NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Kambing Hitam

Dua hari setelah bunga beracun itu, compound Hendrawan masih berbau antiseptik dan ketakutan.

Sayap Giok telah dibersihkan sampai tidak tersisa satu kelopak pun. Vas kristal yang dipakai hari itu dikirim ke ruang bukti. Meja tempat Keira menyusun bunga diganti. Bahkan karpet di dekat sofa ikut diangkat, seolah benda mati pun bisa menyimpan niat jahat.

Keira sudah bisa berjalan sendiri, tetapi tangannya masih terasa panas jika terlalu lama mengepal. Dokter Xiao menyuruhnya istirahat dan melarangnya menyentuh bunga apa pun untuk sementara.

Larangan itu terdengar lucu.

Dalam kehidupan sebelumnya, Keira mati karena terlalu banyak mempercayai manusia. Dalam kehidupan ini, bahkan bunga pun tidak bisa dipercaya.

Pagi itu, Rio menyerahkan laporan penyelidikan pertama di Ruang Kerja Darren.

Keira duduk di sofa kecil dengan selimut tipis di pangkuannya. Darren berdiri di depan jendela. Pak Ji berada di sisi meja. Andi menunduk di dekat pintu, membawa tablet inventaris. Ratna berdiri tidak jauh dari Keira, seolah siap menangkapnya jika ia tiba-tiba lemas.

Rio membuka map.

"Florist assistant yang mengantar bunga sudah ditemukan, Pak. Namanya Bima. Dia baru bekerja di vendor tiga minggu lalu. Menurut pengakuannya, dia menerima instruksi untuk mengoleskan serbuk pada beberapa batang bunga sebelum pengiriman."

Ruangan itu sunyi.

Darren tidak menoleh.

"Dari siapa?"

Rio menarik napas pendek.

"Dia mengaku instruksi itu datang dari Helena Hartono."

Jari Keira yang berada di bawah selimut bergerak sedikit.

Rio melanjutkan, "Bima bilang dia tidak tahu serbuk itu berbahaya. Menurutnya, Helena mengatakan itu bahan khusus untuk membuat bunga lebih tahan lama dan tidak cepat busuk. Dia dibayar tunai setelah pengiriman."

Andi menambahkan dengan suara pelan, "Data vendor juga menunjukkan Bima masuk karena rekomendasi dari pihak Helena. Ada catatan komunikasi dengan staf tamu yang dulu melayani keluarga Hartono."

Semua bukti seperti rantai yang disusun rapi.

Motif: Helena dipermalukan dan dibatasi setelah masalah teh.

Kesempatan: orang rekomendasinya ada di jalur bunga.

Pengakuan: asisten florist menyebut namanya.

Bagi compound, itu sudah cukup.

Bagi Darren, mungkin bahkan terlalu cukup.

Keira menatap profil wajah Darren. Sejak kejadian itu, ia tidak banyak bicara. Ia tidur sebentar di kursi samping ranjang Keira, lalu bangun sebelum fajar untuk menerima laporan. Kemarahannya tidak meledak seperti api. Ia justru menjadi dingin, padat, dan berat.

Itu jauh lebih berbahaya.

"Bawa dia masuk," kata Darren.

Pintu Ruang Kerja terbuka beberapa menit kemudian.

Helena Hartono dibawa oleh dua petugas keamanan. Matanya bengkak, rambutnya berantakan, dan wajahnya pucat seperti orang yang sudah menangis semalaman. Begitu melihat Darren, ia hampir tersandung.

"Koh Darren, bukan aku!" suaranya pecah. "Aku berani sumpah, bukan aku!"

Darren menatapnya tanpa ekspresi.

Helena menggeleng cepat, air mata jatuh tanpa kendali.

"Aku memang marah. Aku memang benci dia. Tapi aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku tidak tahu serbuk apa pun. Aku tidak pernah menyuruh orang menyentuh bunga."

Rio meletakkan selembar dokumen di meja.

"Bima menyebut nama Anda."

"Dia bohong!" Helena menjerit. "Atau ada yang menyuruh dia menyebut namaku. Aku tidak kenal dia sedekat itu. Aku cuma pernah merekomendasikan dia karena ada orang yang meminta bantuan. Itu saja!"

Keira memperhatikan bibir Helena yang gemetar.

