Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. ABI KEMBALI KE JAKARTA
Pagi hari di diselimuti kabut tebal yang membawa udara dingin menusuk tulang. Namun, di dalam kamar utama vila dua lantai itu, kehangatan masih melingkupi dua insan yang berbaring di balik selimut tebal.
Nadira perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya jatuh pada dada bidang Abiyasa yang terbalut kaos polos hitam. Satu tangan kekar suaminya melingkar erat di pinggang mungilnya, menjaga Nadira tetap menempel rapat di dekapannya sepanjang malam.
Nadira tersenyum tipis, hendak membenarkan posisinya, namun gerakan kecil itu langsung memicu reaksi Abiyasa. Iris mata cokelat gelap sang CEO terbuka perlahan. Pria itu menyandarkan dagunya di puncak kepala Nadira, mempererat dekapannya seolah enggan membiarkan istrinya bergeser walau satu senti pun.
"Mas Abi... udah pagi," bisik Nadira pelan, suaranya parau khas bangun tidur. "Katanya jam delapan penerbangan Mas Abi ke Jakarta?"
Abiyasa tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napas panjang—sebuah helaan napas berat yang sangat langka keluar dari sosok pemimpin konglomerat raksasa tersebut. Ia menunduk, mengecup pelipis Nadira lama sekali, menghirup aroma manis buah-buahan dari rambut istrinya.
"Saya rasanya ingin membatalkan semua rapat di Jakarta minggu ini," gumam Abiyasa dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur.
Nadira terkekeh renyah, mendongakkan kepalanya untuk menatap rahang tegas suaminya. "Mana boleh gitu! Mas Abi kan CEO, kasihan Mas Hendra kalau rapatnya dibatalin mendadak lagi."
"Saya lebih kasihan pada diri saya sendiri karena harus berpisah dengan istri saya selama tiga hari," balas Abiyasa datar, namun pendar mata dan nada suaranya memancarkan rasa berat yang teramat sangat.
Sejak kepindahan mereka ke Jogja, ini adalah kali pertama Abiyasa harus menjalankan komitmen jadwalnya: kembali ke kantor pusat Mahendra Group di Jakarta pada hari Selasa dan Rabu, lalu kembali ke Jogja pada Kamis sore. Biarpun hanya dua malam terpisah, bayangan harus pulang ke penthouse Jakarta yang sepi tanpa sambutan dan tawa hangat Nadira terasa begitu menyiksa bagi sang CEO.
Nadira tersenyum tulus. Jemari kecilnya terangkat, mengusap pelan pipi rahang Abiyasa. "Cuma dua hari kok, Mas. Kamis sore kan Mas Abi udah pulang lagi ke sini."
"Dua hari itu empat puluh delapan jam, Nadira. Seribu delapan ratus menit," pangkas Abiyasa presisi, membuat Nadira memutar matanya geli melihat sifat perhitungan kalkulatif suaminya yang kumat.
"Iya, Pak Bos Matematika!" goda Nadira seraya mencubit pelan pinggang tegap Abiyasa. "Ayo bangun, nanti terlambat ke bandara."
Satu jam kemudian, koper kabinet hitam milik Abiyasa sudah berdiri di dekat pintu utama. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas formal berwarna navy yang dipadukan dengan kemeja putih bersih—penampilan sempurna seorang pimpinan Mahendra Group.
Pak Maman sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil sedan di pelataran vila. Sementara di teras depan, Abiyasa berdiri berhadapan dengan Nadira.
Nadira yang mengenakan sweater rajut krem dan celana santai melangkah mendekat, membantu merapikan lipatan kerah kemeja Abiyasa yang sebenarnya sudah sangat rapi.
"Di Jakarta jangan lupa makan siang ya, Mas," pesan Nadira lembut, matanya menatap kancing kemeja suaminya. "Jangan cuma minum kopi hitam dari pagi sampai malam."
