Bobby seorang pelajar SMA, umur 18 tahun. Jatuh cinta dengan Nia, 32 tahun. Sahabat dari Tante nya Bobby yang bernama Farah.
Tante Nia yang cantik, cuek,dan konyol mampu membuat Bobby jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayangnya Bobby harus bersaing dengan lelaki bernama Roy, yang juga menyukai Tante Nia.
Bagaimana Bobby bisa menaklukkan hati Tante Nia?
Ikuti kisahnya ya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28# Belajar mencintai
"Kamu kenapa sih? Kok diam saja dari tadi?" Tanya Roy yang sedang menyetir sambil, melirik Nia yang hanya diam saja di sebelah nya.
"Ah, tidak apa-apa Roy. aku hanya bingung kita mau ke mana." Ucap Nia, berterus-terang.
"Ini kita sudah sampai. Ayo turun, nanti kamu juga tahu." Ucap Roy sambil mematikan mesin mobil nya.
Dengan ragu, Nia pun turun dari mobil Roy. Ia melihat rumah mewah di depannya.
"Ini rumah siapa?" Tanya Nia.
"Ayo masuk." Ucap Roy, tanpa menjawab pertanyaan dari Nia.
"Sebentar Roy, aku bertanya Ini rumah siapa dan apa urusan kita ke sini?" Ucap Nia.
Roy menatap Nia dengan seksama, lalu ia berdiri di depan Nia.
"Ini rumah orangtuaku Aku ingin mengenalkan kamu kepada orangtuaku." Ucap Roy.
Nia menatap Roy dengan tak percaya.
"Kamu bercanda kan Roy?" Ucap Nia.
"Tidak, aku tidak bercanda. Nia aku mohon, kenali aku dulu dan kedua orangtua ku. Please.." Roy memohon kepada Nia.
"Tetapi, bukan begini caranya Roy. Kamu tidak harus menjebakku seperti ini." Tegas Nia.
"Aku tidak menjebakmu Nia, Aku hanya ingin mengajakmu berkenalan dengan orangtuaku." Ucap Roy.
Nia menghela nafas dengan kesal. Lalu ia menatap Roy yang sedang menatap nya dengan memohon.
"Setidaknya kamu berterus terang Roy."
Ucap Nia.
"Oke, aku minta maaf. Tapi, kita sudah sampai di sini Nia. Mau tidak mau kita harus masuk, please." Ucap Roy dengan memohon.
"Roy, kamu sudah datang? Kenapa hanya berdiri di situ? Kenapa tidak masuk?"
Belum sempat Nia menjawab kata-kata Roy, seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah mewah tersebut dan menyapa Roy dengan wajah yang sangat antusias.
"Eh, Mami, Roy sudah akan ingin masuk kok." Ucap Roy kepada wanita paruh baya tersebut.
"Ayo silakan masuk, jangan di sana ngobrolnya nya. Mami juga ingin kenal dengan teman dekatmu." Ucap wanita paruh baya itu, yang belakangan Nia tahu bahwa itu adalah Ibu nya Roy.
"Teman dekat? Roy ngomong apa sih sama orang tuanya?" Gumam Nia dengan kesal.
"Ayo kita masuk, aku kenalkan dengan Mami dan Papi ku ya." Ucap Roy yang melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nia.
Mau tidak mau, Nia pun mengikuti kemauan Roy dan masuk ke dalam rumah orangtua Roy.
"Cantiknya..., Nama kamu siapa?" Tanya Mami nya Roy kepada Nia.
"Perkenalkan nama saya Nia tante, Om."
Nia memperkenalkan diri kepada kedua orangtua Roy.
"Nama yang bagus dan cantik seperti orangnya." Ucap Mami nya Roy.
"Terimakasih Tante." Ucap Nia sambil tersipu malu.
"Ayo, kita langsung saja ke ruangan makan. Tante sudah masakan yang spesial buat kalian berdua."
"Terimakasih Tante." Ucap Nia, sambil mengikuti langkah Mami nya Roy menuju ruang makan.
Merekapun mulai makan malam bersama. Sesekali, di sela-sela makan malam, orangtua Roy bertanya kepada Nia tentang kehidupan Nia dan pekerjaannya.
Orangtua Roy sangat ramah dan baik hati. Nia bisa merasakan bahwa kedua orangtua Roy, sangat menyukai dirinya.
"Jadi kalian berpacaran?" tanya Mami nya Roy saat mereka baru saja selesai menghabiskan menu makan malam mereka.
Nia menatap Roy sejenak. Lalu, Nia memandang wajah mami nya Roy dan ia pun tersenyum.
"Kami tidak berpacaran Tante, hanya teman." Jawab Nia dengan segera, sebelum Roy menjawab pertanyaan Mami nya dengan jawaban yang tidak ia inginkan.
Mami terdiam menatap Roy yang terlihat menjadi serba salah. Lalu, wanita paruh baya itu berusaha untuk kembali tersenyum.
"Nia, anak Tante begitu menyukaimu loh, begitupun Tante. Apabila kamu bersedia menjadi istrinya Roy, Tante pasti akan senang sekali mempunyai menantu secantik dan secerdas kamu."
