NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh enam

Diandra menghembuskan nafasnya, seakan ingin membuang sesak yang menyelimuti dadanya saat ini.

Xavier hanya diam mengamati, walau dia sudah tahu siapa diandra, namun ia ingin mendengarnya dari mulut wanita ini langsung.

"memang benar, aku perempuan itu" ujar diandra membuka percakapan.

"aku wanita yang bersamamu di malam itu"

Xavier tak bergeming, hanya suara hembusan nafasnya terdengar lega.

Diandra mengamati xavier, pria itu hanya diam. Mengapa tidak marah, mengapa reaksi santai saja. Diandra mengerutkan keningnya heran.

"kan aku sudah katakan padamu, kalau aku sudah mengenalimu.."

"lalu!, apa yang ingin kamu tanyakan padaku" alis mata diandra naik sebelah, jelas ia merasa heran.

"aku hanya ingin memastikan beberapa hal darimu" jawab xavier pelan,

"salah satunya tentang killian, dan aku yakin kalau dia putraku kan?"

Diandra tak menjawab, ia hanya menatap lekat mata kebiruan milik xavier.

"aku tak perlu tes dna untuk itu.." bisik pria itu lirih, seakan berbisik untuk dirinya sendiri.

"tapi yang ingin aku tahu, apa alasanmu meninggalkanku begitu saja?"

Diandra tercekat, kini mata pria itu menatapnya sangat tajam, seakan memaksa diandra untuk jangan coba-coba berbohong.

"karena...karena, tugasku sudah selesai"

Xavier membelalak kaget, bola matanya membola sempurna.

"tugas?"

Diandra mengangguk, "karena aku sudah menerima bayaranku.."

"tunggu!" tahan xavier cepat,

"kamu malam itu, di sana! Hanya demi uang?" suara xavier, tatapan matanya berubah.

Diandra mengangguk ragu,

"jangan bilang, kalau itu pekerjaanmu?" suara xavier menuntut, mata itu, mata kebiruan itu kembali menatap lekat penasaran.

Diandra terdiam, mengamati reaksi xavier yang sedikit aneh, menurutnya.

Kalau memang itu pekerjaannya, apa urusannya dengan pria itu. Bukankah xavier telah membayar tubuhnya malam itu.

"jangan coba-coba membohongiku diandra, malam itu kamu juga kehilangan keperawananmu"

Wajah diandra memerah jengah.

"berikan aku jawaban masuk akal, karena jawaban jujurmu akan menentukan hidupku"

"apa maksudmu?" tanya diandra mengernyitkan keningnya heran.

Xavier menggeleng cepat, "kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku jujur, di"

Hatinya berdebum indah, setiap pria itu menyebut namanya, diandra tersipu.

Dan itu sebenarnya cukup menyebalkan, ternyata diandra masih terpesona oleh xavier.

"mengapa kamu tidak menungguku bangun?" tanya xavier lagi, menyadarkan diandra dari lamunannya.

Diandra mendongak, kepalanya menggeleng pelan.

"karena, kalau aku menunggumu bangun, kamu akan mengenaliku!"

Alis xavier terangkat sebelah, mata kebiruan itu kembali menatap lekat diandra yang mendadak sendu.

"tapi yang pasti, aku di sana malam itu, karena membutuhkan uangmu!"

"diandra..." panggil xavier dengan suara beratnya, "kamu sudah katakan itu tadi, yqng aku mau dengar adalah alasannya"

"maaf xavi.." geleng diandra lemah, " apa alasanku untuk uang itu, biarkanlah menjadi rahasiaku.."

Xavier sudah menggeleng, ia tidak setuju. Namun wanita yang duduk di depannya ini sepertinya enggan memberitahunya.

"kamu tahu, di. Jawabanmu menentukan hidupku"

"apa maksudnya itu?" tanya diandra lagi, heran. Pria ini sudah 2 kali mengatakannya.

"kalau kamu jawab jujur, aku bisa menentukan bagaimana hidupmu dan killian ke depannya"

Diandra semakin menautkan alisnya kebingungan,

"karena jawabanmu akan menentukan apa kamu bisa bersama killian atau tidak"

"apaa...?" teriak diandra sontak berdiri, sorot matanya terlihat marah tidak terima.

"apa maksudmu?"

"diandra..." panggil xavier lagi, dengan penuh penekanan.

"killian itu putraku, ada darah pratama mengalir dalam tubuhnya.."

"tidak..." sergah diandra cepat, "killian itu putraku!" diandra memukul meja dengan kedua telapak tangannya.

"aku yang melahirkan dia, aku yang membesarkan killian, atas dasar apa kamu mengakui killian putramu?" mata diandra membeliak lebar, dadanya turun naik menahan amarah yang hampir membuncah.

