NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12.Aku bukan budak.

“Jadi... begini tugas yang harus kupikul seumur hidupku,” gumam Raisa pelan, saat cahaya keemasan Inti Sakti perlahan meredup dan bayangan Kerajaan Kepatihan yang hangus perlahan memudar menjadi kabut tipis yang lenyap tertiup angin mimpi.

Tiba-tiba ia terbangun dengan napas tersengal hebat, keringat dingin membasahi seluruh pelipis, leher, hingga punggungnya. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang sama persis seperti saat ia terlelap, namun rasanya seperti baru saja melintasi ratusan tahun masa lalu dalam sekejap mata. Tubuhnya terasa amat lemas persis seperti setelah berjalan jauh tanpa henti, seolah seluruh tenaganya benar-benar tersedot habis selama tiga hari terkurung dalam kesendirian dan ketakutan, namun ada sesuatu yang berbeda dan aneh di dalam dadanya—rasa putus asa yang meluap-luap kini perlahan berganti dengan keteguhan yang tenang dan tak tergoyahkan.

“Aku tidak bisa melawannya dengan tubuh selemah ini,” batinnya pelan sambil mencoba menggerakkan jari-jarinya yang terasa kaku dan berat. “Jika aku ingin tahu kebenaran yang utuh, bernegosiasi, dan memperjuangkan hakku sebagai manusia bebas, aku butuh tenaga. Aku harus makan, aku harus kuat, dan aku harus berdiri tegak setinggi diriku sendiri di hadapan makhluk sekuat dia.”

Pandangannya perlahan jatuh pada nampan makanan yang masih tergeletak rapi di meja samping tempat tidur, makanan yang tak tersentuh sama sekali sejak kemarin. Meski sudah dingin, aroma masakan itu masih tercium sangat menggugah selera, seolah sengaja dibuat dengan hati-hati agar tetap terlihat lezat. Tanpa ragu lagi dan tanpa rasa gengsi, Raisa meraih nampan itu, lalu mulai menyantapnya dengan lahap—setiap suapan ia telan dengan rasa syukur yang mendalam, menyadari bahwa ia tak akan bisa menuntut apa pun atau mengubah nasibnya jika ia membiarkan dirinya melemah hingga mati sia-sia. Setelah perutnya terisi penuh dan rasa dingin di tubuhnya perlahan hilang berganti kehangatan, ia bangkit perlahan menuju kamar mandi, membersihkan diri dari debu dan keringat, mengganti pakaiannya dengan yang paling bersih dan rapi yang ia miliki, serta merapikan penampilannya sebaik mungkin seolah bersiap menghadapi pertarungan yang sesungguhnya.

Saat ia kembali berdiri tegak di tengah kamar, napasnya sudah teratur kembali dan tatapannya tak lagi memancarkan ketakutan. Ia menarik napas panjang sekuat tenaga, lalu berteriak keras memecah keheningan yang mencekam di sekelilingnya,“Dengar aku, Arya! Biarkan aku keluar dan menemuimu sekarang juga! Atau aku akan kembali mogok makan dan tak akan menyentuh seteguk air pun besok pagi! Kau tahu aku berani melakukannya!”

Tak ada jawaban yang terdengar, namun tak lama kemudian terdengar bunyi klik pelan namun jelas dari arah pintu. Perlahan namun pasti, pintu kamar itu terbuka lebar seolah ada tangan tak kasat mata yang mendorongnya dari luar. Malam itu suasana rumah begitu sunyi senyap, sepi hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar nyaring di telinga. Dengan langkah mantap meski masih sedikit goyah karena sisa kelemahan, Raisa melangkah keluar dari kamar yang telah menjadi penjara baginya selama tiga hari, lalu menaiki tangga kayu yang lebar menuju lantai dua yang selama ini menjadi tempat terlarang yang dilarang keras dijamah siapa pun.

Di ujung lorong yang remang dan berbau sedikit kapur barus tua, ia berdiri tepat di hadapan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati tua berukir naga dan awan yang sangat indah—sama persis dengan pintu kamarnya namun memancarkan wibawa yang jauh lebih kuat dan menakutkan. Tanpa ragu sedikit pun, Raisa meraih gagang pintu itu dan mendorongnya perlahan hingga terbuka lebar.

Di dalam sana, berdiri seorang pemuda yang tampan luar biasa, jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan. Rambutnya seputih kapas yang bersih, wajahnya memancarkan ketenangan, kelembutan, dan kesetiaan yang mendalam, berpakaian rapi dengan jubah berwarna gelap yang disulam benang perak halus yang menambah kesan anggunnya. Melihat kedatangan Raisa, ia segera menunduk hormat dalam-dalam dan memberi salam dengan sopan santun yang sempurna.

