
Cintya menunduk. 'Cuek sih gak apa-apa, tapi apa harus di depan orang juga. Liat mereka semua liatin kan! Apa dia gak bisa akting?'
Cintya mengambil sendok saat Joseph sudah memberi aba-aba untuk makan. 'Ck. Om bangke!'
Namun Cintya baru hendak makan, seorang pelayan datang membawa semangkuk bubur.
"Ini untuk Nyonya Cintya."
Cintya mengerutkan kening. "Gue gak pesan. Ini dari mana?"
Pelayan itu melirik Victor sebentar. "Tuan Victor yang meminta."
Cintya terdiam, matanya otomatis mencari Victor.
Pria itu masih membaca sesuatu di tabletnya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Cintya menatap bubur tersebut. "Kenapa?" Jujur saja ia tidak ingin makan bubur, bubur terlalu tidak enak karena rasanya hambar.
Pelayan menjawab pelan, "Katanya makanan ini lebih mudah untuk kondisi Nyonya kecil saat ini."
Cintya terdiam, ia menatap Victor lagi. "Om."
Victor tidak mengangkat wajah. "Apa?"
"Ini lu yang suruh?"
"Hm."
"Kenapa?"
Victor akhirnya menatapnya. "Makan. Aturan disini tidak boleh berbicara di saat makan"
Cintya tersenyum paksa, mengangguk pelan. "Oh." Ia menunduk. 'Gue tanya apa, dia jawab apa!? Gue santet bisa gak sih?"
Claudia dan Julian saling lirik dan tersenyum tipis. Walaupun di buat heran karena sebelumnya, Victor selalu membela gadis buruh itu. Namun mereka tidak peduli, itu jelas bagus, agar gadis kampung itu tidak berlagak seperti ratu di rumah ini.
Sedangkan Cecilia, otaknya sedang berpikir keras. 'Ada apa dengan mereka? Bukannya sebelumnya masih baik-baik aja?'
Joseph pun menyadari sifat anaknya, tapi dia acuh saja. Ia tidak menuntut apapun kecuali cucu dari darah daging Victor. Terserah anaknya mau melakukan apapun, ia tidak peduli.
Cintya makan bubur itu dengan susah payah. 'Sabar Cinta, sabar. Ini lebih baik dari di rumah lu dulu. Lu pasti udah biasa, jadi aman. Emang seharusnya dia bersikap begitu kan? Karena gue emang cuma obat biar gue gak mati, ya dia perhatian deh.'
...🦋Bersambung...🦋...