Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*10
"Kalian!" Suara Irza langsung meninggi namun tetap lembut. "Jangan bawa-bawa Sha dalam permasalahan ini. Jika ingin menghina, hina aku saja. Aku gak papa. Tapi jangan Asha. Dia gak tau apa-apa."
Untuk pertama kalinya, Irza bicara dengan nada yang tinggi. Tapi tetap saja, itu tidak ada artinya buat para pembuat onar yang suka mengganggu ini. Mereka malah menertawakan Irza. Malah semakin leluasa untuk mengolok-olok Irza.
"Ya ampun, Mas. Kamu marah?"
"Aish, eke gak kuat bo." Temannya yang lain malah menirukan ucapan ben*cong pada umumnya.
Irza terdiam. Dia menahan napas sambil menggenggam tangannya. Dia memang gemulai. Tapi dia normal. Bicaranya pun tidak berlebihan seperti yang teman pengganggu itu ucapkan.
Dia hanya sedikit lembut. Mulai dari cara bicara, hingga cara bergerak. Dia hanya sedikit berbeda dengan pria kekar pada umumnya. Tubuhnya yang lebih kurus, dadanya yang tidak bidang. Jari jemarinya yang lentik dan kulitnya yang sangat halus dan mulus.
Dia tidak bicara menggunakan kata yang berbeda. Tidak pula belok seperti yang mereka ucapkan barusan. Intinya tidak sama dengan apa yang mereka pikirkan selama.
"Kalian keterlaluan," ucap Irza. Setelahnya, ia kembali melangkah. Mengabaikan setiap ucapan yang mereka lontarkan.
Batinnya terus menyebutkan kata maaf dengan penuh sesal. Dia sungguh sangat menyesal karena telah membuat Sha ada dalam masalah besar seperti saat ini.
*
Hari ini terasa sangat berat buat mereka berdua. Sha yang punya dua teman, bisa merasakan beban yang jauh lebih sedikit dibandingkan Irza yang tidak memiliki pendukung sedikitpun.
Irza merasakan beban yang jauh lebih besar karena ia tidak punya tempat untuk berbagi. Di tambah lagi dengan rasa bersalah atas nasib buruk yang ikut menimpa Asha gara-gara kehadirannya di sekitar si gadis. Sungguh, Irza benar-benar merasa sangat sedih sekarang.
Irza berdiri di depan gerbang kampus hanya untuk menunggu Asha pulang. Sayangnya, sudah lebih dari tiga puluh menit, yang ia tunggu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
"Tuan muda, bagaimana kalau tuan muda masuk, tunggu di dalam mobil saja. Tuan muda sudah berdiri terlalu lama. Apa tidak capek?"
"Pak Kamil. Itu ... kalau aku menunggu di dalam mobil, nanti aku takut gak melihat Asha. Karena itu aku pilih untuk berdiri di luar. Lagian, aku gak capek kok, Pak. Biasa aja."
Pak Kamil langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Irza yang dipenuhi dengan kegigihan. Anak ini terlalu baik, terlalu sabar, dan terlalu banyak mengalah. Dia terlalu menyedihkan. Begitulah yang ada dipikiran si sopir saat ini.
Sesaat diam, akhirnya si sopir angkat bicara lagi. "Bagaimana kalau tuan muda datangi kelas nona Asha. Mungkin tau dia ada di sana atau nggak."
Irza menatap wajah pak Kamil sesaat.
"Aku ... gak berani datang ke sana, Pak. Karena jika aku datang, suasana akan semakin buruk. Asha akan semakin kesal padaku."
"Tuan muda, anda terlalu baik. Selalu saja memikirkan perasaan orang lain. Tapi lupa untuk memikirkan perasaan anda sendiri."
Irza hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawab. Dia masih tetap menunggu Asha karena ingin bicara dengan gadis tersebut.
Lima belas menit akhirnya berlalu lagi. Tapi Asha tetap tak terlihat. Tak lama kemudian, seorang gadis yang satu jurusan dengan Sha melewati gerbang tersebut.
"Ee ... tunggu sebentar," ucap Irza hati-hati.
Gadis itu berhenti melangkah.
"Iya? Ada apa?"
"Kamu satu jurusan dengan Asha kan?"
Gadis mengangguk. "Iya. Kenapa ya?"
