Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Seperti anjing dan kucing
"FARIS!!"
Suara teriakan Tya kembali menggema dari dalam kamar, membuat Faris yang masih berdiri di depan pintu refleks menjauh selangkah.
"Lo gak punya sopan santun, kah?!" Hardik Tya dari balik pintu. "Masuk kamar gak bisa ketuk pintu dulu?!"
Faris menghela nafas panjang. Sebelah tangannya bertumpu di pinggang, sementara tangan satunya menggaruk pelipisnya pelan.
"Lagian ini kamar gue!" Balas Faris tak kalah ketus. "Mana gue kepikiran ada orang lain di dalam."
"Terus?!" Suara Tya masih terdengar dari balik pintu. "Sekarang gue juga tinggal di kamar ini!"
"Bawel, gue lupa!" Kesal Faris.
"Lupa, lupa! Banyak alasan lo!"
Faris berdecak pelan, "Ya emang lupa! Dari dulu gue kalau masuk kamar ya tinggal buka pintu. Gak pernah ada yang teriak-teriak kayak toa masjid!"
"Heh!! Lo bilang suara gue kayak toa masjid?!" Balas Tya tidak terima.
"Ya, emang."
"Gila ya lo, Ris!"
Cowok itu spontan menjauh setengah langkah lagi dari pintu. Matanya menatap daun pintu yang tertutup rapat, seolah bisa membayangkan wajah Tya yang pasti sedang merah padam menahan emosi.
"Gue gak gila, gue masih waras!" Jawab Faris sambil menghela nafas kasar. "Lagi pula gue belum sempat liat apa-apa. Baru pintunya kebuka dikit, lo udah teriak. Dikira gue setan apa?!"
"Ihh! Pengen gue cekik, lo!" Pekik Tya dari dalam. "Pokoknya, lain kali ketuk pintu dulu!"
Bibir Faris langsung bergerak tanpa suara, entah sedang menggerutu atau menahan balasan yang nyaris keluar.
"Dasar, Mak Lampir," gerutu Faris pelan.
"Apa?!"
Faris langsung berdehem kecil. "Enggak. Gue gak ngomong apa-apa."
Di balik pintu, Tya masih mendengus kesal. Sementara di luar kamar, Faris hanya bisa memejamkan mata dengan raut wajah ditekuk. Hari ini terasa begitu menyebalkan.
Sesaat kemudian, suara Tya terdengar sedikit lebih pelan, namun masih cukup terdengar sampai ke depan pintu kamar.
"Astaga..." Gerutu Tya panik. "Ini handuk pakai melorot segala, sih."
Kalimat itu membuat Faris membeku di tempat. Wajah cowok itu seketika memanas. Semburat merah perlahan menjalar hingga ke telinganya.
"Sial," umpat Faris pelan. "Kenapa gue harus denger itu, sih?!"
Tanpa berpikir panjang, Faris buru-buru menjauh beberapa langkah dari pintu kamar. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mendongak ke langit-langit lorong seolah sedang berusaha menghapus apa pun yang baru saja didengarnya.
"Pokoknya tunggu dia selesai dulu," gumam Faris sambil menggeleng kecil. "Kalau enggak, bisa panjang urusannya."
Faris menyandarkan punggungnya ke dinding lorong sambil mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.
"Mana baru sehari tinggal di sini," gerutu Faris. "Udah kamar diambil setengah, ditambah omelannya satu paket. Hidup gue bener-bener turun level gara-gara tuh bocil SMP!"
Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka perlahan. Tya keluar dengan pakaian rumahan, sebuah piyama berwarna merah muda. Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Begitu melangkah keluar, ia langsung menangkap jelas omelan Faris.
Tya berhenti di ambang pintu, sebelah alisnya langsung terangkat. "Bocil SMP?" Ulangnya pelan, tapi cukup untuk didengar oleh Faris.
Faris langsung menoleh, tatapan mereka bertemu. "Coba ulang, lo ngomong apa barusan?!" Ujar Tya sambil berkacak pinggang.
Faris menatap Tya tanpa terlihat bersalah sedikit pun. Sudut bibirnya malah terangkat tipis, seolah sengaja memancing emosi gadis di depannya.
"Iya," jawab Faris santai. "Gue bilang bocil SMP, kenapa?"
Tya langsung mendengus kasar. "Masih aja dibilang bocil! Mata lo tuh yang harus diperiksa!"
Faris mengangkat bahu, "Ya, gimana? Badan lo kecil."
"Enak aja!" Balas Tya cepat. "Lo yang ketinggian kayak menara Eiffel!"
Faris berdecak pelan, lalu melangkah mendekati pintu kamar. Namun, alih-alih menghindar, ia justru sengaja menyenggol pundak Tya saat melewatinya.
"Eh!" Tubuh Tya sedikit bergeser, matanya langsung membelalak. "Lo sengaja, ya?!"
Faris sama sekali tidak menoleh. Ia terus melangkah masuk ke dalam kamar seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Tya mengepalkan kedua tangan, rahangnya terkatup rapat. Dengan wajah kesal, ia mengangkat kedua tangannya ke udara, membuat gerakan seolah sedang mencekik leher Faris dari kejauhan.
