Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kebenaran yang Menggetarkan Tanah
Malam turun jauh lebih gelap dari biasanya, seolah langit Karimun sengaja menutup seluruh cahayanya untuk menyambut kedatangan bahaya yang tak terelakkan. Tidak ada remang bulan, tidak ada satu pun bintang yang berani menampakkan diri di balik selimut awan hitam pekat. Kabut dingin yang berbau tanah basah merayap perlahan dari arah hutan belantara di utara, menyelimuti jalan setapak, melilit batang-batang pohon, dan membuat pandangan mata hanya bisa menjangkau sejauh dua atau tiga langkah saja. Suasana sunyi senyap, bahkan suara jangkrik yang biasanya riuh di malam hari seolah menghilang, tahu bahwa ada badai besar yang akan melanda desa damai ini.
Di pos jaga paling depan, tepat di pertemuan tiga jalan setapak yang menjadi pintu masuk utama desa, Dika berdiri tegak di balik batang pohon kelapa yang besar. Matanya meneliti setiap gerakan samar di balik kabut, telinganya menangkap setiap suara gesekan halus yang mungkin bukan berasal dari hewan malam. Di sebelahnya berdiri dua pemuda desa paling tangguh—Budi dan Eko—keduanya mencengkeram erat gagang parang dan tombak kayu yang sudah diasah hingga sangat tajam. Napas mereka terlihat beruap putih di udara yang dingin menusuk tulang, namun tidak ada satu pun yang bergerak gelisah atau mengeluarkan suara. Mereka sudah berjanji akan menjaga desa ini dengan nyawa mereka, dan keteguhan itu terpancar jelas dari tatapan mata mereka yang tajam.
Sementara itu, Laras tidak berada di pos depan. Ia memilih tempat yang paling strategis: di atas atap rumah Pak Harun, yang posisinya sedikit lebih tinggi dari bangunan lain di desa. Dari sana, dengan bantuan penglihatan dan pendengaran yang dilatih selama belasan tahun di Kerajaan Bayangan, ia bisa memantau seluruh jalan masuk, pinggiran parit, hingga batas hutan sekaligus. Ia berjongkok diam di atas tumpukan genteng, tubuhnya menyatu dengan kegelapan seolah ia adalah bagian dari bayangan itu sendiri. Ia bisa merasakan kehadiran mereka—getaran langkah kaki yang ringan, pola napas yang teratur, dan aura dingin yang penuh niat buruk. Mereka sudah dekat, sangat dekat.
“Tiga orang bergerak lewat jalur timur, berjalan sangat pelan dan menjaga jarak antar satu sama lain,” bisik Laras dengan teknik suara bergetar yang hanya bisa terdengar jelas oleh telinga yang peka, persis seperti cara ia memberi perintah dulu tanpa diketahui musuh. “Dua orang lagi menyusup lewat parit di selatan, menggunakan air untuk meredam suara langkah. Mereka sengaja membagi pasukan untuk memecah konsentrasi kita dan menarik perhatian ke dua arah berbeda.”
“Dimengerti. Aku bawa Eko ke timur untuk menahan mereka sebentar, Budi tetap di sini mengawasi jalur selatan,” jawab Dika singkat namun tegas, lalu memberi isyarat tangan pada Eko untuk mengikutinya.
Belum sempat Dika melangkah sepuluh langkah, suara ranting yang dipukul benda keras terdengar jelas dari arah parit. Seketika itu juga, tiga sosok berbalut kain hitam dari kepala hingga kaki melompat keluar dari semak belukar dengan gerakan secepat kilat. Tidak ada suara, tidak ada peringatan—mereka langsung berlari menuju pos jaga utama tempat Budi berdiri. Pemuda itu terkejut namun tetap sigap, segera mengangkat tombak kayunya untuk menangkis, namun musuh itu terlalu cepat dan terlatih. Satu tendangan keras mengenai gagang tombak, membuat senjata itu terpental jauh ke dalam semak sebelum tangan Budi sempat menekannya lebih erat. Sosok itu kemudian mengayunkan tangan ke arah leher Budi untuk melumpuhkannya dengan cepat.
