NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu mertua

Karena mendengar Cucunya sakit, Ibu Lastri langsung berjalan menuju kamar cucu nya. Beliau langsung membuka pintu kamar. Terlihat Aldi masih tertidur lelap.

Aku berdiri di belakang Ibu mertuaku. Beliau mendekati Aldi di tempat tidur, lalu mengusap kepalanya.

Karena sentuhan sang Nenek, Aldi bergerak pelan dan kedua matanya terbuka. Ia memandang seseorang yang berada di hadapannya.

"Nenek.." Ucap nya, suara nya terdengar lemah.

"Iya, ini nenek, sayang." Jawab Bu Lastri.

Aldi mencoba berusaha bangun dari tidurnya.

"Abang jangan bangun dlu kalau kepalanya masih pusing." Kata ku kepada Aldi.

Bu Lastri tersenyum tipis mendengar ucapanku.

"Tidak apa-apa. Aldi kan seneng ketemu sama nenek. Masa gak boleh bangun sih." Ucap Beliau.

Aku hanya terdiam. Karena aku tau, akan percuma jika aku membantahnya. Setiap kali aku mencoba menjelaskan kepada beliau. Beliau pasti selalu beralasan dan menganggap semua perkataannya selalu benar.

"Nenek menginap dirumah disini, kan?" Tanya Aldi.

"Iya dong. Nenek mau menemani Aldi dan juga Aira.. Cucu-cucu nenek tersayang." Jawab Bu Lastri.

Si kecil Aira yang tadi nya hanya diam, tiba-tiba bersorak senang lalu menghampiri sang Nenek.

"Asiikk... Nenek bobok disini." Seru Aira senang.

Bu Lastri kemudian memeluk Aira, dan mencium ke dua pipi cucu nya itu.

Aku tersenyum tipis. Pandanganku beralih ke tas Ibu yang masih berada di depan pintu kamar.

"Saya bawakan tas Ibu ke kamar dulu kalau begitu." Ucapku seraya mengangkat tas Ibu.

Bu Lastri hanya menganggukan kepala. Fokus nya hanya kepada kedua cucu nya.

Aku segera kekuar kamar, mengambil Tas Ibu dan membawanya menuju kamar tamu. Ada 2 tas yang di bawa Ibu, tidak terlalu berat.

Sesampainya di kamar tamu, aku meletakkan tas Ibu di meja dan di kursi. Aku menarik napas sejenak. Lalu melihat sekeliling kamar, memastikan semuanya sudah tertata rapi. Mengingat beliau yang perfeksionis. Semua harus sesuai dengan keinginannya.

meski Ibu mertuaku kadang membuat ku kesal. Namun, aku sangat menghormatinya. Aku banyak belajar dari beliau bagaimana mengurus kehidupan rumah tangga.

Terkadang aku merasa nasehat yang di berikan beliau kepadaku terasa seperti tuntutan.

Aku harus menjadi istri yang sabar, istri yang patuh, istri yang pintar mengurus suami, mengurus rumah, mengurus anak-anak, mengurus keuangan, dan tidak boleh mengeluh sedikitpun. Tapi semua itu aku jalani hingga sampai saat ini.

Aku hanya berharap badan ku tetap sehat, pikiranku tetap waras. Apalagi jika Ibu mertua datang kerumah, aku harus siap menghadapinya dengan tenaga yang berbeda. Tenaga untuk lebih sabar, tenaga untuk tidak membantah, dan tenaga untuk selalu tersenyum meskipun hati sudah tidak nyaman.

Setelah meletakkan tas Ibu di kamar tamu. Aku berjalan menuju dapur. Aku ingin mengambil air minum untuk melepas dahaga yang sedari tadi aku tahan.

Baru saja hendak mengambil gelas seketika pandanganku tertuju pada Putri kecilku, Aira. Ternyata dia sedang asik memakan snack kesukaannya. terlihat snack-snack nya berjatuhan di lantai.

Aku tersenyum melihat tingkah Aira yang begitu menggemaskan.

"Enak ya snack nya?" Tanya ku pada Aira.

"Iya, enak Mama." Jawab Aira sambil mengunyah makanannya.

"Makan nya pelan-pelan, sayang. Nanti tersedak." ucapku.

Aku kemudian mengambil sapu untuk membersihkan sisa-sisa snack yang berjatuhan dilantai. Saat sedang menyapu, tiba-tiba terdengar suara Ibu mertua ku dari arah belakangku.

"Aira" Ucap nya memanggil Aira.

Seketika aku menoleh dan menghentikan aktifitasku. Beliau lalu berjalan mendekati Aira.

"Cucu nenek kok makan snack sih? Kenapa gak makan nasi?" Kata beliau sambil menggendong Aira.

Aku terdiam. Lalu melanjutkan aktifitasku yang belum selesai.

""Kasihan cucu nenek. Mama kamu gak menyuapi kamu makan nasi,ya?" Imbuhnya . Yang langsung membuat aku berhenti bergerak.

