NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKSANTO JALADARTA

Peperangan usai, semua prajurit pulang membawa banyak hadiah dari raja mereka.

Buksa menunggangi kudanya dengan pelan. Ia tak memacu hewan itu, sengaja memperlambat.

Sungguh hatinya masih sakit akibat pengkhianatan Dayang Hayatri. Perempuan cantik, seorang amben putri, yang bertugas sebagai penyisir rambut Ratu Sandika.

Ia bertemu dengan gadis itu ketika pertama kali di kepuntren istana putri. Hayatri berwajah teduh dan ayu. Rambutnya panjang terurai, tubuhnya kurus dan sering membungkuk karena jabatan rendahnya.

Buksa jatuh cinta padanya pertama kali. Tetapi saat itu ia sedang menjalin pertunangan dengan putri bangsawan bernama Rara Ayu Ninten Sailindri.

Setelah ia menikah dan jadi punggawa, satu bulan kemudian ia mengambil Hayatri sebagai dayang-dayang untuk melayaninya.

"Mas ... kita baru menikah dan kau membawa perempuan ke rumah!' teriak Ninten tak percaya.

'Aku punya hak. Dia cinta pertamaku!" sentak Buksa angkuh malam itu.

"Untuk menghormatimu. Aku tak menjadikannya selir, tetapi dayang-dayang khusus untukku!" lanjutnya tegas.

Airmata Ninten jatuh saat melihat Buksa merangkul wanita lain. Pria bernama asli Buksanto Jaladarta membawa Hayatri ke pendopo timur dan bermalam di sana.

'Hrrrrr!" suara kuda menyentak kesadaran Buksa. Ia telah sampai di gerbang rumahnya yang besar.

Selama sembilan belas tahun menyimpan dayang-dayang. Ternyata dayang-dayang kesayangannya itu berkhianat.

"Ditro Sentot!' ia menggeram marah mengingat pria yang menjadi kepala prajurit di bagian pendopo di mana Hayatri tinggal.

"Bu ...."

Krieet! Pintu gerbang terbuka, hari belum pagi, udara masih dingin, bahkan kabut belum pergi.

"Kau sudah pulang Mas?" Ninten membuka lebar-lebar pintu gapura.

"Kenapa kau yang buka ...."

"Kau lupa Mas. Akulah yang membuka pintu untukmu setiap pulang," potong Ninten tenang.

Buksa terdiam, ia lupa atau tidak memperhatikan siapa yang membuka pintu ketika pulang dini hari.

Ia pun turun dari kudanya dan membawa hewan itu masuk, Ninten menutup pintu gerbang ketika suami dan kudanya masuk.

Buksa membantu istrinya menutup pintu gerbang.

"Apa aku tidak menempatkan penjaga di sini?" tanyanya lalu melihat sekelilingnya.

"Mas ... Aku yang menyuruh mereka semua istirahat. Aku kasihan melihat mereka jika berjaga hingga larut. Terlebih udara begitu dingin," jawab Ninten.

Lalu ia berjalan, melewati suaminya dan meraih tali kekang membawa tunggangan itu ke area kandang. Buksa mengekori istrinya.

Ninten menoleh pada sang suami, keningnya berkerut, bingung.

"Mas ... Bukannya kamu langsung ke pendopo dan memadu kehangatan bersama dayangmu Hayatri?" tanyanya.

Buksa berhenti mendapat pertanyaan itu. Ia seperti disindir secara halus oleh istrinya.

Karena tidak mendapat jawaban, Ninten meneruskan langkahnya ke kandang kuda.

Hiiik! Seekor kuda lain begitu gelisah. Ninten menambatkan kuda suaminya di tempat lain dan mendekati kuda berwarna hitam pekat itu.

"Wesi ... Ada apa?" tanyanya membelai kepala binatang yang tengah gelisah.

"Ninten ... Jangan seperti orang gila. Kau berbicara dengan binatang!" seru Buksa tak suka, ia sampai menoleh sana-sini. Memastikan jika tak ada yang melihat keanehan istrinya.

"Mas ... Dia juga makhluk hidup!" sahut Ninten kesal.

Ia terus membelai kuda itu hingga tenang.

"Katakan padaku Wesi ... Apa yang kau inginkan?" tanya Ninten lembut.

HIiiiik ... Hrrrrr!! Wesi bersuara sambil menghentak-hentakkan satu kaki depannya pelan.

"Kau ingin pergi ke tuanmu sesungguhnya?"

Hiiikk ... Hrrrr! Kuda itu mengangguk seakan membenarkan.

"Ninten! Pemiliknya sudah gugur!"

"Tidak Mas. Pemiliknya masih ada!" seru Ninten.

"Kanda Abda sudah gugur!"

"Kuda ini ada pewarisnya! Apa Mas mau merebut harta anak yang sudah tidak memiliki siapa-siapa!" teriak Ninten marah.

Wanita yang memakai kebaya hitam, rambutnya ia sanggul kecil dengan tusuk bandul emas. Melangkah mendekati suaminya.

"Sudah saatnya Mas mengembalikan seluruh harta milik Kanda Abda pada Srikandi!"

"Kau tidak tau Nyimas, adik Kanda sangat serakah ... Dia bisa merampas ...."

"Srikandi bukan anak yang mudah ditindas. Aku yakin Kanda Abda mendidiknya jadi wanita kuat!" potong Ninten tegas.

"Besok pagi aku akan bawa Wesi dan beberapa harta yang dititipkan Sri Baginda Raja untuk anak itu. Kita terlalu lama menyimpannya. Setiap malam aku mimpi buruk ketika melihat upeti itu!" putus Ninten tegas.

Ia pun menghadap kuda yang bernama Wesi. Mengelus kembali kepala binatang itu lembut.

