Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: HARI KE-49
Bumi Puncak Tianjian bergoncang dahsyat. Array Segel Pembantai Langit yang dipicu oleh Guru Xuan He meraung liar, memancarkan jaring-jaring energi berwarna merah darah yang mengunci ruang udara di atas pelataran pualam. Ratusan murid Paviliun Tianjian melompat bersamaan, mengayunkan pedang-pedang bersurat mantra demi menumbangkan sang pembangkang dan Ular Putih.
Namun, Shen Rui tidak lagi bergerak sebagai pemburu yang ragu.
Dengan Pedang Zhaoyang yang telah terlahir kembali dalam pijar perak keemasan, setiap tebasan Shen Rui memancarkan gelombang Kultivasi Dua Jiwa. Sekali tebas, perisai angin pedang perunggu murni meledak, merobohkan barisan murid Tianjian tanpa mengambil nyawa mereka. Di sampingnya, Lian Yue mengibaskan lengan gaun sutra putihnya. Pendar esensi siluman ular seribu tahun memancar bagai aurora kristal es, membekukan pedang-pedang musuh dan menghancurkan tiang-tiang array darah hingga retak seribu.
Qing Luo bergerak bagaikan kilat hijau di antara celah pertempuran, menangkis serangan para penatua dan membuka jalan lurus menuju altar tertinggi.
"Xuan He!" suara Shen Rui menggelegar membelah gemuruh badai salju. Ia melompat menembus kobaran array yang hancur, mendarat tegap di tangga batu tertinggi persis di hadapan sang Pemimpin Perguruan.
Guru Xuan He menatap Shen Rui dan Lian Yue yang kini berdiri bersisian. Pendar perak di mata Lian Yue dan denyut bulan sabit di dada Shen Rui menyatu begitu sempurna—sebuah pemandangan yang paling ditakuti oleh Xuan He selama seribu tahun.
"Kau pikir kau telah menang, Shen Rui?" Guru Xuan He tertawa dingin. Wajah sucinya sepenuhnya terkikis, menyisakan raut wajah penuh kekejaman dan ketamakan mutlak. "Lihatlah ke atas langit!"
Awan hitam di atas Puncak Tianjian mendadak terbelah. Bulan purnama di hari ke-49 terbit sempurna di puncak malam, memancarkan pendar perak raksasa yang menyiram seluruh bumi.
Seketika itu pula, tanah di bawah Puncak Tianjian meretak hebat. Gemuruh dari kedalaman perut bumi meraung keras. Segel Kuno yang dibangun di atas pasokan darah dan esensi jiwa Lian Yue selama tiga kehidupan mulai goyah. Hawa iblis purba yang terkunci di bawah istana Paviliun Tianjian menyembur keluar melalui celah-celah pualam, mengancam akan meruntuhkan seluruh puncak gunung menjadi debu.
"Hari ke-49 telah tiba!" seru Guru Xuan He seraya mengangkat tongkat pusaka berujung tengkorak perunggu. "Tanpa potongan esensi jiwa ular putih ini untuk memberi makan Segel Kuno, tempat ini akan hancur dan seluruh benua akan ditelan kegelapan! Shen Rui... apakah kau akan membiarkan dunia ini hancur demi menyelamatkan perempuanmu?!"
Lian Yue memegangi dadanya. Gejolak kebangkitan penuh esensi Ular Putih meledak di dalam tubuhnya, memancarkan pendar pualam yang amat terang. Ia menatap Shen Rui, matanya dipenuhi kepasrahan dan kehangatan yang amat dalam.
"Shen Rui..." bisik Lian Yue halus, suaranya hinggap di tengah gemuruh runtuhnya Puncak Tianjian. "Jika jiwaku harus menjadi harga untuk mengakhiri kebohongan ini..."
Shen Rui menggenggam jemari Lian Yue rapat-rapat, lalu melangkah satu tindak di depan sang perempuan. Pria itu mengangkat Pedang Zhaoyang tinggi-tinggi ke udara, mengarahkan mata bilahnya lurus ke leher Guru Xuan He.
"Dunia yang dibangun di atas penderitaan dan kebohongan seribu tahun tidak pantas untuk dijaga!" tegass Shen Rui dengan keteguhan mutlak yang membelah malam purnama. "Malam ini, kami tidak akan mengorbankan siapapun. Kami yang akan menghancurkan segelmu dan memutus siklus kutukan ini!"