NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pagi Penuh Ketegangan

“Maaf. Aku belum bisa.”

Malam ini, aku tahu—ketika kalimat itu terucap, maka Dimas akan merasa kecewa.

“Kapan kamu bisa? Aku siap menunggumu.” Dimas sedari tadi masih menahan tanganku. Bagai tak mau melepasnya sebelum aku setuju.

“Ada banyak alasan, Dimas. Salah satunya aku belum siap,” jawabku klasik. Sebuah jawaban template yang akan selalu menjadi senjata seseorang untuk menolak cinta.

Kulihat, wajah yang semula penuh raut pengharapan itu, kini berakhir dengan ekspresi sedih. Sepasang mata itu berkaca-kaca. Ia melepas genggamannya. Bagai tak menemukan harapan lagi di sana.

“Maaf. Tapi aku nggak bisa bohong. Aku belum bisa menikah saat ini.”

“Tapi apa alasannya? Aku cuma butuh jawaban jelas dari lisanmu, Adelin.”

“Aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu, Dimas.”

Dimas tertawa sumbang. Seolah ada getir di dalam hatinya yang tak bisa kurasakan. Ia lantas memukul-mukul tiang beton lampu jalanan di depan rumahku. Tiba-tiba, ia berlutut tepat di hadapanku.

“Dimas! Kamu kenapa? Berdiri Dimas!” perintahku dengan nada sedikit berteriak.

“Aku nggak akan berdiri sebelum kamu menerimaku Adelin.”

Aku mengacak rambutku. Kali ini, dadaku seolah diisi oleh gemuruh amarah. Laki-laki ini, sepertinya memang belum pernah melihat sikap temperamentalku. Di waktu yang sama, aku lantas memaksanya bangkit. Tiba-tiba … saat ia berdiri, bukannya pergi—ia justru hendak menciumku.

Sebuah tamparan melesat ke wajahnya. Akulah, tersangkanya. Tidak, mungkin lebih tepatnya, aku adalah korban dari segala hal yang ia paksakan sedari tadi. Wajahnya memerah. Seolah menyimpan api amarah yang dapat kulihat jelas dari raut mukanya. Lantas … ia berkata.

“Kamu pikir, satu tamparan menurunkan nyaliku?” Ia mendekat. Aku terus berjalan mundur. Hingga tiba-tiba saat ia meraih pinggangku, darahku berdesir. Keringat dingin mengalir bagai hujan di punggungku. Detak jantungku kian memburu seolah memberi sinyal bahaya. Saat ia hendak mendaratkan sebuah ciuman padaku, pintu rumahku tiba-tiba terbuka.

“Woi! Kalau kalian mau mesum jangan di situ! Di hotel sana!” suara bariton itu menghentikan aksi gila Dimas seketika. Suara dari adikku—Ridho.

Aku lantas mendorong Dimas. Hingga kini posisi kami saling berjauhan. Dimas menoleh ke arah pintu rumahku yang menampilkan sosok adikku di sana. Aku lantas berjalan cepat menuju rumah. Kemudian masuk tanpa memedulikan adikku yang masih berdiri di ambang pintu luar.

“Siapa tadi? Pacar kau, ya? Ada duitnya?” tanya Ridho padaku saat aku hendak mengganti pakaian kerjaku. Aku lantas menutup pintu kamarku. Lalu, sebuah teriakan lolos dari tenggorokkanku.

“Kenapa kau? Sudah gila kau rupanya? Dicium dikit aja takut. Alah … cemen!” Ia mengejekku di luar sana. Ia tak akan pernah tahu dengan apa yang telah terjadi sebelum ini.

Aku membiarkan suara penuh ejekkan itu menertawakanku. Sesak di dada mulai menghujam. Ada tangis yang segera ingin tumpah detik itu juga. Hingga tanpa kusadari, air mata itu mulai mengalir perlahan. Tanganku enggan untuk menyekanya. Seolah menyeka air mata adalah bentuk ketidakpedulian atas apa yang menimpaku di hari ini.

Jam terus berganti. Hingga kini menunjuk pukul empat subuh. Sebentar lagi azan subuh akan berkumandang. Terbesit dalam ingatanku untuk segera mandi. Ridho sudah tak lagi ada di ruang tamu. Aku berjalan menuju kamar mandi. Berharap luka-lukaku semalam dapat terhapus ketika air membasahi tubuhku.

***

Azan berkumandang. Lantunan panggilan azan itu seketika menyesakkan dada. Bulir kristal di balik mataku jatuh. Menetes pada mukena yang kukenakan. Inilah salat subuh pertama yang aku lakukan tepat pada waktunya. Aku berdiri dari dudukku setelah azan berkumandang. Satu kalimat takbir terucap dari lisanku.