"Ihhh, ngeselin banget!" Seru Tya sambil menggerakkan kedua tangan dengan gemas.
Tya kemudian menghentakkan kakinya ke lantai. Di saat yang sama, pintu kamar tertutup dari dalam. Tya hanya bisa melotot ke arah pintu yang kini tertutup rapat.
"Dasar tukang nyolot!" Gerutu Tya.
Tya menghela nafas panjang, berusaha meredam kekesalan yang masih memenuhi dadanya. "Astaghfirullah..." Gumamnya pelan. "Sabar Tya, sabar..."
Setelah merasa cukup tenang, Tya akhirnya berbalik. Langkahnya menuruni anak tangga menuju dapur. Aroma masakan yang harum langsung menyambut begitu ia tiba.
Di sana, ibu Faris tampak sibuk menata berbagai hidangan di atas meja makan. Sesekali wanita itu bolak-balik meletakkan lauk pauk ke meja makan.
"Tante," sapa Tya lembut sambil berjalan menghampiri.
Ibu Faris menoleh, lalu tersenyum hangat. "Tya, udah selesai bersih-bersih?"
Tya mengangguk pelan. "Iya, Tante."
"Pas banget, Mama juga baru selesai masak." Ujar ibu Faris.
Tanpa diminta, Tya langsung mengambil beberapa piring di rak. "Biar Tya bantu ya, Tante."
"Gak usah sayang, biar Mama aja," jawab ibu Faris lembut. "Tya duduk aja, ya."
Tya tersenyum tipis, "Gak apa-apa kok, Tante. Biar cepat selesai."
Ibu Faris akhirnya mengangguk pelan sambil memperhatikan Tya yang mulai membantu menata meja makan. Meski wajah Tya terlihat tenang, sesekali ia masih mendengus pelan saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Namun kekesalan itu Tya simpan rapat-rapat. Di depan ibu Faris, ia tetap memasang wajah sopan dan tenang, meskipun di dalam hati ia menggerutu kesal karena Faris.
Tya yang tengah meletakkan gelas tiba-tiba menoleh ke arah ruang depan. "Tante," panggilnya pelan. "Om belum pulang?"
Ibu Faris menoleh sambil tersenyum tipis. "Belum sayang." Jawabnya lembut. "Tapi bentar lagi juga pulang."
Tya mengangguk pelan. "Om masih di kantor?"
"Iya," sahut ibu Faris yang kini kembali menata lauk di atas meja. "Akhir-akhir ini kerjaan Papa Faris memang lagi banyak. Jadi sering pulang agak sore, kadang juga menjelang malam."
Tya hanya mengangguk mengerti. Ibu Faris meletakkan mangkuk sayur terakhir, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
"Faris mana?" Tanya ibu Faris. "Belum turun juga?"
Tya menggeleng pelan. "Masih mandi, Tante."
Ibu Faris mengangguk kecil, "Oh, ya sudah."
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki menghampiri mereka. Faris muncul dari lantai dua dengan kaus berwarna hitam dan celana training abu-abu. Rambutnya masih sedikit basah, menandakan ia baru selesai mandi. Dengan langkah santai, ia berjalan menuju dapur.
Tepat saat itu, suara pintu depan terbuka, disusul langkah kaki seorang pria dewasa yang baru saja pulang dari kantor. Jas yang masih melekat di tubuhnya serta tas kerja di tangan kirinya menjadi bukti bahwa ia baru saja menyelesaikan hari yang panjang di perusahaan.
Tak lama kemudian, mereka berempat duduk mengelilingi meja makan. Suasana makan malam berlangsung dengan tenang. Sesekali ayah Faris menanyakan kegiatan hari itu kepada mereka, sementara ibu Faris sesekali menambahkan cerita ringan.
Faris lebih banyak fokus menghabiskan makanannya, meski sesekali masih saling melontarkan tatapan tajam dengan Tya. Gadis itu pun memilih diam dan menikmati makanannya perlahan. Namun, beberapa menit berlalu, gerakannya perlahan melambat. Pikirannya tiba-tiba melayang jauh, ke ayahnya.
"Papa udah makan belum, ya?" Batin Tya.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Tya duduk tegak di kursi meja belajar milik Faris. Beberapa buku pelajaran dan buku latihan sudah terbuka di hadapannya. Sebuah pulpen berada di sela-sela jemarinya, sesekali ia menunduk menuliskan jawaban di buku catatannya.
Kamar itu awalnya cukup tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika sebuah suara terdengar dari arah ranjang.
"Yes! Kena lo!"
Tya yang sedang menulis refleks menghentikan gerakan tangannya. Ia menghela nafas pelan, lalu kembali mencoba fokus pada soal di hadapannya.
"Sial! Dikeroyok gue!" Faris kembali berseru sambil menekan layar ponselnya dengan cepat.
Tya memejamkan mata sejenak. Ia menarik nafas panjang, lalu kembali membaca soal dari awal. Namun, pikirannya benar-benar tidak bisa berkonsentrasi.