"Tenang Wesi. Kau pasti akan bersama tunggangan yang berhak atas dirimu!" ucapnya yakin.

Lalu Ninten berbalik, menatap sebentar suaminya dan melangkah melewati pria itu.

"Kau melanggar batasanmu, Nyimas ... Aku suamimu!" suara Buksa tertahan.

Ninten berhenti melangkah tubuhnya membelakangi suaminya.

"Batasanku juga kau langgar ketika kau membawa dayang ke dalam rumah ini Mas Buksa. Padahal sebelum menikah. Kau tau jelas apa saja yang kau janjikan!" jawab Ninten tenang.

Buksa mengepal kuat-kuat tangannya hingga memutih. Ia seperti tertampar keras oleh kata-kata istrinya. Teringat akan janji pernikahan, tidak akan menduakan sang istri di depan mendiang ayah wanita itu.

"Kau lupa berteduh di bawah atap peninggalan orang tuaku, Mas," sahut Ninten lirih.

Buksa terdiam di tempatnya berdiri, bayang-bayang kuda hitam yang tadi meringkik pelan seolah menertawakan kehancurannya sebagai seorang suami. Kata-kata Ninten tadi bukan sekadar protes; itu adalah vonis.

"Atap ini milik orang tuaku, Mas," ulang Ninten, kini ia berbalik menatap Buksa dengan mata yang memerah namun tajam.

"Dan kau berdiri di dalamnya dengan membawa pengkhianatan yang kau sebut cinta, serta harta dari mendiang Kanda Abda yang kau simpan di balik ketakutanmu sendiri. Apakah hatimu benar-benar buta, atau hanya ego yang sudah membusuk?"

Buksa tidak menjawab. Ia hanya bisa menunduk, menatap tanah yang lembap oleh embun. Lidahnya kelu. Biasanya, ia akan membentak, menunjukkan otoritasnya sebagai seorang punggawa, tapi kali ini—di hadapan Ninten yang biasanya patuh—ia merasa kerdil.

"Besok pagi, aku yang akan memimpin perjalanan ke bukit Menoreh," suara Ninten kembali tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan bagi Buksa.

"Aku akan membawa Wesi dan seluruh upeti itu. Jika kau ingin menjaga harga dirimu sebagai punggawa, ikutlah. Tapi jangan harap kau bisa menyentuh Srikandi dengan kelicikanmu itu."

"Kau akan dimarahi Sri Baginda Raja, Ninten!'

"Tidak masalah!" seru Ninten.

"Aku hanya mengembalikan apa yang jadi haknya Srikandi!" tambahnya tegas.

Ia pun melangkah hendak masuk lewat pintu belakang.

"Nyimas ... aku terluka!' Ninten terkejut, ia kembali berbalik menatap cemas suaminya.

Airmata Buksa menetes, sembilan belas tahun, setelah membawa Hayatri ke kediaman itu. Ia tak lagi melihat wajah istrinya secara seksama.

Ninten terkejut melihat suaminya meneteskan airmata. Ia langsung mendekat dan memapah tubuh sang suami.

"Mas ... kenapa tidak bilang dari tadi? Mana yang luka? Apa luka dalam? Apa luka badan?" cecarnya penuh kekhawatiran.

Buksa merinding, setiap ia pulang. Ia akan langsung pergi ke pendopo dan bermanja dengan Hayatri. Padahal perempuan itu tidak bertanya apapun, Buksa hanya ingin didengarkan saja.

Berbeda jika ia bersama istrinya, Ninten akan mengadu tentang kelakuan putra dan putri mereka. Danar yang selalu sok jago dan Datira yang mengikuti jejak kakaknya.

Buksa ingin tenang dan diperhatikan setiap pulang. Bukan disuguhi segala keluhan masalah keluarga.

"Duduklah, Mas. Ini minum ramuan rempah-rempah untuk menyegarkan staminamu," ujar Ninten mendudukkan suaminya di sebuah kursi berbahan busa empuk.

Buksa menerima minuman itu dan menenggaknya habis. Tak lama, tubuhnya terasa hangat dan segar.

Ninten mulai sibuk di dapur, menyiapkan makanan dan mencuci sebagian wadah kotor. Tak ada abdi dalem di sana. Semua masih terlelap, kini ia sadar. Rumah itu tetap berasap karena istrinya di sana selalu menghangatkan rumah.

Ia mendekat, menghentikan semua kegiatan sang istri.

"Mas?"

Tiba-tiba tubuh Ninten terangkat, ia memekik kaget.

"Mas?"

"Diamlah dan jangan bicara apapun!" perintah Buksa lalu membawa istrinya dalam gendongan ke kamar mereka yang telah lama dingin.

Bersambung.

Ah ... cinta itu memang membingungkan.

next?

1
Anita Barus
Srikandi jengkel PD petinggi istana yg membela kebo Ireng hingga dia menyerah kan benda temuan nya .
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
adiknya keknya terbuat dari tanah sengketa 😄🤣🤣🤣
Benny Badaruddin
ternyata seperti itu 🤭
Eni Istiarsi
sedikit demi sedikit kebenaran mulai menemukan jalannya
Anita Barus
Srikandi hebat y bisa menciptakan ilmu send8ri
Benny Badaruddin
keren Ki abda👍
vania larasati
lanjut
Deyuni12
hmm
Deyuni12
huaaaa
emang enak ketahuan semua kejahatan dirimu hayatri
Anita Barus
lanjut Thor tumpas habis penghianat
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
diam diam Nyi Padan Laran sepertinya menjadi tokoh kunci terbunuhnya Ki Abda
Deyuni12
makin seru n menegangkan
Deyuni12
lanjutan
Benny Badaruddin
seru dan menarik lanjut
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Anita Barus
seru juga serem lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!