"Tadi Aira sudah saya suapi makan nasi sama sayur, Bu. Mungkin anak nya lagi pengen makan snack." Jawab ku mencoba membela diri.

Tuduhan Ibu membuat dadaku terasa sesak.

"Jangan biasakan anak-anakmu makan snack. Kamu harus memperhatikan gizi untuk tumbuh kembang mereka." Kata Bu Lastri mulai menceramahiku.

"Iya, Bu . Lain laki saya akan lebih memperhatikan." Jawab ku.

Aku tau, jika aku terus membantah dan membela diri , maka beliau akan semakin mengajaku berdebat dan percakapan kami tidak akan selesai.

Dimata beliau selalu saja ada kesalahan dan kekuranganku dalam hal mengurus anak.

Tanpa berkata-kata lagi, beliau langsung pergi bersama Aira. Aku menggenggam gagang sapu lebih erat. Ingin sekali rasanya berteriak. Namun ku paksakan untuk selalu kuat dan mengalah.

Aku memperhatikan mereka dari belakang. Di lain sisi aku lega, karean beliau begitu sangat menyayangi ke dua cucu nya.

Aku meletakkan sapu di sudut tembok. Kemudian berjalan menunu wastafel untuk cuci tangan. Aku menatap air yang mengalir dari wastafel. Aku benar-benar merasa lelah. Sejak pagi tenaga terforsir. Aku memejam kan kedua mataku sejenak. Aku hanya seorang manusia biasa. Seorang Ibu rumah tangga biasa. Aku bisa sakit, aku bisa lupa, aku bisa salah, dan aku bisa lelah. Tapi aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluargaku, untuk anak-anak ku.

Aku mengusap wajahku pelan. Menyemangati diriku sendiri. Masih ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu senantiasa memberiku kekuatan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Ibu dari ruang tengah.

"Jasmine.!!!!" Teriaknya memanggil namaku.

"Iya, Bu. Ada apa?" Balas ku setengah berteriak.

"Tolong buatkan Ibu teh hangat, jangan terlalu manis. Cepat, ya." Jawabnya.

"Baik, Bu." jawab ku singkat.

Aku menarik napas panjang. Kemudian tersenyum tipis. Lalu segera ku buatkan apa yang di minta Ibu mertuaku . Jika aku terlalu lama, beliau pasti akan menceramahiku lagi.

Setelah teh sudah selesai aku buat, aku segera membawanya ke ruang tengah. Begitu sampai di ruang tengah, aku melihat Ibu mertuaku sedang sibuk membersihkan dan merapikan rak buku, dan mengelap meja.

Hari ini aku lupa, membersihkan area tersebut. Karena sejak pagi, aku sudah terlalu sibuk mengurus suami dan ke dua anak ku.

"Ini Bu teh nya sudah Jasmine buatkan. Silahkan diminum, mumpung masih hangat." Ucapku halus sambil meletakkan teh di atas meja.

Beliau menoleh kepadaku. Memandang ku sejenak.

"Jasmine. Sebenarnya kamu dirumah ngapain aja? apa kamu tidak pernah membersihkan rumah? Semuanya berantakan, mainan berserakan, debu dimana-mana." Kata Bu Lastri dengan nada sedikit tinggi.

"Maaf, Bu . Nanti biar Jasmine bersihkan." Jawabku.

"mainan anak-anak mu yang sudah tidak terpakai , kamu buang saja. Jadi tidak berserakan di mana-mana. Ini kan rumah tinggal manusia, bukan hewan." Ucap nya yang langsung membuat dadaku kembali tertusuk.

Tanganku mengepal kecil di sisi tubuh. Ingin sekali rasanya membantah perkataan Ibu barusan. Namun ku urungkan. Jika aku membantahnya maka akan semakin panjang urusannya. Dan untuk saat ini aku sudah tidak punya tenaga untuk menghadapi beliau.

"Kalau jadi Ibu rumah tangga. Kamu harus pandai mengatur waktu. Jangan sampai rumah terlihat seperti kandang seperti ini." Ucapnya lagi, yang membuat dadaku semakin sesak.

Aku tau memang rumah harus terlihat bersih. Mungkin Ibu benar masih banyak kekuranganku sebagai Ibu rumah tangga. Tapi beliau harus tau, ada batas ketika menasehati sehingga kalimatnya tidak membuat seseorang merasa sakit hati.

"Bu, Jasmine kedapur sebentar. Jasmine lupa kalau tadi merebus air . Pasti sudah mendidih." Ucapku beralasan agar aku bisa segera pergi.

"yasudah." Jawab beliau singkat.

Aku segera berbalik. Aku mau mendengarkan lebih lama lagi yang pasti akan semakin membuat ku sakit dan sesak di dada.

Begitu sampai didapur, aku duduk di meja makan. Meletakkan kedua tanganku di atas meja. Kemudian membenamkan wajahku.

Dalam hitungan detik.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Aku tidak bisa menahan air mataku. dan pada akhirnya menetes juga.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Jangan lupa follow, yaa 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!