Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mbok Siti merasa panik. Pikirannya melayang, bertanya-tanya tentang kemalangan apa yang menimpa rumah ini semalam. Ia berjalan tergesa-gesa mencoba mengetuk kamar majikannya, yaitu Rukmini terlebih dahulu. Namun, setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari dalam.
Ia pun berpindah ke kamar Ruhi.
Dengan langkah cepat, ia mendekati pintu dan mengetuk dengan penuh kepanikan. Suaranya yang bergetar karena khawatir terdengar makin kencang. "Non Ruhi...!" panggilnya sembari menggedor pintu kayu itu.
Mbok Siti makin panik, berharap mendapat respons dari dalam. Namun, suara di dalam kamar itu tetap tidak terdengar. Ruhi, yang masih tertidur pulas, tidak memberi tanda-tanda mendengar teriakan dari luar. Mbok Siti semakin gelisah. Dengan penuh kecemasan, ia memanggil sekali lagi, kali ini lebih lantang "Non... Non Ruhi!"
Dari dalam kamar, Herman yang masih terlelap tiba-tiba terbangun mendengar ketukan yang berulang. Terasa mengganggu tidurnya, ia merasa sedikit kesal. Ia mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang tiba-tiba terdengar berisik.
Dengan suara berat dan kesal, ia menggoyang bahu istrinya. "Dek, bangun. Itu ada yang ketuk pintu dari tadi memanggil namamu. Cepat bangun, mengganggu tidur saja," gerutunya.
Ruhi, yang terjaga dengan enggan, membuka mata setengah terpejam. Kepalanya terasa berat, namun suara ketukan yang semakin mengganggu menuntunnya untuk bergerak. Dengan tubuh yang masih terbungkus selimut, ia mendengus. “Iya, iya, sebentar,” jawabnya dengan suara serak yang penuh kekesalan, seolah ingin kembali tidur lagi.
Setelah sedikit mengumpulkan kekuatan, Ruhi akhirnya bangkit. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan malas, wajahnya masih penuh kekesalan. "Ada apa sih, Mbok? Mengganggu orang tidur saja," tanyanya sambil menguap lebar, belum fully sadar dengan apa yang sedang terjadi.
Namun, Mbok Siti tidak bisa menunggu lebih lama.
"Aduh, Non. Saat saya bangun dan menuju ruang tengah. Banyak barang hilang, TV besar di ruang tengah dan juga barang berharga lainnya tidak ada lagi di sana.!" ucapnya dengan suara bergetar gelisah.
Ruhi terdiam sejenak terkejut, matanya terbuka lebih lebar, dan kantuk seketika hilang. "Apa? TV hilang?" tanyanya dengan nada cemas, langsung melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah. Rasa kantuk yang semula mendera seolah langsung lenyap.
Begitu ia melihat ke ruang tengah, ia terkejut bukan main. Semua barang berharga yang biasanya berada di tempatnya kini hilang. TV besar, guci-guci antik, dan barang-barang lainnya yang biasa menghiasi ruang itu sudah tidak ada lagi. Ruhi hanya bisa berdiri terpaku, berusaha mencerna kejadian.
"Dimana ibu mbok?" tanyanya panik.
"Nyonya sudah daya bangunkan lebih dulu tadi. Namun tidak ada respon dari dalam.
Tanpa berpikir panjang, Ruhi segera memutuskan untuk pergi ke kamar ibunya. Ia takut terjadi apa-apa pada ibunya.
"Sesampainya di depan pintu kamar Rukmini, Ruhi mengetuk pintu dengan keras. "Bu. Apa ibu baik-baik saja." teriaknya panik.
Namun, tak ada jawaban dari dalam. Ruhi menunggu sejenak, menahan kecemasan yang semakin memuncak. Tidak ada suara apa pun. Ruhi takut terjadi sesuatu pada ibunya. Tanpa pikir panjang, ia memutar hendel pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
Krieeett...
Begitu pintu terbuka, pemandangan yang terlihat di dalam kamar ibunya sangat mengejutkan. Rukmini terkapar di lantai, tak bergerak!
Ruhi merasa seolah dunia berhenti berputar di sekitarnya. "Ibu!" serunya penuh kepanikan, berlari mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Ia langsung berjongkok di samping tubuh ibunya, mengguncang bahu Rukmini dengan panik. "Ibu, bangun! Ibu!" teriaknya dengan suara bergetar.
Herman yang mendengar teriakan panik istrinya pun segera masuk ke kamar Rukmini. Begitu melihat mertuanya tergeletak di lantai, ia langsung bergegas mendekat. "Astaga, ibu kenapa dek?" serunya cemas.
"Gatau mas!"
Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tubuh Rukmini dan memindahkannya ke atas kasur dengan hati-hati. "Dek, coba cek apakah Ibu masih bernapas!" perintah Herman sigap.
