Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Segel di Atas Kertas
Bunyi ketukan palu godam di lantai bawah berangsur meredup begitu pintu besi pembatas menuju tangga melingkar menutup dengan klik yang rapat. Langkah kaki Olin dan Xavi membawa sisa-sisa debu semen yang menempel di ujung sepatu mereka, meninggalkan jejak-jejak putih samar di atas karpet wol kelabu ruang tengah paviliun barat.
Di atas meja kerja kayu ek, ketel porselen putih kiriman Ibu Martha semalam kini telah sepenuhnya mendingin, menyisakan embun tipis di permukaannya. Olin menuntun Xavi menuju kamar mandi untuk membasuh jemarinya yang sempat menyentuh palet kayu Singapura tadi. Bau sabun antiseptik beraroma pinus segera menguar, menggantikan bau besi dan pelumas mesin yang sempat memenuhi rongga dada mereka.
"Mommy, Tuan CEO menggunakan struktur kalimat perintah dengan intonasi rendah saat menyebut nama Kakek Albert," ucap Xavi sembari mengeringkan tangannya pada selembar handuk kecil. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah Olin melalui pantulan cermin wastafel. "Secara psikologis, itu indikasi bahwa tingkat ancaman dari makan malam besok berada di level merah. Lebih tinggi dari pertemuan di menara kaca kemarin."
Olin mengambil handuk dari tangan putranya, lalu mengusap sisa air di sudut dahi Xavi dengan gerakan lembut yang sengaja dia perlambat untuk menenangkan debar jantungnya sendiri. "Kau tidak perlu mengkalkulasi intonasi suaranya, Jagoan. Makan malam itu hanya formalitas orang-orang tua. Tugasmu besok hanya duduk, makan supmu, dan jangan menyentuh sistem nirkabel mereka."
Xavi menaikkan sebelah alisnya, ekspresi kaku yang kini terasa terlampau familier bagi Olin. "Itu akan sulit jika mereka menaruh peladen utama tepat di bawah meja makan, Mommy."
Olin hanya bisa mendesah pendek, menepuk pundak kecil Xavi sebelum menyuruhnya ke ruang makan kecil di sudut paviliun tempat sarapan mereka telah ditata oleh pelayan.
Ketika Olin kembali ke ruang tengah, Malikh sudah berdiri mematung di dekat pintu jati ganda. Asisten pribadi Zayyan itu mengenakan setelan jas hitamnya yang selalu licin tanpa cela, dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua dengan segel lilin merah berlambang elips emas keluarga El-Ghazali.
"Nyonya Aureline," Malikh membungkuk takzim, lalu melangkah maju dua tapak untuk meletakkan map tersebut di atas meja kayu ek, tepat di samping buku sketsa hitam Olin. "Ini berkas fisik pemisahan aset mutlak dan hak asuh independen yang telah diverifikasi oleh firma hukum yang Anda tunjuk semalam. Tuan Besar sudah membubuhkan tanda tangan elektroniknya pada salinan digital induk."
Olin mendekati meja, menatap lilin merah yang menyegel untaian tali rami pada map tersebut. Dia mengulurkan tangan, mematahkan segel lilin itu dengan ujung kukunya hingga terdengar bunyi retakan kecil yang garing. Di dalamnya, tumpukan kertas tebal berjenis conqueror putih gading menjabarkan puluhan klausul hukum dengan bahasa yang dingin dan mengikat.
Mata Olin menyapu baris demi baris aturan yang dia diktekan sendiri di bawah tekanan badai semalam. Tidak ada hak waris sekunder untuknya, tidak ada intervensi finansial dari El-Ghazali Corp terhadap galeri seni lamanya, dan yang terpenting: hak asuh mutlak atas Xavi tetap berada di tangannya jika dalam dua puluh empat bulan kontrak pernikahan sipil ini berakhir.
Di lembar paling akhir, tanda tangan Zayyan tertera dalam bentuk guratan tinta digital hitam yang tegas, lurus, dan memotong kertas dengan sudut-sudut tajam yang angkuh—persis seperti karakter pemiliknya.
Olin mengambil pulpen gel hitam dari laci meja. Jemarinya sempat bergetar tipis sebelum akhirnya dia menekan ujung pulpen ke atas kertas, menorehkan tanda tangannya sendiri tepat di samping nama Zayyan. Goresan tintanya menjadi titik jangkar yang mengunci nasib mereka bertiga di dalam mansion perbukitan ini.
"Serahkan ini kembali pada tim hukum independen, Malikh," ucap Olin sembari menutup map dengan ketukan yang tegas, menyerahkannya kembali pada asisten bertubuh tegap itu. "Dan katakan pada Tuanmu... jika dia menginginkan aku dan Xavi menghadiri makan malam besok dengan gaun terbaik lagi, pastikan Kakek Albert tidak membawa anjing-anjing pelacak siber ke meja makan."
Malikh menerima map tersebut, memberikan satu bungkukan formal lagi tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang serupa batu. "Pesan Anda akan disampaikan secara utuh, Nyonya. Mobil jemputan untuk besok malam akan bersiap pukul enam tepat."
Begitu Malikh melangkah keluar dan pintu jati kembali mengunci otomatis, Olin berjalan mundur hingga punggungnya bersandar pada pinggiran meja kayu ek. Dia menoleh ke arah jendela kaca besar. Di luar, hujan telah reda, namun kabut tebal Pekanbaru siang ini justru turun lebih rendah, menelan seluruh pelataran tengah dan menyembunyikan sayap timur tempat Zayyan berada ke dalam warna putih yang sunyi dan tak terbaca.