“Jangan lukai dia!” seru Laras dengan suara lantang yang membelah keheningan malam. Tanpa menunggu lagi, ia melompat turun dari atap setinggi hampir empat meter, mendarat dengan sangat ringan tanpa menimbulkan suara sedikit pun tepat di antara Budi dan penyerang itu.
Penyerang itu terhenti sejenak, lalu perlahan melonggarkan posisi menyerangnya. Ia menatap Laras lewat celah kain penutup wajah, lalu tertawa dingin yang terdengar sangat asing namun sekaligus akrab di telinga wanita itu. “Kau masih sama cepatnya, Yang Mulia. Bahkan setelah membuang nama dan kekuasaanmu, kemampuanmu tidak berkurang sedikit pun. Sayang sekali kau memilih membuang semuanya hanya untuk melindungi sekumpulan orang lemah yang tidak tahu apa-apa ini.”
“Kembalilah sekarang,” kata Laras dengan nada datar namun tegas, tangannya sudah siap siaga di depan tubuh namun belum bergerak menyerang. “Aku tidak ingin melukai orang-orang yang dulu pernah aku latih sendiri, orang-orang yang pernah berdiri di sisiku. Aku tidak mau ada darah tumpah sia-sia malam ini.”
“Kesetiaan pada Kerajaan Bayangan adalah harga mati, Yang Mulia. Dan kau adalah orang pertama yang melanggarnya,” jawab sosok itu dingin. Ia memberi isyarat tangan singkat ke arah belakang, dan dua rekannya yang lain langsung bergerak memutar, berlari cepat menuju pemukiman warga yang mulai menyalakan lampu penerangan.
Laras hendak mengejar mereka, namun sosok di depannya langsung menghadang dengan serangkaian pukulan dan tendangan yang mematikan, cepat dan bertubi-tubi tanpa memberi jeda sedikit pun. Laras menghindar dengan lincah, gerakannya mengalir seperti air yang menghindari batu di tengah sungai—bukan karena takut, tapi karena ia masih berharap bisa menyelesaikan ini tanpa pertumpahan darah. Namun penyerang itu tidak memberi ampun, setiap gerakannya ditujukan untuk melumpuhkan, bahkan jika perlu menghancurkan orang yang dulu dianggap pemimpinnya sendiri.
Di sisi lain desa, kekacauan mulai terjadi. Suara pintu yang didobrak terdengar, teriakan kaget dan ketakutan warga mulai terdengar dari beberapa rumah. Dika dan Eko yang baru saja berhadapan dengan dua penyerang lain berusaha mencegah mereka masuk lebih dalam, namun mereka kalah kecepatan dan pengalaman bertarung. “Mundur! Jangan lawan mereka sendirian, berkumpullah di lapangan tengah!” perintah Laras dengan suara keras agar terdengar oleh semua orang. Ia berhasil menjauh dari penyerang utamanya dan berlari secepat kilat menuju lapangan desa yang luas.
Sesampainya di sana, Laras berdiri tegak di tengah lapangan, menghadapi lima sosok pasukan Taring Hitam yang kini perlahan mengelilinginya. Warga desa yang ketakutan awalnya bersembunyi di balik pintu dan jendela, namun perlahan mereka mulai keluar satu per satu—bukan untuk lari, tapi untuk berdiri bersama wanita itu.
“Serahkan dirimu sekarang, ikut kami kembali ke Kerajaan Bayangan, dan kami berjanji tidak akan membakar satu pun rumah di desa ini,” ujar pemimpin pasukan itu, suaranya bergema keras di tengah keheningan malam.
“Kalian pikir kalian bisa memaksa dia begitu saja?” tiba-tiba suara Pak Harun terdengar lantang dan tegas. Kepala desa tua itu berjalan keluar dari rumahnya dengan tenang, berjalan tegak meski kakinya sudah mulai rapuh, diikuti oleh puluhan warga desa. Para ibu memegang kayu bakar dan panci besi, para petani membawa cangkul dan sabit, bahkan anak-anak yang sudah berusia sepuluh tahun ke atas membawa batu besar di tangan mereka. “Desa ini sudah menjadi rumahnya selama lima tahun. Dia sudah membantu kami, melindungi kami, dan menjadi bagian dari keluarga besar kami. Dan kami tidak akan membiarkan siapapun datang dari tempat jauh lalu mengambilnya begitu saja.”
