NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Tahta Dari Bayang-Bayang

Arjuna berdiri di tengah reruntuhan lantai tujuh hotel Nararya. Matanya memindai empat tubuh yang bergelimpangan di antara puing-puing dengan kalkulasi yang sudah selesai sejak tadi.

Panthera, dan tiga Dragonoid Wyvern.

Dia menekan tombol di bracelet penyimpanan untuk mengaktifkan ruang dimensi di dalamnya. Lalu menyimpan keempat mayat itu satu per satu dengan gerakan yang efisien tanpa ekspresi.

"Apa yang kau lakukan dengan mayat mereka?" tanya Dyah Ayu dari sudut ruangan, suaranya masih bergetar meskipun pertempuran sudah selesai.

"Investasi," jawab Arjuna singkat.

Dyah Ayu tidak bertanya lagi.

Arjuna melangkah keluar dari reruntuhan hotel, dan Dyah Ayu mengikutinya dengan langkah yang masih belum sepenuhnya stabil.

Kota perbatasan Prefektur Draconis masih ramai meskipun malam sudah larut. Cahaya panel hologram dari berbagai bangunan memantul di jalanan batu hitam yang mengkilap.

Langkah pertama Arjuna menuju Guild Jagadarma.

***

Dyah Ayu berdiri di depan meja pendaftaran yang biasa dia tempati, tapi kali ini dari sisi yang berbeda.

Wajahnya yang pucat terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya bergerak dari Arjuna ke seluruh ruangan guild yang masih dipenuhi ksatria dari berbagai ras.

"Kau berhenti hari ini," ucap Arjuna, suaranya datar seperti seseorang yang menyatakan fakta, "Kau tidak perlu bekerja di sini lagi."

Dyah Ayu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Aku tidak punya pilihan lain," jawabnya pelan, suaranya hati-hati. "Pekerjaan ini satu-satunya yang aku punya."

"Sekarang kau punya pilihan lain," balas Arjuna, matanya tidak berkedip. "Ikut denganku! Aku akan memberikan koin emas lebih banyak dari pekerjaanmu yang sekarang.”

Dyah Ayu diam selama beberapa detik. Matanya memandang meja pendaftaran yang sudah dia tempati selama bertahun-tahun, lalu kembali ke Arjuna.

Dia mengangguk pelan. “Baiklah, lagipula aku hanya seorang diri.”

Arjuna berbalik, langkahnya menuju toko perlengkapan tempur terbesar di kota itu tanpa menunggu.

---

Toko Widyastra berdiri megah di jantung distrik komersial kota perbatasan. Bangunannya empat lantai dengan panel hologram yang menampilkan berbagai jenis armor, dan senjata berputar di atas pintu masuk.

Pemiliknya, seorang Dragonoid tua dari klan Drake dengan sisik coklat keemasan yang memudar. Dia sedang berdiri di balik meja dengan ekspresi yang sudah terbiasa melayani ksatria dari berbagai ras.

Matanya memindai Arjuna dan Dyah Ayu dengan cepat. Lalu kembali ke Arjuna dengan tatapan yang lebih cermat saat melihat Arjuna sebagai seorang ras manusia murni.

"Aku butuh Light Cyborg Armor Suit terbaik yang kalian punya," ucap Arjuna, langsung ke intinya. "Yang mampu menahan serangan ksatria Qi Resonance Realm: Celestial Star."

Pemilik toko menaikkan alis, ekspresinya campuran antara terkejut, dan penghormatan profesional.

"Kami punya satu unit," balas pemilik toko, tangannya bergerak di atas panel hologram di mejanya. "Diproduksi langsung dari fasilitas manufaktur Prefektur Mechanoid. Harganya lima juta koin emas."

Dyah Ayu menarik nafas tajam di samping Arjuna, dan matanya membulat.

"Lima juta?!" bisik Dyah Ayu, suaranya hampir tidak terdengar. "Itu jumlah yang tidak pernah aku bayangkan dalam hidupku."

Arjuna tidak merespons. Namun tangannya sudah bergerak mengaktifkan bracelet penyimpanannya untuk mentransfer lima juta koin emas ke sistem pembayaran toko dengan satu gerakan.

"Dibungkus," ucapnya singkat.

Light Cyborg Armor Suit itu didesain untuk tubuh manusia. Ramping tapi kokoh dengan lapisan baja nano yang mengikuti setiap kontur tubuh pemakainya.

Warnanya putih perak dengan garis-garis cahaya biru tipis yang berdenyut lembut di setiap sambungan panel armornya, dan memancarkan kesan teknologi tinggi yang jauh melampaui penampilan sederhana pemiliknya.

Dyah Ayu berdiri dengan armor itu melapisi seluruh tubuhnya dari leher hingga kaki. Wajahnya yang sangat pucat menjadi satu-satunya bagian yang tidak tertutup.

"Berat," gumamnya, mencoba menggerakkan tangannya dengan hati-hati.

"Akan terbiasa," jawab Arjuna, matanya memindai armor itu dengan kalkulasi yang cepat. "Bergeraklah!"

Dyah Ayu menggerakkan tangannya, lalu kakinya. Setelah itu seluruh tubuhnya dengan gerakan yang semakin lama semakin natural, karena sistem adaptasi armor menyesuaikan diri dengan pola gerak pemakainya.

"Ringan," balas Dyah Ayu terkejut dengan sensasi yang berbeda dari ekspektasinya. "Jauh lebih ringan dari yang aku bayangkan."

