NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Air Mata Pinjaman

Pintu terbuka sebelum Amaya menyentuh gagangnya.

Sebastian berdiri di ambang dengan ponsel di tangan. Tatapannya lebih dulu jatuh ke jari Amaya yang terangkat, lalu naik ke matanya.

Semua kalimat keras yang ia siapkan berhenti di tenggorokan.

Mata Amaya merah. Bulu matanya basah dan satu tetes air menggantung di sudut kelopak.

"Kenapa?"

Nada Sebastian turun tanpa izin.

Amaya menunduk. "Dokter Sebastian ada waktu?"

"Masuk."

Ia berbalik, memberi jalan, kemudian menutup pintu setelah Amaya lewat.

Sejak Minggu dini hari, Sebastian telah mengambil keputusan. Ia mandi air dingin hampir satu malam untuk menghapus rasa bibir Amaya, lalu menyusun jarak yang masuk akal.

Usahanya gagal. Setiap kali memejamkan mata, ia mengingat perempuan itu berkata jangan setengah-setengah. Ia mengingat tangan di kerahnya, suara lembut yang lepas di antara ciuman, dan wajah tanpa penyesalan saat mereka kembali ke keramaian.

Sebastian bahkan mengganti seprai meski Amaya tidak pernah masuk ke apartemennya. Tindakan bodoh itu tidak membantu. Menjelang pagi, ia berhenti berpura-pura bisa tidur dan pergi berlari sampai kakinya sakit.

Satu-satunya jalan yang tersisa adalah membuat pertemuan mereka sesedikit mungkin.

Data proyek yang bermasalah memberinya alasan sempurna. Amaya bisa dikembalikan ke Adhikara atau dipindah ke tim administrasi yang tidak pernah bersentuhan dengannya. Tidak ada lagi rapat bersebelahan. Tidak ada pesan larut malam. Tidak ada kemungkinan ia menarik perempuan itu ke sudut gelap untuk kedua kalinya.

Setengah jam lalu, laporan penilaian sudah terbuka di mejanya. Ia bahkan telah menyiapkan kalimat pertama.

`Kamu tidak cocok menangani proyek ini.`

Sekarang perempuan itu berdiri di hadapannya dengan mata merah, dan otaknya menolak bekerja.

"Duduk," katanya.

Amaya duduk di kursi tamu. Tangannya menggenggam ujung rok, bahunya sedikit turun. Wasabi masih membakar hidungnya sehingga tarikan napas kecil yang terdengar benar-benar alami.

Sebastian mengambil botol air dan meletakkannya di meja.

"Minum dulu."

"Nggak perlu."

"Minum."

Amaya menurut. Setelah dua teguk, ia berkata, "Aku sudah dengar hasil rapat penilaian. Data yang lolos serah terima punya perbedaan hampir tujuh belas persen."

"Aku tahu."

"Itu tanggung jawabku."

Sebastian menyandarkan tubuh ke meja, menjaga jarak. "Kamu baru menerima proyek beberapa hari."

"Tetap saja aku yang membawa laporan itu ke tahap evaluasi tanpa memeriksa semuanya."

Kalimat tersebut seharusnya menjadi pintu bagi tegurannya. Sebastian seharusnya mengatakan proyek medis bukan tempat belajar sambil bermain, bahwa satu angka salah dapat menggeser keputusan dan membuang sumber daya.

Yang keluar justru pertanyaan lain.

"Robert memarahimu?"

Amaya berkedip. Air mata baru jatuh.

"Papa cuma meminta pertanggungjawaban. Dia benar."

Rahang Sebastian menegang. Ia tidak suka melihat air di pipi perempuan itu. Lebih buruk lagi, sebagian dirinya ingin menyekanya.

"Jangan menangis."

"Aku nggak menangis."

"Lalu itu apa?"

"Reaksi tubuh karena stres."

Jawaban tersebut nyaris membuat Sebastian tertawa jika situasinya berbeda. Ia mengambil kotak tisu, mendorongnya ke depan Amaya, lalu duduk di kursinya.

"Apa keputusan Robert?"

"Aku punya satu bulan untuk mengulang pemeriksaan. Kalau gagal, aku keluar dari proyek."

"Satu bulan?"

"Aku yang meminta."

"Ceroboh."

"Kalau aku minta tiga bulan, proyeknya mungkin sudah kehilangan kepercayaan semua orang."

"Kalau kamu meminta waktu realistis, kamu bisa membuat rencana yang lebih aman."

"Satu bulan realistis kalau aku dapat akses dan bekerja setiap hari."