Nia hanya bisa tersenyum menatap keduaorang tua Roy.
"Umur kalian sudah sama-sama dewasa. Tante rasa, tidak perlu lagi untuk berpacaran. Langsung saja bertunangan dan menikah itu lebih baik."
Nia benar-benar tidak tahu akan berkata apa dengan situasi seperti ini. Tetapi, orangtua Roy memang benar. Usia Nia sudah tidak bisa main-main lagi, sudah sepantasnya Nia menikah dan segera mempunyai anak.
Pertemuan pada makan malam itu pun berakhir. Roy pun bergegas untuk mengantarkan Nia kembali pulang ke rumah nya. Sejak dari rumah orangtua Roy, Nia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Nia terus berfikir tentang ucapan orangtua Roy. Dan Nia pun teringat ungkapan hati Emak yang sangat ingin mempunyai cucu.
"Rasanya, gue kok putus asa ya." Gumam Nia.
Roy yang merasa tidak enak karena Nia diam seribu bahasa, sejak dari rumah orang tuanya pun menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan.
"Nia, aku minta maaf bila aku sangat keterlaluan. Aku mohon jangan marah kepadaku. Perlu kamu tahu Nia, aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku menginginkan kamu menjadi istriku."
Nia menatap kedua mata Roy dengan seksama.
"Mungkin, bagimu aku adalah orang yang baru saja kamu kenal. Tetapi, tidak bagiku. Kamu ingat tidak? anak laki-laki yang kamu selamatkan waktu kamu SMP. Anak yang hitam, gemuk dan jelek di lorong dekat perpustakaan. Itu adalah aku."
Nia terperanjat saat mengetahui bahwa Roy adalah anak lelaki yang pernah satu sekolah di smp yang sama dengan nya.
"Saat itu itu aku langsung jatuh cinta dengan kamu. Tetapi, sepertinya kamu sangat susah untuk digapai. Aku tidak percaya diri dengan tampilan fisik ku."
Nia menatap wajah Roy dengan seksama, ia mencoba untuk mencari kejujuran di sana.
"Waktu aku kelas dua SMP, aku terpaksa pindah ke kota lain. Sejak saat itu, aku selalu memohon kepada Tuhan agar kita dipertemukan kembali. Sejak kita dipertemukan kembali, aku merasa rasa cinta ini memang tidak pernah hilang. Kamu adalah wanita yang selama ini aku cari." Ucap Roy.
Nia masih saja terdiam mendengar kata-kata Roy. Ia tidak tahu akan mengatakan apa kepada lelaki itu.
"Selama hampir dua puluh tahun, perasaan cintaku kepadamu tidak pernah hilang. Nia, bisakah kamu mencoba untuk mencintaiku? Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu, aku sangat bersungguh-sungguh untuk membangun sebuah keluarga denganmu." Ucap Roy sambil menggenggam kedua tangan Nia.
Melihat Roy, Nia teringat akan dirinya yang mengharapkan cinta Fatur selama sebelas tahun lamanya. Mencintai seseorang dalam diam dan selama sebelas tahun adalah hal yang paling sakit yang pernah dirasakannya.
Satu sisi, Nia begitu putus asa dengan usianya dan harapan kedua orang tuanya yang diam-diam sangat mengharapkan dirinya untuk segera menikah dan mempunyai anak. Satu sisi lagi, Nia begitu kasihan kepada Roy yang mengharapkan cintanya selama hampir dua puluh tahun.
Dan saat ini juga, Nia mulai merasa lelah untuk mencari pasangan. Saat ini hanya ada Roy, lelaki yang tampan, mapan dan menaruh harapan kepada dirinya.
Di tengah keputusasaannya, Nia pun berpikir tidak ada salahnya untuk memberi kesempatan kepada Roy.
Nia pun menggigit bibirnya, sambil Ia berpikir jawaban apa yang akan ia katakan kepada Roy.
Akhirnya, Nia pun memberanikan diri untuk menatap kedua manik mata Roy.
"Baiklah, kita jalani dulu. Setelah itu kita melangkah ke jenjang yang lebih serius, apabila kita benar-benar saling menyadari bahwa kita saling membutuhkan." Ucap Nia.
"Benarkah yang kamu katakan itu Nia? Kamu ingin belajar mencintai aku? Apakah malam ini kita resmi berpacaran?" Tanya Roy dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
Nia pun tersenyum kepada Roy. Lalu, ia mengangguk.
"Terimakasih Nia..! Aku akan melakukan yang terbaik untuk hubungan kita." Ucap Roy dengan bersungguh-sungguh. Lalu, ia memeluk tubuh Nia dengan erat.
Nia pun berusaha untuk tersenyum dan membalas pelukan hangat dari Roy.
Malam itu, mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih.
Hai reader, ada pesan nih dari Bobby.
Hai team Bobby, jangan marah dulu ya. Janur kuning belum melengkung di depan rumah Tante Nia. Tenang, Bobby yang ganteng, masih bisa nikung. 😆