NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENANTI AYAH

Langkah kaki Srikandi nyaris tak bersuara saat ia meniti dahan-dahan pohon di pinggir jalan utama Desa Turi. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, namun hatinya hangat. Bayangan wajah ayahnya yang letih namun bangga saat melihatnya memakai kebaya sang ibu terus menari-nari di pelupuk mata.

"Sedikit lagi, Ayah," bisiknya.

Dari kejauhan, ular api itu kini tampak jelas. Ratusan obor menerangi malam, menyinari zirah-zirah perunggu para prajurit yang tampak kusam dan penuh goresan. Namun, telinga Srikandi yang peka menangkap sesuatu yang janggal.

Tidak ada suara tawa kemenangan. Tidak ada bualan para prajurit tentang musuh yang mereka tebas. Yang terdengar hanyalah derap langkah yang berat, ringkik kuda yang gelisah, dan suara gesekan kayu tandu yang memekakkan sunyi.

"Ayah ...?" Srikandi duduk di dahan pohon waru.

Rombongan tampak berhenti sesaat. Di sana, panglima pasukan tampak menengadahkan kepala. Nyaris seluruh tubuhnya terluka akibat sabetan pedang.

"Adipati Sengko, kita harus sampai ... Mestinya tadi kita tak memutar jalan!" seru wakil Adipati, Jalak Rawut.

Adipati Sengko menarik napas berat. Darah masih menetes dari pelipisnya, membasahi janggut tipis yang mulai dipenuhi uban.

“Kita tak mungkin melewati jalur utara,” sahutnya lirih namun tegas.

“Jembatan kayu di Kali Puru telah runtuh akibat serangan mereka.”

Jalak Rawut mengepalkan tangan.

“Tapi keadaan Ki Abda semakin buruk!”

Kata-kata Adipatinya itu membuat tubuh Srikandi menegang di atas dahan pohon.

Deg!

Matanya membesar.

"Ayah ...," bisiknya lirih.

Mata Adipati menatap satu dahan rawu yang letaknya sedikit jauh dari mereka. Ia juga memiliki ilmu kanuragan tinggi. Pasti ia tau jika ada penyusup di sana.

"Kau yang di atas pohon. Turun atau pergi. Jika tidak, aku pasti menangkapmu!" teriaknya mengancam.

Srikandi memilih pergi dan kembali ke biliknya. Ia tak mau dihukum oleh Adipati yang terkenal sangar itu.

"Paman Sengko .. Garang sekali!" gerutunya pelan.

Adipati melihat gerakan cepat menjauhi rombongan. Ia menghela nafas panjang. Sengko mengenali siapa penyusup itu.

"Srikandi ...," lalu ia menoleh arah tandu.

"Ki Abda ... Putrimu benar-benar ...," ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Bisik-bisik tentang Srikandi sudah sering ia dengar. Semua orang mengatakan jika punggawa terbaiknya itu melatih sang putri semenjak ia lahir ke dunia.

"Adipati ... Apa tadi itu Srikandi?" tanya Jalak Rawut, wakilnya.

"Ya ... Memang siapa lagi yang bisa menempuh jarak dua hari hanya dalam hitungan jari?" tanya Sengko kesal.

"Andai aku punya putra ...," keluhnya bergumam.

"Adipati ...," seorang tabib turun dari tandu di mana Ki Abda diobati.

"Bagaimana?" tanya Adipati penuh harap.

Tabib berlutut sambil menakup tangannya ke atas.

"Hamba minta maaf Adipati! Kami tidak bisa menolong Ki Abda!"

Seluruh bahu prajurit turun, kepalanya tertunduk. Bahkan kuda-kuda berlapis panji-panji kebenaran langsung gelisah.

Sementara nafas Adipati tampak berat, ia menyeka jejak darah yang mulai mengering di pelipisnya.

"Kita ke Istana! Semuanya, kedahkan ilmu meringankan tubuh kalian!" serunya keras.

"Maju!"

Hiiiii! Suara ringkikan kuda terdengar, lalu dengan gerakan cepat. Rombongan api itu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Sedangkan Srikandi telah sampai di lereng bukit tempat biliknya berdiri.

Lampu minyak di rumah kecil itu masih menyala redup. Aroma sayur waluh santan masih memenuhi ruangan.

Srikandi menutup pintu biliknya lalu mengganjalnya dengan sebatang kayu besar.

"Aku harus tidur cepat," gumamnya pelan.

"Besok Ayah pasti berada di istana. Mungkin Sri Baginda menahan beliau untuk jamuan kemenangan."