Jika ini akting, Helena seharusnya menjadi aktris terbaik di Jakarta.

Tetapi Keira mengenal jenis kebohongan Helena. Perempuan itu biasanya menangis sambil mencari celah untuk menyalahkan orang lain. Ia akan menunjuk Keira, menuduh Ningsih, menyeret nama siapa pun yang bisa dijadikan tameng.

Hari ini, tangisnya tidak punya arah.

Hanya takut.

Darren akhirnya bergerak.

Ia berjalan ke belakang meja, mengambil satu folder hitam, lalu meletakkannya di permukaan kayu.

"Mulai hari ini, semua proyek kerja sama antara Hendrawan dan Hartono dihentikan."

Helena berhenti bernapas.

"Koh Darren..."

"Keluargamu akan menerima pemberitahuan resmi sebelum sore."

"Jangan," bisik Helena. Wajahnya runtuh. "Tolong jangan. Papaku tidak tahu apa-apa. Mama juga tidak..."

Darren tidak menunjukkan belas kasihan.

"Kamu keluar dari compound hari ini. Mulai sekarang, keluarga Hartono tidak punya hubungan pribadi maupun bisnis dengan Hendrawan."

Helena jatuh berlutut.

Suara lututnya mengenai lantai terdengar jelas.

"Koh Darren, aku mohon. Aku tidak melakukannya. Aku memang bodoh, aku memang pernah menghina dia, tapi aku tidak pernah mau membunuh orang. Tolong percaya sekali ini saja."

Tidak ada yang menjawab.

Helena merangkak maju dan memegang ujung celana Darren.

"Aku dijebak. Ada yang menjeratku. Koh Darren, lihat aku. Aku tidak punya nyali untuk melakukan ini. Aku tidak punya..."

Rio langsung maju dan menariknya menjauh.

Helena berteriak.

"Aku tidak melakukannya! Ada yang menjeratku!"

Tangannya terlepas dari kain celana Darren. Dua petugas keamanan memegang lengannya, satu di kiri, satu di kanan.

Darren hanya berkata, "Keluarkan."

Tidak keras.

Tidak marah.

Justru karena itu, kalimat tersebut menjadi vonis.

Helena diseret keluar dari Ruang Kerja. Tangisnya menggema di koridor.

"Aku tidak melakukannya! Keira, kamu dengar, kan? Kamu tahu bukan aku!"

Keira berdiri.

Ratna segera menahan lengannya. "Nona Keira..."

"Aku hanya ingin melihat."

Darren menoleh padanya, matanya gelap.

Keira tidak meminta izin lagi. Ia berjalan pelan ke pintu Ruang Kerja, mengikuti dari jarak aman.

Koridor compound yang biasanya rapi dan tenang kini penuh orang yang pura-pura sibuk. Beberapa staf menundukkan kepala saat Helena lewat. Ada yang menggenggam nampan terlalu erat. Ada yang mundur ke dinding. Tidak satu pun berani menatap mata Helena lama-lama.

Mereka semua tahu apa artinya dikeluarkan oleh Darren Hendrawan.

Bukan hanya kehilangan tempat tinggal sementara.

Itu berarti pintu bisnis tertutup. Undangan sosial hilang. Nama keluarga dicoret dari daftar orang yang aman diajak bekerja sama. Untuk keluarga Hartono yang masih membutuhkan jaringan besar agar tetap berdiri, keputusan itu seperti memotong tiang utama rumah.

Di depan gerbang compound, dua koper Helena sudah diletakkan di sisi jalan. Bukan dilempar kasar, tetapi cukup dingin untuk membuat penghinaan itu terasa lebih rapi.

Helena menatap koper itu seperti melihat makamnya sendiri.

"Aku tidak melakukannya," katanya sekali lagi. Kali ini suaranya nyaris tidak terdengar.

Petugas membuka gerbang.

Helena didorong keluar.

Gerbang menutup di belakangnya dengan bunyi berat.

Keira berdiri di ujung koridor, dadanya terasa sesak.

Ia tidak menyukai Helena.

Perempuan itu pernah menghinanya sebagai anak panti, mencoba mendekati Darren dengan wajah manis, dan tidak pernah menyesal sampai keadaan berbalik. Keira tidak akan pura-pura menjadi orang suci yang sedih melihat musuh jatuh.

Tetapi ada perbedaan antara melihat seseorang menerima akibat perbuatannya dan melihat seseorang dipakai sebagai penutup lubang yang dibuat orang lain.

Helena mungkin jahat.

Namun bunga itu terlalu rapi untuknya.

Keira menurunkan pandangan, mencoba menyusun kembali potongan yang belum cocok.

Siapa yang bisa mengatur vendor tiga minggu sebelumnya?

Siapa yang tahu jadwal bunga mingguan?

Siapa yang cukup sabar menunggu Keira sendiri menyentuh rangkaian itu?

Siapa yang dalam kejadian itu kebetulan tidak ada di Sayap Giok?

Saat pikiran terakhir muncul, Keira mengangkat mata.

Di ujung lorong samping, dekat bayangan pilar, seseorang berdiri.

Serena.

Ia tidak berada terlalu dekat, seolah hanya salah satu anggota keluarga jauh yang mendengar keributan dan ingin tahu apa yang terjadi. Gaunnya berwarna biru muda. Rambutnya tergerai rapi. Dari jauh, wajahnya tampak cemas.

Tetapi sebelum Serena menyadari Keira sedang menatapnya, sudut bibirnya terangkat sedikit.

Sangat sedikit.

Hampir tidak ada.

Namun Keira melihatnya.

Itu bukan senyum lega karena bahaya sudah lewat. Bukan simpati kepada Helena. Bukan rasa takut kepada Darren.

Itu adalah kepuasan.

Detik berikutnya, Serena menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Senyum itu hilang secepat bayangan disapu lampu. Wajah Serena berubah menjadi cemas dan lembut.

"Cici," panggilnya sambil mendekat setengah langkah. "Kamu baik-baik saja? Aku baru dengar mereka membawa Helena keluar. Aku... aku takut mengganggu, jadi dari tadi tidak berani datang."

Keira memandangnya.

Serena berhenti, matanya berkaca-kaca.

"Tanganmu masih sakit?"

"Sedikit," jawab Keira.

"Aku benar-benar khawatir. Kalau waktu itu aku tidak sedang istirahat..."

Kalimatnya menggantung. Seperti rasa bersalah yang halus. Seperti teman yang menyesal tidak berada di sisi Keira saat ia membutuhkan orang.

Dulu, Keira mungkin akan menghiburnya.

Dulu, Keira mungkin berkata, "Bukan salahmu."

Hari ini, ia hanya tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja."

Serena tampak lega. "Syukurlah."

Dari belakang, suara langkah Darren mendekat. Serena langsung menundukkan kepala dengan hormat.

"Pak Darren."

Darren tidak menatapnya lama. Fokusnya tetap pada Keira.

"Kamu harus kembali istirahat."

Keira mengangguk.

Ia tidak mengatakan apa pun tentang senyum itu.

Belum.

Sore hari, Sayap Giok terasa terlalu sunyi.

Ningsih menyiapkan teh hangat tanpa bunga apa pun di meja. Ratna berdiri di luar pintu. Darren dipanggil Rio untuk menerima laporan lanjutan tentang Hartono dan vendor florist. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Keira benar-benar sendirian.

Ia duduk di ruang kerja kecil yang dulu dipakai untuk memeriksa anggaran compound.

Di hadapannya, tablet dengan lambang Hendrawan menyala.

Kunci Utama bukan hanya simbol. Sistem itu menyimpan daftar akses, catatan tamu, jadwal kendaraan, permintaan pantry, pengiriman vendor, bahkan laporan staf yang sering dianggap tidak penting oleh orang yang tidak tahu cara mencari.

Keira membuka menu riwayat akses.

Nama Helena sudah ditandai merah.

Ia melewatinya.

Jari Keira bergerak pelan, mengetik nama lain.

Serena Suwandi.

Layar menampilkan deretan waktu, pintu, izin masuk, pendamping, dan catatan lokasi sejak Serena pertama kali datang ke compound.

Keira membacanya satu per satu.

Kamar tamu.

Pavilion Mama.

Sayap Giok.

Koridor administrasi.

Dekat ruang arsip.

Pintu servis halaman belakang.

Keira berhenti.

Di luar jendela, langit mulai gelap. Dalam pantulan kaca, wajahnya terlihat pucat, tetapi matanya tidak lagi kabur.

Sesuatu tidak benar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!