Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Kepala Dinas Culas
Di dalam ruang rapat yang cukup luas dan sejuk karena adanya AC, suasana terasa sedikit hening di lapangan yang sedang amburadul. Di balik mejanya yang kokoh tapi terlihat gelap seperti bayangan, seorang Kepala Dinas duduk tegak dengan map proyek berisi peta kawasan kota yang sudah dia tandai beberapa titik merah untuk wilayah pembangunan.
Pria itu menatap para karyawannya satu per satu. Mereka tampak menunggu arahan dengan serius. Kecuali koordinator lapangan yang tampak pucat seolah takut akan sesuatu.
"Baik semua, saya tidak ingin menunda proyek penguasa dan developer untuk pembangunan mall di kawasan barat tersebut," ucap kepala dinas itu dengan suara tegas. Tatapan matanya tajam berusaha mengintimidasi mereka.
Ia berdiri, mendekati layar proyektor yang terpampang di depan ruang rapat itu. Tangannya menunjuk salah satu wilayah yang sudah dia tandai dengan titik merah. Tempat itu merupakan panti asuhan yang kemarin sempat memicu kericuhan di taman.
"Tanah yang ada di panti asuhan dan sekitarnya itu harus segera dikosongkan," perintah kepala dinas itu. Kedua matanya terpaku menatap koordinator lapangan dengan serius dan sedikit tajam.
Setiap kata-kata kepala dinas itu diperhatikan dengan baik oleh bawahannya. Bahkan mereka juga mencatat setiap clue yang di arahkan. Sementara koordinator lapangan masih sibuk sendiri, berusaha menenangkan diri.
Kepala dinas itu tidak menghiraukan rasa khawatir yang dirasakan koordinator lapangan. Dia melanjutkan presentasinya tanpa ekspresi. "Itu titik krusial. Akses utama menuju kawasan komersial. Titik itu harus langsung bisa ditembus tanpa ada hambatan."
Sambil duduk ke bangkunya, kepala dinas itu kembali berkata, "Saya ingin tempat itu segera dikosongkan. Saya tidak mau ada penundaan lagi untuk proyek ini."
Koordinator lapangan itu mengangkat tangan, wajahnya masih ragu menatap kepala dinas yang terlihat acuh tak acuh.
"Maaf, Pak. Saya sudah bekerjasama dengan orang suruhan untuk pengosongan tapi panti asuhan itu masih aktif. Mereka tidak mau meninggalkan tempat itu," jelas koordinator lapangan, suaranya sedikit merendah tatapannya juga menunduk tak ingin melihat emosi atasannya.
Wajah kepala dinas itu memerah, rahangnya mengeras. Dia memukul meja dengan kasar membuat orang-orang di sana terperanjat kaget. Tidak ada yang berani berkutik, mereka terdiam sambil memainkan jemari.
"Saya tidak mau tahu! Saya tidak ingin proyek untuk mall ini tertunda karena rasa belas kasih untuk anak-anak miskin itu!" bentak kepala dinas itu.
Suara pria itu sangat keras membuat koordinator lapangan merinding dan gemetar. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis koordinator lapangan, jantungnya berdebar-debar seperti mau lepas. Dia memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Sejenak ia menghela napas, berusaha menenangkan diri.
Sementara itu, salah satu staf mengangguki ucapan kepala dinas itu. Dia menatap serius orang-orang di sekitar terutama koordinator lapangan. Satu hal yang berbeda adalah tatapannya jauh lebih tenang daripada kepala dinas. Terutama senyuman tipisnya yang membuat suasana tegang itu sedikit tenang.
"Pak Hendra ingin kita segera menyelesaikan project pembangunan mall ini. Satya, kita sudah lama bertahan di administrasi. Ini saatnya proyek yang kita rencanakan berubah menjadi kenyataan," jelas staf itu berusaha memberi dorongan agar koordinator lapangan itu menjadi semangat dan bisa mengerjakan semua tugas dengan benar.
Satya—koordinator lapangan itu menganggukkan kepalanya sambil menatap staf itu dengan dingin. Dia menghela napas. "Baik saya akan coba untuk mengosongkan tempat itu secepat mungkin," jawab lelaki itu pada akhirnya.