“Selamat datang, Nona Raisa. Saya sudah menunggu kedatangan Nona atas perintah Tuan Arya.”

Raisa tertegun sejenak di ambang pintu, matanya tak lepas menatap wajah pemuda itu yang begitu menawan dan memikat hati. “Kalau boleh tahu... siapa namamu?” tanyanya tulus, mata berbinar kagum tanpa rasa takut sedikit pun. “Dan apa makhluk seperti kalian memang semuanya setampan ini? Kau bahkan jauh lebih tampan daripada idola yang sering kulihat di layar televisi, senyummu lebih hangat dari sinar matahari pagi.”

Belum sempat pemuda itu membuka mulut untuk memperkenalkan diri dengan sopan, sebuah suara berat, dingin, dan penuh penekanan tiba-tiba terdengar dari arah sudut ruangan yang remang gelap. “Namanya Jatmika.”

Raisa seketika menoleh cepat ke sumber suara, dan di sana ia melihat sosok Arya berdiri tegak di balik bayangan cahaya lilin yang remang. Meski wujud manusianya gagah, tampan, dan memikat hati, hawa panas yang terpancar darinya terasa menyengat namun tak menyakitkan kulitnya, seolah kehangatan itu sengaja diredam agar tak melukainya.

“Jatmika, tinggalkan kami berdua sekarang,” perintah Arya singkat namun tak bisa dibantah sedikit pun.

“Baik, Tuan. Jika Nona butuh sesuatu, panggil saja saya,” jawab Jatmika hormat sekali lagi sambil tersenyum ramah pada Raisa, lalu melangkah mundur perlahan dan menghilang menutup pintu rapat hingga ruangan itu kembali sunyi senyap hanya menyisakan mereka berdua.

Begitu suasana hening sepenuhnya, Arya melangkah maju sedikit dengan tatapan tajam yang menusuk lurus ke manik mata Raisa. “Jangan terlalu mudah percaya pada apa yang kau lihat di permukaan, Raisa,” ucapnya ketus dan penuh peringatan. “Jika kau tahu wujud asli Jatmika yang sesungguhnya, kau tak akan berani menatap matanya, apalagi memujinya begitu lebar-lebar tanpa rasa hormat dan takut.”

Raisa hanya mengangkat bahu santai seolah tak mendengar peringatan itu, lalu berjalan tenang menuju tepi ranjang besar milik Arya dan duduk perlahan di sana sambil menyilangkan kakinya dengan santai persis seperti sedang berada di kamarnya sendiri. “Memangnya apa wujud aslinya? Genderuwo? Siluman? Atau monster buas yang bertaring tajam?” ucapnya enteng tanpa beban. “Bagiku itu tak penting sama sekali. Yang kulihat sekarang adalah pria yang sopan, hormat, ramah, dan sangat setia pada tuannya. Sifat itu jauh lebih berharga daripada wujud asli yang mungkin mengerikan bagi orang lain.”

Arya mengerutkan kening dalam, merasa tersinggung sekaligus sangat terusik oleh ketidaktakutan gadis itu yang tak masuk akal. “Duduklah dengan benar dan sopan! Dan jangan sembarangan menyentuh barang-barangku! Itu ranjangku!” bentaknya, meski nada suaranya tak seberingin dan sekeras yang ia niatkan, seolah ada sesuatu yang menahan amarahnya agar tak meledak.

Raisa tak bergeming sedikit pun, malah tangannya dengan santai menyentuh permukaan seprai sutra hitam yang halus itu. “Kau yang memanggilku kemari, bukan? Kalau begitu katakan saja apa sebenarnya maumu dariku,” ucapnya tenang menatap lurus ke manik mata Arya yang berkilat samar seperti bara api yang menyala lembut. “Kenapa harus aku? Kenapa dari sekian banyak keturunan Margono yang hidup dulu, aku harus menjadi penerus yang kau sebut budakmu?”

Arya melangkah mendekat perlahan, berusaha menonjolkan wibawa kunonya untuk menakuti gadis itu seperti yang ia lakukan pada leluhur Raisa sebelumnya. “Kau adalah keturunan pertama dalam ratusan tahun yang tak tahu sopan santun dan tak tahu tempat,” desisnya perlahan. “Mereka semua—leluhurmu—selalu tunduk kepadaku, gemetar ketakutan, tak berani menatap mataku lebih dari sedetik, apalagi duduk seenaknya di tempatku beristirahat.”

Ia kini berdiri tepat di hadapan Raisa yang masih duduk tenang di ranjang. Kedua mata mereka bertemu dalam diam, dan di dalam hati Raisa berbisik pelan dengan penuh keyakinan.Aku tidak takut padamu... Aku justru ingin mengenal siapa makhluk kesepian yang berdiri di depanku ini, makhluk yang sudah menjaga kami sendirian begitu lama.

