Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEGANG
…ketegangan itu akhirnya bergerak.
Keano melepas helmnya pelan. Tatapannya masih tertuju ke arah Senja yang berdiri beberapa meter dari sana bersama Arelina.
Nara memperhatikan. "Keano—"
"Gue ke sana bentar."
Satu kalimat. Lalu Keano langsung berjalan meninggalkan motor.
Bisikan siswa makin ramai saat melihat arah langkahnya. "Dia nyamperin Senja, juga akhirnya, tapi cewek itu....siapa?" ucap salah satu siswa
Senja sebenarnya ingin mengalihkan pandangan. Tapi langkah Keano sudah terlanjur berhenti tepat di depannya.
Dekat. Terlalu dekat untuk diabaikan.
"Hai Senja."
Nada suaranya rendah seperti biasa. Tenang… tapi ada sesuatu di matanya hari ini.
Senja berusaha terlihat biasa saja. "Iya?"
Keano menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan, "Gue tadi mau jemput lo."
Kalimat itu membuat Arelina melirik cepat ke arah Senja.
"Tapi lo udah jalan duluan," lanjut Keano. "Bareng Arelina."
Senja diam. Jantungnya berdetak aneh.
"Lalu?" tanyanya pelan.
Keano menghela napas kecil. "Gue gak ada niat bikin lo salah paham."
Mata Senja akhirnya terangkat penuh ke arah Keano.
"tidak apa-apa, itu kan hak kamu, mau berangkat sama siapapun."
Di belakang mereka, beberapa siswa mulai pura-pura sibuk sambil nguping terang-terangan.
Keano menjawab cepat. "Dia ikut karena Mama minta gue ajak dia."
Penjelasan itu keluar lebih pelan. Hampir seperti gumaman.
Keano terdiam sepersekian detik. Dan diamnya… sudah jadi jawaban sendiri.
Senja langsung memalingkan wajah. Ada rasa hangat aneh di dadanya yang membuatnya kesal pada diri sendiri.
Arelina yang sejak tadi diam akhirnya menyilangkan tangan. "Wow. Jadi sekarang kalian sedang klarifikasi hubungan di parkiran sekolah?"
Keano menoleh datar. "Bukan urusan lo."
"Jelas jadi urusan gue kalau Senja nanti jadi bahan omongan satu sekolah."
"Biarin itu jadi urusan gue aja."
Jawaban Keano yakin, tapi tatapannya kembali ke Senja.
"Kalau lo mau ngomong, ngomong aja."
Deg.
Kalimat itu terlalu berbahaya untuk didengar pagi-pagi.
Senja langsung menahan napas kecil. "Keano…"
Namun sebelum percakapan mereka lanjut—
" Apa aku ganggu?"
Suara lembut itu muncul dari belakang.
Nara.
Ia berjalan menghampiri mereka dengan langkah santai. Senyumnya masih manis. Tapi matanya tajam memperhatikan jarak antara Keano dan Senja.
"Aku nyariin kamu dari tadi," katanya pelan pada Keano.
Suasana langsung berubah lagi.
Denis yang melihat dari kejauhan sampai menepuk jidat. "Fix. Tamat gue nonton drama live tiap hari."
Nara lalu menoleh ke arah Senja. Senyumnya sopan. "Hai.Senja."
Senja membalas tipis. "Hai."
Satu detik. Dua detik.
Tatapan dua perempuan itu bertemu lagi. Tenang di luar. Tapi penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Dan Keano… baru sadar kalau hari ini akan jauh lebih melelahkan dari yang ia kira.
Keano berdiri di tengah mereka.
Di satu sisi ada Senja—diam, tapi tatapannya sulit dibaca. Di sisi lain ada Nara—tersenyum tenang seolah tidak ada masalah sama sekali.
Udara pagi terasa makin sesak.
Bel masuk pertama belum berbunyi. Tapi drama sudah dimulai.
Denis perlahan mendekat sambil membawa roti di tangan. "Aduh… gue salah timing gak sih datang pagi?"
Arelina langsung melotot. "Lo jangan mulai."
"Gue gak mulai. Ini mereka yang udah kayak episode sinetron."
Keano mengabaikan mereka. Tatapannya masih ke Senja.
"Kamu udah sarapan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat beberapa siswa langsung saling pandang.
"Anjir… perhatian banget." "Fix mereka pasti ada sesuatu."
Senja sendiri tampak sedikit kaget. Di tengah situasi seperti ini… Keano malah menanyakan hal itu.
"Udah," jawabnya singkat.
"Bohong."
Senja mengernyit. "Hah?"
Keano memasukkan satu tangan ke saku jaket. "Kalau lo udah makan, tangan lo gak bakal dingin gitu."