Hendra—kepala dinas itu memandang map project itu. Dia sibuk menelaah isi dokumen, mempelajari struktur dan fungsi pembangunan. Pria itu tidak ingin ada masalah saat memulai project. Secara diam-diam, dia juga memperhatikan bagaimana bawahannya berdiskusi soal kinerja mereka selama project ini berlangsung. Namun, ia tidak begitu menghiraukan dan hanya mendengar saja.
Setelah mempelajari isi dokumen itu, Hendra segera menutup map dan kembali menatap anak buahnya dengan tegas.
"Semua hal yang dijalankan termasuk pengosongan itu sudah diatur secara prosedural. Tugas kita sekarang hanya memastikan bahwa proyek ini berjalan sesuai rencana tata ruang kota," jelas pria itu diangguki oleh bawahannya.
Dia menekan remot kontrol proyektor nya, mengganti slide berupa sketsa mall yang akan di bangun di tengah kota. Mereka memandang sketsa itu dengan saksama sebelum Hendra melanjutkan penjelasannya. Satya mencatat bagian-bagian penting yang ada di presentase itu dalam bukunya untuk pekerjaan nanti di lapangan.
"Mall ini akan menjadi pusat untuk ekonomi baru untuk masyarakat. Sudah ada investor besar yang masuk karena kita menjamin aksesnya. Bahkan wali kota termasuk gurbernur juga sudah memberikan izin," tegas Hendra. Dia masih menatap Satya dengan tajam. Tatapan yang berbeda untuk staf lain.
"Jadi, saya tidak mau ada hambatan apapun di lapangan," lanjut pria itu. Suaranya sedikit turun tapi terdengar menekan di telinga Satya.
Satya mengangguk. "Baik, pak."
"Segera kerjakan, jika ada hambatan selesaikan dengan cara semestinya. Jangan sampai rasa iba pada orang-orang miskin tidak berguna itu membuat proyek kita gagal!" tegur Hendra.
Sekali lagi, Satya yang mendengar itu merasa tersinggung. Di rapat ini hanya dia saja yang disudutkan beberapa kali oleh Hendra dan staf lain. Hanya karena dia sebagai koordinator lapangan yang turun langsung ke area. Namun, dia memegang kontrol untuk para pekerja lain seperti tukang yang akan bekerja melaksanakan pembangunan mall ini.
Rapat pun selesai, semua karyawan kembali ke ruang masing-masing untuk mengerjakan tugas kecuali Satya. Lelaki itu masih terpaku duduk di bangku yang ada di depan ruang rapat. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan rasa tidak aman. Bukan karena khawatir tentang amarah Hendra saja. Dia juga khawatir tentang kondisi orang-orang yang ada di panti asuhan.
"Saya heran ... Padahal saya sama sekali tidak menjual tanah ini. Kenapa para penguasa tega melakukan ini pada saya? Tanah ini milik saya," racau pria itu sambil memegang kepalanya yang seperti mau lepas.
Kata-kata itu terus terngiang di benak Satya, walaupun dia bukan insinyur tapi mendengar percakapan mereka membuat Satya merasa berdosa jika harus mengusir orang-orang ini apalagi ingat tanah itu sebenarnya bukan milik penguasa yang bisa digunakan sesuka hati, melainkan masih milik warga. Satya memang yang mengatur setiap hal di lapangan dan mengarahkan pekerja. Akan tetapi, insinyur lah yang memegang kontrol penuh akan pembangunan project itu.
Satya bukan insinyur yang bertanggungjawab penuh, tapi Hendra dan beberapa staf menekan seolah dia bagian penting dari proyek ini. Sesaat mereka tidak menghiraukan Hendra yang merupakan atasan Satya di lapangan proyek. Mereka mungkin menekan karena Satya masih terlihat berempati sehingga takut tidak bisa fokus bekerja.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa akan ada balasan dari perlakuan kami yang semena-mena ini," gumam Satya, suaranya penuh keraguan dan rasa waspada.