"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Cahaya yang Menyingsing
Malam itu, langit tampak bersih tanpa gumpalan awan sedikit pun. Bulan purnama bersinar terang benderang bagaikan lampu gantung yang digantungkan di langit tinggi, menyebarkan cahaya putih keperakan yang lembut dan sejuk menyinari bumi. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan harum bunga malam yang tumbuh subur di taman belakang kediaman. Di dalam kamar tidur utama yang luas dan nyaman itu, suasana tampak tenang dan damai. Cahaya rembulan menyelinap masuk melalui celah tirai jendela yang dibuka sedikit, menciptakan pantulan lembut di atas lantai kayu yang berkilauan terkena cahayanya.
Su Yi berbaring di atas tempat tidur empuk yang dilapisi seprai berwarna krem lembut. Wajahnya tampak sedikit pucat namun tetap cantik dan tenang. Kedua tangannya menopang perlahan perutnya yang kini sudah sangat membuncit dan menegang, tanda bahwa momen yang dinanti-nantikan itu sudah sangat dekat. Napasnya teratur namun terasa sedikit berat setiap kali ia menarik dan mengembuskannya. Di sampingnya, Mo Han duduk tegak di tepi tempat tidur, matanya tak berkedip sedikit pun menatap wajah istrinya. Tangannya yang hangat dan kokoh tak pernah berhenti mengusap lembut dahi Su Yi yang sesekali berkeringat halus. Wajahnya tampak tenang namun matanya menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam dan ketegangan yang tak tertahankan.
"Kau merasakannya lagi?" Mo Han berbisik pelan dengan suara yang rendah namun penuh perhatian. Tangannya turun perlahan menumpu lembut di perut istrinya yang terasa menegang seketika seiring rasa nyeri yang datang bergelombang. "Apakah rasa sakitnya masih tertahankan? Atau harus segera kupanggilkan dokter?"
Su Yi mengangguk pelan sambil menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan berusaha menenangkan rasa nyeri yang menjalar di perutnya. Ia mendongak menatap wajah suaminya yang tampak cemas dan gelisah, lalu tersenyum lembut berusaha meyakinkan pria itu bahwa ia baik-baik saja.
"Jangan khawatir..." Su Yi berucap pelan dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap lembut dan tenang. "Rasa sakit itu datang dan pergi. Sepertinya... sepertinya waktunya sudah semakin dekat. Si kecil sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan kita."
Mo Han menatap mata jernih istrinya lekat-lekat. Ia melihat keberanian dan keteguhan hati yang terpancar dari sana, dan seketika hatinya merasa sedikit lebih tenang. Namun rasa khawatir sebagai seorang suami dan calon ayah tetap tak sepenuhnya hilang. Ia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, menatapnya lekat-lekat seakan ingin menanamkan kekuatan dan keberanian lewat pandangan matanya yang penuh kasih sayang.
"Kau adalah wanita terkuat yang pernah kukenal." Mo Han berucap tulus dengan suara yang penuh kekaguman sekaligus kasih sayang yang mendalam. "Aku akan selalu di sisimu. Tak akan pergi ke mana pun. Apa pun yang terjadi... aku ada di sini. Memelukmu... mendampingimu... dan mendoakanmu serta anak kita dengan segenap hatiku."
Su Yi tersenyum haru mendengar itu. Ia mengangkat tangannya yang terasa sedikit berat dan meraba lembut pipi suaminya yang tegas dan hangat. Matanya berkaca-kaca menatap wajah pria yang dicintainya itu dengan penuh rasa syukur dan kasih sayang yang tak terhingga.
"Aku tahu... kau selalu ada di sisiku. Dan karena kau ada di sini... aku tidak takut pada apa pun. Tidak peduli seberapa berat rasa sakit yang harus kutanggung... aku akan sanggup menjalaninya. Karena aku tahu... di ujung rasa sakit itu... ada kebahagiaan terbesar yang sedang menanti kita."
Mo Han mencium telapak tangan istrinya yang menempel di pipinya, lalu menatapnya lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru dan doa yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ya... di ujung rasa sakit itu... ada cahaya kebahagiaan yang menyingsing. Cahaya yang lahir dari cinta sejati kita. Cahaya yang akan menerangi sisa hidup kita dengan kebahagiaan dan kedamaian yang tak pernah pudar."
Waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya. Rasa nyeri yang datang bergelombang semakin sering dan semakin terasa hebatnya. Su Yi menggenggam tangan suaminya erat-erat, menahan rasa sakit itu dengan keberanian yang luar biasa. Keringat mulai membasahi dahi dan pelipisnya, namun tak satu pun keluhan atau rintihan yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menatap wajah suaminya yang tak pernah beranjak dari sisinya, menarik kekuatan dari pandangan mata pria itu yang selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang dan keteguhan hati.
