NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

...29: BENDA SIALAN! CRYSTAL MAGIC...

...****************...

Melihat Kenzie akhirnya menampakkan batang hidungnya, Liera langsung melipat tangan di dada dengan gurat wajah tidak sabar. "Kau lama sekali, kaka senior! Kami sudah berdiri di sini hampir satu jam!" keluh Liera ketus.

"Maaf membuat para Nona Manis menunggu," sahut Kenzie dengan nada menggoda yang santai. Ia melangkah ke tengah lapangan tanah yang luas di depan air terjun, lalu mengibaskan tangan kanannya ke udara.

*Brakkk!*

Sebuah kotak penyimpanan besi yang berukuran cukup besar mendadak materialisasi dari dalam cincin spasialnya dan menghantam tanah dengan suara dentuman yang berat.

"Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul di sini, mari kita mulai sesi latihan sore kita," ucap Kenzie dengan wibawa pemimpin yang sengaja ia buat-buat demi menutupi sifat aslinya. Ia membuka tutup kotak besi tersebut, memperlihatkan isinya ke hadapan lima orang di depannya. "Ini adalah alat latihan khusus yang sengaja kuambil dari tempat Master-ku untuk kalian berlima."

Ryujin, Rava, Liera, dan Wulan secara serentak melongokkan kepala mereka untuk melihat isi kotak tersebut. Namun, setelah melihat apa yang ada di dalam kotak, ekspresi tegang di wajah mereka seketika mengendur, digantikan oleh tatapan mata yang penuh dengan rasa remeh dan keheranan. Di dalam kotak itu, hanya ada lima bilah pedang kayu biasa berwarna cokelat tua polos yang tidak memiliki ketajaman ataupun ukiran magis apa pun di permukaannya.

"Hah? Kau bercanda, ya?" Ryujin menjadi orang pertama yang mendengus meremehkan sembari memandangi pedang kayu tersebut. "Kakak Kenzie, kau melesat pergi membelah langit menggunakan kereta terbang mewah hanya demi mengambil lima bilah mainan kayu murah seperti ini? Untuk apa? Apakah kita di sini mau bermain pedang pedangan?"

Rava pun ikut terkekeh, rasa takutnya pada Kenzie mendadak menguap saat melihat pedang kayu yang tampak rapuh itu. "Benar, Kakak Senior Kenzie. Kami ini adalah murid unggulan dan murid pribadi dari salah satu guru agung akademi yang terbiasa memegang senjata spiritual tingkat tinggi. Menggunakan pedang kayu biasa seperti ini sama sekali tidak akan memberikan dampak latihan apa pun pada fisik kami, apalagi kak wulan seorang murid suci!."

Wulan Tsuyoki dan Liera hanya bisa diam sembari menatap malas, mengira Kenzie sedang mempermainkan mereka dengan lelucon konyolnya. Hanya Snowy yang tetap mempertahankan wajah datarnya yang sedingin es, mengamati pedang kayu tersebut dengan instingnya tajamnya tanpa mengeluarkan suara.

Mendengar rentetan kalimat remeh dan bualan sombong dari teman-temannya, Kenzie tidak marah sama sekali. Ia justru menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan wajahnya sebelum akhirnya sebuah seringai iblis yang teramat licik terkembang lebar di bibirnya.

"Oh, benarkah begitu? Jadi kalian menganggap lima pedang ini hanya mainan murah?" tanya Kenzie dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah dan dingin, membuat atmosfer di sekitar air terjun seketika turun drastis hingga membekukan sumsum tulang.

Kenzie menunjuk ke arah kotak besi. "Kalau begitu, ayo, silakan ambil masing-masing satu pedang dari dalam kotak itu. Pegang dengan erat, dan cobalah lakukan satu ayunan dasar ke depan menggunakan seluruh energi Ki spiritual yang kalian miliki saat ini. Tunjukkan padaku seberapa tidak bergunanya pedang kayu ini di tangan orang-orang hebat seperti kalian."

Ryujin yang merasa harga dirinya sebagai petarung berbakat ditantang, langsung mendengus malas. "Cih, tidak perlu memintanya dua kali. Lihat bagaimana aku mematahkan pedang kayu tipis ini dengan sekali ayunan!" ucap Ryujin penuh rasa percaya diri yang melompati langit. Ia melangkah maju, mencengkeram gagang pedang kayu pertama dengan tangan kanannya, lalu mengangkatnya keluar dari kotak dengan gerakan yang teramat ringan dan santai. Di tangannya, beban pedang kayu itu memang terasa seperti ranting pohon kering biasa.

Rava, Liera, dan Wulan pun ikut melangkah maju. Tanpa rasa curiga sedikit pun, mereka masing-masing mengambil satu bilah pedang kayu tersebut. Rava bahkan sempat memutar-mutarkan pedang kayu di tangannya dengan siulan kecil, menganggap remeh perintah Kenzie.

"Baiklah, Kakak Kenzie! Perhatikan baik-baik kehebatan ayunan pedang dari adik angkatmu ini! Hyaaa—" Ryujin mengambil kuda-kuda kokoh, menarik pedang kayunya ke belakang, dan mulai mengalirkan gelombang energi Ki spiritual merah menyala miliknya dari dalam dantian menuju ke sepanjang bilah pedang kayu untuk melakukan ayunan tebasan vertikal yang kuat.

Namun, tepat pada detik ketika aliran energi Ki murni milik Ryujin menyentuh permukaan kayu tersebut, segel kristal sihir gravitasi (crystal magic gravitasi) tersembunyi yang tertanam jauh di dalam inti kayu spiritual tersebut mendadak aktif secara instan.

*Wuuushhhhhhh—BOOOM!*

Sebuah tekanan gelombang spiritual tak kasat mata berwarna ungu gelap mendadak meledak keluar dari pedang kayu tersebut. Secara tidak masuk akal, berat dari pedang kayu yang tadinya seringan kapas itu mendadak berlipat ganda secara ekstrem, mengikuti kuantitas dan intensitas aliran energi Ki yang dialirkan oleh penggunanya dan itu akan terus aktif serta bebannya akan terus bertambah. Semakin besar energi yang mereka salurkan, maka hukum gravitasi internal pedang tersebut akan mengisap energi itu untuk mengubah berat massanya menjadi berkali-kali lipat lebih padat dan berat.

"Ugh—K-KAAAKKK?!" jerit Ryujin spontan.

Wajah Ryujin yang tadinya penuh dengan seringai sombong, dalam waktu seperseribu detik langsung berubah menjadi pucat pasi dengan mata yang membelalak hampir keluar.

Ayunan pedang yang hendak ia lepaskan mendadak macet total di udara. Beban pedang kayu di genggamannya melesat naik dari hanya beberapa ons, menjadi seratus kilogram, dua ratus kilogram, hingga menyentuh angka empat ratus kilogram murni dalam sekejap!

*Brakk! Gedebuk!*

Karena tidak siap menerima lonjakan beban ekstrem yang datang secara tiba-tiba, tubuh Ryujin seketika kehilangan keseimbangan. Tarikan gravitasi yang teramat dahsyat dari pedang kayu itu langsung menyeret tubuhnya jatuh menghantam tanah dengan posisi wajah yang menancap duluan ke dalam lumpur halaman.

Hal yang sama terjadi secara beruntun di sekelilingnya. Rava yang tadinya sedang bersiul, mendadak menjerit histeris ketika pedang kayunya tiba-tiba terasa seberat bongkahan gunung batu.

"MAMAAA! TANGANKU MAU COPOT!!" teriak Rava histeris. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah, kedua tangannya gemetaran hebat menahan beban pedang kayu yang kini menekan dadanya hingga ia sulit untuk bernapas.

Liera terpekik kaget, lututnya langsung lemas dan menekuk menghantam tanah dengan keras, kedua tangannya dipaksa memegang gagang pedang kayu yang kini menancap dalam, ke dalam retakan tanah akibat berat massanya yang tidak masuk akal.