Ruhi dengan cepat memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan ibunya. Ia merasakan denyut yang lemah namun masih ada. "Syukurlah, Ibu masih hidup," ucapnya, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang.
Mbok Siti yang ikut khawatir segera datang membawa minyak angin. "Ini Non, coba hirupkan di bawah hidung nyonya. Mungkin bisa membantunya sadar," kata Mbok Siti bergetar.
Ruhi dengan hati-hati mengoleskan minyak angin itu di bawah hidung ibunya. Herman berdiri di samping.
Beberapa saat kemudian, ada tanda-tanda bahwa Rukmini mulai menggeliat perlahan. Matanya perlahan terbuka, meskipun napasnya masih berat dan tubuhnya lemas.
Ruhi merasa lega, namun rasa khawatir masih menyelimuti hatinya. "Ibu, Ibu sudah sadar?" tanya Ruhi.
Rukmini mengerjap, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Apa yang… terjadi?" tanyanya dengan suara serak.
"Ibu pingsan di lantai tadi, kami semua khawatir," jawab Ruhi dengan suara lembut.
Rukmini tiba-tiba teringat dengan jelas kejadian mengerikan yang dialaminya semalam. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya melebar, dan rasa panik kembali menghampirinya. "Semalam... Nina datang, Ruhi! Dia bersama Gendis anaknya." ucap Rukmini dengan suara bergetar, napasnya tersengal-sengal.
Ruhi yang mendengar itu tertegun, bingung. "Nina? Maksud Ibu apa? Nina sudah meninggal," jawab Ruhi mencoba menenangkan ibunya.
Namun Rukmini menggeleng kuat, matanya dipenuhi air mata. "Tidak, Ruhi! Dia ada di sini semalam. Dia menggendong Gendis... darah mengalir dari kepala anak itu... Gendis juga melompat-lompat di atas kasur Ibu, Ruhiii!" lanjutnya histeris.
Ruhi semakin bingung. Suara ibunya yang mengulang-ulang nama Nina dan Gendis membuat dadanya makin tertekan. "Ibu ngaco saja," ujar Ruhi, berusaha menahan kekesalan. "Ibu akan lebih terkejut karena rumah kita kemalingan!"
Kata-kata Ruhi justru membuat Rukmini semakin panik. "Kemalingan?" tanyanya, bibirnya gemetar. "Apa maksudmu?"
Ruhi mengangguk cepat. "Iya, Bu! Banyak barang berharga yang hilang, termasuk TV!"
Rukmini terdiam lemas. Wajahnya semakin pucat, tangan yang terkulai di sisi kasur menggenggam erat sprei. “Kenapa ini bisa terjadi?” gumamnya pelan.
(POV: SEMALAM)
Dua orang asing melintasi jalan yang sepi di depan rumah Rukmini menggunakan sepeda motor. Di tengah kesunyian malam, pria yang dibonceng menoleh ke arah rumah besar yang tampak mencolok. Pintu depan rumah itu terbuka lebar tanpa terkunci, akibat Rukmini yang lari ketakutan ke kamar. Dan pintu itu terkena angin.
"Eh, lihat itu!" kata pria di belakang motor tosa. "Pintu rumahnya terbuka lebar jam segini, dan terlihat sepi."
Keduanya memperlambat motor dan berhenti di depan pagar. Dengan gesit mereka menyelinap masuk ke dalam rumah yang tampak lengang tanpa ada orang di sana.
"Ayo kita masuk. Sepertinya malam ini rezeki kita" ucapnya menyeringai.
Perlahan-lahan mereka masuk. Mata mereka berbinar saat melihat TV layar datar berukuran besar di dekat dinding, serta koleksi guci-guci mahal di atas meja tamu. Tanpa buang waktu, kedua pencuri itu dengan cepat mengangkut barang-barang berharga tersebut keluar rumah dan kabur menembus gelapnya malam.
(POV SELESAI)
Ruhi berdiri di ruang tengah, menatap sudut hampa tempat TV besar kesayangannya dulu terpajang. Guci-guci kecil dan koleksi barang antik kini tak ada lagi.
Rukmini yang dituntun ke ruang tengah menangis terisak-isak. Dadanya sesak oleh rasa cemas dan marah yang bercampur aduk. “Mengapa ini bisa terjadi?” isaknya penuh kesedihan.
Dengan suara bergetar dan nada penuh kebencian, Rukmini berucap, "Semua gara-gara arwah Nina! Bukan hanya saat hidup dia merepotkan, mati pun dia masih membuat ulah dan membawa sial!"
Namun, saat kata-kata busuk itu keluar dari mulutnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara gaib yang sangat keras, menggelegar tepat di dalam telinganya!
"TUTUP MULUTMU, IBU!!!"
Deggg!
Rukmini tersentak hebat, tubuhnya langsung gemetar kaku seolah tersengat listrik, dan matanya membelalak ketakutan. Dengan tubuh gemetar hebat, Rukmini membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