NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH

Urusan dekorasi dan persiapan awal Festival Seni SMA Garuda Bangsa membuat jam pulang sekolah bergeser makin sore. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna oranye keemasan yang menerobos celah-celah dedaunan pohon mahoni di sepanjang gerbang sekolah.

Naya baru saja selesai merapikan beberapa perlengkapan melukis milik kelasnya di ruang seni. Bahunya terasa agak pegal. Ketika ia berjalan menuju gerbang luar, langkahnya mendadak dihentikan oleh suara klakson motor matik yang familier.

Bip bip!

Reno menghentikan motornya tepat di samping Naya, melepas helm Bogo cokelatnya sambil menyunggingkan senyum khas yang ramah dan ceria.

"Belum pulang, Nay?" tanya Reno, mengusap peluh di dahinya.

"Baru mau pulang nih, Ren. Capek banget asli, seharian ngurusin kain spanduk sama cat air," sahut Naya sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas.

"Naik yuk, gue anterin sampai depan jalan raya," tawar Reno cepat, menepuk jok belakang motornya. "Sekalian gue juga mau ke arah sana beli perlengkapan kuas tambahan. Daripada lo jalan kaki sore-sore gini, lumayan kan hemat tenaga."

Naya menimbang sejenak. Tempat biasa Arka memarkir mobilnya berada dua blok dari gerbang sekolah—jarak yang lumayan memicu rasa pegal di kakinya jika harus berjalan dalam kondisi lelah.

"Beneran nih nggak mengganggu, Ren?" tanya Naya memastikan.

"Elah, kayak sama siapa aja lo. Kayak baru kenal kemarin sore aja!" kekeh Reno, menyerahkan helm cadangan berwarna hitam dari gantungan motornya kepada Naya. "Nih, pakai. Nanti kena tilang Pak Satpam di gerbang."

Naya menyambut helm itu dengan senyum manis. "Makasih ya, Ren. Lo emang penyelamat banget!"

Namun, baru saja Naya hendak menaikkan kakinya ke pijakan motor Reno, sebuah suara bariton yang teratur dan tegas memotong udara sore.

"Naya Aurelia."

Naya dan Reno kompak menoleh ke arah sumber suara.

Arka berdiri di dekat pos satpam. Jas OSIS-nya terlipat rapi di bahu kiri, sementara tangan kanannya memegang map berkas tebal. Wajahnya yang biasa tenang kini dilapisi riak dingin yang sangat kental. Manik mata hitamnya menatap lurus ke arah tangan Naya yang sedang memegang helm pemberian Reno.

"Eh, Kak Arka," sapa Reno ramah tanpa rasa curiga, menurunkan standar motornya. "Ada apa, Kak?"

Arka tidak membalas sapaan ramah Reno. Pandangannya tetap terkunci sepenuhnya pada Naya.

"Pihak pembina OSIS minta seluruh perwakilan kelas 12 IPS 2 untuk mengumpulkan ulang berkas anggatan kegiatan sore ini," kata Arka dengan nada datar yang dingin, terdengar sangat formal dan tak terbantahkan. "Berkas kelas kamu masih ada poin yang belum ditandatangani wali kelas."

Naya mengerutkan keningnya, kebingungan. "Hah? Perasaan tadi siang ketua kelas gue udah nyerahin semua berkasnya deh ke Melisa? Masa ada yang kurang lagi?"

"Ada yang kurang," potong Arka cepat, melangkah dua tindak lebih dekat. "Dan sebagai sekretaris acara kelas yang terdaftar, kamu harus ikut saya ke ruang OSIS sekarang untuk melengkapinya."

Naya mendengus kesal. Ah, si robot ini ada-ada aja sih nyari gara-gara! Masa iya harus sekarang?!

"Kan bisa besok pagi, Ka!" protes Naya. "Gue udah mau pulang nih, ditawarin tumpangan sama Reno."

Arka melirik Reno sekilas—sebuah lirikan mata yang begitu pekat dan minim keramahan hingga membuat Reno yang biasanya santai mendadak berdeham kaku.

"Berkas ini harus masuk ke meja Kepala Sekolah esok subuh sebelum beliau rapat dinas," balas Arka tanpa kompromi. "Tugas sekolah tidak bisa ditunda hanya gara-gara urusan pribadi."

Naya menyilangkan tangan di dada, matanya membelalak galak pada Arka. "Tapi gue capek! Lagian kenapa harus gue yang balik ke ruang OSIS?!"

"Karena itu tanggung jawab kamu," tegas Arka.

Di sudut lain dekat tiang bendera, Dito yang sedang membawa dua botol minuman dingin memperhatikan adegan bertiga itu dari jauh. Dito menyunggingkan senyum jahil yang teramat lebar, lalu berjalan mendekat sambil mengocok botol minumannya pelan.

"Wah... ada ketegangan apa nih sore-sore?" goda Dito santai, merangkul bahu Arka yang mendadak menegang kaku. "Kalian lagi debat soal berkas atau lagi rebutan penumpang motor nih?"

