“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Hujan
Tok! Tok! Tok!
Buku jari yang besar dan pucat mengetuk kaca jendela mobilnya. Naura menunduk, menatap tangan itu, lalu perlahan mengangkat pandangannya ke wajah di balik kaca.
Azzam menatapnya. Rambutnya basah kuyup, setetes air menggantung di ujung hidung mancungnya, dan bajunya sudah menempel di tubuh atletisnya. Tapi matanya, matanya yang hitam pekat itu menatap Naura dengan intensitas yang membuat dada gadis itu terasa kosong.
Bukan marah atau kecewa. Hanya kelegaan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Naura menekan tombol untuk menurunkan jendela. Suara hujan langsung masuk menderu, bersama dengan tetesan air yang mengenai pipinya.
"Azzam..." nama itu meluncur dari bibir Naura tanpa ia sadari, suaranya hampir tenggelam oleh derai hujan.
Azzam menunduk, menatapnya dari luar jendela yang terbuka itu. Jarak mereka kini hanya terpisahkan oleh beberapa sentimeter. Naura bisa mencium aromanya attar, kayu cendana, dan hujan menguar kuat meski dicuci oleh air deras.
"Kamu mengigil," suara bariton Azzam menembus suara hujan, nada datarnya sudah menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih kasar. Semacam teguran yang tertahan.
"Gue... gue nggak apa-apa," Naura berbohong, giginya bergemeletuk.
"Keluar dari mobil. Sekarang."
"Azzam, gue—"
"Naura!" Azzam menyebut namanya dengan tegas. Bukan memohon, memerintah. Ia mengulurkan tangannya yang basah ke dalam jendela, menunggu. "Pindah ke mobilku. Kamu tidak bisa mengemudi dalam keadaan seperti ini, dan mobilmu tidak aman dibiarkan menyala di tengah hujan begini."
Naura menatap tangan itu. Tangan yang besar, urat-uratnya menonjol di punggungnya, dengan jari-jari yang panjang yang membuat terrarium, yang memegang kitab, yang memberinya jubah beberapa hari lalu.
Perlahan, dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, Naura meletakkan tangannya di atas telapak tangan Azzam.
Hangat.
Meski basah oleh hujan, kulit Azzam terasa hangat. Jari-jari pria itu langsung mengunci genggamannya, kuat namun tak menyakiti. Ia menarik Naura keluar dari mobil dengan satu gerakan lembut.
Naura terhuyak berdiri di atas aspal yang tergenang air, hujan langsung menyiramnya dari atas ke bawah, membasahi hoodie-nya dalam sekejap. Ia hampir jatuh, tapi tangan Azzam sudah berpindah ke pinggangnya, menahannya dengan mantap.
"Pelan-pelan," bisik Azzam tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Naura meremang hebat.
Azzam melepaskan jubah hujan (raincoat) dari dalam mobil SUV-nya yang sempat ia ambil, lalu memakaikannya ke tubuh Naura dengan gerakan cepat. Ia menutupi kepala gadis itu dengan hood jubah hujan, memastikan tak ada air yang masuk, sepenuhnya mengabaikan kenyataan bahwa dirinya sendiri basah hingga ke tulang.
"Mari." Azzam menuntun Naura ke sisi penumpang mobil SUV-nya, membukakan pintunya, dan menunggu hingga gadis itu duduk nyaman sebelum menutupnya.
Begitu pintu tertutup, dunia menjadi senyap. Suara hujan kini hanya terdengar seperti dengungan yang jauh. Kabin mobil Azzam hangat, pemanasnya menyala dan aromanya... aromanya sangat kuat di sini. Kayu cendana, teh hijau, dan sesuatu yang sangat maskulin yang membuat kepala Naura sedikit berputar.
Azzam berjalan mengelilingi kap mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menutup pintunya. Ia mengibaskan rambutnya yang basah, setetes air meluncur dari rahangnya dan jatuh ke kerah bajunya.
Ia tak segera menyalakan mesin. Ia hanya duduk di sana, menarik napas panjang, lalu menoleh menatap Naura.
Naura menunduk, menghindari tatapan itu. Ia memainkan resleting jubah hujan yang terlalu besar untuk tubuhnya. Suasana hening. Terlalu hening. Kehadiran Azzam di ruang sempit ini membuat napas Naura sesak.
"Maaf," bisik Naura akhirnya, suaranya retak.
Ia tidak tahu mengapa ia meminta maaf. Mungkin karena kabur, merepotkan Azzam, atau membuat pria itu basah kuyup karena mencarinya.
"Untuk apa?" suara Azzam terdengar rendah, bergetar di udara yang hangat.
"Karena... karena gue kabur. Gue merepotkan lo, sampai basah kuyup gitu."
Ia tak menjawab. Lalu, tangannya bergerak.
Naura menegang, mengira pria itu akan menyentuhnya. Tapi tangan itu hanya bergerak ke panel AC, menaikkan suhu penghangat. Setelah itu, Azzam meraih sesuatu dari kursi belakang selempang kain bersih berwarna cokelat muda, semacam sarung atau selimut tipis.
