NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : PENIPUAN SUARA ALAM

Malam merayap perlahan, membawa kabut tebal yang menyelimuti lembah hingga jarak pandang tak sampai sepuluh langkah. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan, namun di balik rimbunan semak pinggir jalan, keheningan dijaga ketat. Bayu berjongkok diam, matanya menatap lurus ke arah jalan tanah yang samar terlihat di bawah sana. Di sebelahnya, Karta menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

"Datang?" bisik Karta nyaris tak bersuara.

Bayu menggeleng pelan. Jari telunjuknya diangkat ke bibir, memberi isyarat agar tetap diam.

Mereka sudah bersembunyi di sana sejak matahari terbenam. Memilih tempat di mana semak tinggi menutupi tubuh sepenuhnya, namun pandangan ke jalan tetap terbuka lebar. Di bawah sana, jalan itu menyempit melewati jembatan kayu tua di atas sungai yang airnya berarus deras. Tempat yang pas. Tempat di mana suara bisa bergema berlipat ganda.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki berbaris teratur. Berat. Padat. Semakin lama semakin jelas membelah keheningan malam.

Bayu menegang. Tiga orang. Berjalan beriringan. Senjata tergenggam erat di tangan. Suara denting logam dan sepatu bot yang menginjak batu terdengar semakin dekat.

"Sabar..." bisik Bayu pelan sekali, hanya Karta yang mendengar.

"Tunggu sampai mereka di tengah jembatan."

Karta mengangguk pelan, tangannya mencengkeram erat sebilah kayu kering. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Ketiga prajurit itu kini melangkah di atas papan jembatan yang berderit pelan. Cahaya bulan yang samar memantul di ujung senjata mereka. Mereka berbicara pelan satu sama lain, nada suaranya terdengar lelah dan gelisah.

"Het is hier te stil... ik heb het niet prettig gevonden." (Di sini terlalu sunyi... saya tidak merasa enak hati.) gumam prajurit paling muda sambil memeluk erat senjatanya.

"Stil maar! Blijf kijken naar voren!" (Diam saja! Terus perhatikan ke depan!) tegur yang lebih tua dengan nada ketus.

Ketiga prajurit itu kini tepat di tengah jembatan.

"Sesuai rencana..." Bayu memberi isyarat tangan ke arah Karta.

"Sekarang."

Karta menarik napas sekuat tenaga. Paru-parunya mengembang, lalu ia mengeluarkan suara. Bukan suara manusia. Auman rendah yang menggetarkan dada, bergema berat seolah datang dari perut bumi itu sendiri.

"GRAAAAAWWWRRR!!!"

Suara itu meledak tiba-tiba dari balik semak di sebelah kanan jalan. Ketiga prajurit itu tersentak kaget seketika. Langkah mereka berhenti mendadak. Senjata langsung terangkat tinggi, mengarah ke kegelapan di sebelah kanan.

"Wat is dat?! God, wat is dat?!" (Apa itu?! Tuhan, apa itu?!) seru prajurit muda itu dengan suara gemetar ketakutan.

"Paniek niet! Blijf staan!" (Jangan panik! Tetap berdiri!) bentak pemimpin mereka, meski suaranya pun terdengar goyah.

Belum sempat napas mereka teratur, dari arah kiri terdengar suara lain. Lebih kasar. Lebih mengancam. Suara geraman babi hutan raksasa yang marah, disertai gesekan dedaunan berisik seolah makhluk besar sedang mengamuk mendekat.

"KRRROOOOKKK!! KRRROOOOKKK!!"

Kali ini dari arah atas, di balik dahan pohon besar yang menjulang di atas jembatan. Bayu menirukan suara itu dengan nada yang berbeda, lebih tinggi namun tetap berat. Seolah ada makhluk lain yang mengintai dari tempat lebih tinggi.

Ketiga prajurit itu kini bingung setengah mati. Senjata mereka berputar ke kanan, lalu ke kiri, lalu ke atas. Tak ada yang terlihat. Hanya kabut tebal dan bayangan gelap yang bergerak tertiup angin.

"Ze komen van alle kanten! Wij zijn omsingeld!" (Mereka datang dari segala arah! Kita dikepung!) seru prajurit ketiga dengan wajah pucat pasi.

"Onzin! Er is niets! Blijf kalm!" (Omong kosong! Tidak ada apa-apa! Tetap tenang!) Pemimpin mereka mencoba tegas, namun keringat dingin sudah menetes di pelipisnya.