Mo Han memanggil dokter dan perawat yang sudah bersiap siaga di kediaman itu sejak malam semakin larut. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya demi kelancaran proses kelahiran itu. Namun di dalam hatinya, Mo Han merasa gelisah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia takut melihat istrinya menahan rasa sakit yang begitu hebat. Ia takut membayangkan apa pun yang mungkin terjadi. Namun setiap kali ia menatap wajah Su Yi yang tetap tersenyum lembut di sela-sela rasa sakitnya, ia merasa kembali tenang dan teguh. Ia tahu bahwa ia harus menjadi pendukung terkuat bagi istrinya. Ia harus tetap berdiri tegak di sisinya, memberikan kekuatan dan semangat tanpa henti hingga momen itu tiba.
"Mari... tarik napas dalam-dalam..." Dokter itu berucap pelan namun tegas sambil membimbing Su Yi. "Doronglah dengan kekuatan yang kau miliki... satu kali lagi... pertahankan... dan hembuskan perlahan... bagus sekali... istirahatlah sejenak..."
Su Yi mengikuti setiap arahan itu dengan sekuat tenaganya. Tubuhnya terasa lemas dan kelelahan, napasnya tersengal-sengal berat, namun matanya tetap tak beralih dari wajah Mo Han. Ia menggenggam tangan suaminya erat seakan ingin menyampaikan lewat genggaman itu bahwa ia masih kuat, bahwa ia akan terus berjuang, dan bahwa ia tidak akan menyerah sebelum cahaya kecil itu lahir ke dunia.
Mo Han menunduk menatap wajah istrinya yang penuh keringat dan kelelahan. Hatinya terasa perih dan berat melihat penderitaan yang harus ditanggung wanita yang dicintainya itu. Namun ia tahu bahwa rasa sakit itu adalah jalan menuju kebahagiaan terbesar. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Su Yi, berbicara pelan namun tegas dengan suara yang penuh kekuatan dan kasih sayang.
"Kau bisa melakukannya... sayangku... kau wanita yang paling kuat... bayangkan wajah anak kita... bayangkan senyum pertamanya... sedikit lagi... bertahanlah... aku di sini... selalu di sini..."
Kata-kata itu menembus kesadaran Su Yi yang mulai kabur karena rasa sakit dan kelelahan. Kata-kata itu menjadi kekuatan baru yang mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Ia menarik napas panjang sekali lagi, memusatkan seluruh kekuatannya, dan dengan satu dorongan terakhir yang penuh keberanian dan keteguhan hati... ia melakukannya.
Terdengar tangisan pertama yang melengking namun terdengar begitu indah dan ajaib memenuhi ruangan yang semula hening itu. Tangisan kehidupan baru yang lahir ke dunia menyambut cahaya rembulan yang masih bersinar terang di langit gelap.
Su Yi terbaring lemah sambil terengah-engah. Matanya yang sayu perlahan terbuka menatap ke arah tempat dokter dan perawat menerima kehidupan kecil yang baru saja lahir itu. Napasnya tertahan sejenak, dan seketika air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang pucat namun kini bersinar penuh kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Mo Han berdiri terpaku di samping tempat tidur. Tubuhnya yang tegap dan kokoh terasa kaku dan gemetar hebat seketika. Matanya menatap bayi kecil yang dibalut kain lembut itu dengan pandangan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan perlahan air mata bahagia yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh berderai di pipinya. Anaknya... buah hatinya... telah lahir ke dunia.
Dokter itu tersenyum bahagia sambil membungkus bayi itu dengan lembut, lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya dengan wajah yang penuh sukacita.
"Selamat..." Dokter itu berucap dengan suara yang lembut namun terdengar begitu nyata dan menyenangkan hati. "Selamat... kalian berdua telah dikaruniai seorang putri yang cantik dan sehat. Selamat datang... cahaya kecil yang dinanti-nantikan."
Seorang putri... Su Yi tersenyum bahagia mendengar kabar itu hingga air matanya semakin deras mengalir membasahi bantal tempat ia berbaring. Ia menatap Mo Han yang masih terpaku dengan mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan, lalu mengangguk lembut seakan memastikan bahwa apa yang mereka dengar itu nyata dan bukan mimpi.