"hhhhhh.." dengus xavier kasar, smirknya terlihat menyeramkan.

"jangan pancing aku diandra, jangan sampai aku membawa ini ke jalur hukum"

"silahkan...!" tantang diandra dengan mata masih merah, menahan marah.

"kamu pikir aku takut?"

Xavier tiba-tiba berdiri, sepertinya ia terprovokasi sikap diandra yang keras. Perlahan pria itu mendekati diandra, dan mendekatkan kepalanya ke telinga diandra.

"jangan pancing aku, di. Aku masih berusaha membicarakan hal ini baik-baik padamu"

Diandra memalingkan wajahnya seketika, suara berat pria itu walau terasa sangat mengintimidasi, namun diandra tak dapat mengingkari, kalau dia berdebar karenanya.

"aku mau kita bicara baik-baik, ini demi killian, demi kamu dan juga demi hidupku"

Diandra kembali menatap xavier, wajah pria itu kini tepat berhadapan dengan wajah diandra, begitu dekat, hingga deru nafas pria itu terasa di pipinya.

"aku tidak ingin merebut killian darimu, tapi kalau kamu bertingkah seperti ini, jangan harap aku bisa berbaik hati padamu!"

Diandra menghembuskan nafasnya lega, begitu xavier menjauh darinya. Pria itu sudah duduk lagi, dan sorot mata tajamnya itu meminta diandra untuk duduk.

"sekarang jelaskan padaku dengan sejujurnya, alasan kamu pergi begitu saja meninggalkanku saat itu!"

Diandra kembali menghela nafasnya, dengan memberanikan diri, ia menatap mata kebiruan itu.

"aku membutuhkan uangmu!"

Xavier mengangguk, namun pria itu hanya diam mengamati diandra dan menanti penjelasannya.

"malam itu, papaku harus dioperasi, sementara aku tak punya uang sepeserpun"

"trus?" mata xavier membola sesaat, masih menatap diandra dengan sangat antusias.

"aku menawarkan diriku padamu langsung malam itu, saat kamu turun dari mobil"

Xavier memicing tak percaya, seingatnya dia mabuk berat malam itu, tak mungkin rasanya ia bisa mengendarai mobil dengan baik.

"kamu bohong..!"

"tidak..." geleng diandra cepat, "kamu memang mabuk malam itu, tapi kamu lumayan sadar!"

Xavier kembali memicingkan matanya, "dimana kita ketemu?"

"malam itu, dengan langkah sempoyongan kamu hendak masuk ke sebuah hotel melati, hujan rintik-rintik saat itu, kalau kamu ingat!"

Xavier menggeleng, namun ia tak menjawab, hanya menunggu penjelasan diandra lagi.

"aku berjudi dengan diriku sendiri saat itu, karena kamu masuk ke hotel melati dengan mabuk seperti itu, aku yakin kamu pasti membutuhkan seorang wanita" diandra menjeda penjelasannya sesaat, ia menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.

"aku menawarkan diriku, dan kamu langsung mengiyakan!"

Xavier masih menatap lekat, seakan ingin memastikan kejujuran dari cerita diandra barusan.

"berapa uang yang aku berikan padamu?"

Diandra menggeleng cepat, "aku tidak jadi menerimanya sepeserpun"

"kenapa?" tanya xavier heran, bukankah perempuan ini mengatakan kalau dia membutuhkan uang saat itu, untuk operasi papanya.

"aku merasa jijik pada diriku sendiri..!" sahut diandra pelan.

"jijik? Karena aku?"

"tidak..." geleng diandra cepat, mata pria di depannya sudah terlihat tersinggung.

"aku jijik pada diriku sendiri, pada niat kotorku, aku merasa seperti menjual diri. Dan aku seperti wanita panggilan saja"

Xavier terdiam, sorot matanya tak lagi setajam tadi. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi sorot itu menatapnya iba.

"karena itu aku meninggalkanmu begitu saja, aku malu, aku tak mau kamu melihatku sebagai wanita kotor"

"kotor?"

Diandra mengangguk lemah, "apa sebutan untuk perempuan yang menjual dirinya seperti itu!"

"di..." panggil xavier lembut, pria itu hendak meraih jemari diandra.

Namun diandra dengan sigap berdiri, "sudah jauh malam, dan aku juga sudah menjelaskan semuanya padamu"

Diandra berjalan ke arah ruang tamu, seperti meminta xavier untuk pergi.

Xavier hanya mengikuti, dia tahu wanita ini belum sepenuhnya jujur, tapi untuk saat ini xavier merasa cukup.

"aku akan datang lagi, di. Dan jangan coba-coba menghilang lagi"

Diandra tak menjawab, ia hanya memegangi daun pintu rumahnya, sampai xavier keluar dari sana.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!