NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Penjagaan Ketat dan Penetas Rencana

​Suasana di dalam mobil Alphard hitam milik keluarga Smith terasa begitu mencekam selama perjalanan pulang. Kenzie fokus mengemudikan mobil dengan rahang yang masih mengeras, sementara Kenzo yang duduk di samping Elle terus-menerus menghela napas kasar sambil menatap keluar jendela.

​"Lo beneran gak diapa-apain kan sama si Muka Tembok itu, El?" tanya Kenzo untuk yang kesekian kalinya, memastikan tidak ada seujung kuku pun dari adik bungsunya yang terluka.

​Elleanor mengacak rambutnya frustrasi. "Aduh, Bang Kenzo! Ini udah pertanyaan yang keseratus kali sejak kita keluar dari gerbang LHS. Gua gak apa-apa! Dia cuma ngurung gua di kamar apartemennya, ngasih makan nasi goreng, terus nyiapin seragam baru. Gak ada kekerasan fisik sama sekali!"

​"Tetap aja itu namanya penculikan, Elle!" sahut Kenzie dari kursi kemudi, suaranya berat penuh penekanan. "Keluarga Frederick itu emang punya pengaruh besar di sektor bisnis dan hukum, tapi kelakuan anak tunggalnya itu udah kelewat batas. Mulai besok, gak ada lagi taksi atau ojek online. Lo berangkat dan pulang sekolah wajib dikawal sama anak buah Papi."

​Elle mendengus kasar, menyandarkan punggungnya pada jok mobil yang empuk. "Ah, males banget! Berasa kayak buronan koruptor gua kalau dikawal-kawal gitu. Lagian gua kan bisa jaga diri, Bang. Ingat gak siapa yang numbangkan tiga preman di sirkuit New York tahun lalu?"

​"Ini Jakarta, Elle, bukan New York," potong Kenzo tegas, menatap Elle dengan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. "Di sini, Jayden itu punya ribuan anak buah di bawah bendera Vultures. Kalau dia udah terobsesi sama sesuatu, dia bakal halalin segala cara. Lo gak tahu aja spektrum gila orang-orang kayak dia."

​Elle terdiam. Kalimat Kenzo barusan mendadak mengingatkannya pada kilat mata Jayden yang begitu pekat dan dingin saat mengurungnya di dinding kaca apartemen semalam. Ada kegelapan yang tak berdasar di dalam sana, sebuah ambisi yang menolak untuk dipatahkan.

​Sore harinya, di markas utama VULTURES—sebuah gudang kontainer tua yang telah disulap menjadi tempat nongkrong super mewah dengan fasilitas biliar, bar, dan jajaran motor sport di Jakarta Pusat—suasana tampak sibuk.

​Haikal sedang duduk di sofa kulit hitam dengan laptop alienware-nya yang menyala, jemarinya menari dengan kecepatan tinggi di atas papan ketik. Di sebelahnya, Erlan sedang asyik melempar anak panah ke papan dart, sementara Shaka duduk tenang sambil menyesap kopi hitamnya.

​Jayden sendiri berdiri di dekat meja biliar, memutar-mutar stik biliar di tangannya dengan pandangan kosong. Pikirannya sama sekali tidak ada di tempat ini. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah berani Elleanor yang menantangnya di koridor sekolah tadi selalu berputar di kepalanya. Sikutannya di perut Jayden tadi pagi bahkan masih menyisakan rasa hangat yang aneh.

​"Bos," panggil Haikal, mengalihkan perhatian seluruh isi ruangan. "Gua udah berhasil nembus sistem keamanan digital keluarga Smith. Gila, proteksinya ketat banget, bokapnya si Elle ternyata pakai jasa mantan agen federal buat proteksi data keluarga."

​Jayden meletakkan stik biliarnya dengan pelan. "Apa yang lo dapet?"

​"Jadwal Elleanor udah dirombak total sama abangnya," jawab Haikal, memutar laptopnya agar menghadap ke arah Jayden. "Mulai besok, Elle bakal diantar jemput pakai mobil antipeluru dengan dua pengawal terlatih di depan. Jalur perjalanannya juga bakal diubah acak setiap hari biar gak bisa dipantau sama kita."

​Erlan bersiul pelan, melempar anak panah terakhirnya tepat di tengah sasaran. "Wih, ketat amat. Berasa jagain anak presiden. Kayaknya abang-abangnya si Elle beneran siap perang sama kita, Bos."

​Shaka menoleh ke arah Jayden, menatap ketuanya itu dengan pandangan memperingatkan. "Jay, keluarga Smith punya koneksi internasional yang kuat. Kalau lo nekat nerobos pengawalan mereka secara terang-terangan di jalanan, bokap lo pasti bakal turun tangan karena masalah ini bisa ganggu saham Frederick Group."

​Jayden berjalan mendekati meja Haikal. Sepasang netra hitamnya menatap barisan data di layar laptop tersebut dengan kilat mata yang dingin namun penuh kalkulasi. Seringai tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di wajah tampannya.

​"Gua gak bakal pakai cara kasar di jalanan, Shaka," ucap Jayden, suaranya mengalun rendah namun terdengar begitu mengerikan. "Keluarga Smith boleh menutup semua akses jalanan Jakarta untuk Elle. Tapi mereka lupa satu hal... Elleanor masih berstatus sebagai murid di Loren'z High School."

​Jayden menumpukan kedua tangannya di atas meja, menunduk menatap Haikal. "Haikal, masuk ke database akademik LHS. Pindahkan nama Elleanor dari kelas XI-IPA 1 ke kelas gua, XI-IPA 3. Pastikan pengaturannya selesai sebelum besok pagi."

​Haikal melongo, sementara Erlan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perintah gila itu.

​"Gila lo, Bos! Mau dikurung di satu kelas yang sama?" seru Erlan heboh. "XI-IPA 3 kan kelas pojokan yang isinya lo, gua, sama Shaka doang yang sering bolos. Kalau si Elle pindah ke sana, fiks bakal jadi area kekuasaan lo mutlak!"

​"Jay, kalau abangnya tahu, mereka bisa aja mindahin Elle ke sekolah lain, misalnya ke Nexus bareng Alka," Shaka mencoba menganalisis kemungkinan terburuk.

​"Mereka gak bakal sempat melakukan itu," balas Jayden tenang, namun nadanya terdengar begitu mutlak. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel milik Elle yang masih ia sita sejak semalam. Layar ponsel itu menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor bernama 'Alka'.

Alka : El, kalau si brengsek Jayden macem-macem lagi, langsung kabarin gua. Gua bakal selalu ada buat lo.​

​Jayden menatap pesan itu dengan rahang yang mengeras. Dengan gerakan cepat, jemarinya mengetik sesuatu di ponsel Elle, memblokir nomor Alka secara permanen, lalu menghapus seluruh riwayat obrolan mereka hingga bersih tanpa sisa.

​Setelah selesai, Jayden melemparkan ponsel itu ke atas meja biliar dengan senyum sinis yang pekat akan obsesi.

​"Tutup semua celahnya. Biarkan serigala itu melolong di luar, karena di dalam LHS... Elleanor hanya milik gua."

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!