NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Langkah Pertama Kembali

Pagi itu langit tampak bersih, seolah ikut memberi tanda bahwa perjuangan baru saja dimulai. Argan bangun lebih awal, duduk tegak di tepi tempat tidur sambil menatap kedua kakinya yang diam di tempat. Sudah berbulan-bulan ia tak lagi berharap bisa merasakan telapak kakinya menapak tanah, namun hari ini ada sesuatu yang mendorongnya untuk mencoba lagi—bukan untuk membuktikan pada dunia, melainkan untuk dirinya sendiri.

Saat Aruna masuk membawa sarapan ringan dan segelas air putih, ia tertegun sejenak melihat pemandangan di hadapannya. Argan sedang berusaha berdiri dengan bantuan penyangga yang dipasang di samping tempat tidur. Tubuhnya gemetar hebat, keringat mulai membasahi pelipisnya, dan rahangnya mengeras menahan rasa sakit yang menjalar dari pinggul ke bawah.

“Argan!” Aruna segera meletakkan nampannya di meja, lalu mendekat dengan hati-hati. “Anda tidak apa-apa? Jangan dipaksakan jika belum kuat.”

Argan menghela napas berat, namun tak melepaskan genggamannya pada penyangga. “Aku harus mencobanya, Aruna. Setiap hari aku hanya duduk dan membiarkan dunia berputar tanpa aku. Hari ini aku ingin tahu... apakah aku masih punya kekuatan untuk berdiri, walau hanya sebentar.”

“Kekuatan itu ada, tapi tidak harus datang sekaligus,” jawab Aruna lembut namun tegas sambil berdiri di sampingnya, siap menopang jika pria itu condong. “Boleh saya membantu Anda?”

Argan mengangguk pelan. Dengan perlahan, Aruna membiarkan tangan Argan bertumpu pada bahunya, sementara tangan lainnya menahan pinggang pria itu agar seimbang. Napas mereka berdua menyatu dalam irama yang sama—lambat, penuh kehati-hatian, dan penuh harap.

Saat telapak kakinya menyentuh lantai yang kokoh, Argan mendesis pelan. Rasa sakit dan kesemutan menyerang seketika, namun ia tak meminta diangkat kembali. Ia berdiri, walau hanya beberapa detik, walau sepenuhnya bertumpu pada Aruna dan penyangga di sampingnya. Namun baginya, detik itu terasa abadi. Ia merasakan kembali apa yang selama ini hilang—rasa menapak di atas kakinya sendiri.

“Kau merasakannya, Aruna?” suaranya bergetar, mata menatap lurus ke depan namun penuh kebanggaan yang dalam. “Aku berdiri. Aku benar-benar berdiri.”

Aruna tersenyum haru, air mata kebahagiaan menetes di pipinya. “Anda berdiri, Argan. Dan Anda tidak sendirian.”

Beberapa detik berlalu, tubuh Argan tak sanggup lagi menahan beban itu. Ia kembali duduk di kursi roda dengan napas yang memburu dan wajah yang berkeringat, namun senyum di bibirnya tak hilang. Ia mengusap pelan kakinya yang masih terasa asing, seolah menyapanya kembali setelah lama terpisah.

“Besok aku akan mencobanya lagi,” ucapnya mantap. “Lebih lama sedikit. Lebih kuat sedikit.”

“Itulah yang harus kita lakukan,” jawab Aruna sambil mengelap keringat di dahinya dengan lembut. “Sedikit demi sedikit. Setiap langkah kecil adalah kemenangan besar.”

Semangat itu membawa mereka sepanjang hari. Di kantor, Argan memimpin rapat dengan ketegasan yang kembali berapi-api, namun kini tanpa kepahitan yang dulu sering menyertai kata-katanya. Ia mengumumkan rencana kerjasama baru yang berani, sekaligus memperkuat tim keamanan data agar tak ada lagi celah yang bisa dimanfaatkan pihak lain. Aruna berdiri di sampingnya, mencatat, menanggapi, dan sesekali memberikan pandangan yang melengkapi keputusan-keputusan sulit itu.

Saat sore tiba dan mereka pulang bersama di dalam mobil, Argan menatap keluar jendela melihat orang-orang yang berjalan di trotoar. Dulu tatapannya penuh iri dan kepahitan. Hari ini ia melihatnya dengan rasa syukur dan harapan.

“Dulu aku berpikir bahwa jika aku tak bisa berjalan, maka aku sudah mati bagi dunia,” ucapnya pelan. “Tapi hari ini aku sadar... berjalan dengan bantuan orang yang kita sayangi sama sekali bukan tanda kelemahan. Itu berarti kita cukup beruntung untuk memiliki seseorang yang tak keberatan berjalan lambat bersama kita.”

Aruna menoleh perlahan, menatapnya lekat. “Siapa pun yang berjalan bersama Anda, Argan, tidak akan merasa terbebani. Karena Anda membawa cahaya yang membuat jalan terasa lebih terang.”

Argan tersenyum tulus, lalu mengulurkan tangannya menggenggam tangan Aruna yang tergeletak di pangkuannya. “Kaulah cahayanya, Aruna. Kaulah yang membuatku berani melangkah kembali, walau hanya satu inci setiap hari.”

Malam itu, di kediaman Adhyaksa yang tenang, mereka menutup hari dengan hati yang penuh. Langkah pertama yang kecil dan penuh rasa sakit itu telah mengubah segalanya—membuktikan bahwa luka fisik bukanlah akhir dari segalanya, selama ada kemauan untuk bangkit dan seseorang yang setia menopang hingga kaki sendiri kembali kuat.

 

Lanjut ke Bab 13?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!