Belum selesai kata-kata itu terucap, tiba-tiba angin berhembus kencang. Diiringi suara bisik-bisik pelan yang terdengar datang dari segala arah sekaligus. Suara yang tak bisa dibedakan suara manusia atau suara alam yang berbisik sendiri.

"Kembalilah... tanah ini bukan milikmu..."

Suara itu lembut namun menembus tulang. Datang dari bawah, dari samping, dari atas. Bayu dan Karta berbisik bergantian dari tempat berbeda, membiarkan suara mereka terbawa angin dan bergema di sela-sela tebing batu.

Ketiga prajurit itu kini tampak ketakutan setengah mati. Wajah mereka pucat pasi meski samar terlihat dalam remang cahaya bulan. Mereka merapat satu sama lain, punggung saling bertemu, senjata menunjuk ke segala arah tanpa tahu mana yang harus dituju.

"Wie spreekt daar?! Laat je zien!" (Siapa yang bicara di sana?! Tunjukkan dirimu!) teriak pemimpin mereka sekuat tenaga, namun suaranya pecah di ujung kalimat.

Tak ada jawaban. Hanya suara rantai patah yang terdengar jelas dari balik semak di sebelah kanan. Lalu suara daun kering yang diinjak-injak oleh kaki yang berat dan banyak. Sekali. Dua kali. Semakin dekat.

"Ze komen dichterbij! Laten we schieten!" (Mereka makin dekat! Mari kita tembak!) teriak prajurit muda itu nyaris menangis.

"Tembak! Tembak ke arah suara!" perintah pemimpin itu dengan suara gemuruh namun tak menyembunyikan ketakutannya.

DOR! DOR! DOR!

Tembakan meletus bertubi-tubi membelah keheningan malam. Peluru melesat ke arah kanan, ke kiri, ke atas. Menembus semak, menabrak batang pohon, memecah dahan-dahan kering. Asap mesiu segera menyebar bercampur kabut malam.

Namun sasaran mereka tak pernah ada. Yang mereka tembak hanyalah bayangan dan ketakutan sendiri.

Di balik semak tebal tak jauh dari sana, Bayu dan Karta tetap diam menekan tubuh ke tanah. Tersenyum tipis mendengar peluru-peluru itu terbuang sia-sia. Bayu memberi isyarat sekali lagi. Dari arah baru, suara auman harimau terdengar kembali, kali ini lebih dekat, lebih mengerikan.

Itu cukup.

Ketiga prajurit itu kehilangan kendali. Mereka berbalik serentak, berlari meninggalkan jembatan, kembali ke arah kampung dengan langkah terhuyung-huyung, tak berani menoleh ke belakang sedikit pun. Teriakan panik mereka terdengar memecah keheningan malam.

"Ren! Ren terug! Dit woud is vervloekt!" (Lari! Lari kembali! Hutan ini dikutuk!)

Mereka menghilang di balik kabut, meninggalkan jembatan kayu yang kembali hening. Hanya suara air sungai yang mengalir tenang di bawah sana, seolah tak terjadi apa-apa.

Bayu menunggu cukup lama sampai suara langkah kaki itu hilang sepenuhnya. Baru setelah itu ia perlahan bangkit berdiri, mengibaskan dedaunan yang menempel di bajunya.

Tak lama, Karta muncul dari balik semak lain dengan wajah berseri-seri menahan tawa. Matanya berbinar gembira.

"Lari mereka! Lari tunggang-langgang!" seru Karta berbisik tertahan agar tidak terdengar jauh.

"Mereka tak melihat apa-apa! Tapi mereka lari seolah iblis mengejar!"

Bayu tersenyum tipis, matanya menatap ke arah jalan yang kembali sepi.

"Mereka tak takut pada binatang, Karta. Mereka takut pada apa yang tak mereka pahami. Mereka takut pada keheningan yang tiba-tiba bersuara. Itu kelemahan terbesar mereka di tanah asing."

Karta melangkah mendekat, napasnya masih memburu penuh semangat.

"Terus bagaimana selanjutnya? Kita lakukan lagi besok?"

Bayu mengangguk pelan.

"Setiap kali mereka lewat. Di tempat berbeda. Dari arah berbeda. Kadang suara harimau. Kadang suara babi hutan. Kadang hanya suara rantai patah dan langkah kaki yang mendekat tanpa terlihat siapa yang melangkah."

Bayu menunjuk ke arah jalan yang samar terlihat.

