NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Omelan yang Membuat Rindu

Tangan Aini bergerak cepat, pena itu menyentuh kertas dan menggoreskan namanya dengan lincah, persis seperti saat ia menandatangani catatan penjualan dagangan .

Matanya menatap ujung pena itu saja, tidak melirik ke tulisan-tulisan lain di sekelilingnya, tidak membaca nama laki-laki yang tertulis di sebelah namanya, tidak peduli apa saja isi baris demi baris dokumen itu.

Pak RT dan warga yang hadir mengangguk puas, mengucapkan selamat dengan singkat dan berharap semuanya kini berjalan lancar dan tertib. Aini dan Jaja pun berjalan pulang beriringan dalam diam. Tidak ada yang bicara sepatah kata pun.

Aini berjalan di depan dengan langkah cepat, wajahnya cemberut. Di belakangnya, Jaja berjalan santai, tenang, bahkan terlihat sangat lega dan puas.

Aini langsung masuk ke dapur, kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Ia menggerutu pelan, mendengus kesal setiap kali memotong bawang.

Sementara itu, Jaja masuk ke ruang tengah, mendekati kasur tempat Satria dan Syafa yang sudah terlelap dalam tidur yang damai. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, ia mengangkat tubuh Satria yang masih merengek halus dalam mimpi, membenamkan anak itu ke dalam selimut, lalu mengecup keningnya sekilas.

Setelah memastikan kedua anak itu tidur nyenyak, Jaja keluar kembali berjalan ke dapur. Ia berdiri sejenak, menatap punggung wanita itu yang tampak tegang dan dingin.

"Aini..." panggilnya pelan. Suaranya lembut, namun Aini tidak menoleh sedikit pun.

"Saya izin pulang ke rumah sebelah dulu ya. Saya mau tidur di sana malam ini. Biar kamu tenang, biar tidak ada lagi pembicaraan orang. Mulai besok... semuanya akan berbeda."

Aini diam saja. Ia tidak menjawab, tidak mengangguk, tidak menolak. Ia pura-pura sibuk mengaduk bumbu, seolah suara Jaja tadi hanya angin lalu.

Jaja menunggu sebentar, berharap ada kata atau tanda apa pun, tapi tetap tidak ada respons. Akhirnya, laki-laki itu tersenyum sendiri, menggeleng pelan, lalu berjalan keluar pagar dan menyeberang ke rumah kecilnya yang kosong .

Baru setelah suara langkah kaki Jaja hilang, rahang Aini mengeram makin kuat. Rasa kesal dan dongkolnya makin meluap.

"Dasar...lelaki!!!! enak saja dia. Bisa-bisanya bersikap santai, seolah tidak ada apa-apa," gerutunya pelan, bibirnya bergerak sendiri.

"Pak RT juga aneh sekali. Sudah tua kok malah bikin masalah. Apa urusan mereka urus hidup orang lain? Kami berbuat salah apa? Kami tidak pernah melakukan hal yang tidak pantas. Kami cuma bertetangga baik, cuma saling bantu. Tidak ada bukti apa-apa, tidak ada kejadian apa-apa... eh malah dipaksa nikah begini. Gila! Gila semua orang di desa ini!"

Aini membanting pisau potongnya sedikit ke talenan, lalu menghela napas panjang....kasar.

Pekerjaannya akhirnya selesai juga. Ia membereskan semuanya, membasuh tangan, lalu berjalan masuk ke kamar tidurnya.

Ia berbaring di sisi kosong di samping Satria dan Syafa. Matanya menatap langit-langit kamar yang terbuat dari papan kayu tua. Suasana hening, hanya terdengar napas teratur anak-anaknya. Tapi di dalam kepala Aini, suasana jauh dari tenang. Ia mulai mengomel sendiri, berbicara pada dirinya sendiri, mengeluarkan semua kekesalan yang ditahannya sejak tadi.

"Kenapa harus nikah digrebek begini? Memalukan!!!? Besok pasti mereka menyindir-nyindir. Apalagi si Mira...Ahhh....!!!! Jaja juga... dia diam saja. Dia tidak menolak, dia tidak membela diri. Dia malah diam saja pas Pak RT ngomong. Pasti dia senang, kan? Pasti ini rencana dia."