Ujung pulpen di tangan Tya berhenti bergerak. Ia kembali menutup matanya lagi. Rahangnya mulai mengeras, sementara jemarinya menggenggam pulpen sedikit lebih kuat. Konsentrasinya benar-benar buyar karena suara Faris yang sejak tadi terlalu berisik saat bermain game.
"Gas! Hajar terus! Jangan kasih nafas," sorakan Faris kembali menggema di dalam kamar, sementara tatapannya tetap fokus pada layar ponselnya.
Brukk!
Sebuah buku melayang dan mendarat tepat di samping Faris. Cowok itu langsung menoleh kaget. "Woi!"
Tya berdiri dari kursinya dengan kedua tangan berkacak pinggang, wajahnya sudah ditekuk habis. "Bisa diem gak, sih?!" Omelnya. "Berisik banget dari tadi!"
Mata Faris langsung membulat ketika melihat layar ponselnya. "Arghh! Kan kalah!" Gerutunya kesal. "Liat nih, gara-gara lo!"
Tya langsung mendelik. "Enak aja nyalahin gue! Lo tuh yang ganggu konsentrasi belajar gue!"
"Ribet amat, lo!" Sahut Faris cepat. "Namanya juga lagi nge-game."
"Main game, main game!" Tya menirukan ucapan Faris dengan nada mengejek. "Bukannya ngerjain PR malah asyik nge-game!"
Faris langsung mendengus. "Bodo amat."
Jari telunjuk Tya terangkat, mengarah ke arah Faris. "Emang ya, lo itu kepala batu! Pantesan nyokap lo pusing liat tingkah lo!"
"Terus lo?" Balas Faris cepat. "Dikit-dikit ngomel, emangnya apa hak lo di sini?"
Tya mendengus kasar. "Hak gue?" Balasnya cepat. "Lo lupa kali, sekarang kamar ini bukan punya lo doang! Gue punya hak buat belajar! Beda sama lo yang kerjaannya cuma rebahan sambil nge-game!"
"Bacot."
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Faris. Tanpa menunggu balasan, ia kembali mengarahkan seluruh perhatiannya pada layar ponsel. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, seolah perdebatan barusan sama sekali tidak penting baginya.
Tya menghela nafas kasar, lalu mulai membereskan buku-buku dan alat tulisnya dengan gerakan sedikit lebih keras dari biasanya. Setelah semua terkumpul, ia memeluk tumpukan buku itu di dadanya.
"Belajar sama orang beginian," gumam Tya kesal. "Bisa-bisa gue yang stres."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Tya berbalik meninggalkan kamar. Langkahnya mengarah ke sofa di lorong kamar, berniat melanjutkan belajar di tempat yang lebih tenang.
Sementara itu, Faris sama sekali tidak menoleh. Fokusnya masih tertuju pada game di ponselnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Tya sudah memilih mengungsi demi menyelamatkan konsentrasinya.
Di luar kamar, Tya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan gerakan sedikit kasar. Tumpukan buku yang sejak tadi dipeluknya ia letakkan begitu saja di samping, sementara kepalanya bersandar pada sandaran sofa.
Tya menghela nafas panjang, lalu menatap langit-langit ruangan itu dengan tatapan kosong. "Ya Allah..." Gumamnya lirih.
Masih saja ia tidak bisa mengerti. Mengapa dulu almarhumah ibunya dan ibu Faris sepakat menjodohkan mereka? Semakin dipikirkan, semakin sulit Tya menemukan jawabannya.
Padahal kenyataannya, setiap kali bertemu, ia dan Faris hampir tidak pernah akur. Ada saja yang diperdebatkan. Baru sehari tinggal serumah saja, entah sudah berapa kali mereka saling adu mulut.
"Hidup sama dia..." Gumam Tya pelan sambil memejamkan mata. "Rasanya kayak anjing sama kucing."
Tya kembali menghela nafas panjang. Tatapannya kini kembali beralih pada setumpuk buku yang dibawanya. "Kalau begini terus, gimana bisa bertahan sampai lulus SMA?" Lanjutnya lirih. "Bisa berantakan prestasi gue entar."
Ruangan itu kembali sunyi. Hanya kipas angin yang berputar pelan menemani Tya yang masih tenggelam dalam pikirannya.
Setelah beberapa saat membiarkan pikirannya berkelana, Tya akhirnya meraih kembali buku di sampingnya. Meski suasana hatinya masih berantakan, tugas sekolah tetap harus diselesaikan.
Sementara dari dalam kamar, sesekali masih terdengar suara Faris yang heboh karena permainan di ponselnya. Tya hanya memejamkan matanya sejenak, lalu menggeleng pelan sebelum kembali menundukkan kepala menatap buku.
Malam itu, satu yang semakin Tya yakini. Tinggal serumah dengan Faris jelas bukan perkara mudah. Baru sehari saja, mereka sudah lebih banyak bertengkar daripada berbicara baik-baik. Benar-benar seperti anjing dan kucing, yang kalau disatukan sudah pasti tidak bisa akur.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️