When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Langkah Kaki
Aroma wangi tanah basah dan sisa embun malam menyeruak di sepanjang lorong terbuka yang menghubungkan Istana Barat dengan Taman Kaca Kerajaan.
Cahaya rembulan menyelinap di antara sela-sela pepohonan.
Di lorong ini, musik perjamuan dari aula terasa makin jauh, hanya menyisakan gemeresik dedaunan yang diterpa angin malam dan derap langkah kaki yang saling menyusul.
Evelyn sedang berjalan santai. Ia sengaja menjauh dari keramaian, berniat menghirup udara segar sebelum rombongan keluarga Rosenberg berpamitan pulang.
Namun, langkahnya mendadak terhenti saat sesosok bayangan menyibak semak bunga dan berdiri tepat di tengah jalan setapak.
Rosalia.
"Masih belum puas mengobrol di atas tadi, Lady Rosalia?" goda Evelyn.
“Aku nggak lagi bercanda, Evelyn," desis Rosalia. "Aku sengaja nyusul kamu ke sini buat ngasih peringatan terakhir sebelum semuanya terlambat."
Evelyn mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura terkejut. "Oya? Peringatan apa yang bisa bikin seorang 'pemeran utama' sampai bela-belain keluar begini?"
Rosalia mengepalkan kedua tangannya, matanya menatap tajam Evelyn.
"Stop ngacak-ngacak skenario novel ini!" bentak Rosalia. "Kamu itu cuma jiwa asing yang nyasar ke dalam tubuh Evelyn! Kamu nggak punya hak buat merusak jalan cerita yang harusnya membawaku ke puncak takhta sebagai Permaisuri!"
Evelyn menatap Rosalia dengan raut wajah sangat datar.
"Skenario novel?" ulang Evelyn pelan.
"Maksudmu... alur cerita konyol di mana karakter Evelyn harus mati mengenaskan gara-gara racun, sementara keluarga Rosenberg dibantai dan hartanya dikuras habis sama Pangeran dungu peliharaanmu itu?"
"Itu emang takdir karaktermu!" bentak Rosalia.
"Setiap novel butuh karakter tambahan yang jatuh biar pemeran utamanya bisa bersinar! Kenapa kamu nggak bisa menderita dan mati aja sesuai alur cerita asli?! Kenapa kamu harus seret si Cassian itu ke dalam urusan ini?!"
Napas Rosalia memburu tajam, dadanya naik turun oleh luapan rasa cemas dan amarah.
Evelyn menatap gadis di depannya dengan pandangan tak habis pikir dengan jalan pikiran Rosalia.
"Hei Wulan dengerin aku baik-baik," kata Evelyn. "Tubuh ini... kehidupan ini... sekarang punyaku. Aku bukan sekadar karakter fiksi yang bisa kamu setir sesuka hati cuma gara-gara kamu ngerasa megang lisensi 'pemeran utama'."
Evelyn memajukan wajahnya.
"Kamu pikir aku bakal diam aja biarin keluargaku dihancurkan sama Pangeran kekanak-kanakan itu?" lanjut Evelyn. "Kamu pikir aku bakal pasrah mati konyol di atas ranjang cuma demi ngemuluskan jalanmu menuju kursi Permaisuri? Kalau skenario novel ini nuntut aku buat mati... maka aku akan ubah semua skenario ini!"
Rosalia menyunggingkan senyum miring.
Ia memajukan badannya, berbisik tepat di samping telinga Evelyn.
"Kalau kamu tetep nekat mencampuri alur ini... aku bakal pastikan Nathaniel mengeluarkan dekrit penangkapan atas nama pengkhianatan negara untuk seluruh anggota keluarga Rosenberg. Ayahmu, ibumu, dan kakak laki-lakimu yang sok hebat itu... bakal diseret ke tiang gantungan di alun-alun ibu kota!"
"Mundur sekarang, Evelyn..." ancam Rosalia. "Serahkan seluruh aset Asteria ke Istana, batalkan aliansimu sama Cassian, dan pergi dari ibu kota ini selamanya. Itu satu-satunya cara biar kamu dan keluargamu bisa tetap hidup di dunia ini."
Evelyn tertawa pelan.
"Menjijikan sekali..." cemooh Evelyn seraya menepuk-nepuk tangannya pelan dua kali dengan gerakan yang amat mengejek.
"Serius, tingkahmu jelek banget. Cocok masuk nominasi cewek paling halu sepanjang tahun."
Wajah Rosalia seketika menegang. "Kamu... Kamu nggak percaya sama ancamanku?!"
Evelyn mengambil satu langkah maju, "Bukan nggak percaya..." bisik Evelyn. "...tapi kamu terlalu dungu buat menyadari satu hal penting."
Evelyn mengulurkan jarinya yang halus, menyentuh dagu Rosalia lalu menengadahkan wajah gadis itu agar menatapnya.
"Kamu sibuk ngancam aku pakai nama Putra Mahkota dan dewan kerajaan..." tutur Evelyn, "...tapi kamu lupa kalau Pangeran peliharaanmu itu cuma memegang pasukan pengawal Istana yang kerjanya cuma parade di jalanan kota. Sementara pria yang berdiri di sampingku... adalah Cassian von Obsidian. Penguasa militer tertinggi yang pegang seratus ribu Pasukan Zirah Hitam dari tanah perbatasan."
Evelyn melepaskan cengkeraman di dagu Rosalia.
"Kamu pikir dewan kerajaan besok lusa bakal berani ngeluarin dekrit penangkapan keluarga Rosenberg..." lanjut Evelyn, "...saat seluruh gerbang ibu kota ini sudah dikepung sama ksatria zirah hitam milik Cassian?"
DEG!
Raut wajah Rosalia seketika menegang! Bayangan mengenai kekuatan militer tanah Utara yang terkenal paling sadis dan tak terkalahkan di seluruh benua seketika menghantam ingatannya!
"Ka-kamu... kamu berani bawa Pasukan Zirah Hitam ke ibu kota?!" seru Rosalia gagap, matanya membelalak tak percaya. "Itu... itu sama aja memicu perang saudara!"
"Perang saudara?" Evelyn tertawa renyah seraya memutar badannya santai. "Bukan perang saudara, Sayang. Itu cuma 'pembersihan' untuk menyingkirkan ular-ular korup di Istana... Lagian itu cuma bercanda sayang, takut ya?"
Evelyn melangkah perlahan menuju lorong, "Simpan peringatan konyolmu itu buat dirimu sendiri, Wulan," ujar Evelyn seraya melangkah pergi, meninggalkan Rosalia yang berdiri terpaku di tengah lorong.
Rosalia meremas gaunnya, napasnya memburu dengan tubuh yang gemetar oleh campuran amarah dendam dan ketakutan.
kesel banget sama dia/Panic/