NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di dalam balai desa, satu per satu warga yang tadinya pingsan akibat cengkeraman ilmu hitam mulai siuman. Mereka membuka mata dengan tubuh yang menggigil hebat. Saat melangkah keluar ke halaman, kekagetan luar biasa melanda mereka; seluruh tanah kini telah memutih, tertutup oleh lapisan tebal yang tampak seperti pasir putih yang sangat dingin saat disentuh.

​Tak hanya itu, dari langit malam yang bersih, butiran-butiran pasir putih lembut itu terus turun dengan indahnya, namun membawa hawa sedingin es yang membekukan napas.

​"Pasir apa ini? Kenapa dingin sekali?" teriak Ki argapati sang lurah desa yang telah tersadar. sembari menepis butiran putih yang hinggap di bahunya.

​"Apakah ini kutukan baru dari Eyang Jagad Ireng?" sahut warga lain dengan suara gemetar, memeluk tubuh mereka sendiri demi mencari kehangatan.

​Keributan kecil itu langsung terhenti saat Patih Gajah Mada melangkah maju ke tangga balai desa. Ia mengulurkan telapak tangan kanannya, membiarkan beberapa butir kristal putih itu mendarat di kulitnya. Bukannya meleleh menjadi air biasa, butiran itu menguap menjadi asap tipis yang menyisakan rasa perih yang beku.

​"Ini bukan pasir, dan ini bukan lagi ulah Eyang Jagad Ireng," ucap Gajah Mada, suaranya yang berat memecah keheningan malam yang membeku. Sorot matanya menatap tajam ke arah batas hutan, menembus tirai putih yang kian lebat. "Ini adalah hujan salju. Sebuah fenomena dari negeri seberang yang mustahil terjadi di bumi Nusantara, kecuali jika ada seseorang dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang sengaja menciptakannya sebagai ilusi."

​Jayantaka yang baru saja keluar dari dapur umum setelah mengamankan Gendis, tertegun melihat pemandangan di hadapannya. "Hujan salju...? Jadi, ada kekuatan lain yang sedang mengurung desa ini, Gusti Patih?"

​Gajah Mada menarik kembali tangannya dan mengepalkan jemarinya kuat-kuat. "Benar. Seseorang telah menggelar benteng gaib untuk mengisolasi kita semua di dalam Mojorejo. Bersiaplah, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Mendengar ucapan sang Patih, ketakutan warga desa tidak mereda, melainkan berubah menjadi kepanikan yang liar. Rasa dingin yang luar biasa mulai menggigit kulit dan membuat bibir mereka membiru. Dalam kondisi terdesak dan membeku, akal sehat manusia sering kali lenyap digantikan oleh insting untuk mencari kambing hitam.

​Pandangan mata para warga serentak tertuju ke arah dapur umum, tempat di mana raga Gandraka yang kritis sedang dibaringkan.

​"Ini semua pasti karena bocah itu!" teriak seorang pria paruh baya, menunjuk-nunjuk dengan jari yang gemetar. "Sejak dia datang membawa kutukan darahnya, desa kita tidak pernah tenang! Pertama Eyang Jagad Ireng, sekarang hujan pasir beku ini!"

​"Benar! Bocah itu yang membawa sial! Eyang Jagad Ireng mengamuk karena menginginkan sukmanya, dan sekarang iblis mana lagi yang mendatangkan badai ini jika bukan karena memburunya?!" sahut warga lain, menyulut sumbu kemarahan masal.

​Situasi di halaman balai desa kembali kacau. Di tengah kepungan salju yang kian lebat, warga desa yang tersisa mulai merangsek maju, berteriak menuntut agar Gandraka diserahkan atau diusir dari desa demi keselamatan mereka semua.

Jayantaka langsung memasang badan di depan tangga, sementara Ki Bagaskara di dalam dapur umum sudah memegang erat hulu pedangnya, siap membantai siapa saja yang berani menyentuh putranya.

​"Harap tenang! Jaga ucapan kalian!" bentak Jayantaka mencoba menertibkan masal.

​Namun, di tengah keriuhan itu, sesosok anak laki-laki dengan tubuh gemetar melangkah maju dari kerumunan. Itu adalah Nadi, bocah yang beberapa waktu lalu ikut pingsan akibat ritual pasak.

Wajahnya pucat pasi, bukan hanya karena hawa dingin Chandra Pralaya, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat yang menggerogoti dadanya.

​"Cukup...! Hentikan...!" teriak Nadi dengan suara serak, air matanya menetes lalu membeku di pipi.

​Suara tangisan anak itu membuat perhatian warga teralih. Halaman balai desa mendadak hening sejenak, hanya menyisakan suara siulan angin malam yang dingin.

​"Nadi, apa yang kau katakan? Masuk ke dalam, raga usiamu belum kuat!" tegur salah seorang kerabatnya.

​"Tidak! Kalian salah! Jangan salahkan Gandraka!" Nadi menggelengkan kepalanya dengan histeris, lalu berlutut di atas hamparan salju yang dingin. "Yang salah... yang bersalah di sini adalah aku! Akulah yang menyebabkan petaka ini terjadi pada desa kita!"

​Warga desa saling berpandangan, bingung dengan pengakuan mendadak tersebut. Gajah Mada yang berdiri di tangga balai desa mengunci pandangannya pada Nadi, menyimak dengan saksama.