Arjuna tidak berkomentar, tetapi langkahnya sudah menuju pintu keluar toko.

---

Kediaman klan Hydra berdiri di distrik paling eksklusif kota perbatasan Prefektur Draconis. Bangunannya dikelilingi tembok hitam setinggi dua puluh meter dengan ornamen kepala Hydra yang diukir di setiap sudut.

Dua penjaga Dragonoid klan Hydra berdiri di gerbang utama, sisik hijau gelap mereka berkilau di bawah cahaya panel energi yang menerangi seluruh area gerbang.

Mereka memblokir jalan saat Arjuna dan Dyah Ayu mendekat.

"Berhenti!" sergah penjaga pertama, suaranya formal, dan tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Kediaman klan Hydra tidak menerima tamu tanpa perjanjian sebelumnya. Apalagi manusia."

"Terutama manusia," timpal penjaga kedua, matanya memindai Dyah Ayu dengan tatapan yang sudah sangat Arjuna kenal.

Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia mengangkat pergelangan tangannya. Lalu menampilkan lencana kepala Hydra yang keluar dari Bracelet penyimpanan miliknya dengan sisik hijau gelap yang berkilau di bawah cahaya malam.

Kedua penjaga itu membeku seketika.

Ekspresi mereka berubah dalam waktu kurang dari satu detik. Dari penghalang yang tidak bisa digoyahkan menjadi penjaga yang menundukkan kepala dengan hormat.

"Mohon maaf atas ketidaksopanan kami," ucap penjaga pertama, tubuhnya membungkuk dalam. "Silakan masuk, Tuan!"

Gerbang terbuka.

Dyah Ayu melirik Arjuna dengan ekspresi yang sulit dibaca saat mereka melangkah masuk.

"Lencana itu," bisik Dyah Ayu, suaranya hanya cukup untuk didengar Arjuna. "Seberapa kuat pengaruhnya?"

"Cukup," jawab Arjuna singkat.

Jendral Harjasa duduk di ruang utama kediamannya. Tubuh besarnya bersandar di kursi yang dibuat khusus untuk menampung proporsi tubuh seorang Jendral klan Hydra.

Sisik hijau gelap berlapis ganda di wajahnya berkilau di bawah cahaya lampu kristal yang menerangi ruangan.

Saat Arjuna masuk, matanya emas murni memindai sosok manusia itu dari atas ke bawah dengan ekspresi yang tidak berubah dari saat pertama kali mereka bertemu di perbatasan.

"Manusia," ucap Harjasa, suaranya datar seperti laporan cuaca. "Aku tidak mengundangmu."

"Aku membawa sesuatu yang akan membuat Jendral tertarik," balas Arjuna, langkahnya berhenti tepat di tengah ruangan.

Harjasa tidak menjawab, hanya menatap dengan mata yang menyipit sedikit.

Arjuna menekan tombol bracelet penyimpanannya.

Satu per satu, empat tubuh muncul di lantai ruangan itu dengan suara yang mengisi keheningan ruang utama kediaman klan Hydra.

Panthera, anggota Phantom sub ras Warbeast.

Tiga Dragonoid klan Wyvern dengan sisik abu-abu kebiruan yang sudah tidak memancarkan aura apapun.

Harjasa bangkit dari kursinya. Tubuh besarnya bergerak dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukurannya.

Matanya memindai keempat mayat itu satu per satu. Ekspresi datar yang biasa dia kenakan mulai retak dengan sesuatu yang jauh lebih ekspresif.

"Phantom," desah Harjasa, lututnya hampir menyentuh tanah saat dia memeriksa tubuh Panthera dengan lebih dekat. "Kau membunuh anggota Phantom?"

"Mereka yang datang duluan," jawab Arjuna, suaranya tenang.

Harjasa berdiri, matanya beralih ke tiga mayat Dragonoid Wyvern, dan untuk pertama kalinya sejak Arjuna mengenalnya, ekspresi jendral itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dari kemarahan biasa.

"Wyvern?!" gumam Harjasa, suaranya rendah dan mengerikan. "Kau membunuh tiga Dragonoid klan Wyvern?!"

"Mereka menyerang duluan," balas Arjuna dengan nada yang sama.

Harjasa berbalik, matanya emas murni menatap Arjuna dengan intensitas yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.

"Kau tidak mengerti apa yang sudah kau lakukan, hah!" geram Harjasa, suaranya bukan lagi datar, melainkan mengandung tekanan yang nyata. "Klan Wyvern dan klan Hydra sudah lama dalam kondisi gencatan senjata yang rapuh! Jika mereka mengetahui bahwa manusia yang membawa lencana klanku yang membunuh tiga anggota mereka—"

Harjasa berhenti.

Rahangnya terkatup rapat, dan sisik hijau gelap di lehernya bergerak, karena otot yang menegang.

"Ini bisa memicu perang terbuka antara klan Hydra dan klan Wyvern!" bentak Harjasa, suaranya seperti seseorang yang baru menyadari betapa dalamnya lubang yang terbuka di bawah kakinya.

Arjuna tidak bergerak, dan tidak berbicara. Hanya berdiri di tengah ruangan dengan mata merah yang menatap Harjasa dengan tenang.

Kalkulasi sudah selesai sejak lama.

Aura Void Anchoring Realm keluar brutal menekan semua yang ada di dalam ruangan, termasuk Arjuna, dan Dyah Ayu.

“Tuan, to-tolong!” lirih Dyah Ayu, nafasnya seperti tercekik.

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!