Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Minta Maaf
Regan melangkah tenang melintasi tikar pandan yang ujungnya terkelupas, lalu memutar gagang pintu kayu yang engselnya berderit nyaring.
Sinar matahari pagi Jakarta menerobos masuk dengan brutal, menyilaukan mata sejenak. Bau tanah lembap sisa hujan badai semalam menguap ke udara, berbaur dengan aroma bumbu kacang dari pedagang gorengan di ujung gang Bendungan Hilir.
Nara berdiri di ambang pintu.
Gadis itu mengenakan kemeja katun rapi berlengan pendek dan celana jeans biru pudar. Rambut hitamnya diikat kuda tinggi. Tidak ada lagi sisa kepanikan atau amarah yang meledak ledak seperti malam sebelumnya. Wajahnya cerah. Napasnya teratur.
Di tangan kirinya, Nara menggenggam erat gulungan koran Pos Kota edisi pagi.
"Lu udah baca koran hari ini?" Nara melangkah maju satu tindak. Suaranya stabil, namun resonansinya dipenuhi getaran kelegaan yang luar biasa tebal.
Regan mengangguk santai. "Gue suruh Herman beli di perempatan jalan subuh tadi."
Nara membuka gulungan koran itu cepat. Ia meratakannya di atas meja kayu kecil yang mengotori teras kontrakan. Tinta cetak hitam itu menampakkan tajuk utama yang memakan seperempat halaman depan, menggeser berita kriminal harian.
KLARIFIKASI DAN PERMOHONAN MAAF: TUDUHAN PENCUCIAN UANG TIDAK BERDASAR.
Di bawah judul besar itu, tertulis ralat resmi dari pihak redaksi. Mereka membersihkan nama inisial R dan Toko Sinar Jaya sepenuhnya. Redaksi bahkan secara eksplisit mengakui kelalaian mereka, menyatakan bahwa informasi sebelumnya adalah murni fitnah dari narasumber anonim yang memiliki motif balas dendam pribadi. Tidak ada satupun aparat yang akan berani menyentuh Glodok setelah klarifikasi terbuka ini.
"Tetangga ruko bapak gue bungkam total pagi ini," ucap Nara. Tangannya mengusap permukaan koran itu seakan sedang memastikan huruf huruf itu nyata. "Beberapa dari mereka malah datang bawa teh manis sama jajanan pasar buat minta maaf ke bapak. Penjualan toko langsung normal."
Regan menyandarkan sebelah bahunya di kusen pintu. Posturnya dominan, rileks, menguasai seluruh tempo percakapan. "Bapak lu udah bisa tidur tenang?"
Nara mendongak. Mata cokelat terangnya menabrak tatapan dingin Regan. Tapi pagi ini, dinding pertahanan gadis itu runtuh tidak bersisa. Tidak ada lagi interogasi keras kepala.
"Bapak gue sampai menangis lega di belakang meja kasir," suara Nara memelan. Gadis pantang menyerah itu menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang mendesak naik ke tenggorokannya. "Lu benar, Re. Ralat resmi di koran nasional jauh lebih memukul mental orang orang pasar daripada sekadar adu mulut buat membela diri."
Regan tidak membalas dengan kalimat menggurui. Ia hanya menatap wajah Nara lamat lamat. Di kehidupan sebelumnya, ia menggunakan kekuasaan triliunan rupiah hanya untuk menghancurkan toko saingan, tapi tidak pernah sekalipun ia melihat raut kelegaan sedalam ini di wajah perempuan yang ia cintai.
Nara menggeser telunjuknya ke sudut kiri bawah halaman satu koran tersebut.
"Tapi ini yang bikin anak anak himpunan kampus gempar sejak jam tujuh pagi tadi." Nara mengetuk sebuah kolom kecil dengan font tebal.
Sebuah cuplikan berita investigasi untuk edisi akhir pekan.
SKANDAL DANA SEMINAR MAHASISWA: UANG SEWA GEDUNG MENGALIR KE REKENING PRIBADI KETUA PANITIA.
"Dion nggak berani masuk kelas hari ini," lanjut Nara cepat. "Anak anak bilang dia ditarik paksa ke ruang dekanat. Semua panitia inti seminar ditahan rektorat buat dimintai keterangan. Katanya ada bukti mutasi rekening fiktif yang dikirim ke meja tata usaha."