​"Apa maksudmu, Nadi? Jangan mengada-ada di tengah situasi seperti ini!" desak ki lurah argapati

​"Aku tidak bohong!" rintih Nadi, bahunya terguncang hebat. "Beberapa hari lalu, aku yang merasa hebat menantang Gandraka untuk bermain Nyangrang Wewe di pinggir hutan. Aku yang memaksanya! Gandraka sudah menolak, tapi aku terus mengejeknya. Permainan bodoh itulah yang membuka gerbang gaib desa ini dan mengundang perhatian para lelembut. Akibat kebodohanku, Eyang Jagad Ireng bisa merasuki kita, dan raga Gandraka harus hancur demi menyelamatkan nyawa kami!"

​Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut Nadi, warga desa terdiam seribu bahasa. Kebencian yang tadi berkobar di mata mereka mendadak padam, berganti dengan rasa syok dan penyesalan yang mendalam.

Mereka tersadar, bocah yang hendak mereka korbankan justru adalah sosok yang telah menaruhkan nyawanya sendiri demi menebus kesalahan anak-anak mereka.

Gajah Mada melangkah turun dari tangga balai desa. Setiap derap langkahnya terasa berat dan berwibawa, membuat salju yang diinjaknya seolah enggan menempel pada selopnya. Ia berdiri tepat di hadapan Nadi yang masih bersimpuh, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke arah seluruh warga desa Mojorejo.

​"Dengarkan aku, rakyatku," suara Gajah Mada menggelegar tenang, menyusup di antara desau angin malam yang membeku. "Ketakutan adalah sifat dasar manusia, namun membiarkan ketakutan membutakan mata hati hingga kalian tega menuduh penyelamat kalian sendiri... itu adalah sebuah kehinaan."

​Ia menjeda kalimatnya, membiarkan angin dingin menyapu wajah-wajah warga yang kini tertunduk malu.

​"Bocah bernama Gandraka itu telah mengorbankan sukmanya sendiri hingga sekarat demi memutus belenggu iblis dari leher anak-anak kalian. Dan kau, Nadi..." Gajah Mada menatap bocah itu, nadanya melunak namun tetap tegas. "Keberanianmu mengakui kesalahan di depan kepungan masal adalah rupa dari ksatria sejati. Biarlah ini menjadi pelajaran mahal bagi kalian semua, bahwa dunia pinggiran hutan bukanlah tempat bermain-main dengan sumpah gaib."

​Warga desa terhenyak. Kata-kata sang Mahapatih meresap jauh, melenyapkan sisa-sisa amarah yang tadi sempat menyulut kepanikan.

​Namun, hawa dingin ajian Chandra Pralaya milik Eyang Blarak Geni kian merajalela. Beberapa warga lanjut usia dan anak-anak mulai menggigil hebat, bahkan ada yang kulitnya mulai membiru karena tak kuasa menahan serangan udara bersalju yang tidak lazim ini. Bangunan balai desa yang terbuka tidak akan mampu melindungi mereka dari badai es yang kian pekat.

​Ki Bagaskara keluar dari dapur umum dengan wajah tegang, sementara Nyai Lodra berjalan di belakangnya sembari menggendong raga Gandraka yang terbungkus kain tebal.

​"Gusti Patih, tempat ini sudah tidak aman untuk bertahan," ujar Ki Bagaskara, suaranya agak bergetar menahan dingin. "Hawa beku ini diciptakan untuk melemahkan fisik kita secara perlahan. Di tebing sebelah selatan desa, ada sebuah gua besar tersembunyi. Dinding batunya cukup tebal untuk menahan badai es ini, dan kita bisa membuat api unggun di dalam sana demi menjaga kehangatan raga Gandraka yang kian kritis."

​Gajah Mada mengangguk setuju. "Jayantaka! Pimpin barisan depan. Bagaskara dan Lodra, jaga bagian tengah bersama anak-anak. Aku sendiri yang akan menutup barisan belakang agar tidak ada penyusup yang memanfaatkan situasi ini."

​"Sendiko Dawuh, Gusti Patih!" jawab Jayantaka tangkas.

​Dengan dipandu oleh Jayantaka dan Ki Bagaskara, seluruh warga Desa Mojorejo mulai bergerak meninggalkan pemukiman mereka. Perjalanan itu terasa sangat berat. Mereka berjalan beriringan menerobos hujan salju yang kian lebat, membelah kegelapan menuju tebing selatan. Di sepanjang jalan, nafas mereka berubah menjadi kabut putih yang tebal.

​Setelah menempuh perjalanan yang menguras sisa tenaga, mereka akhirnya tiba di hadapan sebuah ceruk tebing batu yang sangat besar. Mulut gua itu menganga lebar, mampu menampung seluruh warga desa beserta pasukannya.

​Begitu seluruh warga berhasil masuk ke dalam perut gua, Ki Bagaskara dan beberapa pria desa segera mengumpulkan sisa-sisa kayu kering yang ada di dalam sana dan menyalakan beberapa titik api unggun besar. Hawa hangat perlahan mulai mengusir cengkeraman dingin yang menyiksa.

​Nyai Lodra segera membaringkan Gandraka di area gua yang paling dalam dan kering. Ia duduk bersila di samping putranya, bersiap merapalkan ilmu batin Klan Anggrek Hitam demi menyambung kembali sukma Gandraka yang compang-camping.

Sementara di mulut gua, Gajah Mada berdiri bersedekap dada, menatap keluar ke arah tirai salju yang menutupi hutan Mojorejo, tahu betul bahwa musuh misterius mereka sedang mengintai dari balik kebekuan malam.

1
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh....
saniscara patriawuha.
gaddddddd deuiiii
Semoli Ginon
dasar lintah darat
Semoli Ginon
hayo luh sarpin. 🤣
Semoli Ginon
sarpin peak juga nih
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!