"Kamu sedang bertaruh dengan sesuatu yang belum kamu pahami."

"Makanya aku datang kepada orang yang paham."

Sebastian menangkap pujian tersebut dan membencinya karena tetap terasa menyenangkan.

"Aku tahu."

"Kamu belum memahami kerja klinis. Jadwalnya tidak mengikuti kenyamananmu."

"Aku akan belajar."

"Bagian laboratorium mulai pagi. Jadwal pengambilan bisa berubah. Kalau ada operasi atau kebutuhan pasien, pekerjaan proyek menunggu. Kamu bisa pulang tengah malam hanya untuk datang lagi pagi-pagi."

Amaya menyeka pipinya. "Aku bisa."

"Kamu belum pernah menjalaninya."

"Karena itu aku datang untuk meminta kesempatan, bukan jaminan akan nyaman."

Sebastian memandang wajahnya. Di balik air mata, tatapan Amaya tetap lurus. Tidak ada permintaan agar kesalahannya ditutup. Ia hanya meminta jalan untuk memperbaikinya.

Rencana memindahkan perempuan itu mulai terasa pengecut.

"Data mana yang perlu akses klinis?"

Amaya segera membuka laptop. Gerakannya terlalu cepat untuk orang yang sedang hancur, tetapi Sebastian sudah terlanjur memperhatikan tabel di layar.

"Seratus delapan puluh enam baris sudah kuperiksa. Yang merah perlu ditelusuri ke penerimaan sampel, catatan suhu, dan pengulangan uji. Sebagian mungkin harus direplikasi oleh petugas berwenang."

"Berapa yang merah?"

"Dua puluh delapan sejauh ini. Jumlahnya bisa bertambah."

"Dan kamu ingin rumah sakit membuka semua catatan itu?"

"Dengan batas akses sesuai kewenanganku. Data pasien tetap disamarkan dan nggak keluar sistem. Aku cuma perlu jalur koordinasi, ruang kerja, serta orang yang bisa menjelaskan proses kalau catatannya nggak jelas."

Sebastian membaca pengelompokan masalah. Warna dan catatannya ringkas. Amaya tidak datang hanya membawa air mata. Ia membawa pekerjaan yang sudah dimulai.

Ia memperbesar salah satu sel merah. Amaya telah menuliskan tiga kemungkinan penyebab tanpa memilih kesimpulan sebelum bukti ditemukan. Pada kolom berikutnya ada nama unit, jenis akses, risiko terhadap jadwal pasien, dan alternatif jika pengujian ulang tidak disetujui.

"Kamu membuat ini sejak siang?"

"Sejak pulang dari Adhikara."

"Makan?"

Amaya teringat nasi dingin di sisi meja. "Sedikit."

"Sedikit itu apa?"

"Dua suap, mungkin."

Sebastian membuka laci dan mengeluarkan sebungkus biskuit tawar. Ia meletakkannya di depan Amaya tanpa komentar.

Amaya hampir tersenyum. Air mata pinjaman tersebut bahkan menghasilkan makanan.

Ia segera menurunkan wajah agar kemenangan kecil itu tidak terlihat.

"Kalau aku menolak?"

Bibir Amaya turun sedikit. "Aku akan mencari jalan lain."

Matanya kembali berkaca. Wasabi bekerja terlalu baik.

Sebastian mengembuskan napas panjang dan memalingkan wajah ke jendela. Langit di luar berubah hitam. Titik-titik hujan pertama memukul kaca.

Setengah jam lalu ia berniat menggunakan kecelakaan data untuk mengeluarkannya.

Sekarang ia sedang menghitung unit mana yang bisa memberinya meja.

Tidak masuk akal.

"Kamu tetap harus mengikuti aturan rumah sakit," katanya.

Amaya mengangkat wajah. "Artinya?"

"Tidak membawa salinan data keluar. Tidak mengganggu pelayanan. Semua pengujian ulang harus disetujui penanggung jawab unit."

"Aku setuju."

"Kalau kamu membuat masalah, aksesnya dicabut."

"Baik."

Sebastian masih bisa berhenti. Ia seharusnya berhenti.

Hujan mendadak turun deras, memukul seluruh dinding kaca kantornya.

Sebastian mendengar dirinya sendiri menyerah bahkan sebelum keputusan itu selesai terbentuk. Satu pasang mata merah telah merobohkan rencana yang ia susun semalaman dengan begitu mudah, bahkan tanpa satu kalimat permohonan tambahan.

"Soal sumber daya klinis," ujar Sebastian, suaranya akhirnya benar-benar melunak, "aku bantu koordinasikan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!