"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Penegasan
Alfian, Valery, Kania, Diego dan Yogi saat ini mereka berarti tempat tongkrongan mereka, sudah pasti Alfian disidang oleh teman-temannya untuk kembali memberi penjelasan apa yang terjadi.
"Oke-oke Alfian kita terima posisi lo saat ini yang mungkin tidak punya pilihan lain dari apa yang telah diperintahkan nyokap dan bokap lo tentang perjodohannya dengan Celia, tetapi bukan berarti pada akhirnya lo nyaman dengan perjodohan ini," ucap Yogi.
"Dan lo juga nggak ada perasaan sama cewek itu bukan?" sambung Yogi menebak-nebak dan sejak tadi Valery memperhatikan wajah Alfian, karena sebelumnya dia juga sudah terlebih dahulu mempertanyakan hal itu.
"Alfian, lo kok diam dan gak jawab? Lo beneran suka sama dia?" tanya Kania.
"Sudahlah, mau sampai kapan kita harus terus membahas ini. Gue sama Celia hanya menuruti apa yang diperintahkan dan kami tidak punya pilihan, yang terpenting sekarang bagaimana caranya agar gue menemukan orang yang telah menyebarkan video ini dan bagaimanapun ini adalah privasi!" tegas Alfian.
"Tetapi kenapa susah sekali lo jawab suka apa tidak dengan Celia?" tanya Kania dengan hati-hati.
Alfian kembali terdiam, sulit sekali harus menjawabnya.
"Tidak mungkin Alfian suka sama cewek itu, kita semua sama-sama tahu tipe Alfian seperti apa, sudah pasti seperti Valery," sahut Diego.
"Stop bawa-bawa gue, anak-anak di sekolah ini saja ikut-ikutan ngejek gue, dibilang gue cadangan lah inilah itulah," sahut Valery semakin kesal.
"Alfian sekarang lo mendingan tegasin semua sama murid-murid di sekolah, seperti apa hubungan kamu dengan Valery dan tegasin kalau lo dijodohin sama Celia dan terpaksa menjalaninya, kalian tidak memiliki perasaan apapun dan ini untuk Valery agar tidak terus diejek anak-anak," ucap Kania memberi saran.
"Setuju," sahut Yogi.
"Bukankah sebelumnya sudah dijelaskan kepada anak-anak, bagaimana hubungan gue dan Celia yang sebenarnya dan begitu juga dengan Valery," sahut Alfian.
"Kesimpulannya lo menekankan kepada anak-anak, bahwa kalian berdua tidak pacaran selama ini dan tidak ada perasaan apa-apa?" tanya Kania mencari penjelasan dari Alfian.
"Sudahlah, gue sama Alfian memang tidak pacaran tidak ada hubungan apa-apa. Gue yang akan bilang sendiri sama anak-anak," sahut Valery merasa malu dan lebih baik menegaskan sendiri karena terlihat Alfian tidak ingin mengusahakan apapun untuk mengembalikan nama baiknya agar tidak diejek.
"Valery tunggu!" panggil Kania mengejar sahabatnya.
"Serius Alfian, kalian berdua tidak memiliki hubungan spesial?" tanya Yogi memastikan sendiri.
"Gue dan Valery sejak dulu adalah sahabat, tidak ada hubungan spesial apapun diantara kami," jawab Alfian.
"Sama sekali?" tanya Diego kembali memastikan membuat Alfian menganggukkan kepala.
"Semoga saja lo juga nggak ada perasaan apa-apa sama cewek itu," sahut Yogi.
Lagi dan lagi Alfian tidak berkomentar apapun, sudah dapat dipastikan bahwa teman-temannya tidak menyukai Celia.
*******
Valery merasa tidak nyaman saat melewati koridor sekolah, masih banyak sekali murid-murid sekolah berbisik-bisik membicarakannya, tatapan mereka sangat sinis terhadap Valery, seolah-olah Valery benar-benar kasihan yang dipermainkan oleh Alfian.
"Stop kalian semua!" langkah Valery terhenti dengan suaranya yang lantang berada diantara orang-orang yang terus membicarakannya.
"Gue nggak pernah merasa jadi simpanan atau jadi cadangan Alfian, selama ini kita hanya teman dan sahabat, kalian jangan terus bergosip membicarakan tentang gue!" tegas Valery mau tidak mau harus klarifikasi sendiri untuk membersihkan namanya.
"Awas saja jika ada satu orang yang tetap membicarakan gue dan terus bawa-bawa gue dalam perjodohan Alfian dan Celia, maka selanjutnya akan berurusan dengan gue!" tegas Valery langsung meninggalkan murid-murid yang menatapnya dengan sinis.
"Kalian kayak orang nggak punya kerjaan, gosip terus!" tegas Kania memberi peringatan sebelum menyusul temannya.
Valery yang begitu kesal harus bertabrakan bahu dengan Cynthia yang membuat keduanya hampir saja jatuh.
"Pelan-pelan Valery, gue tahu suasana hati lo saat ini sedang tidak baik-baik saja," ucap Chintya tersenyum penuh ejekan.
"Kasihan," ucap Chintya secara tiba-tiba yang membuat Valery mengerutkan dahi.
"Apa maksud lo?" tanya Valery.
"Huhhhhh, ternyata bukan hanya menjadi cadangan dalam juara adalah, juara umum tetapi juga menjadi cadangan Alfian, anak-anak satu sekolah ini mengidolakan Alfian dan mengagung-agungkan hubungan kalian yang couple goals, eh ternyata hanya teman, atau mungkin hanya Alfian yang menganggap teman dan lo kepedean dianggap pacar," ejek Chintya.
"Tutup mulut lo, gue nggak harus menjelaskan apapun sama orang kayak elo, mau pacaran atau hanya sebatas teman dengan Alfian, itu adalah urusan gue sama dia. Stop ikut campur!" tegas Celia.
"Iya-iya, gue nggak akan ikut campur kok, tapi kasihan aja sama orang-orang kayak lo, benar-benar tidak dianggap," sinis Chintya kemudian langsung berlalu dari hadapan Valery.
"Heh!" Valery benar-benar kesal dan ingin rasanya menarik rambut Chintya tetapi untung saja dia datang dan mencegah temannya itu.
"Valery sudah tidak ada gunanya," ucap Kania.
"Lihatlah mulutnya sangat tajam dan merendahkanku," ucap Valery terpancing emosi dengan nafas naik turun.
"Gue tahu sekarang bagaimana perasaan lo, ini mengejutkan dan termasuk gue dan Chintya sudah pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menekankan bahwa dia adalah pemenangnya, tetapi tidak ada gunanya mencari keributan dan yang adanya kita akan mendapatkan yang sama di sekolah ini, sudahlah yang penting lo sudah berani mengatakan kepada anak-anak di sekolah itu bahwa lo memang tidak ada hubungan apapun dengan Alfian," ucap Kania berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
"Sudah ayo kita sebaiknya kembali ke kelas!" ajak Kania membuat Valery menganggukkan kepala.
*****
Di jam istirahat Celia tampak berjalan di koridor sekolah bersama dengan Chintya.
"Kamu kemarin baru mengatakan kepadaku bahwa tidak mungkin bersahabat dengan Valery dan teman-temannya, mereka adalah musuh buyutan kamu yang selalu saja mencari masalah dengan kamu, eh ternyata kamu adalah tunangan Alfian, benar-benar sangat mengejutkan," ucap Chintya.
"Seperti apa yang dikatakan Alfian, kami dijodohkan dan kami sama-sama tidak menginginkan perjodohan itu," ucap Celia.
"Mau kalian berdua dijodohkan atau tidak dan menurutku itu bukanlah masalah, anak-anak juga sepertinya tidak terlalu banyak berkomentar, kalau hanya mendapat godaan seperti ejekan, itu hal yang biasa dan terkadang anak-anak di sekolah ini hanya gemas saja dengan hubungan seperti itu, lama kelamaan juga mereka akan terbiasa dan justru akan memberi dukungan," ucap Chintya ternyata memberi dukungan yang besar terhadap Celia.
"Ya, ini mungkin sudah karma bagi Valery, kepopulerannya di sekolah ini langsung terhempas dengan berita perjodohan kamu dan Alfian. Kasihan sekali, tetapi bagaimanapun itu adalah pelajaran untuk wanita angkuh seperti dia," ucap Chintya.
"Kamu tidak suka ya sama Valery?" tebak Celia melihat ke arah Cynthia.
"Bukan aku yang tidak menyukainya, tetapi sebaliknya, tidak tahu apa salahku dan dia selalu iri dengan kemampuanku di sekolah ini, Valery selalu menginginkan menjadi pusat perhatian, dia marah jika aku menjadi pusat perhatian, dia marah jika aku menjadi juara 2 umum, dia selalu iri dengan apa yang aku miliki," jawab Chintya.
"Celia, mau kamu hanya dijodohkan dengan Alfian dan terpaksa dalam pertunangan ini, aku sebagai sahabat tetap mengucapkan selamat untuk kalian berdua," ucap Chintya tersenyum yang tidak ditanggapi Celia.
Bersambung......