Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Anak Arya Curiga?
Anna tersiksa setengah mati karena dia harus meringkuk di dalam tempat yang sangat sempit.
"Si*lan," umpatnya. "Kenapa lama banget sih itu cowok perginya. Buruan pergi sih kamu anak si*lan."
Anna belum mengetahui kalau Dimas pacarnya Arum adalah anak sulung dari Arya sebab Dimas memang baru mampir lagi ke perusahaan tempat ayahnya bekerja setelah beberapa bulan absen ke tempat ini, sehingga dia pun tidak mengenali Anna sebagai sekretaris baru dari ayahnya sendiri.
Terakhir kali Dimas datang ke kantor ayahnya saat sekretaris yang dulu masih menjabat.
Arya sedang gelisah di kursi meja kerjanya karena dia mengkhawatirkan Anna yang masih sembunyi di dalam lemari.
"Dim, Papa ngantuk nih pengen minum kopi," ucap Arya yang sedang berusaha membuat anaknya Dimas pergi sementara ke ruangan lain.
"Ya buat aja kali, Pah. Biasanya juga buat sendiri kan," jawab pemuda itu santai.
"Bisa tolong buatin nggak!" pinta Arya pada anak lelakinya.
"Papa kok aneh ya hari ini," kernyit Dimas.
"Ah, nggak ada yang aneh kok. Kalau gitu Papa buat sendiri aja," ucap Arya yang langsung bangkit pergi meninggalkan ruang kantornya.
Dimas geleng-geleng melihat tingkah ayahnya itu.
Sebenarnya Dimas hanya asal nyeletuk saja, tapi Arya yang memang tidak mau kelihatan buruk di depan anaknya, apalagi sampai kepergok oleh anaknya berselingkuh langsung panik duluan saat dibilang "Papa kok aneh."
****
Akhirnya setelah jam istirahat selesai, berakhir pula kebersamaan Dimas serta ayahnya yang baru selesai icip-icip prodak baru bisnis kuliner Dimas yang akan launcing di beberapa outlet tokonya.
"Pah, kok sekretaris Papa dari tadi nggak keliatan?" tanya Dimas yang merasa heran karena meja sekretaris ayahnya tidak berpenghuni sejak tadi.
"Eu ... Sekretaris Papa lagi ...." Arya bingung mau memberikan alasan apa.
"Lagi apa, Pah?" tuntut Dimas.
"Ayo otak buruan mikir!" ucap Arya pada otaknya.
"Lagi apa, Pah?" ulang Dimas.
"Lagi ada urusan di luar. Katanya ibu dia lagi sakit," ucap Arya buru-buru.
"Oh, kirain ke mana." angguk Dimas mengerti.
"Katanya kamu udah ditungguin karyawan kamu?" tanya Arya mengingatkan anaknya agar dia segera pergi. "Sana! Buruan samperin mereka. Kasian kalau kamu terlalu lama datangnya."
"Iya, Pah. Kalau gitu Dimas pergi dulu ya!" pamit pemuda itu.
Arya pun hanya mengantarkan Dimas sampai di pintu keluar ruang kantornya.
"Hati-hati ya, Nak," pesannya pada Dimas.
"Iya, Pah."
Dimas pun pergi meninggalkan ruangan ini dan Arya buru-buru berlari menuju ke lemari kecil yang dihuni oleh Anna.
Pintu lemari itu pun dibuka dan Anna segera keluar dari dalam ruang sempit itu dengan bantuan Arya.
Kedua kaki Anna yang telah lama tertekuk mulai diluruskan secara perlahan.
"Aw," rintihnya kesakitan karena kedua kakinya sudah kesemutan.
"Pegel banget ya, Yank?" tanya Arya khawatir.
"Bukan lagi, Mas," jawab Anna dengan bibir yang mencebik kesal. "Pegel banget ini," keluhnya.
"Maaf ya," tutur Arya yang mulai mengusap pelan kedua kaki Anna.
"Iya, aku maafin kok." angguk Anna yang tidak mungkin meledak-ledak amarahnya. "Mas,"
"Hm," Arya pun menoleh ke arah Anna.
"Kok tadi anak kamu lama banget sih singgah di kantor kamu, Mas?"
"Dia lagi minta pendapat, An. Dia emang begitu kok, kalau lagi minta pendapat bisa sampai sejam lebih gitu," jelas Arya.