Pemimpin pasukan itu terdiam sejenak, lalu tertawa sinis yang penuh penghinaan. “Kalian semua bodoh. Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan. Kalian tidak tahu seberapa besar kekuatan yang dulu pernah dimiliki wanita yang berdiri di depan kalian ini.”
Ia memberi kode tangan, dan dua orang pasukannya langsung melangkah maju menyerang barisan warga desa. Namun sebelum mereka sempat melangkah tiga langkah, dua bayangan bergerak lebih cepat dari kilat—bukan untuk melukai pasukan itu, tapi menepis serangan mereka dengan tenaga yang terukur tepat sehingga senjata mereka terlepas tanpa melukai siapa pun. Dika berdiri di samping Laras, napasnya sedikit terengah namun tatapannya tetap tak bergeming sedikit pun.
“Kau bilang kau akan menghadapi ini sendirian? Ingat kata-katamu sendiri kemarin sore: kita adalah tim,” bisik Dika sambil tersenyum tipis, senyum yang memberi kekuatan besar bagi Laras.
Pertarungan pun tak terelakkan lagi. Laras akhirnya bergerak sepenuhnya, namun bukan dengan kekejaman dan kebrutalan yang dulu terkenal menakuti seluruh penjuru negeri. Ia menggunakan keahlian yang tak tertandingi, memanfaatkan kelemahan yang ia sendiri ajarkan pada pasukan Taring Hitam bertahun-tahun lalu. Ia tahu persis di mana titik keseimbangan mereka, bagaimana cara melumpuhkan pergerakan tangan dan kaki tanpa mematahkan tulang, dan cara membuat senjata mereka terjatuh tanpa melukai nyawa. Dika mendukungnya dari sisi lain, melindungi warga jika ada serangan yang lolos, dan membantu menahan gerakan pasukan yang mencoba menyelinap ke belakang.
Perlahan namun pasti, pasukan Taring Hitam mulai terdesak dan kewalahan. Mereka terkejut bukan karena kalah kuat atau kalah cepat, tapi karena Laras tidak membalas dendam, tidak melukai mereka seberat yang bisa ia lakukan, bahkan saat mereka sempat melukai lengannya. Salah satu penyerang yang tangannya baru saja dilumpuhkan dengan lembut oleh Laras bergumam pelan saat terjatuh ke tanah, tatapannya penuh kebingungan.
“Kenapa… kenapa kau tidak membunuh kami? Kami datang untuk menangkapmu, kami bahkan diperintahkan untuk membunuhmu jika kau menolak ikut kami,” tanyanya pelan.
Laras berhenti bergerak sejenak, menatap wajah yang samar itu di balik kabut. “Karena aku pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seperti kalian. Diperintah tanpa diberi pilihan, dilatih untuk hanya tahu cara membunuh dan takut pada hukuman, tidak pernah diajarkan apa itu rasa aman dan rumah. Aku tidak ingin menambah luka lagi pada orang-orang yang hanya menjalankan perintah orang lain.”
Keheningan panjang menyelimuti lapangan desa. Angin kencang perlahan mereda, kabut mulai menipis sedikit demi sedikit, menyisakan keheningan yang penuh makna. Pasukan Taring Hitam tidak bergerak maju lagi, mereka tampak ragu dan bimbang.
Namun tiba-tiba, suara desingan panah melesat cepat dari arah bukit di seberang desa—bukan diarahkan ke Laras, melainkan tepat ke arah Pak Harun yang sedang menolong seorang nenek tua yang terjatuh karena panik. Semua orang terkejut dan terpaku melihat kejadian itu. Laras bergerak secepat kilat mendorong tubuh Pak Harun ke samping, namun ujung anak panah itu tetap sempat menggores dalam bahu kanan pria tua itu.
