Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Malam semakin larut.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul Duapuluh tiga lewat delapan belas.
Hampir Empat jam.
Hampir Empat jam penuh Marcel berkeliling kota mencari keberadaan Dave.
Dan selama hampir empat jam itu pula tidak ada satu petunjuk pun yang berhasil ia temukan.
Mobilnya kini terparkir di pinggir jalan.
Mesin masih menyala.
Sementara Marcel memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa nyeri.
Ia lelah.
Tapi rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada rasa lelah tersebut.
"Tuan... Sebenarnya Anda ke mana..."
gumamnya pelan.
Tepat saat itu.
Ponselnya bergetar.
Layar menyala.
Sebuah nama muncul.
_Prasetyo_
Marcel langsung meraih ponselnya.
"Halo!"
Nada suaranya terdengar lebih panik dari yang ia sadari.
Di seberang sana Prasetyo bahkan sempat terdiam beberapa detik.
"Lo... santai dulu, Cel."
"Pras..? Ada apa..?"
"Kenapa suara lu kayak orang mau nyari anak hilang..?"
Marcel menghela napas kasar.
"Jangan bercanda."
"Lu lihat Tuan Dave..?"
Prasetyo terdiam sejenak, ternyata Marcel bisa menebak.
"Nah itu..."
"Aku sebenarnya mau kasih tahu soal itu."
Marcel langsung menegakkan punggungnya.
"Di mana dia?"
"Aku lagi ada di Bar Ecl*pse." jawab Pras.
"Bar Ecl*pse..?"
"Iya."
Prasetyo melirik ke arah meja yang berada beberapa meter darinya.
"Aku lihat Bos lu di sini."
Marcel membeku.
"Apa..?"
"Bos lu ada di sini."
"Sendirian."
Prasetyo menambahkan.
"Dan kayaknya..."
Ia menggaruk pipinya.
"...mabuk."
Jantung Marcel langsung berdegup lebih cepat.
"Mabuk..?"
"Iya."
Prasetyo sendiri masih terlihat bingung.
Karena selama mengenal Dave.
Pria itu terkenal sangat disiplin.
Kalau pun minum alkohol.
Pasti dalam batas yang wajar.
Tidak pernah sampai kehilangan kendali.
Makanya saat melihat sosok Dave duduk sendirian di pojok bar dengan beberapa gelas kosong di atas meja.
Prasetyo sempat mengira dirinya salah lihat.
"Aku juga heran."
"Biasanya lu kan nempel terus sama Bos lu."
"Kayak jam sama tangan."
"Eh ini malah Bos lu sendirian."
Marcel menutup matanya sejenak.
Rasa lega dan panik bercampur menjadi satu.
Setidaknya sekarang ia tahu keberadaan Dave.
Namun kondisi yang disebutkan Prasetyo justru membuatnya semakin khawatir.
"Pras."
"Hm..?"
"Kirim alamat lengkapnya sekarang."
"Oke Broo."
Tak sampai beberapa detik.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Marcel.
Marcel langsung menyalakan lampu sein.
Bersiap kembali melajukan mobilnya.
Namun sebelum menutup telepon.
Ia berkata lagi.
"Pras."
"apa lagi..?"
"Tolong temani dia sebentar."
Prasetyo menoleh ke arah Dave yang masih duduk sendiri.
Tatapannya kosong.
Segelas minuman masih berada di tangannya.
"Tenang."
"Aku tunggu sampai lu datang."
"Jangan biarkan dia pergi ke mana-mana."
"Siap."
Marcel mengembuskan napas lega.
"Terima kasih."
Prasetyo tertawa kecil.
"Baru kali ini aku dengar lu ngomong terima kasih sebanyak itu."
Marcel tidak menanggapi.
Karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
"Tunggu aku."
Panggilan pun berakhir.
Mobil Marcel langsung melesat meninggalkan tempatnya.
Kecepatan mobil meningkat.
Meski tetap dalam batas aman.
Di dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Dave hari ini?
Sementara itu.
Di Bar Ecl*pse.
Suasana masih ramai oleh musik dan percakapan para pengunjung.
Di sudut ruangan yang agak sepi.
Dave duduk seorang diri.
Jas mahalnya masih melekat rapi.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya.
Prasetyo memperhatikannya dari kejauhan.
Lalu perlahan menghampiri.
"Pak Dave."
Dave mengangkat pandangannya.
Sedikit menyipit.
Berusaha mengenali siapa yang berbicara.
"Prasetyo..?"
Prasetyo tersenyum tipis.
"Masih kenal ternyata."
Dave tertawa pelan.
Tawa yang terdengar hambar.
"Kamu ngapain di sini..?"
"Harusnya saya yang tanya."
Prasetyo menarik kursi.
Duduk di hadapan Dave.
"Marcel hampir keliling kota nyari Bapak."
Mendengar nama Marcel.
Dave hanya menunduk.
Lalu tersenyum tipis.
"Dia terlalu khawatir."
"Memang."
Prasetyo mengangguk.
"Karena orang yang dicarinya ini penting."
Untuk beberapa saat.
Dave tidak menjawab.
Tatapannya kembali jatuh ke gelas di depannya.
Lalu dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya.
Ia berkata.
"Pras..."
"Ya Pak..?"
"Pernah gak..."
Dave terdiam beberapa detik.
"...merasa kehilangan seseorang."
"Dan setelah bertahun - tahun berlalu..."
"Rasa sakitnya ternyata masih sama..?"
Prasetyo membeku.
Dan untuk pertama kalinya malam itu.
Ia mengerti.
Bahwa yang sedang menghancurkan Dave malam ini bukanlah bisnis.
Bukan pekerjaan.
Melainkan luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
*Bucin akut si Dave* 🥺
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