Gadis itu tersenyum kecil membayangkan wajah ayahnya.

Ia lalu melepaskan kebaya peninggalan sang ibu dengan hati-hati, melipatnya rapi, lalu menyimpannya kembali ke dalam peti kayu beraroma kenanga.

Tak lama kemudian, tubuhnya rebah di atas dipan bambu.

Mata Srikandi perlahan terpejam.

Pagi menjelang, burung-burung riuh menari di dahan. Lereng bukit yang biasa tenang kini penghuninya sangat sibuk.

Srikandi merapikan hampir seluruh rumahnya yang berbilik bambu.

Walau ayahnya merupakan seorang punggawa ternama Kerajaan Kali Ireng, kehidupan Ki Abda jauh dari kemewahan.

Tempat bernaung punggawa besar itu berdiri di atas tanah peninggalan ayah dari Ki Abda sendiri. Tidak begitu luas tapi bisa ditanami palawija dan sayur-mayur untuk menunjang kehidupannya.

Sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang dilapisi kapur putih. Atapnya dari ijuk, lantainya hanya beralas semen putih.

Berbanding terbalik dengan beberapa pemangku jabatan yang setara dengan Ki Abda. Bahkan pria itu tidak memiliki selir seperti kebanyakan pemimpin perang.

Ki Abda benar-benar memposisikan dirinya begitu sederhana dan bersahaja. Makanya, banyak yang iri dengan dirinya karena kesahajaan pria itu.

Peluh Srikandi bercucuran, ia menatap ruangan kecil yang hanya ada satu kursi terbuat dari anyaman rotan. Satu-satunya harta berharga milik ayahnya.

Ruangan itu tampak bersih, sinar matahari langsung masuk lewat jendela kayu yang terbuka lebar.

Nafas gadis itu terengah-engah, ia sedikit kelelahan setelah merubah posisi semua peralatan rumah itu.

"Ayah pasti suka dengan cahaya yang langsung masuk rumah!" ujarnya bangga pada diri sendiri.

Lalu Srikandi menatap sudut dapur, sisa-sisa arang tinggal sedikit, ia menutup semua pintu kecuali jendela.

"Cari kayu lalu jadikan arang!" Srikandi melangkah mendekati bilah kayu.

Di sana kapak yang ia namai Ki Abot tertancap. Ia mengerahkan sedikit kekuatan untuk menariknya dan memanggul benda seberat dua puluh lima kilo itu di bahu.

Lalu sekali lompatan, Srikandi masuk hutan dengan cepat.

Sementara rombongan pasukan sudah sampai halaman istana sejak semalam. Seluruh prajurit yang terluka diobati di bilik pengobatan di selatan istana Kali Ireng.

Di aula utama berdiri megah singgasana berukir emas. Sri Baginda Laksa Anartepa Ireng duduk tertegun setelah mendengar kabar duka.

"Apa benar itu Adipati Sengko?" tanyanya masih tidak percaya.

"Benar Sri Baginda!" jawab Adipati masih bersimpuh.

"Bawa aku ke jenazah punggawaku!" pinta sang Raja.

Mereka pun melangkah ke luar istana, menuju selatan dekat bilik pengobatan. Jazad Ki Abda telah diselimuti kain jarik warna coklat.

Semua prajurit menjaga jenazah itu dengan tombak menyilang. Kedatangan raja ke sana, langsung membuat seluruh tabib dan prajurit bersimpuh.

"Sri Baginda!"

"Berdirilah. Aku ingin melihat Ki Abda!" ujar Prabu Laksa tenang.

Lalu ia mendekati jenasah yang ditutupi kain jarik. Ia menarik pelan kain itu. Wajah Ki Abda yang pucat tanpa darah begitu tenang. Bahkan ada seulas senyum. Seakan-akan ia telah menyelesaikan tugasnya dengan benar.

"Punggawa ...," airmata Prabu Laksa menetes menatap mayat pria sakti itu.

"Perjalananmu telah usai ... Aku pastikan namamu tertulis dengan tinta emas di panji-panji kerajaan ini. Aku pastikan jika seluruh baktimu akan dikenang semua masyarakat Kali Ireng!" sumpah Prabu Laksa.

"Bagaimana dengan Srikandi, Yang Mulia Sri Baginda?" tanya Adipati dan membuat Prabu Laksa terdiam.

"Sebisa mungkin, kita sembunyikan kematian ayahnya ... aku tak mau anak itu khawatir!" jawab Prabu memutuskan.

Bersambung.

Apakah Srikandi percaya jika sang ayah masih hidup?

Next?

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!