“Itu bukan tembakan mereka!” seru Laras dengan suara tajam penuh kemarahan. “Ada orang lain yang mengawasi dari jauh! Itu bukan gaya bertarung pasukan Taring Hitam!”
Dari balik bukit yang gelap itu terdengar suara tawa dingin yang sangat ia kenal—suara yang selama ini menghantuinya dalam mimpi buruk, suara orang yang mengambil alih kekuasaannya setelah ia menghilang. “Kau memang sudah berubah menjadi lemah sekarang, Laras. Lemah karena cinta, lemah karena rasa iba pada orang asing. Dan kelemahan itulah yang akan membunuhmu serta semua orang bodoh yang berdiri di sisimu malam ini. Ini baru permulaan. Aku akan menghancurkan apa saja dan siapa saja yang membuatmu merasa berharga, sampai kau rela kembali merangkak di hadapanku.”
Suara itu hilang begitu saja, seolah angin yang membawanya pergi. Tak lama kemudian terdengar suara peluit pendek dari arah hutan—kode mundur darurat yang tidak dikeluarkan oleh pemimpin pasukan di lapangan. Pasukan Taring Hitam yang ada di sana saling berpandangan sejenak, lalu dengan teratur mereka membawa rekan mereka yang terluka dan mundur perlahan ke dalam kegelapan, seolah mereka juga tidak tahu tentang serangan panah terakhir itu dan keberadaan pengawas rahasia itu.
Malam itu berakhir dengan kelelahan yang luar biasa, keringat dingin yang membasahi punggung semua orang, serta luka di bahu Pak Harun yang harus segera diobati. Tidak ada korban jiwa, namun kekhawatiran yang menyelimuti hati Laras jauh lebih berat dari sebelumnya. Ia baru menyadari satu hal yang paling mengerikan: pemimpin baru Kerajaan Bayangan itu tidak hanya memanfaatkan masa lalu dan pasukannya, tapi juga rela membunuh anak buahnya sendiri demi mencapai tujuannya. Musuh yang sebenarnya belum turun ke medan perang sama sekali. Ia hanya duduk nyaman di tempat tersembunyi, memanfaatkan semua orang—termasuk pasukan Taring Hitam—sebagai alat untuk menghancurkan Laras perlahan-lahan.
Laras duduk di tepi tempat tidur Pak Harun di ruang tengah rumah itu, melihat Dika dan ibu-ibu desa sedang membersihkan luka serta membalut bahu kepala desa dengan hati-hati. Tangannya gemetar pelan, rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya.
Pak Harun yang sadar akan hal itu tersenyum lemah, lalu mengulurkan tangan kirinya untuk menyentuh tangan Laras. “Kau lihat kan, Laras?” katanya pelan namun tegas. “Kekuatan terbesarmu dulu bukan pedang tajam atau pukulan mematikanmu. Dan kekuatan terbesarmu sekarang juga bukan itu. Tapi hatimu yang masih bisa memaafkan, yang masih bisa peduli pada orang yang datang untuk melukaimu. Itulah yang membuat kami percaya padamu, itulah yang membuat kami memilih berdiri di sisimu. Jangan pernah ragukan itu.”
Dika setelah selesai membalut luka, berjalan mendekat lalu meletakkan tangannya dengan lembut namun tegas di bahu Laras. “Kita sudah tahu permainan kotornya sekarang. Dia bersembunyi di balik bayangan, berusaha membuatmu takut dan merasa bersalah. Lain kali, kita tidak hanya akan bersiap menghadapi pasukan bayangannya. Kita akan menemukan tempat persembunyiannya, dan menghadapinya langsung.”
Laras mengangguk perlahan, matanya yang tadinya penuh keraguan kini mulai kembali berkilau dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak lagi berjuang untuk kekuasaan, tidak lagi berjuang karena takut atau terpaksa. Ia berjuang untuk rumah yang ia temukan di desa kecil ini, untuk orang-orang yang menerima dirinya apa adanya—baik sisi gelap masa lalunya maupun sisi baiknya yang baru tumbuh. Dan kali ini, ia tidak akan berjalan sendirian.
Bersambung...