Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6
Pelan pelan mereka berjalan menuju ke tempat dimana sakelar lampu berada. Tak ada drama, tak ada kejadian apa apa,mereka akhirnya berhasil menyalakan lampu dan bergegas untuk turun kembali ke lantai bawah. Tak lupa, Marni kembali mematikan lampu ruang tengah lantai dua.
Mereka kembali berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Namun setelah sampai di lantai satu, mereka samar samar mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
Tap... Tap ... Tap ...
meskipun lirih, namun suara itu jelas sekali mereka berdua dengar.
"pak." ucap Marni hendak memberitahukan apa yang ia dengar.
Namun Joko mengedipkan mata dan menggelengkan kepala seakan meminta Marni untuk membahas apa yang mereka dengar.
Marni yang tau maksud dari isyarat suaminya hanya mengangguk lalu diam tak melanjutkan ucapannya.
Mereka berdua berjalan menjauhi tangga menuju ke depan untuk kembali mematikan lampu ruang tamu karena mereka hendak pulang.
Setelah lampu ruang tamu sudah di padamkan, tak mau berlama lama, mereka segera bergegas ke arah pintu untuk segera keluar.
Saat Marni hendak membuka pintu,
Brakkkk... Prankkkkk!
Suara benda jatuh terdengar dari arah dapur.
Joko dan Marni kembali saling bertatapan kemudian menoleh ke arah letak dapur berada.
"ayo pergi buk." ucap Joko yang sudah semakin ketakutan sambil menarik gagang pintu dan segera berjalan keluar yang tentu saja diikuti oleh Marni.
Dengan panik mereka mencoba mengunci pintu rumah Pak Harjo. Namun sial bagi mereka, Baru saja selesai mengunci pintu dan hendak melangkah keluar, hawa dingin tiba-tiba merambat ke seluruh tubuh mereka. Dari arah kiri halaman rumah, dari balik pohon kelengkeng raksasa yang batangnya berkerak kasar dan berdaun lebat, terdengar suara aneh yang berdenyut pelan dan berat.
Bukan sekadar desiran angin. Itu terdengar seperti geraman rendah, dalam, dan terus-menerus, seolah ada makhluk raksasa yang tertidur di balik rimbunnya daun. Suara itu bergema pelan namun jelas.
Joko dan Marni jelas semakin ketakutan, tanpa pikir panjang, mereka mempercepat langkah mereka bahkan hampir setengah lari menuju ke gerbang rumah Pak Harto.
"ayo buk cepat buk, ada yang tidak beres ini buk." ucap Harto sambil menarik lengan istrinya supaya mereka segera terbebas dari situasi yang membuat mereka berdua sangat tidak nyaman.
Baru saja Joko dan Marni melangkah keluar dan hendak menutup gerbang besi yang berat itu, pandangan mereka tiba-tiba terpaku kaku ke arah pohon kelengkeng raksasa di halaman rumah Pak Harto.
Di sana, di sela-sela rimbunnya dedaunan yang memancarkan bayangan pekat, tampak sesosok penampakan yang membuat darah mereka membeku. Makhluk berukuran sangat besar, sekujur tubuhnya diselimuti bulu hitam pekat yang kusam dan tampak berantakan, seakan menyatu dengan kegelapan malam. Matanya berkilau merah redup, menatap tajam tepat ke arah mereka berdua tanpa berkedip sedikit pun.
Geraman rendah yang tadi terdengar samar kini keluar dari kerongkongannya dengan suara yang jauh lebih berat dan menggetarkan tanah. Tubuh raksasa itu bergerak pelan, ranting-ranting besar berderit keras seolah tertindih beban yang luar biasa berat. Ia menjulang tinggi di antara dahan-dahan tua, sosoknya mengancam dan penuh amarah, seolah tak terima ada orang yang berani mengganggu kesunyian tempat itu.
Jari Joko yang hendak menutup gerbang terhenti di udara. Napas mereka berdua tertahan di tenggorokan, tubuh terpaku kaku tak mampu bergerak sedikit pun, hanya bisa menatap ngeri saat makhluk itu perlahan merentangkan cakarnya yang besar dan tajam, seakan siap melompat kapan saja.
"pak." terdengar Marni memanggil Joko dengan nada gemetar.
Joko yang juga melihat, tak bisa berkata apa apa iya terpaku didepan gerbang sambil memegang kunci namun tak kunjung memasukan kunci itu ke lubangnya.
"pak! Cepet pak! Astaghfirullah hal adzim, apa itu pak." ucap Marni sambil terus memegang erat lengan kurus suaminya itu.
"lari buk, ayo kita lari buk." ucap Joko sambil berlari menjauh dari rumah Pak Harto. Marni yang sedari tadi memegang erat lengan Joko pun ikut tertarik dan berlari bersama dengan Joko.
"pak .. Pak ... Tunggu." ucap Marni.
"kenapa buk." jawab Joko sambil terus melangkahkan kakinya.
"gerbang rumah ndoro Harto belum di kunci Pak." ucap Marni.
"udahlah buk, aman, nggak bakalan ada yang berani masuk juga ke rumah ndoro Harto. Kamu mau balik? Liat sendiri kan apa yang tadi kita lihat! Kalau kamu mau balik, ini kuncinya. Aku si ogah balik kesana lagi." ucap Joko.