Mo Han melangkah perlahan mendekat. Tangannya yang masih sedikit gemetar karena emosi yang meluap-luap terulur menyentuh jubah kain yang membungkus putri kecilnya. Di sana... di dalam gendongan dokter itu... terbaring sosok mungil yang kulitnya kemerahan dan halus, matanya terpejam rapat namun mulut kecilnya masih sesekali mengerucut seakan mencari kenyamanan. Rambut hitam halus tumbuh lembut di kepalanya yang mungil. Wajahnya yang mungil itu tampak begitu cantik dan sempurna bagaikan lukisan tangan Tuhan yang paling indah.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan yang tak terhingga, Mo Han menerima putri kecil itu ke dalam pelukannya. Saat tubuh hangat dan mungil itu menyentuh dadanya... saat ia merasakan detak jantung kecil yang berirama cepat dan lembut di dekat jantungnya sendiri... seketika seluruh rasa lelah, cemas, dan gelisah yang ia rasakan sepanjang malam itu lenyap seketika. Digantikan oleh kebahagiaan yang begitu besar dan penuh hingga dadanya terasa sesak oleh rasa syukur yang meluap-luap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ia menatap wajah putri kecilnya lekat-lekat. Menatap hidung mungil itu, bibir mungil yang sesekali bergerak pelan, dan pipi halus yang terasa begitu lembut saat disentuh ujung jarinya yang gemetar. Air matanya terus menetes jatuh membasahi wajah putri kecilnya, namun ia tak peduli. Ia memeluknya semakin erat namun tetap lembut, menempelkan pipinya ke pipi mungil itu, dan berbisik pelan dengan suara yang tercekat oleh isak tangis bahagia.
"Xi Yue... Mo Xi Yue... putri kecil ayah..." Mo Han berbisik berulang kali penuh kasih sayang, matanya tak beralih sedikit pun dari wajah mungil itu. "Selamat datang ke dunia... selamat datang di pelukan ayah... terima kasih... terima kasih telah datang membawa cahaya ke dalam hidup kami..."
Su Yi menatap pemandangan itu dengan mata yang basah namun bersinar terang penuh kebahagiaan. Ia melihat pria yang dicintainya itu menangis bahagia sambil memeluk putri kecil mereka dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga. Hatinya terasa penuh hingga meluap-luap rasa syukurnya. Ia merasa lelah dan lemah, namun melihat pemandangan indah di hadapannya itu... ia merasa segala rasa sakit dan kelelahan yang ia tanggung seketika terbayar lunas ribuan kali lipat.
Mo Han berjalan perlahan mendekati tempat tidur. Dengan penuh kehati-hatian, ia menurunkan tubuh mungil putri kecilnya hingga berada tepat di samping wajah ibunya. Ia membiarkan Su Yi melihat dengan jelas wajah putri mereka yang cantik itu, lalu menggenggam tangan istrinya yang dingin dan lemas namun tetap hangat menyentuh pipi bayi mungil itu.
"Lihatlah..." Mo Han berucap pelan dengan suara yang masih sedikit bergetar namun penuh kelembutan dan kebahagiaan. "Lihatlah putri kita... Mo Xi Yue... cahaya rembulan yang lahir dari cinta kita. Dia cantik... persis sepertimu..."
Su Yi menatap wajah putri kecilnya lekat-lekat. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah mungil itu dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga. Perlahan ia mengangkat tangannya yang terasa berat dan menyentuh lembut pipi putri kecilnya yang hangat dan halus. Senyum terindah merekah di bibirnya yang pucat. Ia menatap Mo Han dengan mata yang penuh cinta dan rasa syukur yang mendalam.
"Cantik... dia begitu cantik..." Su Yi berbisik pelan dengan suara yang lemah namun penuh kebahagiaan yang meluap-luap. "Selamat datang... putriku... cahaya kecil ibu... terima kasih telah lahir... terima kasih telah datang melengkapi kebahagiaan kita..."
Di bawah sinar rembulan yang masih bersinar terang benderang di langit gelap itu, di dalam kamar yang hangat dan penuh kasih sayang itu, keluarga kecil mereka yang baru saja lengkap itu saling berpelukan dan menatap satu sama lain dengan penuh cinta dan syukur. Cahaya kecil yang dinanti-nantikan itu akhirnya lahir ke dunia. Membawa serta cahaya kebahagiaan yang tak akan pernah pudar. Cahaya yang lahir dari cinta sejati dua jiwa yang saling menyayangi seumur hidup. Cahaya yang akan terus bersinar terang menerangi sisa hidup mereka dengan kebahagiaan, kedamaian, dan kasih sayang yang abadi selamanya.
salam interaksi thor😉