"Ee ... nggak. Cuma ingin nanya, tau Asha di mana nggak?"
Gadis itu langsung menggeleng. "Nggak. Tapi sepertinya, Asha sudah pergi bareng dua teman dekatnya sejak tadi. Mereka izin untuk pulang duluan dengan alasan, Cindi gak enak badan."
"Pulang duluan? Maksudnya, mereka sudah pulang sejak tadi?"
"Iya."
"Oh, kalo begitu, terima kasih. Maaf udah gangguin waktu kamu."
"Santai saja," ucap gadis itu sambil kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sesaat terdiam di tempat ia berdiri sebelumnya setelah bicara dengan teman satu jurusan Asha, barulah Irza beranjak masuk ke mobil dengan wajah agak kecewa.
"Dia sudah pulang duluan, pak Kamil."
"Mm ... kan bapak sudah bilang, cari tahu dulu sebelum menunggu, kan?"
"Iya. Aku yang salah."
"Ya sudah. Jangan sedih. Sekarang, kita pulang?"
"Iya."
Perjalanan pulang terasa sangat sunyi. Tapi tidak dengan benak Irza. Ada banyak pokok pembahasan yang sedang berkeliaran di dalam sana. Ada banyak masalah yang sedang menunggu untuk ia selesaikan.
Sampai di rumah, Irza langsung berjalan cepat menuju kamar. Sudah berulang kali ia berusaha mencoba untuk memberanikan diri untuk menyapa Asha lewat pesan singkat. Sayangnya, keberanian itu seolah padam saat matanya melihat nomor kontak Asha dengan nama Sayang yang si mama simpan kemarin.
"Tuhan .... Aku ingin mencoba, tapi rasanya kenapa terlalu sulit?"
"Za. Kamu sudah pulang?" Suara khas papanya terdengar di depan pintu kamar.
Irza menoleh. "Sudah, Pa."
"Tadi kamu bicara sama papa, kan? Soal pengumuman yang papa buat. Kenapa, Za? Ada ada masalah dengan pengumuman itu?"
Irza melepas napas berat secara perlahan.
Dia tahu papanya hanya ingin menyatakan pada dunia bahwa anak kesayangannya kini sudah bersama orang yang ia cintai. Pengumuman itu hanya bentuk rasa bahagia yang ingin dibagikan saja. Tidak ada maksud lain sedikitpun. Hanya saja, papanya tidak berpikir bahwa itu akan merusak suasana yang memang sudah rusak.
"Za .... "
"Maaf, Pa. Artikel itu ... bikin seluruh kampus tau kalau Asha akan bertunangan sama Irza."
"Lho, itukan bagus, Za."
"Nggak, Pa. Nggak bagus. Karena anak papa berbeda dengan pria pada umumnya. Anak papa aneh dan-- "
"Za. Kamu istimewa. Gak aneh sama sekali. Hanya sedikit lembut dan itu bukan kesalahan kamu, Nak."
"Papa. Mereka nggak akan mandang aku dengan cara pandang yang sama dengan papa."
"Termasuk Asha?"
Satu pertanyaan yang langsung membuat Irza membeku. Dengan manik mata yang menatap lekat ke arah sang papa, Irza terdiam tanpa berkedip.
"Dia menghina mu, Za?" Lagi pertanyaan kedua papanya lontarkan.
Kali ini, pertanyaan itu langsung Irza jawab dengan gelengan cepat. "Nggak, Pa. Meski dia tidak suka aku, Sha tidak pernah menghina. Sha adalah gadis yang berbeda. Aku tau dia benci aku karena perjodohan ini. Tapi satu kata-kata kasar pun tak ia lontarkan padaku. Sha adalah gadis yang baik. Aku melihat dari tatapan matanya rasa tidak suka yang berusaha ia tahan sekuat tenaga. Tapi dia tidak mengatakan kalau dia benci aku. Ia hanya bilang kalau dirinya lelah dan masih belum. bisa bicara dengan ku."
Seketika, suasana di kamar itu terasa sangat hening. Baik Irza maupun papanya sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Hingga akhirnya, papa Irza berucap. "Maafkan papa, Za. Papa yang salah karena gak mikir terlalu jauh. Papa hanya bahagia karena kamu akhirnya hampir bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Papa gak mikir hal-hal yang lainnya."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi