NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

Ruang tamu orang tuaku tampak seperti tatanan di majalah Architectural Digest. Sofa tufted berdiri tegak membentuk sudut siku-siku dengan meja kayu berukir, cangkir teh porselen berdesakan meminta tempat di sebelah pajangan-pajangan mahal. Bahkan udaranya terasa dingin dan kaku, beraroma pengharum ruangan mahal yang terkesan impersonal.

Sebagian orang memiliki rumah untuk ditinggali, sedangkan orang tuaku memiliki rumah hanya untuk dipamerkan.

“Kulitmu kelihatan kusam.” Momy memperhatikanku dengan tatapan menilai yang kritis. “Kamu masih rutin perawatan wajah bulanan, kan?” Dia duduk di depanku, kulit wajahnya sendiri memancarkan kilau sempurna bak mutiara.

“Masih, Momy.” Pipiku sampai pegal karena harus mempertahankan senyum sopan yang ku paksakan.

Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah masa kecilku sepuluh menit yang lalu, dan aku sudah dikritik soal rambut yang terlalu berantakan, kuku yang terlalu panjang, dan sekarang, kulit wajahku.

Ya, malam biasa di kediaman keluarga Clifford.

“Baguslah. Ingat, kamu tidak boleh asal pasrah dan tidak merawat diri,” kata Momyku. “Kamu kan belum menikah.”

Aku menahan desahan napas. Mulai lagi, deh.

Meskipun karierku sukses besar di Manhattan, di mana persaingan bisnis EO jauh lebih kejam daripada diskon besar-besaran baju desainer. Orang tuaku tetap saja terpaku pada fakta bahwa aku tidak punya pacar, yang artinya aku tidak punya prospek pernikahan.

Mereka membiarkanku bekerja hanya karena zaman sekarang sudah tidak ada lagi seorang putri konglomerat yang tidak melakukan apa-apa. Namun sebenarnya, mereka sudah sangat kebelet ingin punya menantu laki-laki, seorang pria yang bisa memperkuat posisi mereka di lingkaran elit old money.

Kami memang kaya, tetapi kami tidak akan pernah menjadi old money. Tidak untuk generasi ini.

“Aku masih muda,” kataku sabar. “Aku masih punya banyak waktu untuk bertemu seseorang.”

Umurku baru dua puluh delapan tahun, tetapi orang tuaku bersikap seolah-olah aku akan mendadak keriput dan berubah menjadi nenek sihir tepat saat tengah malam di ulang tahunku yang ketiga puluh.

“Usiamu sudah hampir tiga puluh,” balas Momyku. “Kamu tidak makin muda, dan kamu harus mulai memikirkan tentang pernikahan dan anak-anak. Makin lama kamu menunda, makin sempit pilihan pria yang tersisa.”

“Aku memang memikirkannya, kok.” Memikirkan sisa satu tahun kebebasan yang kupunya sebelum dipaksa menikah dengan pria bankir yang punya gelar bangsawan di belakang namanya. “Soal tidak makin muda, kan ada Botox dan operasi plastik.”

Lelucon itu pasti bakal membuat kakak perempuanku tertawa kalau saja dia ada di sini. Namun karena dia tidak ada, leluconku garing seketika, menguap begitu saja.

Bibir Momyku menipis. Di sampingnya, alis tebal Dadyku beruban membentuk sudut tajam di atas pangkal hidungnya.

Di usianya yang ke-60 tahun, Jarvis Clifford tampak sangat sigap, bugar, dan memancarkan aura CEO yang membangun kekayaannya dari nol. Dia berhasil mengembangkan bisnis Clifford Jewels dari toko kecil milik keluarga menjadi raksasa multinasional selama tiga dekade. Tatapan diam darinya saja sudah cukup untuk membuatku menciut dan makin mundur menempel pada busa sofa.

“Setiap kali kami membahas pernikahan, kamu selalu menjadikannya lelucon.” Nada sura Dadyku sarat akan rasa tidak suka. “Pernikahan itu bukan lelucon, Annastasia. Ini urusan penting bagi keluarga kita. Lihat kakakmu. Berkat dia, kita sekarang terhubung dengan keluarga kerajaan Spencer”

Aku menggigit lidahku begitu keras sampai rasa tembaga darah memenuhi mulutku. Kakakku menikah dengan seorang bangsawan Spencer yang merupakan sepupu jauh dari sang ratu. Hubungan kami dengan keluarga kerajaan dari negara kecil di Eropa itu sebenarnya sangat jauh, tetapi di mata Dadyku, gelar bangsawan tetaplah gelar bangsawan.

“Aku tahu ini bukan lelucon,” kataku sambil meraih cangkir tehku. Aku butuh sesuatu untuk kesibukan tanganku. “Tapi ini juga bukan hal yang harus aku pusingkan saat ini. Aku masih kencan, kok. Masih menjajaki prospek yang ada. Ada banyak pria lajang di New York. Aku cuma perlu menemukan yang tepat.”

Aku sengaja tidak menyuarakan kenyataannya bahwa memang ada banyak pria lajang di New York. Tetapi populasi pria lajang yang lurus, tidak menyebalkan, tidak ingkar janji, dan tidak punya kebiasaan aneh yang mengerikan itu jumlahnya sangat sedikit.

Teman kencanku yang terakhir bahkan mencoba mengajakku ikut ritual pemanggilan arwah untuk menghubungi almarhum ibunya, agar sang ibu bisa bertemu denganku dan memberikan restu. Tak perlu dijelaskan lagi, aku tidak pernah menemui pria itu lagi.

Namun orang tuaku tidak perlu tahu soal itu. Sejauh yang mereka tahu, aku sedang giat bertualang kencan dengan para pemuda tampan keturunan keluarga kaya raya.

“Kami sudah memberimu banyak waktu untuk mencari pasangan yang pas selama dua tahun terakhir ini.” Dadyku terdengar sama sekali tidak terkesan dengan omonganku. “Kamu bahkan tidak punya satu pun pacar yang serius sejak… hubungan terakhirmu itu. Jelas sekali kamu tidak merasakan urgensi yang sama seperti kami, makanya aku mengambil alih urusan ini.”

Cangkir tehku terhenti menggantung di udara tepat di depan bibirku. “Maksud Dady?”

Kupikir berita penting yang dia maksud di telepon tadi adalah soal kakakku atau masalah perusahaan. Tapi kalau…

Darahku mendadak terasa membeku.

Tidak. Tidak mungkin.

“Maksudku, aku sudah mendapatkan jodoh yang cocok untukmu.” Dady melepaskan bom informasi itu tanpa peringatan dan tanpa ekspresi emosi sedikit pun. “Aku butuh usaha yang cukup keras untuk ini, tapi kesepakatannya sudah resmi selesai.”

Aku sudah mendapatkan jodoh yang cocok untukmu.

Potongan kata-kata dari pernyataannya itu menghantam dadaku, hampir merusak topeng ketenangan yang berusaha kujaga.

Dentang cangkir tehku yang beradu saat ditaruh kembali ke piring tatakannya langsung membuahkan kerutan dahi dari Momyku.

Untuk sekali ini, aku terlalu sibuk memproses kenyataan ini hingga tidak sempat peduli pada rasa tidak suka Ibuku.

Pernikahan yang dijodohkan memang hal yang lumrah di dunia bisnis besar dan perebutan kekuasaan kami, tempat di mana pernikahan bukanlah soal cinta, melainkan persekutuan strategi. Orang tuaku menjual kakakku demi sebuah gelar bangsawan, dan aku tahu giliranku pasti akan tiba. Aku cuma tidak menyangka jalannya akan begitu… begitu cepat.

Campuran rasa terkejut, ketakutan, dan horor yang pahit menjalar dan menyumbat tenggorokanku.

Aku dituntut untuk masuk ke dalam kontrak seumur hidup setelah 'usaha yang cukup keras' dari Dadyku. Benar-benar hal yang sangat diimpikan oleh setiap wanita.

“Kami sudah membiarkanmu mengulur waktu terlalu lama, dan perjodohan ini akan sangat menguntungkan bagi keluarga kita,” lanjut Dadyku. “Aku yakin kamu akan setuju begitu kamu bertemu dengannya di makan malam nanti.”

Campuran rasa takut di dalam diriku kini berubah menjadi racun yang menggerogoti organ dalamku. “Makan malam? Maksud Dady, makan malam... nanti malam?” Suaraku terdengar jauh dan asing, seolah-olah aku sedang mendengarnya di dalam mimpi buruk. “Kenapa Dady tidak bilang dari awal?”

Dijebak dengan berita perjodohan saja sudah cukup buruk. Namun, harus bertemu calon tunanganku tanpa persiapan sama sekali rasanya seribu kali lebih parah.

Pantas saja Momyku bersikap jauh lebih kritis dari biasanya. Dia sedang menanti kedatangan calon menantu laki-lakinya sebagai tamu.

Perutku mual, dan rasanya isi perutku bisa saja muntah tepat di atas karpet Persia kesayangan Momyku kapan saja.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Panggilan makan malam mendadak, berita pertunanganku, pertemuan yang sudah di depan mata, pikiranku berputar hebat mencoba mengejar semua kenyataan ini.

“Dia baru bisa mengonfirmasi kehadirannya hari ini karena… masalah bentrok jadwal.” Dady merapikan kemejanya. “Kamu juga harus bertemu dengannya pada akhirnya. Tidak ada bedanya apakah itu nanti malam, minggu depan, atau bulan depan.”

Sebenarnya, itu sangat berbeda! Ada perbedaan besar antara siap secara mental untuk bertemu calon tunangan dengan dijebak secara mendadak tanpa peringatan seperti ini.

Bantahan itu cuma bisa tertahan di dalam dada, tidak akan pernah berani keluar dari mulutku.

Membantah orang tua adalah hal yang terlarang keras di kediaman keluarga Clifford. Aku tetap terikat pada aturan itu bahkan setelah dewasa, dan ketidakpatuhan akan selalu dibalas dengan hukuman cepat serta makian yang tajam.

“Kami ingin menyelesaikannya secepat mungkin,” Momyku menyela. “Merencanakan pernikahan yang layak itu butuh waktu, dan calon tunanganmu ini, yah, agak perfeksionis soal detail.”

Lucu sekali bagaimana dia sudah menyebut pria itu sebagai calon tunanganku padahal aku sendiri belum pernah bertatap muka dengannya.

“Majalah Mode Palle Vie menobatkannya sebagai salah satu lajang paling idaman di dunia di bawah usia empat puluh tahun pada tahun lalu. Kaya, tampan, berkuasa. Jujur saja, Dadymu benar-benar melampaui ekspektasi kali ini.” Momy menepuk lengan Dady dengan wajah berbinar-binar.

Aku belum pernah melihatnya seantusias ini sejak dia berhasil mendapatkan posisi di komite perencanaan Lelang Anggur Masyarakat Boston tahun lalu. “Itu… bagus sekali.” Senyumku goyah karena usaha keras menahannya agar tidak runtuh.

Setidaknya, calon suamiku mungkin masih punya gigi yang utuh. Aku tidak akan heran jika orang tuaku nekat menikahkanku dengan miliarder renta yang sudah di ambang kematian. Bagi mereka, uang dan status adalah yang utama, hal lainnya hanyalah urusan belakangan.

Aku menarik napas dalam-dalam dan memaksa otakku agar tidak berpikiran makin liar ke arah sana.

Kendalikan dirimu, Anna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!