Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan Reyhan
Tulisan I Love You di bungkus permen itu terasa seperti sebuah vonis mati bagi harga Reyhan.
Bagaimana bisa? batin Reyhan menjerit, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Kilasan ingatan sejam yang lalu berputar cepat di kepalanya, mencari titik buta yang terlewatkan. Reyhan sangat yakin bahwa ia telah mengawasi pergerakan nampan itu sampai masuk ke dalam sarang sang CEO. Dia tak tahu saja jika di balik pintu yang tertutup rapat itu, sebuah alur tak terduga sebenarnya telah terjadi tanpa pernah ia bayangkan.
Satu jam sebelum kegemparan ini terjadi, Mimin si OG mengetuk pintu ruangan Xena. Ia pun menyajikan kiriman makanan tersebut.
Xena yang tengah sibuk memeriksa laporan keuangan menghentikan aktifitas tangannya di atas keyboard. Xena sudah tahu si pengirim makanan, lalu Xena membuka penutup wadah makanan tersebut dengan perasaan hangat.
Namun ketika aroma makanan itu menguar, senyum Xena langsung membeku.
Wadah itu berisi Seafood Paella dengan taburan kerang dara dan udang besar yang melimpah, ditemani smoothie seledri dan kale. Xena menghela napas panjang. Ibra adalah dokter yang sangat peduli kesehatan, tetapi pria itu belum tahu satu fakta krusial bahwa Xena sangat membenci aroma kerang dara, dan ia memiliki trauma masa kecil dengan segala jenis jus berwarna hijau pekat. Makanan itu benar-benar bukan seleranya.
Xena meraih ponselnya, mengetikkan pesan singkat.
Xena: Dokter Ibra, terima kasih banyak ya kiriman makan siangnya. Presentasinya sangat cantik, saya sangat menghargai perhatianmu.
Xena sengaja tidak menyebutkan bahwa ia sama sekali tidak menyentuh makanan itu. Ia tipe wanita yang menjaga perasaan orang lain. Ah, rasanya tidak enak kalau bilang tidak suka lewat chat. Bisa salah paham. Nanti saja kalau kami makan malam bersama, aku akan mengatakannya langsung secara kasual, pikir Xena dalam hati.
Tepat saat itu sang sekretaris masuk membawa map dokumen. Xena menatap kotak makanan yang masih utuh tersebut.
"Kamu sudah makan siang? Ini ada kiriman makanan banyak sekali, saya sedang kenyang. Kamu mau mengambilnya?" tawar Xena.
"Aduh, maaf sekali Bu Xena. Hari ini saya bawa bekal rantangan dari ibu mertua saya. Kalau tidak dihabiskan, bisa berabe di rumah."
Xena mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Sayang sekali jika makanan mewah ini terbuang. "Kalau begitu, tolong berikan saja pada Mimin si OG yang di depan tadi. Bilang padanya untuk dihabiskan ya."
"Baik, Bu."
Sang Sekretaris segera membawa nampan tersebut keluar, dan kebetulan momen ini Reyhan sudah berhenti mengintip.
Mimin yang mendapat rezeki nomplok tentu saja kegirangan. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyendok makanan mewah bercampur larutan pil dukun itu dengan lahap hingga tandas tak bersisa. Dan di sinilah petaka bagi Reyhan dimulai.
...***...
Jam dinding kantor akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Bel pulang berbunyi, dan para karyawan mulai mengemas barang-barang mereka. Namun bagi Reyhan sore ini adalah awal dari mimpi buruk yang sesungguhnya.
"Pak Reyhaaan mau pulang bareng, ya? Mimin tungguin di parkiran motor, lho."
Reyhan bergidik ngeri. Mimin sudah berdiri di samping kubikelnya, memeluk sebuah helm sambil mengedipkan matanya.
"Min! Tolong ya, saya ini atasan kamu secara struktural! Jaga sikap!" bentak Reyhan.
"Aduh, Pak Reyhan kalau lagi marah makin kelihatan maco deh, bikin hati Mimin dug-dug ser," sahut Mimin tanpa rasa takut, justru dia melangkah mendekat.
Reyhan panik. Ia mengambil langkah seribu, setengah berlari menuju luar. Namun pil dukun itu tampaknya bekerja terlalu efektif. Mimin mengejarnya dengan kecepatan penuh.
