NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Terobosan Ranah Raja dan Kepunahan Massal di Pulau Karang Terlarang

Malam di perairan Segoro Getih semakin larut, namun badai yang berkecamuk di luar dinding kayu ruang kapten sama sekali tidak mampu mengusik konsentrasi Satria Pamungkas.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, atmosfer terasa begitu padat hingga partikel debu di udara berhenti melayang, membeku oleh tekanan tak kasatmata yang memancar dari tubuh sang pendekar jubah hitam.

Di telapak tangan kanan Satria, Pil Melompati Batasan Raja memancarkan kilau ungu tua yang semakin intens.

Aroma wewangian surga yang menguar dari pil tersebut perlahan-lahan memenuhi ruangan, meresap ke dalam pori-pori kulitnya dan langsung memicu reaksi berantai di dalam jaringan meridian spiritualnya.

Tanpa ragu sedikit pun, Satria memasukkan pil tingkat surga tersebut ke dalam mulutnya. Begitu pil itu melewati tenggorokannya, rasanya tidak seperti menelan benda padat, melainkan seolah-olah menelan segumpal lahar gunung berapi yang murni namun terkendali.

BOOOM!

Ledakan energi spiritual berskala kosmik terjadi di dalam dantian Satria. Aliran Prana emas murni yang semula mengalir tenang di Ranah Senopati Tahap 2 mendadak bergolak liar, tersedot ke pusat dantiannya seperti pusaran air raksasa di dasar samudra.

Energi dari pil ungu itu memaksa dinding-dinding dantiannya untuk meregang secara ekstrem, menghancurkan batasan-batasan fana ranah lama untuk menciptakan fondasi baru yang jauh lebih masif.

Rasa sakit yang luar biasa hebat mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Meridian di dalam dagingnya seakan-akan ditarik dan diputus secara paksa sebelum disambungkan kembali dengan kualitas yang sepuluh kali lebih kuat.

Namun, wajah tampan Satria di balik caping bambunya tetap sedingin es. Sifat anti-hero-nya yang bermental baja telah melewati begitu banyak siksaan kultivasi sistem, membuat rasa sakit fisik seperti ini tidak lebih dari sekadar kerikil kecil di jalan menuju puncak kekuasaan.

Ssssszt...

Guratan transparan Tubuh Fisik Sisik Naga di sekujur kulitnya menyala terang, membantu mendistribusikan limpahan energi obat agar tidak meledakkan tubuhnya dari dalam.

Di bawah panduan otomatis sistem, informasi dari Kitab Langkah Bayang Angkasa yang baru saja diserapnya mulai berintegrasi secara ghaib dengan sirkulasi energinya yang baru.

[Bip! Proses pembentukan Inti Emas Ranah Raja sedang berlangsung...]

Kondisi Meridian: Stabil pada tingkat ketahanan 98%.

Integrasi Teknik: Kitab Langkah Bayang Angkasa telah menyatu 100% dengan Prana Inang.

Progres Ranah: 70%... 85%... 99%...

KLIK!

Sebuah suara retakan ghaib yang sangat renyah bergema di dalam kesadaran batin Satria. Pusaran Prana di dalam dantiannya mendadak berhenti berputar, memadat sepenuhnya menjadi sebuah bola padat berdiameter satu sentimeter berwarna emas murni yang dikelilingi oleh cincin energi ungu kosmik. Itu adalah Inti Emas Ranah Raja.

BOOOOOOM!

Sebuah gelombang kejut spiritual yang seratus kali lebih dahsyat dari penempaan pedang sebelumnya meledak keluar dari tubuh Satria.

Atap ruang kapten hancur berkeping-keping menjadi abu, dan tekanan aura kedewaan yang mutlak membubung tinggi ke langit tembus hingga membelah awan badai kumulonimbus di atas mereka.

Lingkaran cahaya emas raksasa menyebar di permukaan laut, seketika menenangkan amukan ombak Segoro Getih di radius tiga kilometer menjadi sehalus cermin kaca.

Dyah Sekar Ayu yang sedang berdiri di anjungan kemudi terpaksa berlutut, kedua tangannya refleks bertumpu pada lantai kayu geladak karena kedua kakinya lemas menahan tekanan aura Ranah Raja yang begitu masif.

Sepasang matanya menatap takjub ke arah ruang kapten yang kini telah terbuka. Satria perlahan-lahan melayang naik dari posisinya yang semula duduk bersila, tubuhnya terangkat ke udara tanpa bantuan alat ghaib atau angin spiritual apa pun. Ia berdiri tegak di angkasa, jubah hitamnya berkibar pelan, memancarkan keagungan seorang kaisar ghaib yang turun ke dunia fana.

[Bip! Selamat! Anda telah berhasil menembus 'Ranah Raja Tahap 1'!]

Kapasitas Prana: Meningkat 500% dari ranah sebelumnya.

Kemampuan Baru: Penerbangan Kosmik (Bebas melayang di udara menggunakan manipulasi gravitasi internal).

Pemberitahuan Sistem: Toko Kategori 4 kini dapat digunakan sepenuhnya tanpa batasan sinkronisasi.

Satria membuka sepasang matanya. Kilatan emas di dalam kornea matanya kini begitu pekat, memberikan kesan bahwa ia mampu melihat menembus ilusi ruang dan waktu.

Ia mengepalkan tangan kanannya, merasakan kekuatan fisik dan spiritual yang begitu melimpah, seolah-olah satu pukulannya kini sanggup meruntuhkan sebuah pulau karang kecil menjadi debu.

"Ranah Raja..." gumam Satria, suaranya pelan namun terdengar jelas di seluruh penjuru kapal berkat resonansi energinya. Seulas senyum kejam terukir di bibirnya. "Faksi Laut Selatan, waktu kepunahan kalian telah tiba."