"Buat mereka merasa bahwa setiap jengkal tanah ini memiliki mata. Bahwa setiap bayangan mengintai. Bahwa setiap suara adalah ancaman nyata. Lama-kelamaan saraf mereka akan putus. Mereka tak akan berani berjalan sendirian dalam jumlah sedikit. Mereka akan meminta bantuan pasukan lebih banyak. Dan saat mereka terpecah... saat mereka lelah dan kehilangan arah..."

Bayu berhenti sejenak, menatap tajam ke arah kampung yang masih tertutup kabut kelabu di kejauhan.

"...saat itulah kita datang bukan lagi sebagai suara. Kita datang sebagai bayangan yang menyambar."

Karta mengangguk mantap, dadanya terasa penuh semangat yang membara. Ia melirik ke arah jembatan tempat tadi ketiga prajurit itu ketakutan setengah mati. Ternyata benar. Tak perlu senjata canggih untuk menakuti musuh. Terkadang cukup dengan memanfaatkan apa yang sudah ada. Angin. Suara. Dan ketidaktahuan musuh terhadap tanah yang mereka injak.

"Mereka akan bercerita pada kawan-kawan mereka," gumam Karta pelan sambil tersenyum lebar.

"Malam ini ketiga orang itu akan bercerita tentang harimau raksasa dan hutan berhantu. Besok yang lewat akan lebih takut lagi. Dan lama-kelamaan... tak ada satu pun yang berani melangkah keluar sendirian."

Bayu menepuk bahu sahabatnya pelan.

"Pintar kau, Karta. Suaramu tadi sungguh mengerikan. Hampir saja aku ikut takut."

Karta tertawa kecil menahan suara.

"Kubilang kan? Aku bisa meniru apa saja. Bahkan suara angin yang berbisik tadi... aku pikir mereka sudah yakin arwah leluhur kita yang marah."

"Mungkin saja memang mereka yang membantu," jawab Bayu pelan sambil menatap langit yang mulai bersih dari kabut.

"Tanah ini punya penjaga. Dan kita adalah tangan mereka."

Malam itu, patroli berikutnya memang tak datang sendirian. Terdengar suara langkah kaki lebih banyak dari arah kampung. Sekitar sepuluh orang berjalan beriringan, senjata terangkat siap ke segala arah. Sesekali terdengar suara teriakan mereka saling berteriak dengan bahasa Belanda yang kacau.

"Schiet alles wat beweegt! Wacht op bevel!" (Tembak segala yang bergerak! Tunggu perintah!)

"Wie weet waar het gevaar is?! Ik zie niets!" (Siapa tahu bahayanya di mana?! Saya tidak melihat apa-apa!)

Sesekali mereka menembak ke arah semak-semak yang bergerak diterpa angin. Teriakan-teriakan panik terdengar sesekali.

Bayu dan Karta hanya diam bersembunyi di balik kegelapan. Tak perlu meniru suara lagi malam itu. Ketakutan sudah tertanam. Benih keraguan sudah jatuh ke tanah yang subur. Dan benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang menghancurkan kepercayaan mereka satu per satu.

Bayu menatap punggung para prajurit yang berjalan gemetar dalam kegelapan. Di matanya tak ada rasa kasihan. Namun juga tak ada kebencian yang membabi-buta. Hanya tekad yang tenang dan bulat.

Mereka boleh menguasai tanah ini sebentar. Tapi mereka tak akan pernah bisa menguasai roh yang hidup di dalamnya. Mereka boleh menaklukkan batu dan kayu. Tapi mereka tak akan pernah bisa menaklukkan suara yang lahir dari tanah itu sendiri.

"Besok kita ganti tempat," bisik Bayu pelan saat rombongan prajurit itu sudah menjauh.

"Di tikungan batu yang lain. Kita buat mereka merasa bahwa hutan ini seluas tak bertepi. Bahwa penjaganya tak pernah tidur dan tak pernah kehabisan suara."

Karta mengangguk mantap. Matanya berbinar siap melakukannya lagi dan lagi.

"Siap. Biar mereka tahu... tanah Rancagaok tak diam saja."

Angin malam berhembus pelan membawa kabut kembali menebal. Menyembunyikan dua sosok yang perlahan menghilang di balik rimbunan pepohonan, seolah menyatu dengan kegelapan itu sendiri. Tanah tempat mereka berpijak tetap tenang. Namun bagi mereka yang datang dengan niat merampas... tanah itu kini mulai berbicara. Dan suara pertamanya... sudah cukup untuk membuat mereka gemetar ketakutan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!