Aini berguling ke kiri, lalu ke kanan. Posisi berbaringnya terasa tidak nyaman, kasur yang biasanya empuk kini terasa keras sekali. Ia duduk sebentar, menatap wajah anak-anaknya yang damai, lalu berbaring lagi. Kemudian duduk lagi, mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Ribet sekali hidup ini. Dulu lari dari suami kasar yang menjual anak sendiri. Sekarang dipaksa nikah sama tetangga sendiri. Padahal tidak ada yang salah. Tidak ada yang salah sama sekali. Kenapa orang-orang suka ikut campur sih? Kesal... kesal sekali rasanya. Rasanya mau teriak saja, tapi buat apa? Sudah terlanjur tanda tangan. Sudah sah. Sekarang saya istrinya. Hah... aneh sekali."

Kegelisahan Aini, omelannya yang pelan namun jelas, posisinya yang berubah-ubah dari berbaring, duduk, menutup wajah dengan bantal, hingga kembali menatap langit-langit... semuanya terlihat dengan sangat jelas di layar ponsel canggih yang ada di tangan Jaja.

Di rumah sebelah, Jaja duduk di tepi kasur sederhananya. Di hadapannya, layar ponsel itu menampilkan tayangan langsung dari dalam kamar Aini. Sudah sejak tadi, saat ia masuk ke kamar untuk menidurkan Satria, ia dengan cekatan dan diam-diam memasang alat pemantau kecil berbentuk seperti sekrup di bagian atas lemari kayu yang menghadap tepat ke arah tempat tidur. Alat itu berukuran sangat kecil, tersembunyi sempurna, memiliki kualitas gambar dan suara yang jernih, serta terhubung langsung ke gawai pribadinya.

Jaja menatap layar itu dengan tatapan lembut, penuh kasih sayang, dan geli bercampur bahagia. Ia melihat setiap gerakan Aini, mendengar setiap keluhan dan omelan kecil wanita itu. Ia melihat wajah cemberutnya, melihat mata yang berkedip-kedip kesal, melihat tangan yang memukul-mukul bantal pelan karena dongkol.

"Lucu sekali dia," batin Jaja sambil tersenyum lebar, matanya tak lepas dari layar.

"Marah-marah sendiri, mengomel sendiri, kesal sendiri. Padahal hatinya senang, kan? Padahal dia rindu saya, kan? Kalau dia benar-benar tidak mau, dia pasti sudah menolak mati-matian. Dia setuju karena dia tahu... di lubuk hatinya yang paling dalam, dia memang menginginkan ini. Dia memang menginginkan saya."

Jaja menghela napas panjang penuh rasa syukur. Ia melihat Syafa yang tidur meringkuk manis, melihat Satria yang sesekali tersenyum dalam tidurnya, dan melihat Aini yang masih berguling-guling tak bisa tidur karena terlalu kesal.

"Mulai malam ini, semuanya berubah, Sayang," bisik Jaja pelan pada layar ponselnya, seolah berbicara langsung pada Aini.

"Kamu sudah sah milikku. Anak-anak ini sudah sah menjadi tanggung jawabku. Kamu marah, kamu kesal, kamu ngomel... tidak apa-apa. Biarkan saja. Besok, lusa, nanti kamu akan mengerti. Nanti kamu akan tahu siapa suamimu ini sebenarnya. Nanti kamu akan tahu betapa besarnya cinta yang aku sembunyikan, betapa besarnya dunia yang aku miliki, dan betapa besarnya kebahagiaan yang akan aku berikan untukmu dan anak-anak kita."

Ia terus menatap layar itu sampai Aini akhirnya kelelahan, omelannya makin pelan, dan matanya perlahan terpejam karena kantuk yang tak tertahankan. Tangan Aini akhirnya terkulai lemas di samping Satria, napasnya menjadi teratur dan tenang.

Jaja baru mematikan layar ponselnya saat ia yakin istrinya sudah benar-benar terlelap. Ia meletakkan alat itu di samping bantalnya, lalu berbaring juga.

Malam ini, ia tidur dengan hati yang paling bahagia, paling tenang, dan paling bangga seumur hidupnya. Di sebelah sana, wanita yang dicintainya sudah resmi menjadi pendamping hidupnya. Dan besok... hari baru akan dimulai.

Dan satu lagi.....Dia harus menemui Pak RT dan warga yang hadir tadi. Mengucapkan terimakasih, karena rencana mereka sangat sempurna.

******

1
Aya Ansyar
Terus semangat berkarya thor 👍🏻
Putri Sikumbang: Makasih selalu hadir Kak🙏
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!