Satria menunduk menatap Sekar Ayu yang masih menatapnya dengan pandangan memuja dari geladak. "Sekar Ayu, tetap di sini dan amankan kapal. Aku mendeteksi keberadaan sarang utama mereka tepat tiga puluh kilometer di depan kita. Dengan kecepatan baruku, aku akan menyelesaikan pembersihan ini sebelum fajar."

"Hamba tunduk pada kehendak Raja," jawab Sekar Ayu dengan suara penuh kepatuhan yang mendalam, membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh geladak.

WUSH!

Tubuh Satria mendadak lenyap dari pandangan mata Sekar Ayu. Tidak ada jejak udara yang bergeser, tidak ada suara dengungan. Menggunakan Kitab Langkah Bayang Angkasa, Satria melakukan teleportasi jarak pendek berturut-turut di udara.

Setiap kali sosoknya muncul kembali, ia telah berpindah sejauh lima puluh meter ke depan, melintasi jarak tiga puluh kilometer laut hanya dalam hitungan puluhan hela napas.

Di ujung perairan, sebuah pulau raksasa yang dikelilingi oleh benteng batu karang hitam setinggi lima puluh meter mulai terlihat.

Pulau itu dipenuhi oleh ribuan obor hijau ghaib, memperlihatkan ratusan bangunan menara pengawas dan barisan kapal perang raksasa yang bersandar di pelabuhan dalamnya.

Tempat inilah Pangkalan Pusat Faksi Bajak Laut Laut Selatan, sarang dari ribuan kultivator kejam yang selama ratusan tahun meneror jalur laut Dwipantara.

Saat ini, di dalam aula utama benteng karang, seorang pria tua bertubuh raksasa dengan zirah yang terbuat dari cangkang kura-kura purba sedang duduk di atas takhta tulang.

Pria ini memancarkan aura Ranah Raja Tahap 2 yang sangat masif, dipenuhi oleh hawa pembunuhan yang pekat. Dialah Ki Ageng Segoro, Pemimpin Besar Faksi Laut Selatan.

"Laporan dari armada patroli luar masih belum kembali?!" raung Ki Ageng Segoro, membuat pilar-pilar batu di aula bergetar. "Guntur dan Geling adalah pendekar berpengalaman. Mengapa memburu satu kapal tikus daratan membutuhkan waktu begitu lama?!"

Sebelum para tetua di bawah takhtanya sempat menjawab, seluruh langit di atas pulau karang mereka mendadak berubah menjadi warna emas keunguan yang menyala-nyala.

Tekanan ruang yang luar biasa berat jatuh menghantam pulau dari atas, membuat menara-menara pengawas dari batu karang langsung retak dan runtuh menimpa para kultivator di bawahnya.

BOOOM! BOOOM! BOOOM!

"Apa ini?! Tekanan Ranah Raja?!" Ki Ageng Segoro terbelalak, melompat berdiri dari takhtanya hingga zirah cangkangnya berdenting keras.

Di angkasa atas pulau, sosok Satria Pamungkas berdiri dengan tenang, menatap hamparan pangkalan musuh di bawahnya seolah-olah menatap sekumpulan semut yang siap diinjak. Sifat anti-hero-nya yang dingin tidak berniat melakukan negosiasi atau memberikan peringatan.

Sreeeng!

Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan dicabut dari punggungnya. Delapan permata rasi bintang meledak dalam kilatan cahaya yang menyatukan hawa dingin kosmik dan Prana emas murni dari Inti Emas barunya.

"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Ketujuh: Hujan Bintang Memusnahkan Bumi!"

Satria mengayunkan pedangnya ke arah bawah dalam gerakan menebas bertubi-tubi yang membentuk formasi jaring cahaya perak raksasa di langit.

Detik berikutnya, jaring cahaya tersebut pecah menjadi ribuan berkas pedang cahaya perak setinggi sepuluh meter yang menukik tajam menghujani seluruh permukaan pulau karang.

BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!

Pembantaian massal berskala besar pecah seketika. Ribuan pedang cahaya kosmik menembus benteng batu, menghancurkan kapal-kapal perang di pelabuhan, dan mencabik-cabik tubuh ribuan kultivator perompak tanpa memandang ranah mereka.

Kultivator Ranah Wira dan Satria langsung meledak menjadi kabut darah begitu bersentuhan dengan sisa gelombang kejut tebasan tersebut. Jerit kesakitan dan keputusasaan membubung tinggi, mengubah pangkalan megah itu menjadi neraka duniawi dalam sekejap mata.

[Bip! Anda telah membantai 1.200 Kultivator Ranah Wira dan Satria.]

[Mendapatkan: 120.000 Poin Sistem!]

[Bip! Menghancurkan 40 Kapal Perang Utama Faksi Laut Selatan.]

[Mendapatkan: 40.000 Poin Sistem!]

Di tengah kehancuran total tersebut, sesosok bayangan raksasa melesat naik dari runtuhan aula utama benteng, diselimuti oleh aura hitam setebal dinding benteng.

Ki Ageng Segoro berhasil lolos dari hujan pedang pertama, meskipun zirahnya telah dipenuhi baretan dalam yang mengeluarkan darah segar. Mata tuanya memerah menatap kehancuran total seluruh faksi yang dibangunnya selama ratusan tahun.

"Bocah iblis! Aku akan mengoyak jiwamu menjadi seribu bagian!" raung Ki Ageng Segoro dengan kemarahan yang telah membakar akal sehatnya, meluncur deras di udara lurus ke arah Satria dengan gada raksasa yang dilapisi api hitam di kedua tangannya. Pertarungan puncak antara dua penguasa Ranah Raja di atas lautan berdarah Samudra Selatan telah resmi meletus.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!