“Allahu Akbar.” Suaraku bergetar ketika mengucapkan lafaz Allah. Tangis tak lagi bisa kubendung walau dalam salat yang aku lakukan. Hingga salat berakhir dengan penuh penghayatan.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Aku menengadahkan tangan ke atas. Tak satu pun kata yang terucap dari lisanku. Hanya tangis haru dan penuh penyesalan yang mengalir sedari tadi. Hingga satu kalimat kini mengawali doaku.

“Ya Allah … ampuni aku.” Hanya itu doa yang bisa kutuai. Aku bahkan merasa tak layak meminta apa pun pada-Nya. Dosa-dosaku, mengalahkan harapan untuk mendapatkan surga-Nya. Namun, aku masih berharap ampunan-Nya.

“Ya Allah … Engkau pasti tahu. Hamba-Mu ini tak banyak minta. Hamba cuma mau satu hal saja. Ampuni hamba.” Nada suaraku bergetar. Tangisku pun pecah sudah.

“Segala derita hamba di hari ini, murni karena kesalahan hamba sendiri. Hamba bodoh ya Allah. Hamba ….” Kalimat itu tercekat di tenggorokkan. “Engkau sendiri yang Maha Tahu ya Allah. Bahwa hamba saat ini—” Air mata menyela doa-doaku. Sedari tadi air mataku bagai tak bisa kuredam.

“Hamba hanya butuh ketenangan, ya Allah. Tapi, di mana hamba bisa menemukan itu?” lirihku berdoa. Suaraku nyaris berbisik. Tiba-tiba … seseorang membuka pintu kamarku.

“Lin? Kau nggak siap-siap kerja?”

Aku tak berani menoleh. Suara itu, adalah suara Ibu. Pertanyaannya itu, adalah momok terbesar dalam hidupku. Bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku takut jika Ibu marah atau bahkan ikut menangis bersamaku. Aku … tak ingin itu terjadi. Aku bergegas menyeka air mataku. Lalu berucap ….

“Ya, Bu. Aku mau siap-siap dulu,” ucapku pada Ibu. Kemudian berdiri dari dudukku. 

***

“Ibu udah masak nasi goreng kesukaanmu. Makanlah!” ucap Ibu mempersilakanku makan.

“Iya, Bu. Makasih ya, Bu.” Aku mulai melahap nasi goreng buatan Ibu. Dalam kunyahanku, air mata sedari tadi berhasil kutahan. Tak kuasa melihat senyum Ibu yang tulus dan hangat di pagi ini.

Tiba-tiba … Ridho datang dari arah pintu depan. Tanpa diduga, ia menampung tangan padaku.

“Minta uang!” Nada suaranya terdengar mendesak. Ia terus saja menampung tangannya ke arahku. Tiba-tiba … Ibu menyela.

“Nak, kakakmu itu sedang makan. Nantilah dulu, ya.”

“Nggak, Bu. Aku nggak bakal kasih dia lagi,” tegasku sambil meneruskan makan kembali.

“Apa kau bilang? Nggak bakal kasih gue lagi?” Ridho kaget. Ia lantas memukul meja makan berulang kali hingga menumpahkan nasi goreng buatan Ibu.

Aku meradang. Lekas membentaknya kasar.

“Lo udah gede, ya. Harusnya lo yang tulang punggung keluarga tahu, nggak?!”

“Gue? Ha ha ha … lo liat hidup gue. Hidup gue tu udah keparat.” Ridho menimpali ucapanku. Kemudian kembali bersuara.

“Emak kau ini, lebih sayang kau! Dia nguliahin kau sampai jual tanah. Nah gue? Bela-belaan demi kau berhenti sekolah.” Telunjuknya sedari tadi mengacung ke wajahku. Membuatku merasa tak nyaman. Tapi di sisi lain, aku iba dengannya.

“Sekarang, lo yang harus tanggung jawab. Ngasih makan kami. Termasuk ….”

“Apa? Apa?!” tanyaku dengan nada berteriak.

“Kasih gue uang buat nyabu.”

Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. Sepersekian detik, sebuah pukulan mendarat di wajah Ridho. Hingga kini, darah mengucur pelan di hidungnya. Ridho lantas kaget dan menampung darah itu dengan tangannya.

“Adelin! Itu adikmu! Sadar, Nak!” teriak Ibu khawatir. Tiba-tiba … aku mengucapkan satu kalimat yang menutup segala harap Ridho, termasuk Ibu.

“Gue udah nggak kerja lagi. Gue dipecat!”

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!