Arka menyenggol lengan Dito dengan sikutnya secara tersembunyi. "Dito. Jangan mulai."

Dito menahan tawa renyahnya, lalu menatap Reno. "Eh Reno, mending lo duluan aja beli kuas. Kasihan entar tokonya keburu tutup. Lagian ini Pak Ketua OSIS kita paling pantang kalau ada berkas acara yang tertunda walau cuma semenit. Bener kan, Ka?"

Reno mengusap tengkuknya yang tak gatal, menatap Naya dengan raut tidak enak hati. "Ooh... gitu ya? Ya udah deh, Nay. Kayaknya lo emang harus selesain urusan OSIS dulu. Nanti kapan-kapan gue anterin lagi deh ya."

"Eh... tapi, Ren—" kalimat Naya terputus saat Reno sudah keburu mengambil helm hitamnya kembali, menyalakan mesin motor, lalu berpamitan pada mereka.

"Mari Kak Arka, Kak Dito! Nay, gue duluan ya!" seru Reno sebelum melajukan motor matiknya keluar gerbang sekolah.

Naya menatap punggung Reno yang menjauh dengan tatapan melotot tak percaya, lalu memutar tubuhnya dengan emosi yang meletup-letup menghadap Arka.

"Puas lo?!" sembur Naya sengit. "Ngerusak rencana orang aja kerjaan lo!"

Dito secara bijak menyunggingkan senyum lebar, melangkah mundur beberapa tindak. "Oke deh! Karena berkasnya ada di ruang OSIS, gue mau ke kantin dulu ya! Dadah Naya, dadah Pak Ketua yang... serba mendadak!"

Dito kabur sambil tertawa geli, meninggalkan Arka dan Naya berdiri berduaan di dekat lorong perpustakaan yang sepi.

Naya melipat kedua tangannya di dada, menatap Arka dengan pandangan menusuk. "Mana berkasnya?! Biar gue tanda tangan sekarang terus gue bisa pulang naik angkot!"

Arka berdiri diam. Wajah dinginnya perlahan luntur, berganti dengan raut wajah serba salah yang jarang sekali ia perlihatkan. Ia menghembuskan napas panjang lewat hidung, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Berkasnya... sebenarnya sudah lengkap dari tadi siang," aku Arka pelan.

Naya membeku. Matanya membelalak lebar. "WHAT?! Jadi lo bohong?!"

"Saya tidak bohong," tangkis Arka datar, walau tidak berani menatap mata Naya secara langsung. "Saya cuma... mengoreksi prosedur pengembalian."

"Gila ya lo, Arka?!" pekik Naya tertahan, menghentakkan kakinya ke semen. "Lo bikin Reno jalan duluan cuma gara-gara kebohongan konyol lo ini?! Maksud lo apa sih sebenarnya?!"

Arka menatap Naya lurus-lurus. Tatapan mata hitamnya begitu pekat, menyimpan gejolak emosi yang bercampur aduk antara gengsi, kekesalan, dan rasa tidak rela yang tak sanggup ia namai.

"Maksud saya..." suara Arka merendah, menjadi sangat serak. "...saya tidak suka melihat kamu naik motor berduaan sama laki-laki lain. Apalagi senyum-senyum begitu di depan gerbang sekolah."

Jantung Naya merosot tajam. Kata-kata Arka meluncur begitu jujur, tanpa tameng aturan atau pasal-pasal OSIS yang biasanya selalu cowok itu agungkan.

Naya menelan ludah kasar, mendadak merasa lidahnya kelu. "L—lo... lo bicara apa sih?! Kan udah gue bilang, Reno itu cuma teman masa kecil gue!"

"Teman masa kecil atau bukan, tetap saja saya tidak suka," potong Arka tegas. Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, membuat Naya refleks mundur hingga punggungnya menyentuh dinding koridor. "Kamu itu sudah punya suami, Naya. Walaupun dirahasiakan, tolong hargai perasaan... maksud saya, hargai keberadaan saya."

Hargai perasaan saya.

Kalimat yang hampir terucap penuh itu menggantung tebal di udara di antara mereka.

Pipi Naya merona merah padam dalam hitungan detik. Dadanya berdebar liar tak beraturan, berpacu dengan suara riak angin sore yang berhembus pelan.

Arka seolah baru menyadarkan dirinya sendiri dari kata-kata spontan yang baru saja ia ucapkan. Ia buru-buru berdeham keras, mengalihkan pandangannya ke arah jalanan luar.

"Jalan ke mobil sekarang," kata Arka pendek, nadanya kembali dikontrol sedatar mungkin. "Saya yang akan antar kamu pulang. Dan jangan pernah berani-berani berniat naik motor sama Reno lagi."

Arka berbalik dan melangkah lebih dulu menuju luar gerbang.

Naya berdiri sendirian di lorong koridor, menyentuh dadanya yang berdegup kencang seolah habis berlari maraton seribu meter.

"Dasar... ketua OSIS gengsian..." bisik Naya pelan dengan senyum tipis yang mendadak terbit tanpa bisa ia tahan lagi.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!