NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah awal menuju tempat terkutuk

BAB 17 - Langkah Awal Menuju Tempat Terkutuk

Seketika suasana di ruang tamu itu menjadi hening sepeninggal bentakan keras Kiai tadi. Langkah ayah dan paman Mira teratur mundur, meski dada keduanya masih kembang kempis menahan sisa amarah yang belum sepenuhnya padam.

Kiai pun melangkah mendekati Agus yang terduduk lemas di lantai dengan wajah penuh luka memar. Sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir pemuda itu dengan sapu tangan, Kiai menatapnya dalam-dalam, penuh ketenangan.

"Nak Agus, apakah engkau masih ingat jalan menuju tempat paranormal yang dulu kalian datangi itu?" tanya Kiai, nada suaranya kembali lembut dan menyejukkan hati.

Agus meringis kesakitan saat mencoba menggerakkan rahangnya yang kaku. Namun, di balik rasa sakit itu, sorot matanya justru memancarkan ketegasan yang luar biasa.

"I-iya, Kiai. Saya masih ingat betul setiap jengkal jalannya," sahut Agus dengan napas tersengal, namun sarat akan tekad yang tak tergoyahkan. "Sebagai bentuk tanggung jawab dan penebusan atas kesalahan besar yang telah saya perbuat, saya bersedia mengantarkan Kiai dan rombongan ke tempat terkutuk itu. Saya siap menanggung segala risikonya, asalkan Mira dan sahabat saya, Indra, bisa selamat dan kembali pulang dengan selamat."

Mendengar ketulusan yang mengalir dari setiap kata yang diucapkan Agus, dinding pertahanan ego di hati ayah dan paman Mira akhirnya runtuh seketika. Keduanya terdiam, menyadari bahwa di balik kesalahan fatal yang telah diperbuatnya, pemuda yang kini terkapar di hadapan mereka ini justru memiliki niat yang tulus dan jiwa yang besar untuk memperbaiki segalanya.

"Sungguh mulia niatmu itu, Nak. Di balik kekhilafanmu, engkau ternyata memiliki tanggung jawab yang sangat tinggi," ujar Kiai dengan senyum teduh, mengapresiasi keberanian dan keteguhan hati Agus.

Lantas, Kiai menoleh dan memanggil kedua murid kepercayaannya yang berdiri di sudut ruangan.

"Sekarang kita bagi tugas," perintah Kiai, nadanya berubah seketika menjadi serius dan tegas. "Ahmad, sebagai murid tertua, tugasmu adalah mendampingi Nak Agus menuju kediaman paranormal itu untuk memastikan lokasi dan situasinya. Sementara kamu, Dodi, segera kembali ke pesantren. Panggil beberapa santri senior dan bawa mereka ke sini. Kalian harus meruqyah rumah ini dan memulihkan kondisi Nak Mira."

Begitu pembagian tugas selesai, suasana malam di luar sana seolah ikut berubah menjadi menegangkan. Rumah itu terasa makin mencekam saat angin dingin mulai menyusup lewat celah-celah jendela, membawa hawa yang tak biasa.

"Kalau begitu, aku ikut sama Bang Ahmad dan Agus ke tempat itu. Aku harus memastikan tempat keparat itu hancur lebur!" ujar paman Mira tegas. Suaranya masih terdengar ketus dan keras, gengsi serta egonya sebagai laki-laki belum sepenuhnya meredam amarah.

Sementara itu, Kiai memilih untuk tetap tinggal di rumah Mira. Beliau khawatir keberadaan makhluk gaib yang mengganggu belum benar-benar pergi dan bisa kembali kapan saja. Dodi pun segera berangkat ditemani ayah Mira menuju pesantren menggunakan mobil untuk menjemput bantuan.

Karena jalanan menuju kediaman dukun itu semakin sempit dan tak bisa dilewati kendaraan roda empat, Ahmad, Agus, dan paman Mira terpaksa berboncengan bertiga menaiki satu-satunya motor yang tersedia di sana.