Tanpa diduga sama sekali, Raisa mengulurkan tangan perlahan dan menarik ujung jubah Arya mendekat ke arahnya dengan lembut namun tegas. Jarak mereka kini begitu dekat hingga napas hangat Raisa menyentuh lembut wajah Arya yang menunduk kaget tak percaya.

“Jika kau membutuhkanku untuk menjaga Inti Sakti itu demi keselamatan banyak orang,” bisik Raisa lembut namun suaranya jelas dan mantap, “maka aku juga berhak mengenal siapa rekanku. Bukan sebagai tuan dan budak seperti yang kau kira selama ini, tapi sebagai mitra yang saling membutuhkan dan saling melindungi.”

Kedekatan yang tiba-tiba itu membuat Arya seketika bingung, salah tingkah yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun hidupnya. Ia segera mundur tergesa-gesa hingga punggungnya menabrak dinding, lalu berbalik badan dan berdiri di dekat jendela sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak beraturan dan panas yang merambat ke seluruh wajahnya.

“Baiklah...” ucapnya tergagap pelan, suaranya terdengar sedikit hilang kendali. “Aku akan menceritakan siapa diriku, asal usulku, dan perjanjian yang mengikat kita berdua.”

Raisa pun bangkit berdiri perlahan, menatap punggung Arya dengan tatapan yang tegas namun tidak menuntut. “Tapi sebelum itu, aku punya syarat yang harus kau penuhi,” potongnya tegas. “Ubahlah suasana lantai dua ini. Biarkan siapapun yang boleh datang ke sini kapan saja, dan jangan biarkan ruangan ini senantiasa gelap, dingin, dan lembab seperti rumah hantu yang tak berpenghuni. Aku tidak suka kegelapan yang tak perlu. Dan ada satu hal lagi—turunlah ke bawah. Berbaurlah dengan kami, makan bersama kami, biarkan kami mengenalmu sebagai manusia juga, bukan hanya sebagai legenda menakutkan yang terkunci rapat di atas sana sendirian.”

Arya berbalik badan perlahan menatapnya dengan wajah penuh kebingungan yang nyata. “Apa maksudmu sebenarnya? Kau sedang memerintahku sekarang? Kepada Ba nas pati yang telah menjaga keluargamu ratusan tahun?”

“Bisa dibilang aku mengajukan syarat sebagai rekan kerja,” jawab Raisa tenang namun mantap tanpa goyah sedikit pun. “Jika kau tak mau, terserah. Tapi ingat satu hal, Arya: aku menerima tugas ini sebagai rekanmu yang setara, bukan sebagai budakmu yang harus menuruti semua keinginanmu tanpa suara. Jika kau tetap menganggapku budak, maka urusan ini selesai sampai di sini dan aku akan cari cara lain untuk mengakhirinya.”

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi apa pun, Raisa berbalik badan dengan tenang dan melangkah pergi menuju pintu. Saat melewati lorong, ia melihat Jatmika menunggu dengan sikap hormat di ujung jalan. Raisa tersenyum ramah dan tulus padanya. “Terima kasih atas makanan dan bantuannya tadi, Jatmika. Sampai jumpa lagi nanti.”

Setelah sosok Raisa menghilang di balik tangga, Arya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa marah bercampur rasa heran, bingung, dan sesuatu yang lain yang tak bisa ia namakan meledak di dadanya, hingga nyala api kecil mulai menjalar dari ujung jarinya ke sekeliling perabot ruangan. “Siapa yang membutuhkan siapa sebenarnya di sini?” gerutunya kesal sambil berjalan mondar-mandir gelisah. “Namun aku terikat pada Inti Sakti itu... dan ia adalah satu-satunya penerus sah yang masih hidup.”

Jatmika segera menghampiri tuannya dengan tenang dan berhati-hati agar tak terkena panas api yang meluap. “Tuan, mohon bersabarlah sedikit. Nona Raisa masih muda, ia tumbuh di zaman yang berbeda jauh dari masa lalu. Ia tak lagi mengenal rasa takut buta pada kekuatan kami, dan justru itulah yang mungkin membuatnya jauh lebih kuat dan berbeda dari leluhurnya yang lain.”

Arya menghela napas panjang yang berat, lalu menekan emosinya sekuat tenaga hingga nyala api itu perlahan padam kembali tak berbekas sedikit pun. “Kau benar sekali, Jatmika. Aku terlalu lama terbiasa dengan ketaatan yang mutlak,” ucapnya pelan. “Lakukan persis apa yang ia minta. Ubahlah lantai dua ini sesuai keinginannya, pasang lampu yang terang, buka jendela agar udara segar masuk, dan pastikan semuanya siap sebelum ia datang kembali menemuiku.”​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!