NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Ia mengangkat wajah, menatap Daxon dengan tatapan tajam yang tiba‑tiba terasa dingin dan terluka—sangat berbeda dari tatapan lembut tadi. Pandangan itu membuat Daxon seketika terdiam, mulutnya terkatup rapat seolah baru sadar telah mengucapkan kalimat yang salah.

Azalea tidak berkata apa‑apa. Hanya menatapnya beberapa detik, lalu perlahan memutar tubuhnya menyamping membelakangi Daxon. Ia menarik bahunya sedikit ke atas, dan sengaja tidak menyelimuti tubuhnya, membiarkan punggung dan bahunya terbuka terkena udara sejuk ruangan.

Suasana menjadi hening seketika. Daxon terdiam, menyesali ucapannya sendiri. Ia tahu kata‑kata itu sangat menyakitkan bagi Azalea, meski maksudnya ingin meyakinkan. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu gadis itu, Azalea pun langsung menepiskan tangan Daxon.

"Azalea..." panggilnya pelan, suara rendah penuh penyesalan.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar napas Azalea yang terasa lebih berat dan teratur, seolah ia sudah memejamkan mata dan berusaha tidur, meski Daxon yakin hatinya sedang gelisah.

Melihat tubuh Azalea yang terbuka dan tidak tertutup selimut, Daxon perlahan mengambil selimut dan menyelimutinya dengan sangat hati‑hati dari belakang, lalu duduk kembali sambil menatap punggungnya dengan pandangan penuh rasa bersalah.

"Aku memang bodoh. Kenapa harus mengucapkan kalimat itu? Padahal yang ingin aku sampaikan hanyalah dia satu‑satunya..." batin Daxon, lalu berjanji dalam hati akan memperbaiki kesalahannya nanti.

...***************...

Malam telah tiba, lampu‑lampu di dalam kamar dinyalakan dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan. Daxon masuk membawa nampan berisi makanan bergizi yang sudah disiapkan khusus, lalu meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Ia duduk di sisi tempat tidur, mengambil sendok dan piring, bersiap menyuapi Azalea seperti biasanya.

"Sudah waktunya makan. Ini sup hangat dan lauk yang ringan, cocok untukmu," ucapnya lembut sambil mendekatkan sendok berisi makanan ke arah Azalea.

Namun Azalea hanya menatapnya sekilas, lalu mengulurkan tangannya dan mengambil piring serta sendok itu sendiri. Ia memegangnya erat, tanpa berkata sepatah kata pun, dan mulai makan perlahan dengan tangannya sendiri, menjauhkan sedikit posisi tubuhnya dari Daxon.

Gerakan itu membuat Daxon terdiam. Ia menatap gadis itu, lalu bertanya dengan nada pelan dan penuh kekhawatiran.

"Azalea... apakah kau masih marah padaku?"

Tidak ada jawaban. Azalea terus menunduk, fokus pada makanannya seolah tidak mendengar pertanyaan itu sama sekali.

Daxon menghela napas panjang, merasa bersalah sekaligus bingung. Ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu berbicara dengan nada yang tulus dan rendah.

"Aku minta maaf. Maafkan kata‑kataku tadi siang. Aku salah mengucapkannya, dan aku tahu itu menyakitkan hatimu. Tolong jangan diam saja begitu..."

Belum sempat ia melanjutkan, Azalea tiba‑tiba mengangkat wajahnya. Matanya menatap tajam tepat ke arah Daxon, membuat pria itu seketika berhenti berbicara.

Lalu Azalea membuka mulutnya, suaranya terdengar dingin dan sedikit menekan.

"Kenapa kau menghela napas begitu? Apa kau tidak ikhlas meminta maaf padaku? Seolah‑olah merasa terbebani dan terpaksa mengucapkannya, bukan?"

Daxon terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia segera menatap balik mata Azalea dengan pandangan yang sungguh‑sungguh, tanpa ragu sedikit pun.

"Bukan begitu, Azalea. Aku menghela napas karena merasa menyesal, bukan karena terbebani. Aku hanya kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga ucapan, sampai membuat hatimu terluka. Maafkan aku, sungguh‑sungguh aku ikhlas meminta maaf padamu," jawabnya cepat, berusaha meyakinkan gadis itu.