Bahkan Wulan Tsuyoki, sang Murid Suci yang memiliki fondasi fisik paling kuat di antara mereka, harus menahan napas dalam-dalam. Wajah cantiknya seketika memerah padam, keringat dingin bercucuran deras dari dahinya saat ia dipaksa menggunakan kedua tangannya untuk menjaga agar tubuh mungilnya tidak ikut ambruk terseret gravitasi pedang kayu tersebut.

Hanya Snowy yang berhasil mengontrol energinya dengan cepat sehingga ia hanya mundur tiga langkah dengan napas yang terengah-engah, menatap ngeri ke arah pedang kayu di genggamannya yang kini terasa seberat ratusan kilogram.

"B-Barang... Sialan... apa-apaan ini?!" desis Wulan dengan gigi yang mengatup rapat, tubuhnya bergetar hebat hanya untuk mempertahankan posisi berdirinya.

Kenzie melangkah maju dengan sangat santai, menatap ke arah lima orang yang kini mendadak lumpuh dan babak belur di atas tanah dengan ekspresi kepuasan batin yang luar biasa masif. Ia tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya, menyaksikan trauma masa lalunya kini resmi berpindah tangan kepada teman-temannya.

"Hehehe... Bagaimana? Apakah mainan kayu murah ini cukup menghibur kalian?" tanya Kenzie sembari berkacak pinggang dengan wajah narsistik yang teramat menyebalkan. "Dengar ya, para murid jenius yang sombong. Pedang kayu ini terbuat dari kayu spiritual kuno yang dipadukan dengan kristal gravitasi tingkat tinggi milik Master-ku. Alat ini memiliki kemampuan khusus untuk mendeteksi energi Ki kalian. Semakin keras kalian mencoba mengerahkan tenaga spiritual untuk mengayunkannya, maka berat pedang ini akan otomatis melonjak naik mencapai ratusan kilogram mengikuti aliran energi kalian!"

Kenzie berjalan mendekati Ryujin yang masih berusaha mengangkat wajahnya dari dalam lumpur, lalu menepuk pelan kepala adik angkatnya itu. "Ini adalah dasar dari menu latihan gila yang kulalui selama delapan tahun penuh penderitaan di bawah asuhan Master Arvendel. Dan mulai sore ini, sampai batas waktu yang tidak ditentukan, tugas latihan kalian sangat mudah: Aku ingin kalian berlima melakukan sepuluh ribu kali ayunan tebasan dasar ke depan menggunakan pedang kayu itu setiap harinya tanpa boleh menghentikan gerakan kalian sembari masang kuda-kuda!"

Mendengar angka "sepuluh ribu kali ayunan" dengan beban ratusan kilogram yang terus diayunkan di tangan mereka, mental Rava dan Ryujin seketika hancur berkeping-keping. Sesi latihan ini belum berjalan bahkan lima menit, namun bayangan tentang penderitaan, siksaan fisik yang pedih, dan rasa lelah yang akan mengoyak tubuh mereka hingga lumpuh sudah terpampang nyata di depan mata.

"Kaka senior kenzie... kau... kau bukan manusia... kau iblis..." rintih Rava dengan air mata yang mengalir deras, meratapi nasib malangnya yang harus terjebak di dalam neraka buatan Kenzie.

"Kakak... Kenzie... tolong ampuni... adikmu ini..." gumam Ryujin dengan suara yang terputus-putus, merasakan depresi tingkat akut yang teramat sangat mulai menyerang kewarasan otaknya saat melihat Kearah kenzie

Dan kenzie pun justru mengambil sebuah kursi santai dalam cicinnya sambil menyetel tempat di bawah pohon, lalu berbaring dengan nyaman sembari mengunyah buah-buahan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sore itu, di bawah gemuruh air terjun kediaman Helena, jeritan keputusasaan dan kutukan dari Rava dan Ryujin membahana memecah langit.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!