"Pak Reyhaaan! Jangan tinggalin Mimin! Cintaku, belahan jiwaku!" teriak Mimin histeris, menggema di seluruh penjuru lantai kantor.
Aksi kejar-kejaran itu tak pelak langsung menyedot perhatian seluruh karyawan yang belum pulang. Mereka bersorak, bersiul, dan beberapa bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam drama gratis ini. Reyhan yang panik dan kepalang malu tidak memperhatikan langkahnya.
Di luar seorang petugas kebersihan luar sedang membersihkan saluran pembuangan air dan meletakkan seember besar lumpur hitam pekat bin bau.
"Awas, Pak! Jangan ke sana!" teriak petugas itu.
Namun terlambat. Reyhan yang menoleh ke belakang karena ketakutan melihat Mimin yang hendak menerkamnya, kehilangan keseimbangan. Kakinya tersandung ember got.
BRUAAAK!
Tubuh Reyhan terjungkal dengan sangat memalukan. Ia terjatuh langsung ke dalam got taman yang dangkal, dengan separuh tubuh dan wajahnya sukses bermandikan lumpur comberan hitam. Ember berisi endapan lumpur itu juga tumpah tepat di atas kepalanya, membuat penampilannya berantakan.
"Astaga, Pak Reyhan!" teriak para karyawan riuh.
Mimin yang melihat pujaan hatinya jatuh, langsung berlutut di tepi got sambil menangis dramatis. "Pangeranku! Kamu gak apa-apa? Biar Mimin bantu!"
Kegaduhan yang luar biasa itu akhirnya memicu sang penguasa gedung untuk keluar. Pintu ruangan CEO terbuka lebar. Xena melangkah keluar dengan rapi, berniat untuk pergi ke urusan lain. Begitu melihat kerumunan orang di dekat taman dalam, ia mengernyitkan alisnya yang indah dan mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Xena tegas.
Kerumunan karyawan langsung membelah, memberi jalan bagi sang CEO. Xena melangkah maju dan pandangannya langsung tertuju pada sesosok makhluk yang sedang berusaha berdiri di dalam got dengan tubuh penuh lumpur.
Itu Reyhan. Mantan suaminya yang biasanya selalu tampil necis dan sombong.
Xena terpaku selama tiga detik. Menyaksikan pemandangan yang begitu absurd dan tak masuk akal ini, Xena refleks tertawa.
"Pfft... Hahaha!"
Melihat Xena tertawa sebahagia itu, Reyhan merasa ketampanannya telah kembali. Dengan kepercayaan diri yang entah datang dari mana, Reyhan menyeka lumpur di pipinya lalu melemparkan senyuman romantis ke arah Xena.
"Gak apa-apa, Bu Xena, saya rela jatuh ke got berkali-kali, asalkan itu bisa membuat Bu Xena tertawa lepas seperti ini lagi. Kebahagiaan Anda adalah segalanya bagi saya." Begitu kata Reyhan, membuat Xena langsung enggan tertawa.
Wajahnya Xena langsung kicep, orang-orang di sekitar pun langsung terdiam, suasana mendadak senyap.
"Sangat tidak patut dan tidak profesional, Pak Reyhan. Kantor ini adalah tempat bekerja, bukan panggung sirkus ataupun tempat Anda melontarkan rayuan, apalagi konisi anda seperti ini."
Xena berbalik badan, lalu menoleh sedikit pada sekretarisnya. "Sampaikan pada bagian HRD. Besok pagi-pagi sekali, minta Pak Reyhan menghadap untuk mempertimbangkan kembali kelayakannya berada di perusahaan ini atas tindakan yang membuat kegaduhan dan mengganggu ketertiban kantor."
Setelah mengatakan itu, Xena melangkah pergi dengan anggun tanpa menoleh lagi.
Reyhan sekarang yang kicep, membeku di tempat dengan mulut ternganga. Senyum bodohnya luntur karena terbayang-bayang pemecatan yang sudah di depan mata.
Mimin yang masih setia di sisi Reyhan langsung memegang tangan Reyhan yang penuh lumpur. "Cup cup cup... gak apa-apa ya sayang, kan masih ada Mimin yang selalu cinta sama kamu..."
Nasiiiiib...kenapa hidupku akhir-akhir ini sial sekali.
Bersambung.
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......