Regan mempertahankan ekspresi datarnya. "Hukum sebab akibat, Ra. Dion menabur angin, dia harus siap memanen badai."
"Lu yang kirim data aliran dana Dion ke redaksi koran ini semalam?" Nara memajukan tubuhnya. Insting cerdasnya langsung memetakan pola serangan tersebut.
"Gue cuma kasih tahu pemimpin redaksinya arah mata angin yang benar." Regan melipat tangannya di dada. "Wartawan yang kelaparan mencium bau darah akan menggali bangkainya sendiri sampai ke akar."
Nara terdiam. Ia menunduk menatap ujung sepatu kanvasnya yang sedikit kotor oleh lumpur gang. Suasana di teras sempit itu mendadak hening. Suara sapu lidi dari ibu kos yang membersihkan halaman depan dan deru samar mesin bajaj dari jalan raya menjadi latar belakang momen napas ini.
Ini adalah titik balik mutlak. Di kehidupan sebelumnya, Regan harus menunggu bertahun tahun, menebar aset, dan memakai kekuasaan brutal untuk sekadar mendapat perhatian dari kaum elit. Namun hari ini, di gang kumuh yang baunya tengik, Nara melangkah datang menemuinya tanpa paksaan. Gadis ini melihat menembus status sosial Regan yang compang camping.
Nara mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap lurus tepat ke dalam pupil mata Regan.
"Gue minta maaf, Re," ucap Nara tegas. Tidak ada keraguan, tidak ada gengsi murahan yang ditahan. "Semalam gue datang ke sini dengan kepala panas. Gue nuduh lu sembarangan. Gue mikir lu main kotor dan mempertaruhkan nyawa lu cuma buat dapat uang cepat dari mafia."
Regan membalas tatapan gadis itu tanpa berkedip. "Lu cuma khawatir bapak lu kena imbasnya. Gue sangat paham itu."
"Bukan cuma soal bapak gue," potong Nara cepat. Napas gadis itu tertahan sejenak di dada. "Gue marah karena gue pikir lu menghancurkan masa depan lu sendiri. Gue nggak mau lu hancur, Re."
Pengakuan jujur itu menghantam ulu hati Regan lebih keras daripada keruntuhan bursa saham Wall Street.
Otak predatornya yang biasa memproses manuver bisnis mematikan mendadak lumpuh total selama tiga detik. Wanita yang berdiri di depannya ini baru saja mengakui bahwa ia peduli padanya. Peduli pada keselamatannya. Bukan pada seberapa banyak uang yang ia miliki, melainkan pada eksistensi seorang pemuda bernama Regan.
Regan melepaskan sandarannya dari kusen pintu. Ia melangkah maju satu tindak. Jarak mereka menyempit drastis. Udara pagi Jakarta yang panas tiba tiba terasa berhenti mengalir di sekitar mereka.
"Gue nggak akan hancur, Ra." Suara Regan berat, mengunci indera pendengaran Nara. "Dan gue nggak akan pernah membiarkan apa pun di dunia ini menyentuh lu dan keluarga lu. Ini janji."
Mata Nara sedikit melebar. Ia menangkap ketulusan absolut dari nada suara Regan. Tidak ada gombalan picisan. Tidak ada janji manis anak remaja yang sedang mencari perhatian. Kalimat itu diucapkan layaknya sebuah sumpah suci dari seorang tiran yang bersedia membakar seisi kota demi melindungi satu orang.
Pipi Nara bersemu kemerahan. Rona itu menjalar cepat hingga ke telinganya. Gadis independen itu buru buru membuang muka, mendadak salah tingkah menyadari intensitas tatapan Regan yang terlalu mengintimidasi namun memberikan rasa aman yang gila.
"Gue harus cepat berangkat ke kampus," ucap Nara gugup. Ia memundurkan kakinya setengah langkah, merapikan tali tas kanvasnya. "Buku kas toko bapak udah gue perbaiki total pakai matriks ganda yang lu ajarin tempo hari. Nanti sore gue bawa ke perpustakaan buat lu periksa ulang."