Abiyasa meraih kedua tangan kecil Nadira, menggenggamnya hangat. "Kamu juga. Pak Maman akan mengantarmu ke kampus UGM setiap hari jam delapan tepat. Jangan melompati jam makan, dan kalau ada mahasiswa atau siapa pun yang mengganggumu di kampus—"
"Langsung telepon Mas Abi," potong Nadira seraya tersenyum lebar, menghafal luar kepala kalimat wajib suaminya.
Abiyasa menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman hangat yang hanya diciptakan khusus untuk Nadira. Ia memajukan tubuhnya, menangkup pipi mulus istrinya dengan kedua telapak tangannya yang besar, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Nadira. Lama dan sarat akan keheningan doa perlindungan.
"Saya akan meneleponmu begitu mendarat di Jakarta, dan setiap jam sembilan malam setelah rapat selesai," bisik Abiyasa tepat di depan wajah Nadira.
"Iya, Mas Abi. Hati-hati di jalan ya," sahut Nadira tulus.
Abiyasa tak langsung pergi. Pria itu menunduk lagi, menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ciuman perpisahan yang sangat dalam, hangat, dan penuh kepemilikan. Nadira membalas kecupan itu dengan kepolosan cintanya, meremas pelan kain jas Abiyasa di bagian dada.
Ketika pautan bibir mereka terpisah perlahan, Abiyasa mengusap bibir bawah Nadira dengan ibu jarinya, menatap mata bening istrinya dengan pendar rindu yang sudah mengepul bahkan sebelum ia melangkah.
"Sampai jumpa hari Kamis, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa sangat lembut.
"Dah, Mas Abi... Suami es saya yang paling ganteng," balas Nadira seraya memamerkan senyum terbaiknya.
Abiyasa akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobil. Sedan hitam itu perlahan meluncur meninggalkan gerbang vila. Dari kaca jendela belakang yang terbuka separuh, Abiyasa terus menatap figur mungil istrinya yang melambaikan tangan di teras rumah sampai bayangan itu menghilang di balik belokan jalan.
Sementara itu, penerbangan privat menuju Jakarta berlangsung cepat. Namun bagi Hendra yang duduk di kursi seberang Abiyasa di dalam pesawat, penerbangan satu jam itu terasa begitu menegangkan.
Abiyasa duduk menyandar seraya memangku tablet kerjanya. Laporan keuangan dan dokumen proyek bernilai miliaran rupiah terpampang di layar. Namun, setiap tiga menit sekali, mata sang CEO akan bergulir menatap jam tangan mewahnya atau menatap layar ponsel pribadinya yang menampilkan foto wallpaper Nadira yang sedang tersenyum di kebun teh Puncak.
Hendra menahan tawa gigih di balik papan jalannya. "Ehem... Pak Abiyasa."
Abiyasa mendongak, mendadak menguasai kembali raut muka datarnya. "Ya, Hendra? Ada masalah dengan berkas rapat siang ini?"
"Tidak ada, Pak. Semua jadwal dengan dewan komisaris pukul satu siang di kantor pusat sudah siap," jawab Hendra penuh arti. "Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Nyonya Muda pasti baik-baik saja di Jogja. Pak Maman dan dua pengawal yang Anda tempatkan sudah melaporkan bahwa keadaan aman."
Abiyasa berdeham canggung, sedikit membetulkan posisi dasinya untuk menutupi rasa salah tingkah karena kepergok sedang memikirkan istrinya.
"Saya tidak cemas, Hendra. Saya hanya memastikan semua sistem keamanan berjalan sesuai prosedur," kilah Abiyasa dingin.
"Tentu saja, Pak. Prosedur 'sistem keamanan' yang membuat Anda melirik ponsel lima belas kali sejak kita take-off dari YIA," goda Hendra berani, memanfaatkan suasana hati bosnya yang kini jauh lebih humanis dibanding dulu.
Abiyasa menatap sekretarisnya itu dengan alis terangkat sebelah. "Hendra, sepertinya saya harus menambah agenda kunjungan ke anak perusahaan di Papua untukmu minggu depan."
"Maaf, Pak Abiyasa! Saya kembali memeriksa berkas!" seru Hendra cepat seraya menundukkan kepala berpura-pura sibuk membaca dokumen, membuat sudut bibir Abiyasa terangkat tipis membentuk senyuman tipis.