Ahmad tetap fokus mencengkeram setang dengan tenang, membelah jalanan berbatu yang kian menyempit dan berkelok. Di tengah duduknya, Agus hanya bisa meringis menahan ngilu setiap kali embusan angin malam menerpa wajahnya yang penuh luka memar. Sementara paman Mira yang duduk paling belakang, sedari tadi badannya kaku. Matanya terus celingukan waspada, memperhatikan deretan pohon pinus yang tumbuh rapat di kiri dan kanan jalan. Hawa panas amarahnya perlahan terhapus, digantikan oleh rasa ngeri yang mulai merayap pelan di sekujur tulang belakangnya.

Hawa dingin khas hutan pinus langsung menusuk hingga ke tulang, menembus celah jaket tebal yang mereka kenakan. Pohon-pohon tinggi menjulang tampak bagai barisan raksasa hitam yang diam-diam mengawasi kedatangan mereka. Desau angin yang bergesekan dengan dedaunan menciptakan suara berbisik-bisik, seolah saling menyahut membicarakan nasib ketiga manusia yang nekat melintas di wilayah itu.

Paman Mira mempererat cengkeramannya pada besi belakang motor. Pelipisnya mulai basah oleh keringat dingin. Egonya perlahan goyah, namun ia masih berusaha bertahan demi harga dirinya.

"Gus... masih jauh lagi nggak? Jalanan macam apa ini, makin ke dalam kok rasanya makin nggak beres," ketus paman Mira, berusaha menyembunyikan getar ketakutan dalam suaranya di balik nada gerutu.

"Tidak lama lagi, Paman. Sebentar lagi kita sampai. Tapi setelah ini, kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menuju rumahnya," jawab Agus, berusaha tetap tenang meski rasa sakit di wajahnya tak kunjung hilang.

Mendengar kata 'berjalan kaki', pertahanan diri paman Mira runtuh seketika. Bayangan harus berjalan menembus kegelapan hutan pinus yang angker itu membuat nyalinya benar-benar menciut. Untuk menutupi rasa takut yang meluap, ia justru memilih untuk membentak.

"Hah... jalan kaki katamu?! Kenapa nggak bilang dari tadi?! Kalau tahu ujung-ujungnya harus jalan kaki di tengah hutan seram begini, nggak akan sudi aku ikut!" bentak paman Mira, suaranya meninggi dan memecah kesunyian malam yang mencekam.

"Sudah, cukup! Ingat apa tujuan kita ke sini? Percuma kalian berdebat di jalan begini, takkan menyelesaikan masalah Adik Mira maupun Nak Indra," potong Ahmad dengan nada rendah namun penuh penekanan. Kalimat itu seketika membungkam protes paman Mira, yang napasnya mulai memburu karena tegang bercampur marah.

Di tengah kegelapan yang semakin pekat, Agus tiba-tiba menepuk pundak Ahmad cukup keras.

"Bang Ahmad, berhenti di depan. Di dekat pohon yang tumbang itu, jalannya sudah habis," bisik Agus, suaranya setengah berteriak menembus deru angin malam.

Ahmad mengangguk paham. Tak lama kemudian, motor yang mereka kendarai pun berhenti tepat di titik yang ditunjuk Agus. Begitu Ahmad mematikan mesin, keheningan hutan pinus seolah langsung menyergap dan menelan mereka utuh. Desis angin yang menerpa dedaunan menciptakan bunyi berdesir yang membuat bulu kuduk meremang, ditambah suara hewan-hewan malam yang bersahutan seolah sedang menyambut kedatangan tamu tak diundang.

Di situlah mereka sadar, bahwa perjalanan selanjutnya yang harus ditempuh dengan berjalan kaki akan jauh lebih berat dan berbahaya. Karena mereka tahu, saat ini kaki mereka telah melangkah masuk ke pekarangan "alam" yang tak kasat mata.

BERSAMBUNG

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!