"Gunakan ini untuk mengeringkan rambutmu," ucap Azzam, meletakkan kain itu di pangkuan Naura. "Kamu bisa sakit jika kedinginan."
Naura menatap kain itu, lalu menatap Azzam. Pria itu masih menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia pilih untuk tidak mengataknnya.
"Azzam," panggil Naura pelan. "Lo... lo nggak marah?"
Azzam menoleh perlahan, menatap Naura dengan mata yang dalam itu. Sudut bibirnya tertarik sedikit, bukan senyum, tapi lebih pada ekspresi seseorang yang sedang berjuang untuk memahami sesuatu yang rumit.
"Marah karena kamu merasa terjebak dan memilih untuk lari?" tanya Azzam, suaranya lembut. "Atau marah karena aku tidak bisa berada di sana sebelum kamu memutuskan untuk kabur?"
Naura terkesima. Logikanya terbalik. Pria ini seharusnya marah karena calon istrinya kabur menjelang lamaran, ia seharusnya mengomelinya, mengancamnya, atau setidaknya mengeluh karena bajunya basah.
Tapi Azzam justru mempertanyakan dirinya sendiri.
"Lo aneh," lontar Naura, suaranya bergetar bukan karena kedinginan, tapi karena sesuatu yang menggerakkan di dadanya. "Kenapa lo baik banget sama gue? Gue udah menolak lo mentah-mentah. Gue—"
"Karena wasiat kakek bukan kemauanku, Naura," Azzam memotong, suaranya tegas namun teduh. "Kakekku memintaku menikahimu, dan aku pasrah. Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai bagian dari rencana itu. Kamu... orang yang tidak pernah aku sangka."
"kamu orang yang tidak pernah aku sangka."
Kata-kata itu menghujam dada Naura dengan kelembutan yang menyakitkan. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk mencegah air mata yang lagi-lagi mengancam untuk jatuh.
"Gue nggak tau harus ke mana," akui Naura pada akhirnya, suaranya tak lebih dari bisikan. "Gue cuma... panik. Gue merasa semua orang mengatur hidupku. Mama, Papa, santriwatimu di internet, bahkan kakekmu yang sudah mati. Gue hanya ingin... bertengger sebentar. Lepas dari sangkar."
"Kamu sudah bertengger," ucap Azzam pelan. "Dan kamu sadar bahwa di luar sangkar, ada badai."
Naura mengangguk kecil.
"Kamu tidak harus menghadapi badai itu sendirian, Naura," lanjut Azzam, matanya mengunci pada mata gadis itu. "Kamu bisa terbang kembali ke sangkar. Atau..." Ia mengambil jeda, "Atau kamu bisa membiarkan seseorang membangunkan sangkar yang lebih besar. Sangkar yang tidak mengurungmu, tapi melindungimu."
Naura menatap Azzam dengan mata berkaca-kaca. "Sangkar yang tidak mengurungku, tapi melindungiku."
"Apa... apa itu teks ceramah?" cibir Naura lemah, mencoba memecah ketegangan dengan sarkasme, seperti biasanya.
Tapi Azzam tidak tersenyum. Ia hanya menatap Naura dengan keseriusan yang membuat gadis itu sulit bernapas.
"Bukan," jawab Azzam datar. "Itu janji."
"Bukan teks ceramah. Itu janji."
Udara di kabin mobil terasa terlalu kecil. Jarak antara mereka terasa terlalu dekat. Naura bisa melihat setiap detail wajah Azzam bulu mata yang panjang dan basah, hidung mancung yang sempurna, dan bibir tipis yang sedikit terbuka seolah ada kata-kata lain yang ingin ia ucapkan tapi ia tahan.
Azzam mengulurkan tangannya.
Bukan untuk memegang tangan Naura atau menyentuh wajahnya. Ia hanya mengulurkan tangannya, menunggu, persis seperti saat ia memintanya keluar dari mobil tadi.
"Ini keputusanmu," ucap Azzam pelan. "Kita bisa pulang sekarang dan menghadapi semuanya bersama. Atau kita bisa duduk di sini sampai hujan reda, dan aku akan mengantarmu ke mana pun kamu ingin pergi. Bahkan jika itu berarti aku harus kembali sendirian."
Naura menatap tangan itu, tangan yang menawarkan pilihan Dan tak memaksa.
Air mata akhirnya jatuh. Ia menangis tanpa suara, bahunya bergetar, merasa sangat kecil dan sangat... aman. Dengan gemetar, ia meletakkan tangannya di atas tangan Azzam sekali lagi.
"Gue mau pulang," bisik Naura.
Azzam menggenggam tangannya erat. Ia tak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, menyalakan mesin, dan memutar kemudi.
Mobil SUV hitam itu meluncur perlahan meninggalkan jalanan kecil yang asing, membelah hujan yang mulai mereda, membawa dua orang yang baru saja menyadari bahwa mungkin, hanya mungkin takdir tidak selalu datang untuk merampas.
Kadang, takdir datang untuk menemukan hal baru yang lebih baik.
.
.
.