Malam harinya di penthouse Jakarta, pukul sembilan tepat.
Gedung Mahendra Group telah sepi, dan Abiyasa baru saja melangkah masuk ke dalam penthouse lantai empat puluh dua setelah maraton tiga rapat direksi berturut-turut.
Suasana rumah mewah itu hening, dingin, dan sepi—persis seperti masa-masa sebelum Nadira hadir dalam hidupnya. Tidak ada suara kartun di televisi, tidak ada aroma wewangian buah-buahan, dan tidak ada kehangatan yang menyambutnya di pintu depan.
Abiyasa melepaskan jas kerjanya, melemparkannya ke sofa, lalu berjalan menuju balkon kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip gemerlap lampu pencakar langit Jakarta. Pria itu merogoh saku kemejanya, menyalakan panggilan video di ponsel pribadinya.
Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum layar ponsel terhubung.
Wajah mungil dan ceria Nadira seketika memenuhi layar. Gadis itu sedang duduk di meja lukis di studio lantai dua vila Kaliurang, mengenakan piyama kaos berwarna merah muda dengan beberapa noda cat minyak tipis di pipi kirinya.
"Mas Abiii!" panggil Nadira riang di layar ponsel.
"Udah selesai rapatnya?"
Melihat wajah polos dan mendengar suara renyah istrinya, seluruh rasa lelah, sepi, dan ketegangan di dada Abiyasa menguap seketika dalam hitungan detik. Sebuah senyuman hangat nan tampan mekar sempurna di bibir sang CEO.
"Baru saja selesai, Sayang," jawab Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan lembut. "Kamu sedang apa? Ada noda cat di pipimu."
Nadira refleks meraba pipi kirinya seraya tertawa geli. "Eh?! Masa sih? Tadi aku lagi nyoba bikin sketsa pemandangan Merapi dari studio! Seru banget, Mas!"
Abiyasa menyandarkan tubuh tegapnya di pembatas balkon, menatap layar ponselnya dengan pendar cinta yang meluap-luap.
"Bagaimana kuliahmu hari ini? Pak Maman mengantarmu tepat waktu?"
"Lancar banget! Tadi di kampus aku sama Maya bikin kelompok tugas ilustrasi. Terus pas pulang, Pak Maman udah nungguin di depan gerbang," cerocos Nadira antusias, menceritakan setiap detail harinya tanpa ada yang terlewat. "Tapi rumah sepi banget kalau nggak ada Mas Abi... Biasanya kan jam segini Mas Abi gangguin aku lagi baca buku."
Pengakuan polos dari istrinya membuat dada Abiyasa berdesir hangat. "Saya juga merasa rumah di Jakarta ini sangat sepi tanpa kamu, Nadira. Rasanya seperti tidak punya alasan untuk pulang."
Wajah Nadira di layar seketika merona merah hangat. "Mas Abi gombal terus! Kan cuma dua hari!"
"Bagi saya, dua hari tanpa melihatmu langsung adalah waktu yang sangat lama," tegas Abiyasa jujur, menatap lurus ke kamera ponsel seolah sedang menatap mata Nadira secara langsung.
"Tunggu saya hari Kamis sore, Nyonya Mahendra. Saya akan langsung pulang ke rumah kita."
Nadira tersenyum sangat manis di layar ponselnya, mengangguk pelan. "Siap, Pak Bos Posesifku! Mas Abi cepat mandi terus tidur ya, jangan begadang lagi!"
"Iya, Sayang. Selamat tidur," bisik Abiyasa lembut.
Setelah panggilan terputus, Abiyasa menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Biarpun jarak membentang ratusan kilometer antara Jakarta dan Yogyakarta, sang CEO berhati dingin itu tahu bahwa hatinya tak lagi tertinggal di gedung-gedung pencakar langit ini—melainkan telah sepenuhnya tertambat di sebuah vila hangat di seberang pulau, menanti hari di mana ia bisa kembali memeluk sang cinta sejati dalam dekapannya.