Marni hanya terdiam dan terus berlari kecil, ia jelas tak berani untuk kembali ke rumah Pak Harto dan memilih untuk kembali kerumahnya.
.
.
.
DI RUMAH SAKIT.
Pukul 04.30 WIB
Di kursi sofa ruang VIP tempat Pak Harto dirawat, Theo tampak masih tertidur, sedangkan Kiki sudah pulang sejak pukul 04.00 WIB karena ia harus pergi ke sekolah. Kiki sama sekali tak memberitahukan kepulangannya karena takut mengganggu istirahat sang kakak yang tampak begitu capek. Pemuda itu tampak terkulai lelah setelah semalaman penuh berjaga menemani kakeknya yang terbaring tak sadarkan diri akibat kecelakaan tragis beberapa hari lalu.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil mengusik telinganya.
Krieet...
Theo mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya di tengah rasa lelah yang menghantam. Ia mendongak, mengira suara itu berasal dari perawat yang melakukan pengecekan malam. Namun, jantungnya mendadak berdegup kencang—hampir meloncat keluar dari dada—ketika matanya menangkap pemandangan di atas tempat tidur.
Kakeknya bergerak.
Perlahan-lahan, kelopak mata lelaki tua itu terbuka. Pandangannya memang masih sedikit sayu, tetapi sorot matanya jernih, menatap lurus ke arah langit-langit ruangan sebelum akhirnya beralih menatap Theo.
"T... Theo...?" suara sang Kakek keluar parau, nyaris berbisik karena tenggorokannya yang kering.
Theo tertegun, napasnya tercekat. Seketika rasa kantuknya menguap, digantikan oleh gelombang kelegaan dan rasa haru yang teramat sangat. Tanpa sadar, air matanya menetes di pipi. Setelah hari-hari penuh kecemasan dan doa yang tak pernah putus di sepertiga malam ini, sang kakek akhirnya sadar.
Dengan perasaan penuh gembira, Theo segera beranjak dan berjalan menuju ke arah sang Kakek.
"Kakung... Kakung sudah sadar? Alhamdulillah." suara Theo bergetar hebat, tertahan oleh Isak tangis bahagia yang tak lagi mampu ia bendung.
Pak Harto tersenyum tipis, meski wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan akibat cedera kecelakaan. Bibirnya yang kering merekah perlahan. Sudah sekitar lima bulan lamanya mereka tidak berjumpa karena jarak dan kesibukan, membuat pertemuan di ruang rumah sakit tengah malam ini terasa begitu mengharukan sekaligus ajaib bagi keduanya.
Dengan sisa tenaganya, Pak Harto mengangkat tangan kanannya yang bebas, pelan-pelan menepuk punggung tangan Theo yang sedang mendekapnya.
"Kamu... kapan pulang Le, Kakung kangen sekali sama kamu," ucap Pak Harto lirih, suaranya terdengar hangat di keheningan kamar inap tersebut.
Theo tersenyum lebar di tengah air mata yang terus mengalir. Ia mengecup punggung tangan kakeknya penuh takzim. Rasa lelah, kantuk, dan ketakutan yang menghantuinya selama berhari-hari seketiga menguap, berganti dengan kehangatan luar biasa yang menyelimuti hatinya.
"kemarin kung, aku juga ajak istriku kung, aku telpon ayah buat kesini ya kung." ucap Theo tampak masih terharu bahagia melihat sang kakek sudah sadar.
Pak Harto tampak hanya mengangguk mendengar ucapan Theo. Dengan tangan yang masih gemetaran karena rasa bahagia, Theo buru-buru merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Tanpa membuang waktu, ia menelepon Pak Wibowo untuk memberikan kabar jika sang Kakek sudah sadar.
"Ayah! Kakung sudah sadar! Cepat ke rumah sakit!" ucap Theo setelah panggilannya terhubung dengan Pak Wibowo.
Tak butuh waktu lama, sekitar pukul 05.00 WIB, Pak Wibowo, Bu Ani, beserta Bu Sri dan Tiara sampai di rumah sakit. Raut cemas yang menyelimuti wajah mereka selama berhari-hari kini berganti menjadi tangis haru dan senyum lega. Mereka langsung mengelilingi tempat tidur Pak Harto.
Namun, kebahagiaan itu perlahan melenyap ketika Pak Harto kembali membuka suaranya.
Lelaki tua itu menatap satu per satu wajah anak dan cucunya yang berkumpul di sekelilingnya dengan pandangan yang sangat dalam, lembut, namun penuh makna yang menenangkan sekaligus menggetarkan hati.
"Semuanya sudah datang, ya... Baguslah," lirih Pak Harto dengan senyum tipis yang tak lepas dari wajahnya. Suaranya terdengar pasrah, tetapi begitu damai.
Tak lama, pandangan Pak Harto beralih ke seorang wanita muda nan cantik yang tampak asing baginya.
"kamu Tiara? Istri Theo?" tanya Pak Harto sambil menatap hangat ke arah Tiara.
Tiara tersenyum ramah sambil mengangguk.
"Kakung senang sekali bisa melihat kalian semua berkumpul lagi seperti ini... Maafkan Kakung kalau selama ini ada salah," lanjut Pak Harto, membuat ruangan itu seketika hencat. Pak Wibowo tertegun, pandangannya berubah cemas.
Pak Harto kemudian berpaling, menatap Theo yang berdiri paling dekat di sampingnya, lalu .....
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