Deg.
Senja refleks menarik tangannya. Arelina langsung menatap Keano tidak percaya. "Bisa-bisanya lo notice itu?"
Denis sampai menunjuk Keano dramatis. "Nah ini! Ini alasan satu sekolah gak bisa move on dari kalian!"
Nara yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan, "Kalian… deket banget ya."
Nada suaranya lembut. Tapi entah kenapa terasa seperti mengukur sesuatu.
Keano menjawab singkat, "kita dekat."
"Dekat banget," tambah Denis tanpa dosa.
"Denis, diem," geram Senja.
Denis malah nyengir. "Gue jujur."
Nara tersenyum kecil lagi. Tatapannya bergeser ke Senja.
"Pantes aja."
Senja mulai merasa tidak nyaman. Cara Nara memandangnya terlalu tenang. Seolah sedang mempelajari lawannya perlahan.
Keano tampaknya menyadari itu. Ia langsung mengalihkan situasi.
"Ruang kepala sekolah di lantai dua, kan?" tanyanya pada Arelina.
Arelina mengangguk. "Iya. Mau nganter princess baru?"
Nara tertawa kecil mendengar sindiran itu. Namun Keano tetap datar. "Gue cuma mau nunjukin jalan."
"Lembut banget alasannya," Denis berbisik pelan ke Senja.
"Denis sumpah—"
Bel sekolah akhirnya berbunyi. TRRRTTT—
Suasana koridor mulai ramai.
Nara memperbaiki tasnya lalu menatap Keano. "Ayo?"
Keano belum langsung bergerak.
Matanya justru kembali mencari Senja dulu.
Satu detik.
Lalu ia bicara pelan, "Nanti gue cari lo."
Jantung Senja langsung berdetak tidak normal.
"Hah? Buat apa?" tanyanya cepat.
Keano menatapnya tenang. " kita perlu ngomong."
Cuma satu kata. Tapi cukup membuat kepala Senja makin berisik.
Sementara Nara di samping Keano perlahan kehilangan sedikit senyumnya untuk pertama kali pagi itu.
Senja terdiam.
Keramaian koridor terasa menjauh sesaat. Yang terdengar cuma suara detak jantungnya sendiri.
Keano masih berdiri di tempatnya dengan wajah tenang seperti biasa. Datar. Sulit ditebak. Namun justru itu yang membuat ucapannya terasa lebih serius.
"Kita perlu ngomong."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Senja.
Nara langsung kembali memasang senyum lembutnya. “Ke kelas dulu yuk, Ke'. Nanti telat."
Keano mengangguk kecil. “Iya.”
Namun sebelum pergi, matanya sempat kembali ke Senja. Seolah memastikan sesuatu.
Lalu ia berjalan pergi bersama Nara menyusuri koridor.
Senja masih diam di tempat.
"Woi."
Arelina menyenggol lengannya pelan sampai Senja sedikit tersadar. “Kepala Lo pasti udah ribut banget sekarang."
Senja langsung menggeleng cepat. "Nggak kok."
"Bohong." Arelina menyeringai kecil. "Muka Lo keliatan panik."
Denis yang berdiri di dekat loker ikut melirik sekilas ke arah Keano yang makin menjauh bersama Nara. "Kayaknya bakal ada drama, Cinta segi tiga."
"DIEM ," desis Senja spontan.
Arelina malah tertawa kecil.
Namun setelah itu… senyum Senja perlahan memudar.
Karena baru sekarang ia sadar.
Keano tadi tidak bilang nanti ketemu.” Tidak bilang "nanti kita ketemu.” Tapi—
"Gue cari lo."
Seolah apa pun yang terjadi… Keano memang berniat menemuinya.
Dan anehnya, bagian itu justru membuat Senja semakin gugup.
Jam pelajaran pertama berjalan lambat bagi Senja.
Guru di depan kelas sedang menjelaskan sesuatu tentang tugas presentasi, namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Bolpoin di tangannya terus bergerak tanpa sadar di atas buku. Menulis satu nama berkali-kali.
Keano.
Sampai akhirnya-_Sebuah kertas kecil terlempar di sampingnya Senja membuka pelan.
"Lo berantem sama Keano"— Arel
Senja langsung menulis balasan cepat.
"NGGAK."
Tak lama kertas itu kembali datang.
"Terus kenapa tegang banget?"
Senja baru ingin membalas saat suara guru terdengar.
"Senja. Kalau ngobrol terus, coba jelaskan materi barusan."
Kelas langsung hening.
Senja membeku.
Arelina menahan tawa di sampingnya. Sementara dari belakang… terdengar suara siswa lain pelan,
"Mampus."