Azalea tetap menatap tajam, tak sedikit pun melunak. Sikap keras kepalanya muncul sepenuhnya, membuat Daxon hanya bisa menahan napas menunggu jawabannya.

"Benar saja," ucap Azalea dengan nada tegas dan dingin, lalu ia sengaja meniru gerakan Daxon tadi—menghela napas panjang dan berat, persis seperti yang baru saja dilakukan pria itu.

"Huuuuuh... Begitu kan? Seolah‑olah aku ini menyusahkan, seolah‑olah meminta maaf padaku itu memberatkanmu," lanjutnya, lalu dengan gerakan yang agak keras namun tetap, ia meletakkan piring dan sendoknya di meja samping kasur dengan bunyi klok yang cukup terdengar jelas.

Ia memalingkan wajah kembali, membelakangi Daxon, dan berkata dengan nada mendengus.

"Kalau merasa terbebani, tidak usah minta maaf. Aku tidak memaksamu. Makanan ini juga tidak terlalu penting bagiku, daripada memakannya sambil melihat wajahmu yang terlihat tidak rela, lebih baik tidak usah."

Tubuhnya sedikit menegang, menunjukkan bahwa meski ia diam saja tadi, rasa sakit hatinya masih terasa jelas dan ia tidak mau mengalah begitu saja.

Daxon segera mendekat lagi, posisinya kini lebih rendah agar sejajar dengan tubuh Azalea. Ia tidak marah, justru terlihat semakin menyesal dan sabar menghadapi sikap keras kepala gadis itu.

"Azalea, dengarkan aku sebentar saja," ucapnya lembut, suaranya tidak meninggi sedikit pun. "Aku benar-benar tidak merasa terbebani, tidak merasa kau menyusahkan. Helaan napas tadi hanya karena aku kesal pada diriku sendiri—karena aku bodoh sampai mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hatimu, bukan karena aku enggan meminta maaf padamu."

Ia mengulurkan tangan perlahan, berusaha menyentuh bahu Azalea tapi berhenti sedikit di udara, takut justru membuatnya semakin menjauh.

"Tolong jangan tinggalkan makananmu begitu saja. Dokter bilang kau butuh nutrisi untuk memulihkan tenaga dan menjaga janin di dalam perutmu. Kalau kau tidak makan, nanti aku yang akan cemas seharian. Apa kau tega melihatku terus gelisah hanya karena kau menolak makan?"

Daxon meraih kembali piring itu, lalu duduk lebih dekat, berusaha menyuapi lagi dengan tatapan memohon.

"Aku janji tidak akan mengucapkan kata-kata sembarangan lagi. Percayalah padaku. Ayo, makan sedikit saja..."

Namun Azalea tetap membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia tidak menoleh, tidak menjawab sepatah kata pun, dan bahkan tidak mau membuka mulut meski sendok makanan sudah didekatkan ke bibirnya. Tubuhnya tetap menyamping, seolah tidak mendengar semua bujukan Daxon itu.

Melihat keteguhan hati Azalea yang tak mau mengalah, Daxon hanya bisa menghela napas pelan—kali ini bukan karena kesal, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia meletakkan kembali sendok itu, lalu duduk diam di samping tempat tidur, matanya tak lepas menatap punggung Azalea dengan rasa bersalah yang semakin menumpuk di hatinya.

Keheningan di kamar berlangsung cukup lama. Daxon tetap duduk di sisi tempat tidur, diam saja sambil sesekali melirik wajah Azalea yang masih membelakanginya, menunggu kapan pun gadis itu mau berbicara lagi.

Hingga akhirnya, Azalea menggerakkan tubuhnya perlahan. Ia mulai bangun dan duduk bersandar, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang terasa kosong dan keroncongan. Rasa lapar akhirnya mengalahkan kemarahannya, meski gengsinya masih tinggi.

Ia menoleh perlahan, menatap Daxon yang seketika menegakkan badan penuh harap.

"Aku akan memaafkanmu..." ucap Azalea pelan namun tegas, membuat mata Daxon langsung berbinar. "Tapi ada syaratnya."​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!